
Andi yang sebelumnya sudah sampai di rumah, kini kembali membawa adik-adiknya pergi dari sana. Dirinya mendapatkan panggilan dari Damar. Laki-laki itu mengatakan memiliki informasi mengenai rencana Jony. Dan dia ingin membicarakannya dengan Andi dan juga Aripto.
Setelah perkataan Jony yang sudah menargetkan adik-adiknya, tentu saja Andi tidak bisa meninggalkan mereka sendiri di rumah. Bagaimana jika ketika Andi meninggalkan mereka, sekelompok orang mendatangi rumahnya dan menculik kedua adiknya? Andi tidak mau itu terjadi.
“Kalian ke ibu saja. Aku akan ke atas, ada yang perlu aku bicarakan dengan ayah.” Pinta Andi kepada kedua adiknya ketika dirinya sampai di kafe.
“Apa kakak akan membicarakan tentang cowok tadi?” Tanya Amira yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Andi. “Aku ikut ya?”
Andi menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu. Biar kakak dan ayah yang urusin ini. Kamu ke ibu saja.”
“Tetapi ini kan berhubungan dengan keselamatnku? Setidaknya aku perlu tahu rencana kalian bagaimana bukan? Tenang saja aku hanya akan mendengarkan diskusi kalian. Aku tidak akan ikut campur.”
Amira bisa menebak bahwa pemuda tadi adalah orang yang sama yang menjadi pokok permasalahan diusirnya Andi dari rumah. Gadis itu tidak menyangka bahwa teman kakaknya sekejam itu. Kenapa juga melibatkan keluarga dalam urusan ini.
“Baiklah kamu boleh ikut. Arfan kamu ke ibu aja ya. Kamu masih terlalu kecil untuk paham permasalahan kita. Jadi, kamu nggak perlu ikut.” Ucap Andi ketika melihat adik laki-lakinya itu ingin ikut bergabung juga.
Ketika Andi memasuki ruang VIP nomer tiga, di sana sudah ada ayahnya dan Damar. Keduanya hanya diam duduk saling berhadapan. Sepertinya mereka menunggu Andi datang sebelum membahas semuanya.
“Kenapa kamu ikut kemari Amira?” tanya Aripto ketika melihat andi dan Amira duduk di kursi kosong yang ada di sana.
“Aku mau mendengar semua rencana kalian. Bagaimana pun juga, ini ada hubungannya dengan keselamatanku. Jadi, aku ingin ikut mendengar diskusi kalian.” Amira kembali memakai alasan yang sama dengan alasan yang ia berikan kepada Andi.
Aripto mengerutkan dahinya mendengar ucapan anak perempuannya itu. “Memangnya kami akan membahas apa?”
Aripto pikir anak perempuannya ini tidak mengetahui pokok bahasan mereka. Tetapi, sepertinya dia mengetahui hal itu. Apakah Andi yang memberitahunya? Apakah Andi tidak tahu jika memberitahukan hal ini kepada Amira, otomatis Anisa nanti akan mengetahuinya. Jika seperti itu, sudah pasti istrinya itu akan khawatir.
“Tentang ancaman teman Kak Andi bukan?” Tanya Amira.
Mendengar hal itu, Aripto langsung menatap tajam ke arah Andi. “Apakah kamu memberitahu Amira tentang hal ini?”
Sebelum Andi menjawab, Amira sudah kembali bersuara. “Kak Andi tidak memberitahuku. Aku mengetahui hal itu. Bahkan Arfan juga mengetahuinya. Teman Kak Andi itu memberikan ancaman di depan kami.” Jelas Amira.
__ADS_1
“Dia memberikan ancaman di depan kalian? Kapan hal itu terjadi?”
Amira kemudian menceritakan kejadian yang terjadi satu setengah jam yang lalu. Mulai dari mereka yang tengah berbelanja, hingga mereka bertemu dengan Jony. Tidak lupa Amira juga mengatakan kembali kata demi kata yang telah Jony ucapkan kepada mereka.
Amira masih ingat dengan jelas ancaman yang diberikan oleh Jony kepada mereka. Jika saja tadi mereka tidak berada di tempat umum, mungkin Amira akan membiarkan Andi menghajar pemuda tadi.
Setelah mendengar ucapan Amira, amarah Aripto memuncak. Ia langsung bangkit dan memukul keras meja di depannya. Nasib meja ini tidak ada bedanya dengan nasib meja makan yang ada di rumah Andi. Meja itu terbelah menjadi dua karena besarnya tenaga yang Aripto gunakan.
Andi dan Amira tidak terlalu kaget melihat hal itu. Mereka sudah beberapa melihat Aripto menunjukkan kekuatan sebesar itu. Ketika melatih bela diri, Aripto sering menunjukkan kekuatan sebesar itu kepada mereka.
Sementara itu, keringat dingin mengalir di punggung Damar. Jika pukulan itu diarahkan ke dadanya, bisa jadi organ rusuknya akan remuk dan organ dalamnya rusak. Lihatlah kekuatannya sebesar itu. Damar pernah mendengar rumor mengenai Bos Besarnya yang membunuh seseorang hanya dengan satu pukulan. Melihat kekuatan Aripto kali ini, akhirnya Damar percaya bahwa itu adalah fakta bukan sebuah rumor belaka.
“Kurang ajar sekali dia. Berani-beraninya dia mengatakan seperti itu.” Teriak Aripto. Jika ruang VIP ini tidak dilengkapi dengan dinding kedap suara, sudah pasti para pegawai kafe Andi akan berlarian untuk melihat apa yang terjadi.
