Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 74 Balap Mobil di Jalur Gunung (2)


__ADS_3

Arya baru turun dari mobilnya. Ia menghampiri pengemudi mobil sport yang tadi datangs bersamanya. “Ini beneran bukan aku Sat yang mengajak Widya kemari. Dia sendiri yang tiba-tiba masuk ke mobilku dan tidak mau keluar.” Ucap Arya kepada pemuda di depannya.


Pemuda bernama Satrio itu kini menatap tajam adiknya yang diam saja, seolah tidak memiliki kesalahan apapun.


“Apa? Aku hanya ingin menonton balapan saja. Selama ini Mas Satrio larang-larang aku buat lihat balapan, tetapi Mas Satrio sendiri dengan selalu saja ikut balapan. Aku kan hanya liat nggak ikut balapannya, jadi, kenapa harus dilarang-larang.” Ucap Widya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


“Tapi balapan ini bahaya, kalau kamu kenapa-napa sudah jelas Mbak Gayatri akan mencincangku. Aku masih mau hidup lebih lama lagi.”


“Aku kan cuma lihat. Apa bahayanya kalo lihat. Justru Mas Satrio itu yang harusnya berhati-hati agar nggak kejadian apa-apa. Mas kan yang ikut balapan.” Bantah Widya.


“Sudah-sudah, jangan rebut gitu. Semuanya pada ngeliatin tuh. Lagian Widya kan hanya pengen lihat Sat, jadi ijinin aja napa.”


Mendengar ucapan Arya, Satrio memberikan tatapan tajam kepada pemuda tersebut. Melihat hal itu, Arya langsung saja menutup mulutnya yang ingin kembali menengahi permasalahan kedua kakak beradik itu. Jika ia tetap berbicara, sudah pasti nanti pemuda itu akan menghajarnya. Bagaimana pun juga, Arya ikut andil dalam masalah ini. Ia lah yang membawa adik kesayangan Satrio itu kemari.


“Urusan kita belum selesai ya. Aku belum membuat perhitungan denganmu karena sudah membawa Widya kemari.” Setelah berkata demikian, Satrio menyapukan pandangannya ke sekitarnya. Ia ingin memmperingatkan mereka melalui pandangannya agar tidak lagi melihat kemari. Dan, tatapan tajam Satrio tersebut berhasil membuat mereka mengalihkan pandangannya.


Arya mengangkat kedua tangannya sembari mengambil beberapa langkah mundur. Lebih baik ia pergi meninggalkan kedua kakak beradik yang terngah bersiteru itu. Jika tetap berada di sini, bisa-bisa tinju seorang Satrio akan jatuh di tubuhnya. Mungkin dia akan menelfon Andi dan menanyakan keberadaan pemuda itu.


Arya langsung membalikkan badannya dan meninggalkan mereka. Ketika ia mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Andi, Arya melihat sosok Andi di antara orang-orang yang sudah berkumpul. Ah ternyata anak itu sudah datang kemari.


Langsung saja ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Andi. Ketika Arya semakin mendekat, kerumunan di depan Andi memberikannya jalan. Itu terlihat seperti Arya tengah membelah kerumunan tersebut.


“Andi my Man. Tenyata kamu sudah ada di sini. Aku kira kamu belum datang, kenapa tidak bilang kalau kamu sudah ada di sini?” Sapa Arya sembari mendekat ke Andi dan merangkul pundak pemuda itu.


“Aku juga baru saja datang.” Jawab Andi.


Arya lalu menyapukan pandangannya ke sekeliling mereka. Ia melihat mereka yang kini berkerumun di dekat Andi. “Apakah mereka ini memberikan masalah untukmu?”


Mereka yang berkerumun di dekat Andi merasa takut setelah mendengar ucapan Arya. Dia adalah seseorang dari empat keluarga besar Kota Surabaya, orang sekelas mereka tidak bisa menandinginya. Meski mereka juga berasal dari keluarga kaya, tetapi, kekayaan mereka tidak ada bandingannya dengan empat keluarga besar.


Jika diibaratkan, kekayaan empat keluarga besar itu seperti gajah yang besar, sedangkan mereka hanyalah seekor kelinci, yang tidak terlalu besar juga bukan yang terkecil. Sudah jelas mereka tidak ada apa-apanya. Jika mereka menyinggung tuan muda ini, bisa-bisa itu berakibat fatal untuk keluarga mereka.

