
Ketika melihat saham yang dimiliki sejak jumat kemarin mengalami sedikit kenaikan, Andi langsung menjual seluruh sahamnya itu. Sembari menunggu sahamnya tersebut laku, Andi mengecek saham-saham lain yang ada di sana.
Pandangan Andi terpaku pada sebuah perusahaan otomotif yang sahamnya mengalami naik turun dalam seminggu terakhir. Andi memperhitungkan nilai saham perusahaan itu. Menurutnya, hari ini saham dari perusahaan ini akan mengalami kenaikan yang cukup besar. Langsung saja seluruh uang dari penjualan sahamnya, ia belikan saham dari persusahan otomotif tersebut.
Setelah menunggu tiga puluh menitan, nilai saham perusahaan itu meroket sesuai prediksi Andi. Ia segera menjual saham tersebut ketika keuntungannya menyentuh angka sembilan persen. Jika Andi menunggu terlalu lama, bisa-bisa nilainya akan menurun. Jadi, Andi segera menjualnya.
Dalam tiga puluh menit ini saja Andi mendapatkan keuntungan delapan belas juta lebih. Angka yang cukup tinggi baginya. Setelahnya, Andi kembali memperhatikan pergerakan pasar. Pemuda itu ingin mencari perusahaan yang menurutnya akan memiliki kenaikan nilai saham yang signifikan seperti perusahan otomotif sebelumnya.
Tidak lama kemudian, Andi menemukan perusahaan itu. Ia menghabiskan semua uangnya yang ada di akunnya untuk membeli saham itu. Kali ini Andi segera menjual saham tersebut dengan keuntungan lima persen.
Pada jam-jam terakhir sebelum bursa tutup, Andi sudah mengantongi keuntungan hampir tujuh puluh dua juta. Ini adalah uang yang Andi hasilkan dari kerja kerasnya sendiri. Ia smenggunakan kemampuan yang ia dapatkan dari sistem untuk memilih saham perusahaan mana yang bisa memberinya keuntungan banyak. Langsung saja Andi mentrasfer uang lima puluh juta dari akunnya ke rekening pribadinya.
“Sekarang saatnya pulang. Aku masih perlu bersiap-siap mengantarkan Amira pulang ke rumah.”
Memang sedari tadi Andi melakukan transaksi di bursa di sebuah kafe yang tidak jauh dari perusahaan penyalur pekerja. Ia tidak ingin membuang waktunya di jalan. Jika ia harus pulang, sudah jelas dua puluh menit waktunya akan terbuang.
Menurut Andi, ini adalah penggambaran yang sesungguhnya dari waktu adalah uang. Jika dirinya mengahbiskan waktunya untuk hal yang lain, mungkin saja pendapatannya tidak sampai tujuh puluh juta. Itu berarti, jutaan uang terbuang bersamaan dengan dia mensia-siakan waktunya.
“Sepertinya aku perlu mengatur waktuku dengan sebaik-baiknya.”
*****
“Aku pulang.” Ucap Andi ketika memasuki apartemennya.
“Kakak sudah pulang?” Amira yang sekarang duduk di sofa ruang tamu, menolehkan kepalanya ke arah Andi.
“Ya. Kamu udah mandi? Kalau belum mandi gih. Setelah ini Kakak akan mengantarmu pulang.”
“Ini kan masih sore Kak? Kenapa nggak nanti aja?” Pinta Amira seolah enggan meninggalkan tempat ini. Andi rasa adiknya itu sangat berpisah dengan TV berlangganan yang ada di apartemen Andi. Lihat saja saja apa yang di tonton adiknya sekarang ini, sebuah siaran ulang konser salah satu boy band kesukaannya.
“Mumpung masih jam segini. Jika setengah jam lagi kita berangkat, aku yakin sebelum magrib kita sudah sampai rumah. Jam segitu jelas Ayah belum pulang bukan? Kalo kemaleman, keburu ayah pulang. Ada yang perlu aku omongin dengan ibu. Dan itu akan sulit terjadi jika Ayah ada di rumah.”
