Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 58 Sumbangan ke Panti


__ADS_3

Andi sudah menyelesaikan membuat video dengan dibantu oleh Amira. Ia bahkan sudah membuat beberapa loyang brownies. Andi berencana membagikan brownies buatannya kepada anak-anak yatim piatu di panti asuhan yang akan ia kunjungi nantinya.


Andi merasa aneh, setelah dia membuat semua ini, Rosalinda belum juga datang. Bukankah kemarin perempuan itu yang bersikeras membuat video bersamanya? Lalu sekarang, perempuan itu tidak juga datang sampai sekarang.


Setelah loyang ke sepuluhnya dari browniesnya matang, Andi menyempatkan melihat ponselnya siapa tahu di sana ada pesan masuk dari Rosalinda. Benar saja Andi mendapati pesan masuk dari perempuan itu.


Perempuan itu mengatakan bahwa dirinya memiliki urusan mendadak dan tidak bisa datang ke apartemen Andi. Melihat pesan tersebut Andi tidak mempermasalahkannya. Toh ada dan tidak ada Rosalinda dirinya juga membuat video.


Membuat video seperti ini sekarang ini memberikan kesenangan tersendiri untuk Andi. Apalagi dengan ketika melihat bagaimana respon para penonton dari video-videonya. Hal itu memberikan semangat untuk Andi. Bukankah dirinya juga bisa memanfaatkan membuat video ini untuk riset resep baru. Jadi, sambil menyelam minum air. Jika bisa melakukannya bersama, kenapa tidak.


Andi tidak masalah jika di luar sana tiba-tiba ada orang yang memanfaatkan resepnya ini untuk membuat usaha sejenis, seperti yang Andi jalankan dengan Brian. Rejeki sudah ada yang mengaturnya. Andi yakin meski ada produk sejenis, yang beredar di luar sana, produknya masih tetap unggul.


Dia akan mengandalkan merek miliknya. Andi yakin mereknya makin lama makin dikenal orang. Dengan begitu, setelah kepercayaan pelanggan terbentuk, sudah jelas mereka akan memilih produknya dari pada produk lain.


Seperti halnya salah satu merek air mineral, Amua, dia memiliki merek yang sudah terkenal di masyarakat. Bahkan karena ketenarannya itu, semua air mineral disebut dengan Amua. Meski memiliki merek berbeda, tetap saja masayarakat akan menyebutkan Amua ketika membeli air mineral.


Itu adalah tujuan Andi untuk produknya. Ia ingin ketika masayarakat ingin membeli dessert, yang terpikirkan di otak mereka pertama kalinya adalah Lidah Manis. Memang untuk mancapai tingkat seperti Amua dibutuhkan waktu dan perjuangan yang panjang. Tetapi, tidak ada salahnya bukan memiliki ambisi seperti itu.


Selain pesan dari Rosalinda, Andi juga mendapatkan pesan dari Brian. Temannya itu mengatakan bahwa ayahnya memanggilnya untuk datang ke rumah keluarga mereka yang ada di Surabaya. Hal itu membuat Brian tidak bisa menemani Andi mandatangani kontrak. Brian juga tidak ingin Andi kerepotan mengurus semua itu. Oleh karena itu, temannya itu memilih menyuruh salah satu bawahan ayahnya untuk melakukan hal itu.


‘Dengan begini aku bisa langsung menuju ke panti asuhan dan memberikan semua kue-kue ini kepada anak panti.’ Gumam Andi dalam hati.


Andi melihat Amira yang kini tengah sibuk memasukkan brownies-brownies yang sudah dingin ke dalam kardus. Tadi Andi memesan kardus-kardus ini dari salah satu toko online dan meminta diantarkan melalui ojek online. Untung saja semuanya bisa dilakukan secara online jadi Andi tidak perlu keluar untuk membeli hal-hal seperti ini.


“Apa semuanya sudah selesai?” Tanya Andi kepada Amira.


“Sudah. Tinggal yang baru keluar dari oven aja yang belum masuk kardus.” Lapor Amira kepada Andi. “Jadi, semua ini mau Kakak bawa kemana? Gak mungkin ke CFD bukan?” tanya Amira penasaran. Andi belum memberitahukannya akan dibawa ke mana semua kue-kue ini. Ini sudah terlalu siang jadi sangat tidak mungkin Andi akan membawa kue-kue ini ke car free day.


