Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 86 Pengalaman Baru


__ADS_3

Hari ini sudah pertengahan bulan. Hari yang sangat di tunggu oleh Andi. Pasalnya hari ini toko sistem diperbarui. Jelas Andi menunggunya. Andi tidak sabar untuk membeli pengalaman-pengalaman baru yang ada di toko sistem.


“Toko Sistem”


[Ding]


[Toko Sistem]


[Pengalaman seorang desainer game tingkat 1: Rp 50.000.000,-]


[Pengalaman seorang programmer tingkat 1 : Rp 70.000.000,-]


[Host, manfaatkan toko sistem untuk memperkuat dirimu]


“Ah ini adalah pengalaman baru. Aku kira sistem akan menjual tingkatan selanjutnya dari pengalaman-pengalaman yang aku beli. Tetapi ternyata tidak. Sistem memberikan pilihan baru untukku.”


Andi kemudian memperhatikan kembali daftar pengalaman yang ada di toko sistem. Dari kedua pengalaman itu, tiba-tiba membuat Andi memikirkan sesuatu. Membuat sebuah game. Bukankah dengan kedua hal tersebut dirinya bisa membuat game?


“Ah apakah sistem sekarang menyarankan aku untuk membuat game? Sejak aku memiliki sistem, bisa dibilang semua pengalaman yang ada di sana sedikit banyak memberikan arahan padaku mengenai apa yang perlu aku lakukan.”


“Seperti pengalaman seorang juru masak, sekarang ini aku memanfaatkannya untuk membuat berbagai resep. Lalu ada pengalaman seorang direktur, aku memakai pengalaman itu untuk menjalankan bisnisku yang baru. Sekarang, pengalaman seorang desainer game. Apakah dengan ini aku diminta untuk membuat sebuah perusahan game?”


Melihat hal itu, Andi kemudian membuka ponselnya dan mencari informasi melalui mesin pencari. Dari sana ia mengetahui bahwa di negaranya ini tidak banyak perusahaan produsen game. Negaranya ini hanya menjadi pasar untuk game-game baru yang dibuat oleh perusahaan luar negeri.


“Hem… melihat ini entah kenapa aku tiba-tiba berambisi memiliki perusahaan game yang mendunia. Tidak banyak bukan game buatan anak negeri yang terkenal? Oke baiklah akan aku buat sebuah game yang terkenal, tidak hanya di dalam negeri bahkan di luar negeri.”


Tanpa menunggu lama lagi, Andi membeli satu persatu pengalaman yang ada di toko sistem. Sekarang dirinya memiliki pengetahuan seorang desainer game dan seorang programmer. Andi yakin dengan dua hal ini dirinya bisa membuat sebuah game baru.


“Hem… game apa yang harus aku buat? Mungkin aku perlu melakukannya pelan-pelan. Aku tidak bisa langsung membuat game besar. Meski aku berambisi membuat game yang terkenal, aku belum memiliki modal besar untuk membuat game sebesar itu. Mulai dari yang kecil saja.” Gumam Andi.


Ketika Andi memikirkan hal tersebut, padangannya tiba-tiba saja tertuju kepada buku gambar milik Arfan yang ada di meja belajar. Andi kemudian mendekati meja tersebut dan membuka buku gambar milik adiknya itu.


Adik laki-lakinya itu jago sekali menggambar. Meski usianya baru dua belas tahun, tetapi gambar anak laki-laki itu cukup lah rapid dan bagus. Kebanyakan yang di gambar oleh Arfan adalah gambar makluk fantasi, seperti halnya burung garuda, seekor naga, dan beragam makluk lainnya. Tidak hanya itu, Arfan juga jago menggambar tokoh-tokoh nasional.

__ADS_1


Gambar-gambar mirip Arfan sangatlah bagus. Anak laki-laki itu bahkan bisa memilih warna yang sesuai sehingga membuat gambar miliknya terasa hidup. Bahkan sekilas gambar-gambar milik Arfan terlihat seperti sebuah gambar cetakan printer.


Melihat gambar-gambar milik adiknya itu, tiba-tiba saja ia memikirkan sesuatu. Ia ingin membuat game deck card. Game yang memiliki konsep yang mirip dengan Yu-Gi-Oh!, Hearthstone Heroes of Warcraft, dan lain sebagainya. Andi akan mengambil konsep permaianan kartu itu.


Untuk tokoh yang akan ia jadikan hero, kenapa tidak memakai yang ada saja? Bukankah tokoh pewayangan cukup banyak? Andi juga bisa menambahkan dengan tokoh-tokoh kerajaan. Bukankah itu bisa dilakukan?


Memikirkan hal tersebut, Andi segera mengambil selembar kertas dari meja belajar adiknya. Ia kemudian menuliskan beberapa hal yang perlu ia siapkan untuk membuat game ini. Pertama dia perlu mendirikan sebuah perusahaan baru.


Tentu saja ia tidak bisa menggabungkan pembuatan game dengan perusahaannya yang sekarang bukan? Jadi Andi perlu mendirikan perusahaan baru. Untuk urusan semua itu, Andi akan kembali menyerahkannya kepada Ghani. Setidaknya ia sudah mengetahui kinerja laki-laki itu. Jadi Andi tidak perlu khawatir.