__ADS_1
Mendengar ucapan kakaknya itu, Amira menyerah dan tidak membantah lagi. “Baiklah-baiklah. Aku akan segera mandi dan bersiap.” Langsung saja Amira beranjak dari sofa setelah mematikan TV.
*****
Andi hanya membutuhkan waktu satu jam setengah untuk sampai di kota ia dibesarkan. Melewati tol membuatnya mempersingkat waktu yang diperlukan dalam perjalanan dari Surabaya menuju kotanya. Langsung saja Andi membawa mobilnya menuju arah rumahnya.
“Kamu coba hubungi Ibu. Tanya ke Ibu ayah di rumah apa nggak. Kalo Ayah udah di rumah, aku nggak bisa nganterin kamu sampe depan rumah. Jika memungkinkan, aku akan mengajak ibu ketemuan di luar.”
“Baik Kak, aku akan hubungi Ibu, aku akan tanya apakah Ayah di rumah atau tidak.” Dua menit kemudian, ponsel Amira berdenting. Sepertinya itu adalah pesan masuk dari ibunya.
“Ayah belum pulang Kak. Kata ibu, Ayah pulangnya entar malem jam sepuluhan.” Jelas Amira.
“Baiklah.”
Andi kemudian membawa mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ia segera memarkirkan mobilnya di sana.
“Loh kenapa mampir ke sini Kak?” Tanya Andi.
“Kakak perlu memarkirkan mobil ini di sini. Nggak mungkin Kakak membawanya pulang.”
“Hah.” Andi menghembuskan nafas panjang. “Tentu saja tidak bisa. Memang Ayah tidak ada di rumah. Tetapi, bagaimana dengan tetangga kita? Mereka pasti akan melihat aku membawa mobil dan pasti akan ada yang menceritakan hal itu kepada Ayah. Jadi, lebih baik aku memarkirkan mobilku di sini.”
“Dan aku minta padamu untuk tidak menceritakan kepemilikan mobilku kepada Ayah atau Ibu nanti, jika ayah sudah lebih tenang, aku akan kembali berbicara dengannya.” Jelas Andi.
Pada akhrinya, Andi memesan sebuah taksi online untuk membawanya pulang ke rumah. Kali ini Andi pulang tidak dengan tangan kosong. Ia membawa dua kardus martabak manis untuk keluarganya. Sebenarnya, Andi ingin memberikan lebih. Namun, hal itu malah akan membuat Aripto mencurigai asal usul barang tersebut. Makanan seperti ini tidak akan menimbulkan sebuah kecurigaan.
Sepuluh menit kemudian, Andi sampai di rumah ia dibesarkan. Setelah turun dari taksi online, langsung saja Andi mengetuk pintu rumahnya. Tidak lama kemudian pintu rumah di depannya itu terbuka. Di sana ada Anisa yang kini menatap lekat ke arah Andi.
“Ibu, anak ibu ini datang.” Sapa Andi kepada Anisa.
Melihat anak sulungnya berada di depannya, mata Anisa berkaca-kaca. Langsung saja perempuan itu memegang wajah Andi, ia juga memutar tubuh Andi, mencoba memastikan bahwa anaknya itu baik-baik saja.
__ADS_1
“Kamu apa kabar Nak.”
“Aku baik-baik saja kok Bu. Sehat, nggak kekurangan apapun. Aku tinggal di tempat yang nyaman kok Bu. Jadi ibu nggak perlu khawatir lagi denganku. Kalau ibu tidak percaya, Ibu bisa menanyakan hal itu kepada Amira.”
Sebelum pulang, Andi sudah membicarakan dengan Amira apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dikatakan kepada orang tuanya. Andi hanya mengijinkan Amira memberikan gambaran bagaimana kehidupannya di Surabaya, tanpa memberikan detail-detail tentang kehidupannya.
“Kita bicara di dalam saja ya.” Ucap Anisa sembari menarik Andi masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah, Andi dicerca berbagai pertanyaan oleh ibunya. Kebanyakan adalah seputar kehidupan barunya. Dengan sabar Andi menjawab semua pertanyaan ibunya. Meski ada bebrapa hal yang perlu Andi ulang penjelasannya, pemuda itu masih melakukannya dengan sabar. Setidaknya dengan berbicara dengan bertatap muka seperti ini membuat perempuan itu jauh lebih tenang.
