Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 35 Mendirikan Sebuah Perusahaan (2)


__ADS_3

Kini Andi duduk di sebuah kafe yang ada di Surabaya. Ia sudah janjian akan bertemu dengan Ghani di sini. Sekarang Andi tinggal menunggu kedatangan Ghani, pemuda itu datang jauh lebih awal dari waktu yang mereka janjikan. Tempat ini letaknya dekat dengan apartemennya, jadi dia datang lebih dulu.


Suasana kafe tidak terlalu ramai. Musik yang cukup lirih diputarkan melalui pengeras suara. Hal itu membuat suasana di kafe ini cukup nyaman. Apalagi interior kafe yang mengikuti selera anak muda jaman sekarang. Hal itu membuat kafe ini ramai dikunjungi. Apalagi bagi mereka yang menyukai berfoto. Ini adalah tempat yang cocok.


Hal itu memberikan sebuah inspirasi untuk Andi. Ia ingin tempat miliknya juga memiliki tempat-tempat yang cukup bagus untuk dijadikan latar pengambilan sebuah foto. Dengan tempat yang bagus makanan yang enak, Andi yakin bisnis yang dijalankannya dengan Brian akan ramai. Akan banyak pengunjung kafe mereka nantinya.


Andi tidak sabar menunggu hal itu terjadi. Hari di mana toko fisik untuk dessert box dan juga kafe milik mereka dibuka. Sayangnya itu masih butuh beberapa minggu. Sekarang saja mereka masih merombak bangunan lama dan menghilangkan tembok-tembok pembatas. Itu tidak bisa dilakukan dalam waktu sekejab. Jadi Andi harus sabar menunggu hal itu terjadi.


Seorang laki-laki berumur tiga puluh tahunan terlihat memasuki kafe. Ia terlihat mengedarkan pandangannya, menyapu wajah seluruh pengunjung yang ada di kafe tersebut. Tidak lama kemudian, laki-laki tersebut menjatuhkan padangannya kepada Andi yang tengah duduk sendiri menghadap pintu kafe.


Laki-laki tersebut kemudian berjalan mendekat ke arah Andi. “Andi ya?” Tanya laki-laki tersebut ketika sampai di meja Andi.


“Iya saya sendiri. Pak Ghani ya?”


“Aku tidak menyangka kamu semuda ini. Aku kira yang mau mendirikan perusahaan itu anak yang baru lulus kuliah. Setidaknya umur dua puluh lebih. Aku lihat kamu ini lebih muda dari itu.”


Andi menundukkan kepalanya sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Ah, ya. Saya baru lulus SMA Pak, jadi masih belum dua puluh tahun.”


“Oh baru lulus SMA toh. Jangan formal-formal gitu. Biasa aja. Panggil Mas aja biar kita jauh lebih akrab.”


“Iya Pak, eh Mas.”


Ghani mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Ia lalu mentap Andi dari atas kebawah. “Masih muda gini udah mau berbisnis. Enak kalo mau apa-apa enak. Pengen libur ga perlu ijin ke atasan. Pengen ga masuk kerja juga bisa wong bisnisnya punya sendiri. Semuanya fleksibel. Jadi ga seribet yang kerja ikut orang. Bagus, lanjutkan aja memulai.”

__ADS_1


“Kamu masih muda, gagal tidak masalah, kamu masih punya waktu yang panjang. Meski nanti gagal, jangan putus asa. Coba sekali lagi. Usaha tidak akan menghianati hasil.” Nasihat Ghani kepada Andi.


“Iya Mas akan aku ingat nasihat Mas Ghani.”


“Jadi, bisnis kamu ini yang kaya gimana. Aku biar bisa bantu kamu buat pendaftaran.”


“Jadi seperti ini Mas ….”


Andi mulai menjelaskan mengenai perusahaan yang ingin ia dirikan. Ia juga menjelaskan kepada Ghani mengenai fokus dari bisnisnya tersebut. Semua Andi jelaskan kepada Ghani.


“Hemm…. Jadi seperti itu. Baiklah aku sekarang paham mau ke arah mana perusahaanmu ini. Aku sudah mencatat poin-poin penting dari perusahaanmu ini. Jadi perusahaanmu ini hanya akan berinvestasi kepada pengusaha kecil?”


“Ya, aku ingin mewujudkan impian dari orang-orang yang ingin memulai bisnis dengan memodali mereka. Tentu saja aku tidak akan sembarangan memberikan modal. Aku akan mencari tim profesional yang akan menyeleksi dan memperhitungkan proposal-proposal yang masuk.”


“Baiklah. Kalau begitu kamu perlu memenuhi semua persyaratan ini.”