__ADS_1


Memang para tuan muda itu tidak akan turun tangan langsung untuk memberi mereka pelajaran, tetapi, orang-orang di sekitar mereka lah yang melakukannya. Mereka akan menjauhi siapapun yang memiliki masalah dengan anggota keluarga dari empat keluarga besar. Bahkan orang di sekitar mereka sampai bertindak jauh dengan memutus kerjasama atau menolak kerjasama antar perusahaan keluarga mereka.


Oleh karena itu, sebisa mungkin orang-orang ini akan memuaskan para tuan muda itu. Jika tidak bisa melakukan hal itu, setidaknya mereka tidak bermusuhan dengan para tuan muda. Sekarang ini, pemuda yang tadi menghardik Andi merasa menyesal. Jika tahu bahwa dia mengenal salah satu tuan muda dari empat keluarga besar, sudah jelas ia tidak akan melakukan hal seperti tadi.


“Tidak ada masalah yang begitu berarti. Mereka hanya menanyakan kenapa aku tidak membawa mobil sport kemari.” Jelas Andi singkat.


Mendengar ucapan Andi, pemuda tadi menatap Andi dengan rasa terimakasihnya. Ia tidak menyangka pemuda ini mau membantunya. Padahal, Andi bisa dengan mudah membuat Arya membantunya membaalaskan semuanya hanya dengan mengatakan sebenarnya.


“Jangan meremehkan temanku ini. Meski dia hanya menaiki SUV, tetapi dia bisa mengalahkan mobil sport milikku.” Ucap Arya dengan penuh rasa bangga.


“Benarkah Tuan Muda Arya?” Tanya seseorang sedikit tidak percaya dengan ucapan Arya.


“Apa kamu tidak mempercayaiku?”


“Ah tidak, aku percaya denganmu Tuan Muda Arya. Hanya saja, itu sedikit sulit diterima. Mobil SUV dirancang bukan untuk mengalahkan mobil sport bukan? Torsi mobil SUV tidak sebesar mobil sport. Jadi, aku sulit menerima apa yang Anda katakan.” Jelas pemuda itu.


Arya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Kamu memang benar. Aku juga akan tidak memepercayainya jika ada yang mengatakan hal itu. Tetapi, aku sendiri telah merasakannya. Aku dibuat kewalahan dengan temanku ini ketika di jalan tol. Padahal, dia hanya memakai mobil SUV sedangkan aku menggunakan mobil sport.” Jelas Arya.


Arya menggelengkan kepalanya. “Sayangnya dia tidak mau ikut balapan. Dia hanya akan melihat jalannya balapan malam ini.” jawab Arya.


Mereka yang berkerumun terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya seolah menyetujui apa yang Arya katakan. Padahal, di dalam hati mereka masih tidak mempercayainya. Jika memang sehebat itu, kenapa tidak ikut balapan? Itu malah membuatnya terlihat seperti tengah membual kepada mereka. Tetapi, tidak ada satu pun di antara mereka yang berani mengatakan hal itu.


Hari makin larut, semakin banyak mobil sport yang mulai berdatangan dalam balapan kali ini. Andi kembali mendengar keributan kecil. Berkaca dari kedatangan Arya sebelumnya, Andi menduga bahwa ada orang penting yang datang ke lokasi balapan.


“Mobil biru itu milik Marcel, pemuda yang kapan hari itu bersiteru denganmu. Lalu, yang memakai mobil merah itu adalah Hermawan. Jika bisa, hindari memiliki konflik dengan dua orang itu. Mereka itu sedikit sinting. Masalah kecil akan mereka buat menjadi besar.” Di sebelah Andi, Arya menjelaskan siapa yang datang.


“Sekarang, ikut aku ke Widya. Akan aku kenalkan kamu dengan Satrio, kakak dari Widya.”


Andi pun mengikuti langkah Arya menuju ke arah Widya dan Satrio. Sepertinya kedua kakak beradik itu sudah berdamai. Lihat saja, mereka saat ini tengah tertawa-tawa pelan sembari melihat ponsel mereka. Orang lain yang tidak mengetahui hubungan mereka sebenarnya, pasti akan mengira bahwa mereka ini adalah pasangan kekasih.


“Ruapanya kalian sudah berdamai sekarang.” Ucap Arya setelah berada di dekat mereka.

