
Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan Favorit
---
“Jadi gimana kabarmu?” Tanya Putra setelah dirinya menyelesaikan shift bekerjanya.
“Aku baik-baik saja. Keluargaku juga baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apakah kabar ibu dan adikmu baik-baik saja?” Tanya Andi.
Putra adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan dua tahun lalu. Sekarang dia hanya hidup bersama dengan ibu dan seorang adik laki-lakinya.
“Baik. Ibuku juga baik. Kemarin ibu menanyakan tentangmu. Kenapa kamu nggak mampir lagi.”
Andi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Aku sejak menyelesaikan ujian punya banyak kesibukan. Sekarang aku membuka sebuah usaha baru. Jadi, aku tidak bisa berkunjung ke rumahmu. Mungkin sore ini aku akan mampir ke rumahmu.”
“Ah ya bicara soal bisnisku, Put, apakah kamu bisa membantuku? Maksudku aku menawarimu sebuah pekerjaan. Daripada kamu mengisi waktu luangmu dengan bekerja di kafe ini, aku memiliki tawaran kerja dengan gaji yang lumayan besar.”
“Tapi jangan anggap aku meremehkan pekerjaan sampinganmu ini bukan. Hanya saja, jika kamu bisa mendapatkan gaji lebih kenapa tidak?” Jelas Andi.
Putra mengibaskan sebelah tangannya. “Tenang saja. Aku tidak akan berpikir seperti itu. Kita berteman juga bukan sejak kemarin sore. Jadi, aku tahu benar sifatmu santai aja. Lalu, apa kerjaan yang mau kamu tawarin ke aku?”
Jika ada pekerjaan dengan gaji lebih tinggi dengan kondisinya yang sekarang yang belum memegang ijazah, tentu Putra akan melakukannya. Ia ingin mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahnya. Jadi, jika ada pekerjaan dengan gaji lebih besar ia tidak akan menolak.
“Apakah kamu bisa membuat game? Maksudku membantu memprogram sebuah game. Seingatku jurusanmu itu adalah pembuatan perangkat lunak bukan? Jadi, apa kamu bisa?”
“Sebesar apa skala gamenya? Mungkin aku bisa membantu. Aku pernah memang mencoba membuat game. Hanya saja itu game sederhana. Tetapi, apakah mereka mau menerimaku yang belum memiliki ijazah ini?”
Andi mengibaskan sebelah tangannya. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Punya atau tidak punya ijazah tidak akan masalah. Yang terpenting adalah kamu mampu melakukannya. Gajinya sebulan tiga setengah juta. Itu belum termasuk bonus jika nanti gamenya berhasil laku keras. Jadi bagaimana?”
“Sebesar itu? Apakah tidak terlalu banyak itu gajinya?”
“Tidak. Itu sangat pantas menurutku.”
Dari ingatannya yang ia dapatkan ketika mnerima pengalaman seorang programmer, Andi tahu betapa susahnya seorang programmer. Kelihatannya mudah, tetapi jika ada kesalahan atau muncul bug dalam game, membetulkannya juga membutuhkan waktu lama.
Bahkan terkadang perlu melihat dari awal untuk mengetahui di mana letak kesalahan yang dilakukan. Jadi, menurut Andi, meskipun Putra hanya lulusan SMK tanpa gelar sarjana, ia pantas mendapatkan gaji sebesar itu. Nantinya jika pekerjaan Putra memuaskan, tidak masalah baginya untuk memberikan bonus besar dan kenaikan gaji.
“Berapa banyak orang yang dibutuhkan? Jika itu cukup banyak, aku akan mengajak beberapa temanku untuk membantu.”
Mata Andi berbinar mendengar ucapan Putra barusan. Bukankah lebih bagus jika Putra bisa membawakan pekerja lainnya untuknya.
“Apakah kamu bisa mencarikan lima orang lagi untukku? Tetapi, aku tidak yakin akan memperkerjakan mereka lebih lama. Mungkin saat ini aku hanya akan mempekerjakan mereka selama tiga bulan. Jika kinerja mereka bagus, maka aku akan mempekerjakan mereka kembali.”
“Sungguh? Jika begitu, aku akan mengumpulkan teman-temanku.”
“Baiklah. Nanti sore ketika aku ke rumahmu, kita bisa mendiskusikannya lagi dengan teman-temanmu.”
“Tentu saja, aku akan melakukannya.”
Setelah mengobrol setengah jam lamanya saling bertukar kabar, Putra pamitan kepada Andi. Pemuda itu perlu tidur setelah bekerja semalaman di kafe ini. Ia juga perlu menghubungi beberapa temannya untuk menawari mereka pekerjaan ini.
Setelah kepergian Putra, Andi melihat jam di pergelangan tangannya. Sejam lagi pembaharuan dari sistem akan selesai. Andi tidak sabar untuk mengetahui apa hal baru yang dimiliki oleh sistem. Andi menunggu sistem menyelesaikan pembaharuannya dengan mencicil membuat program untuk game miliknya.
Tanpa terasa, satu jam berlalu begitu saja. Ia mengehentikan aktifitasnya ketika mendengar sebuah pemberitahuan dari sistem.
