
“Arya, kenapa kamu kemari?” Tanya Marcel melihat Arya yang sekarang mendekat ke arahnya.
“Apa kamu tidak bisa melihat? Tentu saja membeli baju. Kamu kira aku datang kemari untuk membeli makanan?” Tanya Arya.
Pandangan Arya kemudian tertuju kepada Andi. Sebelumnya Arya tidak melihat dengan jelas siapa yang tengah bersiteru dengan Marcel. Tubuh Marcel mengahalangi pandangan Arya. Namun, setelah Marcel sedikit menggeser tubuhnya, Arya bisa melihat keberadaan Andi.
Dunia memang sekecil itu. Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Andi. Langsung saja Arya berjalan menghampiri Andi dan merangkul pundaknya. “Hai Andi, my Man. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Apakah anak ini sudah menganggumu?” Tanya Arya sembari menunjuk ke arah Marcel.
“Dia mau merebut jas yang aku pilih. Jas yang ditangannya sebelumnya adalah jas yang aku pilih. Namun, dia mengambilnya dariku. Sekarang dia juga menginginkan jas yang ada di tanganku.” Jelas Andi kepada Arya.
“Wah-wah keterlaluan sekali kamu Marcel. Ternyata benar, Marcel yang agung belum juga berubah. Tenang saja Andi, ada aku di sini. Aku yakin seorang Marcel yang agung tidak akan berani mengambil barangmu jika ada aku di sini.” Ucap Arya dengan pernuh percaya diri.
“Heh.” Marcel mendengus mendengar ucapan Arya. “Ini tidak ada urusannya dengamu Arya. Untuk apa kamu ikut campur dengan hal ini.”
“Tentu saja aku perlu ikut campur. Andi ini adalah temanku, sudah jelas aku akan ikut campur dengan hal ini.”
“Dia hanyalah anak miskin, bukan orang yang pantas untuk berteman denganmu. Jadi, untuk apa kamu membela orang yang tidak sederajat dengan kita?” Ucap Marcel sembari memandang Andi dengan tatapan mencemooh.
Marcel tidak paham, kenapa Arya sangat menyukai berkumpul dengan para orang miskin itu. Apa dia tidak khawatir akan tertular dengan nasib sial mereka. Lihatlah para orang miskin itu, seberapa keras mereka bekerja, mereka tetap saja miskin. Bukankah itu nasib sial mereka. Marcel yakin, nasib sial itu bisa menular jadi dia sangat anti berhubungan dengan orang miskin.
“Heh. Aku tidak membeda-bedakan teman sepertimu. Derajat manusia tidak diukur dari harta yang mereka miliki. Lagi pula jika memang itu diukur dari harta, kamu juga adalah orang miskin. Yang kaya adalah kakek buyutmu. Sementara dirimu, kamu hanya menumpang kekayaan mereka.”
“Seberapa banyak memangnya uang yang kamu hasilkan dengan keringatmu sendiri? Aku yakin yang kamu hasilkan itu tidak lebih banyak dari apa yang dihasilkan oleh seorang pelayan toko selama setahun. Merendahkan orang lain karena harta itu bukan hal yang keren.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan Arya, Andi memberikan nilai plus untuk pemuda itu. Melihat Arya yang dengan beraninya mendebat Marcel, Andi menduga pemuda itu berasal dari salah satu empat keluarga besar di kota ini.
Andi kira semua anak muda dari empat keluarga besar adalah orang sombong yang merendahkan orang lain. Dirinya tidak menduga masih ada anak seperti Arya. Tidak banyak anak dari keluarga kaya memiliki pemikiran seperti Arya.
“Apa salahnya dengan hal itu? Itu adalah keunggulanku karena memiliki darah seorang Sasongko. Ini yang membedakanku dari semua orang miskin itu. Keluargaku, keluarga Sasongko memiliki derajat lebih tinggi daripada mereka.”
Marcel begitu bangganya memiliki darah seorang Sasongko mengalir di dalam darahnya. Menurut sejarah, leluhurnya bisa dikatakan masih memiliki darah bangsawan. Jadi, sudah jelas derajatnya lebih tinggi daripada mereka yang terlahir dalam keluarga biasa.
Ketika mereka tengah bersiteru seperti itu, dua orang perempuan mendekati mereka. Andi sedikit kaget melihat salah satu perempuan itu di sini. Itu adalah pemilik toko ponsel yang tempo hari ia datangi bersama dengan Amira. Dunia memang benar-benar sempit, tidak hanya Arya, Andi tidak menyangka juga akan bertemu dengan perempuan itu di sini.
“Aku tidak menyangka anggota keluarga Sasongko sekarang ini seberani itu. Di setiap toko yang aku miliki kalian membuat keributan. Sebelum ini kakak sepupumu juga membuat keributan di toko ponselku. Sekarang, giliranmu membuat keributan di toko pakaian milikku.”
“Mbak Gayatri.” Sapa Arya kepada perempuan itu. “Oh hai juga Widya, kamu ikut juga ke sini.” Sapa Arya kepada gadis yang datang bersama dengan Gayatri.