Lalu, ia perlu mencari kantor baru. Mungkin dia bisa menyewa ruangan kantor di gedung yang sama dengan kantor perusahaannya yang sekarang. Semoga saja masih ada kantor kosong yang disewakan. Dengan begitu, jika Andi ingin mengecek perusahaannya, ia tidak perlu berpindah-pindah tempat. Cukup satu lokasi saja.


Selanjutnya adalah masalah spek dari komputernya. Sudah jelas itu membutuhkan spek yang tinggi. Dari pengalaman desainer game dan pengalaman programmer yang Andi miliki, spek untuk membuat game cukup lah tinggi. Jika speknya kurang, maka ketika melakukan rendering, akan memakan waktu yang lama, dan bisa juga terjadi kegagalan di tengah-tengah rendering sebuah desain.


Andi tidak mau hal itu terjadi. Jadi, ia perlu menyiapkan komputer dengan spek tinggi. Untuk membuat komputer seperti itu, itu membuthkan uang lebih dari sembilan puluh juta untuk tiap unitnya. Mungkin nantinya Andi hanya akan merekrut sedikit karyawan untuk saat ini. Beberapa hal bisa ia alihkan kepada pekerja freelance jika memang dibutuhkan.


Yang terpenting adalah, dirinya mendirikan perusahaan game miliknya terlebih dahulu. Untuk yang lainnya, bisa Andi pikir pelan-pelan sembari mengumpulkan modal untuk membuat game yang lebih besar.


“Kakak kenapa belum mandi juga sih? Kita kan sudah janjian sama pihak tokonya jam delapan. Ini sudah mau jam tujuh loh, kok belum juga siap?” Omel Amira.


“Ah iya-iya. Kakak akan mandi sekarang.”



Empat puluh lima menit kemudian, keduanya sampai di rumah baru mereka. Andi memilih memarkirkan mobil yang sekarang ia kendarai di depan rumahnya. Sementara mobilnya yang lain, kemarin sudah ia masukkan ke dalam garasi rumah.


“Dek, pesenkan makanan dari ojol dong. Cari makanan ringan dan minuman gitu. Buat nanti yang nganterin barang. Jadi mereka sampai, makanan dan minumannya juga sampai.”


“Pesen berapa Kak?”


“Sepuluh deh. Lebih baik lebih bisa mereka bawa lagi daripada kurang. makanan ringannya jangan lupa.”


“Siap kak.”

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, sebuah truk berhenti di depan rumah Andi. Itu adalah truk dari toko perabotan yang Andi datangi kemarin. Langsung saja truk tersebut diputar hingga bagian belakang truk menghadap ke rumahnya. Ketika barang-barang tersebut mulai di turunkan, ojek online yang mengantarkan pesanan Amira tiba.


Selama satu setengah jam itu Andi turut membantu mengangkat dan menata semua perabotan yang ada. Perlahan rumah yang sebelumnya kosong itu terisi dengan perabotan baru. Setelah semua tertata rapi, Andi mengacungi jempol kepada pilihan Amira.


Ternyata adiknya itu telah memikirkan dengan matang pemilihan perabotan yang ada. Tidak salah jika kemarin ia menyerahkan sepenuhnya kekuasaan memilih perabot kepada Amira.


“Akhirnya selesai juga.” Ucap Amira setelah truk pengirim perabot itu pergi meninggalkan rumah mereka.


“Alah, kamu ngomong gitu kek ikut bantu-bantu aja. Kan yang bantu angkat-angkat itu aku.”


“Eh, kata siapa aku nggak bantu angkat-angkat. Aku bantuin juga tau. Lagian, kita perlu orang yang mengarahkan ketika menempatkan barang. Supaya semuanya ditaruh pada tempat yang tepat. Itu juga penting tau.”


Andi mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. “Baiklah semaumu lah Tuan Puteri.”


“Sekarang kita perlu membersihkan tempat ini.” Ucap Amira sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Banyak sampah plastik dan kardus sisa pembungkus perabotan di rumah mereka.


“Itu nanti sajalah. Sekarang aku mau mandi dulu badanku keringatan.”


“Memangnya di sini ada perlengkapan mandinya?” Tanya Amira heran. Mereka baru mengisi perabot di rumah ini. Sudah jelas di sini tidak ada pakaian ganti untuk Andi, apalagi dengan peralatan mandi. Tentu tidak ada.


“Tentu saja tidak ada. Tetapi, aku menyiapkan baju ganti dan peralatan mandi di bagasi mobil. Jadi, sekarang aku mau mandi dulu.”


“Ish, curang. Tau gitu aku tadi bawa baju ganti. Sekarang aku kringetan juga.”


“Nanti aja kamu mandinya. Kamu kan nggak keringetan parah. Setelah aku mandi, kita jemput Arfan di tempat lesnya. Lalu, aku akan mengajak kalian ke Surabaya. Mumpung belum terlalu sore.”


Andi berencana mmebelikan adik laki-lakinya peralatan menggambar. Kali ini bukan cat air dan buku gambar. Tetapi sebuah unit komputer beserta peralatan gambar digital. Andi berencana membuat game pertamanya dengan bantuan Arfan. Ia ingin meminta adiknya itu menggambarkan hero untuk desain deck card dari gamenya.


Mungkin nantinya juga ia akan membelikan peralatan gambar fisik. Tetapi, tujuan utamanya tetap membeli peralatan gambar digital.


“Ke Surabaya? Mau ngapain lagi kak?”


“Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Sekarang kita aku akan mandi dulu. Setelah itu kita akan berangkat ke sana.”

__ADS_1


__ADS_2