“Tenang aja nanti juga kamu tahu sendiri. Sekarang kamu mandi lagi gih. Sudah pasti kamu keringetan abis bantuin kakak bikin semua ini. Setelah ini, Kakak akan mengajakmu ke suatu tempat.”


Amira masih penasaran dengan ucapan kakaknya. Meski dirinya penasaran, tetapi gadis itu menuruti permintaan kakaknya untuk membersihkan diri. Toh pada akhirnya ia akan tahu ke mana kakaknya kan membawanya. Bertanya sekarang atau mengetahuinya nanti, tidak ada perbedaan yang cukup besar bagi Amira.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, kedua kakak beradik itu sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Amira memilih memakai pakaian yang ada di almari dari pada pakaian yang dibawanya dari rumah. Pakaian dia sana masih baru dan tentu saja lebih bagus dari pakaian yang ia bawa dari rumah.


Kedua kakak beradik itu hanya membutuhkan waktu dua puluh menit dengan taksi online untuk sampai di tempat yang mereka tuju. Amira membaca papan besar bertuliskan nama dari tempat yang sekarang mereka kunjungi.


“Panti Asuhan Kasih Bunda.” Begitulah yang Amira baca dari papan nama tersebut.


Di halaman panti asuhan itu, Amira bisa melihat beberapa anak terlihat bermain. Kedatangannya dan kakaknya membuat anak-anak itu menghentikan kegiatan yang tengah mereka lakukan. Beberapa anak terlihat berlari mendekati ke arah Andi.


“Selamat siang Adik-Adik.” Sapa Andi kepada anak-anak panti.


“Selamat siang Kak. Kakak bawa apa itu?” tanya salah satu anak.


“Kakak bawa makanan untuk kalian. Tetapi sebelum kalian ambil makanan ini, kakak mau kalian kasih tahu kakak di mana penanggung jawab panti asuhan ini sekarang?”


“Ah Kakak mencari Bunda Sarah? Bunda Sarah tadi lagi nanem bunga. Biar aku panggilkan ya kak.” Tanpa menunggu respon lanjutan dari Andi, anak laki-laki itu berlari menuju halaman belakang panti.


Tidak lama kemudian, anak laki-laki itu kembali bersamaan dengan seorang wanita berumur tiga puluh tahunan. Wanita itu mendekat ke arah Andi dan Amira. “Halo selamat siang adik-adik.” Sapa perempuan tersebut.


“Wah, Bunda nggak menyangka kalau anak semuda kalian sudah mau berbagi seperti ini. Kalau begitu ayo masuk. Kita bicarakan ini di dalam.” Ucap Sarah.


“Ah iya ini ada sedikit makan buat adik-adik Bunda.” Ucap Andi sembari menyerahkan brownies buatannya kepada Sarah.


Perempuan itu kemudian menerima bungkusan dari Andi. Ia lalu menyerahkannya kepada anak laki-laki yang tadi memanggilnya. “Fadil, ini kamu bagi sama yang lain. Ingat jangan berebut. Bagi yang rata dengan semuanya.” Pesan Sarah.


Melihat hal itu anak laki-laki bernama Fadil itu tersenyum lebar. Ia memberikan sikap hormat kepada Sarah setelah menerima bungkusan itu. “Siap laksanakan komandan. Fadil akan bagi semuanya dengan rata. Ayo kebelakang teman-teman. Kita makan semuanya di sana. Jangan lupa panggil yang lain.” Ucap Fadil sebelum pergi membawa bungkusan berisi brownies ke halaman belakang panti.



“Jadi begini Bunda Sarah, kami ingin menyubang di panti ini. Boleh tahu, di panti ini apa yang masih kurang? Maksud aku kayak baju, makanan, peralatan sekolah, apakah ada yang kurang?” Tanya Andi ketika mereka sudah duduk di kursi ruang tamu yang ada di panti.


“Kalau ngomongin kekurangan, di panti ini banyak yang kurang. Memang sumbangan sudah banyak yang masuk, tetapi kebanyakan yang nyumbang itu dalam bentuk makanan, baju dan buku-buku. Tetapi, kami tidak memilliki peralatan penunjang kebutuhan belajar anak-anak panti. Seperti komputer misalnya. Beberapa anak sudah membutuhkan komputer untuk mengerjakan tugas mereka.”

__ADS_1


“Belum lagi beberapa ruangan sudah mengalami kebocoran karena belum sempat ganti genteng. Ruangan kami juga minim, tidak mampu menampung anak panti lagi. Beberapa anak bahkan perlu tidur seranjang berdua karena minimnya tempat.” Jelas Sarah.