Marcel kemudian menyapukan pandangannya ke arah para pelayan toko. Ia mencoba mencari tahu siapa pelakunya yang sudah melaporkan hal ini kepada Gayatri. Jika Marcel menemukan siapa pelakukanya, sudah pasti ia akan memberi pelajaran kepada orang tersebut.
“Aku sudah mengetahui permasalahannya. Tokoku ini menggunakan prinsip, first come first serve, siapa yang datang duluan yang dilayani duluan. Sekaya apapun kamu jika kamu datang belakangan, kami akan melayanimu setelah pelanggan sebelumnya telah selesai.”
Gayatri terlihat menggelengkan kepalanya. “Aku dengar Mas yang ini sudah memilih jas yang kupegang itu terlebih dahulu. Dia sudah mengalah memberikannya itu padamu. Sekarang, kamu malah meminta jas lainnya yang sudah ia pilih. Jika seperti ini, kami dari pihak toko akan turun tangan.”
Gayatri menjatuhkan pandangannya kepada Andi. Ia cukup kaget melihat siapa yang tengah bersiteru dengan seseorang dari keluarga Sasongko. Bukankah dia adalah pemuda yang sebelumnya bersiteru dengan Runaya di toko ponselnya? Sekarang dia malah bersiteru dengan Marcel di tokonya yang lain.
Memangnya apa yang dilakukan oleh pemuda itu, sehingga dia selalu bersiteru dengan seseorang dari keluarga Sasongko. Menurut Gayatri, jika ini hanya kebetulan belaka, ini menjadi sebuah kebetulan yang luar biasa.
__ADS_1
“Sebelumnya, pelayan tokoku sudah menawarkan padamu mengani model lainnya. Tetapi, kamu bersikukuh menginginkan jas yang dipilih oleh Mas ini. Sekarang aku mau tanya, apakah kamu akan tetap mempermasalahkan hal ini atau menyudahinya di sini?”
Mendengar perkataan Gayatri yang seperti itu, langsung saja Marcel melemparkan jas yang ada di tangannya ke arah salah satu pelayan toko yang ada di sana. “Ini aku tidak jadi membelinya. Pelayanan toko kalian buruk sekali. Jika bukan karena kebutuhan mendesak, sudah jelas aku tidak mau menginjakkan kakiku di toko ini. Aku masih bisa mencari jas di toko lain.”
Setelah berkata demikian, Marcel memandang lekat ke arah Andi. Ia ingin mengingat dengan jelas wajah orang yang sudah membantah perkataannya. Setelah ini, anak itu harus berharap untuk tidak lagi pertemu dengannya. Karena jika mereka bertemu, Marcel akan membalaskan semua rasa malu yang sekarang ia rasakan.
Setelah mengingat dengan baik wajah Andi, Marcel meninggalkan toko jas bermerek itu tanpa mempedulikan beberapa pandangan orang di sekitarnya. Jika saja dirinya tidak membutuhkan jas untuk menghadiri pesta untuk malam ini, sudah jelas ia tidak akan datang ke toko ini.
Biasanya jas miliknya dibuatkan khusus oleh seorang desainer. Tetapi karena kebutuhan mendesak, ia perlu membeli jas jadi. Marcel malas menggunakan jas yang pernah ia pakai. Ia ingin memakai jas baru untuk pesta malam ini.
Setelah kepergian Marcel, Gayatri menjatuhkan pandangannya ke arah Andi. “Aku tidak menyangka kita bertemu kembali. Aku juga tidak menyangka di setiap pertemuan kita kamu tengah bersiteru dengan anggota keluarga Sasongko.”
“Ah maafkan saya Mbak. Saya nggak ada niatan sama sekali untuk membuat keributan di toko milik Mbak.” Jelas Andi sedikit canggung.
Andi sendiri juga tidak menyangka bahwa toko ini adalah milik Gayatri. Ia juga tidak menyangka akan membuat keributan di setiap toko milik Gayatri yang ia kunjungi. Dan di setiap keributan itu, kenapa selalu keluarga Sasongko yang menjadi lawannya.
“Ah Mbak Gayatri kenal Andi?” tanya Arya penasaran setelah mendengar interaksi di antara Andi dan Gayatri.
“Tidak. Aku hanya pernah bertemu dengannya sekali. Dia bersiteru dengan Runaya di toko ponselku.” Jelas Gayatri.
“Ah aku tidak menyangka kamu juga membuat memiliki masalah dengan Runaya. Semua orang dari keluarga Sasongko itu terlalu besar kepala. Padahal mereka itu memiliki peringkat paling rendah diantara keempat keluarga besar. Tetapi, sikap mereka seolah mengatakan bahwa keluarga mereka adalah yang terkuat di kota ini.”
“Sebagai permintaan maafku atas masalah ini, aku akan mengajakmu makan malam. Aku harap kamu belum makan sore ini.” Ucap Gayatri menawarkan diri.
__ADS_1
Sebelum Andi sempat membuka mulutnya untuk menolak, Arya yang kembali memeluk pundak Andi menjawab hal itu untuk Andi. “Tentu saja Mbak, temanku ini bersedia. Aku juga akan menebalkan mukaku dan ikut makan malam gratisan ini.” Ucap Arya sembari menunjukkan barisan giginya.