__ADS_1


“Dari mana kamu Arya?” Tanya Satrio.


“Aku mencari temanku. Kenalkan ini dia Andi, orang yang sudah mengalahkanku dalam balapan di jalan tol itu.” Ucap Arya sembari menunjuk ke arah Andi.


“Oh ternyata itu kamu yang berhasil mengalahkan Arya. Aku sudah melihat rekamannya dari kamera dashboard mobilnya Arya. Itu keren sekali. Jika Arya tidak memperlihatkan video itu, sudah jelas aku akan mengatakan kalau Arya hanya membual. Apakah kamu akan ikut lomba malam ini?” Tanya Satrio.


Andi menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ikut lomba kali ini. Namaku Andi.” Ucap Andi sembari mengulurkan tangannya kepada Satrio.


“Ah aku lupa dengan sopan santunku hingga lupa memperkenalkan diri, aku Satrio.” Ucap Satrio sembari menerima uluran tangan Andi. “Kalau kamu lebih mudah dariku lebih baik panggil Mas saja. Kita orang jawa panggilnya gitu aja. Jangan panggil yang lain.”


“Halah, Mas Satrio takut di panggil bang bukan? Kalo ada yang panggil bang, jadinya Bang Sat. Gitu aja pake bawa-bawa suku.” Widya yang duduk di kap mobil Satrio menanggapi.


“Aish. Kamu ini Dek, jangan buka kartu kayak gitu. Panggil Mas aja, Mas Satrio nggak pake yang lainnya.” Ucap Satrio sembari memberikan adiknya tatapan tajam. “Ah ya, kenalkan ini adikku, Widya.”


“Aku sudah mengenalnya.” Jawab Andi.


Satrio terlihat mengerutkan keningnya. “Sudah saling mengenal. Sejak kapan kamu mengenal adikku?” Tanya Satrio dengan memberikan Andi tatapan tajam.


Dari cerita Arya, dia mengenal Andi secara tidak sengaja. Lalu, sekarang Andi mengatakan bahwa diamengenal adiknya, dari mana ia mengenalnya? Apakah Andi sebenarnya adalah seseorang yang hanya ingin mendekati adiknya lalu memanfaatkannya? Jika demikian, maka Satrio akan menghajarnya. Ia harus menjaga adiknya baik-baik agar adiknya itu tidak di dekati oleh pemuda-pemuda kurang ajar.


“Hey, hey, hey, tenang lah Sat. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Andi mengenal Widya karena dia bertemu dengan adikmu di toko kakakmu. Waktu itu, Andi sedang ada masalah dengan Marcel di toko Mbak Gayatri. Jadinya, Mbak Gayatri datang ke sana mengecek, Widya waktu itu mengikuti Mbak Gayatri.” Jelas Arya.


“Bener itu Mas. Aku ketemu Andi juga nggak sengaja. Aku kenal dia karena kapan hari dia ada masalah dengan Marcel di toko Mbak Gayatri.” Imbuh Widya.


“Bicara soal Marcel, tuh anaknya mau ke sini.” Ucap Arya.


Andi pun mengikuti pandangan Arya dan melihat Marcel yang kini tengah berjalan mendekati mereka. Di samping Marcel, ada seorang pemuda yang berjalan dengan membusungkan dadanya. Sepertinya itu adalah pemuda yang dipanggil dengan Hermawan.


Pandangan Andi kemudian tertuju kepada seorang perempuan yang bergelayutan di lengan Hermawan. Perempuan itu memperlihatkan sikap manjanya dan beberapa kali berbisik di telinga Hermawan. Bukan sikap perempuan itu yang membuat pandangan Andi tertuju padanya. Tetapi identitasnya.


Jika Andi tidak salah ingat, perempuan itu adalah teman Rosalinda yang dulu pernah ia temui di mall ketika berbelanja untuk menghabiskan uang. Ia lupa siapa nama perempuan itu. Tetapi, kenapa perempuan itu di sini? Apakah dia memiliki hubungan dengan para tuan muda itu?

__ADS_1


Jika benar, berarti perempuan bernama Rosalinda, yang dibicarakan oleh dua orang pemuda di club, adalah Rosalinda yang sama dengan yang ia kenal. Tiba-tiba saja Andi mencium masalah baru saat ini.


__ADS_2