Mendengar penjelasan Sarah, Andi mulai berpikir sejenak. Bantuan seperti apa yang bisa dia berikan. Andi memang ingin membantu semua kekurangan di panti ini. Tetapi, semua itu memiliki prioritas tersendiri bukan? Andi perlu memikirkan mana yang penting dan perlu segera dilaksanakan dan mana yang bisa ditunda.


“Hemm…. Bagaimana kalau begini Bunda, saya akan menyumbang sebuah gedung baru untuk panti ini. Nantinya gedung baru ini bisa dipakai untuk menampung anak-anak yang berdesak-desakan ketika tidur. Bagaimana Bunda?”


“Sungguh, Adik ini mau membantu membangunkan gedung untuk kami?” Tanya Sarah memastikan. Bukannya dia tidak mempercayai Andi, tetapi, Andi cukup muda untuk mengatakan memberikan sumbangan sebuah gedung baru. Membangun gedung baru sudah jelas tidak akan murah. Jadi Sarah perlu meastikan kebenarannya.


“Tentu saja. Tetapi, apakah panti asuhan ini masih memiliki lahan kosong?” Tanya Andi memastikan.


Semua akan sia-sia jika panti asuhan ini tidak memiliki lahan kosong. Sudah jelas ia tidak bisa merenovasi gedung yang ada. Jika ia melakukannya, akan dikemanakan anak yang tinggal di gedung panti saat ini? Jika dilakukan renovasi, gedung tersebut haruslah tidak dihuni. Itu tidak akan memperbaiki masalah yang ada dan malah akan menambah masalah jika melakukan renovasi tanpa mengetahui dikemanakan anak-anak yang tinggal di gedung yang direnovasi.


“Kebetulan kami masih memiliki lahan kosong. Mungkin dengan luas sepuluh kali dua puluh meter adalah lahan yang bisa dipakai.”


Itu lahan yang cukup luas menurut Andi. Jika Andi membangun bangunan dengan dua lantai, sudah pasti ia bisa menampung tiga puluh dua anak. Dengan dua anak di setiap kamarnya, malah jika kamar tersebut diisi dengan kamar tidur bertingkat, itu bisa menampung enam puluh empat anak. Andi rasa gedung baru itu bisa membantu banyak untuk panti asuhan ini.


“Kalau begitu, saya akan menyumbang sebuah gedung dua lantai untuk panti ini. Saya akan menyerahkan uang ke Bunda Sarah, supaya Bunda Sarah mengurus semuanya. Kalau bisa, semuanya menggunakan bahan yang berkualitas terbaik agar bangunannya awet.”


Andi kemudian meminta nomer rekening dari panti. Setelah mendapatkannya, pemuda itu mengirimkan seratus lima puluh juta ke rekening itu. “Coba di cek Bunda apakah uangnya sudah masuk. Saya masih ngasih segitu. Tentu saja uang segitu masih kurang. Bulan depan, saya akan kirim lagi.” jelas Andi.


Sarah kemudian mengecek M-Banking dari rekening panti asuhan. Ia bisa melihat sebuah transfer dana sebesar seratus lima puluh juta. Sarah tidak menyangka bahwa pemuda di depannya ini benar-benar akan menyumbang dengan uang sebanyak itu.


“Terimakasih ya Dik. Bantuan dari kamu ini sungguh berarti bagi kami.” Ucap Sarah dengan mata yang berkaca-kaca.


Sementara itu, Amira yang sedari tadi diam, kini kembali menaruh kecurigaan kepada Kakaknya itu. Menyumbang sebuah gedung itu jelas membutuhkan uang banyak. Dari mana Andi mendapatkan uang sebanyak itu? Sepertinya sepulang dari panti asuhan ini Amira perlu menanyakan ini kepada Andi.


[Ding]


[Selamat Host telah menjalankan salah satu misi tersebunyi dari sistem]


[Hadiah telah dikirim ke penyimpanan milik Host]

__ADS_1


‘Ternyata benar. Membantu orang lain bisa membuatku menyelesaikan misi tersembunyi. Hal ini berarti, aku perlu banyak menyumbangkan uang yang aku dapatkan, jika aku ingin menambah saldo rekeningku. Tidak masalah. Aku akan terus melakukan ini’ Gumam Andi dalam hati.


__ADS_2