Setelah memastikan anak sulungnya itu benar-benar baik-baik saja, Anisa bisa bernafas lega. Meski beberapa hari yang lalu Andi sudah mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja melalui sambungan telfon, tetapi Anisa masih mengkhawatirkan keadaan anak sulungnya itu. Pada akhirnya, wanita itu mengutus Amira untuk mengecek langsung bagaimana keadaan Andi.
“Kamu yang sabar. Mungkin beberapa hari lagi amarah Ayahmu akan reda. Setelah kamu pergi, ibu sering melihat Ayahmu melamun di teras rumah setelah pulang kerja. Ibu yakin sekarang ini ayahmu tengah menyesali apa yang dia lakukan.” Jelas Anisa.
Andi tidak bisa memberi tanggapan apapun. Seperti kata ibunya ia hanya perlu menunggu amarah ayahnya reda. Untuk sekarang, tidak ada yang bisa ia lakukan.
“Ah ya. Tanggal tujuh belas bulan ini adalah perkumpulan tahunan keluarga ayahmu. Kamu bisa menemui ayahmu di sana. Ibu yakin amarah Ayahmu sudah mereda. Ibu harap kalian bisa membicarakan permasalahan ini dengan kepala dingin.”
‘Jadi, pertengahan bulan ini akan ada perkumpulan tahunan keluarga Prayudi ya. Kemungkinan besar Om Burhan akan hadir di sana. Aku harap itu akan berakhir seperti yang ibu harapkan, aku dan ayah berbaikan. Aku harap hadirnya Om Burhan di sana tidak akan memperburuk keadaan.’ Gumam Andi dalam hati.
“Aku akan mengusahan untuk datang Bu. Oh ya Bu, kata Brian dalam minggu ini kalau nggak minggu depan, toko dan kafe kami sudah selesai di renovasi. Aku akan menyebarkan iklan lowongan kerja di beberapa medsos, yang cukup banyak pengikutnya, yang ada di kota kita. Tetapi, nanti ibu yang menyeleksinya sendiri. Aku dan Brian sudah mempercayakan semua ini kepada ibu.”
“Apa tidak apa jika hanya ibu saja yang menyeleksi?” tanya Ansia memastikan.
“Tidak masalah. Lagi pula nanti yang akan bertanggung jawab atas keuangan adalah ibu. Jadi, pekerja yang lain bisa ibu pilih sesuai dengan kemampuan mereka. Aku juga mempersiapkan beberapa resep untuk menu lain dari dessert shop.”
“Untuk kafenya, lebih baik menjual makanan ringan saja bukan makanan berat seperti olahan nasi. Hari Sabtu besok aku akan pulang kembali dan mengecek semuanya. Kata Brian sabtu besok, beberapa peralatan dapur akan tiba. Pada hari itu, aku akan memberikan sedikit pelatihan kepada mereka. Itu berarti, hari Jumat setidaknya kita sudah menyeleksi beberapa pekerja.” Jelas Andi.
“Baiklah jika kamu sudah mempercayakan semuanya kepada Ibu. Ibu akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi amanah kalian ini.”
“Kalau begitu aku pamit dulu Bu. Kalau aku tetap di sini, sudah pasti nanti ayah akan bertemu denganku. Aku tidak ingin menambah masalah untuk saat ini. Jadi lebih baik aku kembali.” Pamit Andi kepada Anisa.
__ADS_1
Sebelum pergi, Andi kembali mengingatkan Amira untuk membuat akun, di sebuah aplikasi yang memperjual belikan reksadana, dengan menggunakan KTP dan rekening ibunya. Andi ingin Amira merasakan sendiri bagaimana keuntungan yang bisa didapatkan dari kepemilikan reksadana.
Dengan melakukan hal ini Andi ingin Amira merasakan jumlah keuntungan yang didapatkan dari kepemilikan reksadana. Dengan begitu, akan sangat mudah bagi Andi menjelaskan asal usul beberapa uangnya kepada keluarganya. Akan ada Amira, adiknya, yang akan membantunya membenarkan alasan yang diberikannya.