Baru sekarang Damar paham kenapa si anak kaya itu meminta Rendi mencari tahu informasi mengenai keluarga Andi. Semua itu karena dia memiliki rencana seperti itu. Sepertinya Damar juga perlu melaporkan hal ini kepada Bos Besar.
“Ehm anu, informasi yang aku berikan sepertinya ada hubungannya dengan hal ini.” Ucap Damar.
Andi baru ingat bahwa pertemuan mereka kali ini karena Damar menghubunginya dan mengatakan bahwa dia memiliki informasi mengenai Jony. “Informasi apa yang kamu punya Mas Damar?” Tanya Andi.
Andi mengerutkan keningnya. “Apakah Rendi sudah memberikan informasi itu kepada Jony?” Tanya Andi.
“Belum. Rendi belum melakukannya. Setelah mendapatkan perintah dari si anak kaya itu, Rendi langsung mengubungi anak buahku. Jadi, dia belum memberikan informasi apapun kepada si anak kaya itu. Kata Rendi, ia diberi waktu hingga besok sore untuk menyerahkan semua informasi itu.” Jelas Damar.
“Jadi sekarang bagaimana?” Tanya Aripto.
Keempat orang di ruang VIP nomer tiga itu terdiam. Mereka terlihat diam memikirkan hal ini. Jika Jony sudah memerintahkan Rendi untuk mencari informasi, itu berarti Jony serius dengan ancamannya. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka perlu mencari solusinya.
“Bagaimana dengan kita berikan saja informasi yang Jony inginkan.” Ucap Andi tiba-tiba.
“Maksudmu apa?”
__ADS_1
“Kita beri beberapa informasi dasar kepada dia. Mungkin sekarang belum banyak yang tahu bahwa aku sudah membuka kafe, dan ibu sudah menjadi pengurus kafe. Jadi, kita beri saja Jony informasi yang lama.”
“Lalu, kita perlu mengirim seseorang untuk mengawal Amira dan Arfan dari jauh. Jadi, ke mana pun Arfan atau Amira pergi akan ada yang mengawasi. Sedangkan Ibu, ke manapun Ibu pergi, ayah akan mengantarnya. Ini hanyalah sebuah langkah pencegahan.”
“Kita juga bisa pindah dari rumah lama. Mungkin untuk mengelabuhi Jony, hanya ayah dan ibu yang akan sesekali pulang ke sana.”
“Pindah rumah? Memangnya mau pindah ke mana kita?” Tanya Aripto.
“Kak Andi memiliki rumah di kota ini ayah. Kita bisa langsung tinggal di sana. Kita hanya perlu sedikit membersihkannya saja.” Jelas Amira.
“Sebuah rumah?”
Andi langsung menyerahkan sebuah kunci rumah beserta kunci mobil kepada Aripto. “Ini untuk Ayah dan Ibu. Aku yakin ibu sudah memberitahu ayah bukan bahwa aku sekarang sudah memiliki pendapatan yang cukup besar. Sebagian sudah aku belikan properti dan mobil. Dan yang ini untuk Ayah dan Ibu.”
“Keluarga kita pindah ke sana saja Ayah. Rumahnya lebih luas, Arfan juga sudah menyukai rumah itu.” Ucap Amira.
“Lalu, siapa juga yang akan mengawasi adik-adikmu? Kita kekurangan orang untuk melakukan hal itu.”
Damar merasa sekarang saatnya dia bisa berguna. Langsung saja ia mneawarkan diri untuk melakukan tugas itu. “Aku bisa melakukannya Tuan. Aku bisa mengawasi adik-adiknya Mas Andi. Aku punya berapa anak buah yang bisa aku tugaskan untuk melakukan tugas pengawasan itu Tuan.”
Meski Aripto sangat tidak menyukai terlibat dengan para preman, tetapi sekarang ia tidak bisa menghindari hal itu. Keselamatan anak-anaknya dipertaruhkan. Jadi, mau tidak mau Aripto perlu bekerjasama dengan para preman ini.
“Baiklah. Aku akan menyerahkan tugas itu padamu dan anak buahmu. Tetapi Andi, ini hanyalah sementara. Kita tidak bisa menggunakan cara ini sebagai solusi.”
“Aku tahu itu bukannya solusi untuk masalah ini. Aku sudah memiliki rencana lain untuk membalas Jony. Tenang saja Ayah aku akan memakai cara yang legal. Jadi itu akan sedikit lama untuk tercapai. Maka dari itu, untuk mengulur waktu biar aku bisa melakukan rencanaku.”
“Apa kamu yakin rencanamu itu bisa berhasil?” Tanya Aripto.
Andi menggelengkan kepalanya. “Aku tidak sepenuhnya yakin. Tetapi, dengan rencanaku ini, aku yakin aku bisa memberikan pukulan besar untuk Jony.”
“Baiklah kita akan melakukan hal itu.” ujar Aripto.
__ADS_1
Malam itu mereka banyak berdiskusi mengenai masalah teknis mengenai mengelabuhi Jony. Meski mereka sudah memiliki banyak rencana, tetapi Andi masih tidak tenang dengan hal itu. Semalaman dirinya tidak bisa tidur nyenyak.
Pada akhirnya, Andi memaksakan diri tidur setelah jam menunjukkan pukul dua pagi. Esok dirinya masih perlu pergi ke rumah Kakek Buyutnya. Jadi, dirinya perlu beristirahat sekarang.