Ghani menyodorkan selembar kertas kepada Andi. Di sana terdapat beberapa poin-poin yang sudah tertuli rapi. Andi kemudian membaca kertas tersebut dengan seksama. Ia perlu menyiapkan nama perusahaan, alamat usaha, jumlah modal awal, NPWP dan masih banyak lainnya.


“Jadi aku perlu juga punya NPWP?” Andi ingat dirinya tidak memiliki NPWP. Sudah jelas ia akan membutuhkannya kelak. Meski perusahaan ini belum berdiri, tetapi Andi memiliki bisnis lain. Ia perlu membayar pajak pendapatan. Belum lagi PPN yang harus ia bayarkan. Jadi ia juga perlu memiliki NPWP pribadi.


Sebagai warga negara yang baik, Andi perlu membayar pajak. Setidaknya selama ini keluarganya mendapatkan beberapa bantuan dari pemerintah. Itu semua bersumber dari pajak. Jadi, ketika Andi sudah memiliki pendapatan berlebih seperti ini, sudah saatnya ia membalas apa yang negara sudah berikan kepadanya dengan membayar pajak.


“Iya. Kamu perlu memiliki NPWP pribadi, juga nantinya ketika perusahaanmu berdiri, kamu juga perlu memiliki NPWP untuk perseroan. Semua persayaratan itu wajib kamu penuhi semuanya. Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?”

__ADS_1


Andi kemudian menanyakan segala hal yang masih bingung baginya. Benar kata Ghani, lebih baik mereka melakukan pertemuan seperti ini. Jika mereka hanya berhubungan melalui sambungan telepon maka Andi tidak akan bisa bertanya kepada Ghani dengan leluasa seperti sekarang ini.


Dengan bertemu langsung, Andi mendapatkan penjelasan dari Ghani dengan rinci. Dan juga tidak akan terjadi kesalahan menginterpretasikan penjelasan dari Ghani. Setelah mendengar semua penjelasan dari Ghani atas semua pertanyaan yang ia ajukan, Andi jauh lebih paham bagaimana perusahaan itu berjalan dari sisi hukumnya.


Setidaknya ada banyak hal baru yang ia pelajari dalam pertemuan kali ini. Jika anak sekarang mengatakan bahwa apa yang Ghani sampaikan berisi “daging” semuanya. Artinya apa yang Ghani sampaikan adalah informasi penting yang berguna bagi Andi.


“Kalau begitu terimakasih Mas sudah memberikan pejelasan seperti itu padaku. Mas jangan lupa menarik fee untuk sesi tanya jawab kali ini. Aku sekarang memiliki informasi yang banyak dari mendengar apa yang Mas Ghani jelaskan.”


Ghani mengibaskan sebelah tangannya kepada Andi. “Tidak masalah. Aku jelas akan memasukkan fee konsultasi ini. Kau siap-siap saja membayar cukup banyak kepadaku.”


Keduanya saling pandang sejenak kemudian tertawa bersamaan. Mereka yang memiliki beda umur lebih dari satu dekade itu terlihat lebih akrab dari sesi tanya jawab yang baru saja mereka lakukan itu.


“Baiklah. Jika tidak ada yang ingin kamu tanyakan aku pergi dulu. Jika kau nanti kamu memiliki pertanyaan lain, jangan sungkan-sungkan mengirim pesan padaku. Aku akan menjawab sesuai pengetahuanku. Tentu saja aku akan kamu harus membayar fee konsultasi.” Ghani menggerak-gerakkan alisnya ketika ia mengatakan hal tersebut.


Melihat hal itu Andi merespon Ghani dengan sebuah tawa. “Hahaha. Tentu saja Mas. Aku akan mengirimu pesan jika ada pertanyaan. Kamu bisa menarik fee sesukamu Mas.”


“Bailklah aku pergi dulu.”


“Iya Mas. Biar aku saja yang membayar semua minumannya. Kapan-kapan ganti Mas Ghani yang mentraktirku minum. Tentu saja bukan minum alkohol.”


“Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa di lain waktu.”


Setelah kepergian Ghani, Andi tidak langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia masih mencerna informasi yang baru saja ia terima. Andi sudah mencatat poin-poin penting yang perlu ia lakukan. Saat ini hal yang perlu Andi selesaikan adalah mencari lokasi untuk perusahaannya. Lebih tepatnya sebagai kantor bagi para karyawannya.

__ADS_1


Untuk saat ini ia tidak perlu menyewa kantor yang luas. Cukup kantor yang bisa menampung tiga puluh kubikel. Andi yakin, kantor seluas itu cukup untuk saat ini. Ia hanya perlu mempekerjakan beberapa orang saja untuk saat ini. Mungkin nanti jika perusahaannya sudah besar, Andi akan memindahkan kantornya ketempat yang lebih luas, atau bahkan nantinya dia akan membangun sendiri gedung yang khusus untuk kantor perusahaannya.


__ADS_2