[Ding]
[Pembaharuan telah selesai]
__ADS_1
[Selamat datang kembali Host]
[Sekarang Host sudah bisa kembali menikmati keuntungan memiliki Sistem]
[Konversi nafas kembali terhubung]
[Ding]
[Pengecekan saldo terakhir Host selesai]
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 10 (1.566.135.200/70.000.000.000)]
[Saldo Host : Rp 51.032.153.158,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 1 USD (1 USD \= Rp 14.000,-)]
[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur 86 hari 4 jam]
[Misi Harian : - Habiskan uang Rp 10.000.000,-.
Hadiah : 2 pecahan tiket lucky draw
Hukuman : Pengurangan saldo Rp 100.000.000,-]
[Target Mingguan : - Capai pengeluaran Rp 250.000.000,-
Hukuman : Pengurangan saldo Rp 2.500.000.000,-]
[Target Bulanan : -]
[Tiket Lucy Draw : 0 Tiket 0 Pecahan]
[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
- Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
- Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
- Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
- Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1
- Pengalaman Desainer Game : Tingkat 1
- Pengalaman Programer : Tingkat 1]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
Andi mengecek satu persatu apa yang tertera dalam panel status miliknya. Ia cukup kaget sekarang ini ia memiliki misi harian dan target mingguan. Andi juga melihat bahwa jika ia gagal dalam menyelesaikan misi harian dan target minguan, hukumannya adalah kehilangan uang sepuluh kali lipat dari misi atau target yang perlu ia capai.
‘Lalu apa itu hadiahnya? Pecahan dari tiket lucky draw? Apakah ini berarti aku bisa mengumpulkan pecahan tiket lucky draw dan nanti menukarkannya dengan tiket utuh?’ Gumam Andi dalam hati. Tidak lama kemudian, Andi mendengar kembali suara monoton seperti robot khas milik sistem.
__ADS_1
[Menjawab pertanyaaan Host, ya Host bisa menukarkan pecahan tiket dengan tiket lucky draw utuh]
‘Eh, kamu menjawabku sekarang sistem?’
[Ya. Setelah pembaruan, sekarang sistem bisa berkomunikasi secara langsung dengan Host]
Andi cukup kaget mendengar penjelasan dari sistem barusan. Jika demikian, hal baru setelah pembaruan adalah sistem yang sekarang bisa langsung berkomunikasi dengannya. Bukankah ini bagus? Dengan begini, Andi bisa menanyakan banyak hal yang mungkin saja masih membingungkan untuknya.
‘Berapa banyak yang aku butuhkan untuk bisa menukar tiket lucky draw utuh?’
Andi ingat bahwa sebelumnya ia mendapatkan banyak properti dari tiket lucky draw. Apartemen, rumah mewah, itu semua ia dapatkan dari tiket lucky draw. Jadi, Andi ingin kembali mengumpulkan tiket lucky draw agar bisa menukarkannya dengan sebuah properti.
[Host membutuhkan seratus pecahan tiket lucky draw untuk bisa menukarnya dengan satu tiket lucky draw]
Mendengar penjelasan sistem, berarti Andi bisa mendapatkan satu tiket lucky draw jika menyelesaikan semua misi harian dan target mingguan selama sebulan penuh. Ini berarti, setiap bulannya Andi akan memiliki satu properti baru.
Jika ditotal, mungkin harta yang dimiliki Andi cukuplah banyak. Selama ini, panel sistem hanya menunjukkan berapa banyak uang yang dimilikinya. Itu tidak menampilkan harta Andi secara keseluruhan.
Seperti halnya nilai dari setiap properti miliknya, kendaraannya, juga bisnis miliknya. Jika semua itu dijumlah, Andi yakin bahwa harta miliknya akan lebih dari seratus milyar rupiah.
‘Sistem, berapa banyak harta yang aku miliki? Termasuk juga semua kendaraan bisnis dan properti yang aku miliki. Cantumkan juga bisnis yang aku punya.’ Pinta Andi.
[Ding]
[Daftar harta milik Host : - Uang tunai : Rp 51.032.373.158,-
- Rumah mewah : Rp 43.500.000.000,-
- Apartemen : Rp 4.500.000.000,-
- Rumah : Rp 1.000.000.000,-
- Mobil Sport : Rp 7.000.000.000,-
- Mobil : Rp 875.000.000,-
- Mobil Listrik : Rp 500.000.000,-
- Mobil : Rp 355.000.000,-
- Jam Tangan Mewah : Rp 250.000.000,-
- Perusahaan Investasi : Rp 1.200.000.000,-
- Bisnis Makanan : Rp 100.000.000,-
- Saham : Rp 5.600.000.000,-]
[Total Harta Milik Host : Rp 115.912.373.158,-]
‘Aku tidak menyangka bahwa aku sudah memilki harta sebanyak itu sekarang. Jadi Sistem hanya menilai bisnis makananku senilai seratus juta.’
[Itu karena bisnis tersebut bukan sepenuhnya milik Host]
[Semua bangunan dan peralatan kafe milik host merupakan milik teman host. Jadi, sistem menilai harta Host dalam bisnis tersebut hanyalah seratus juta saja]
‘Jadi seperti itu.’
__ADS_1