Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 218 Pengintaian Andi


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobilnya, Nomor Lima langsung saja menuju lift yang ada di sana. Ia perlu melaporkan temuannya kepada bosnya.


Ketika menunggu lift itu datang, terdapat seorang pasangan suami istri yang terlihat membawa banyak barang bawaan. Sepertinya mereka juga penghuni apartemen ini.


Nomor Lima tidak menaruh kecurigaan sama sekali dengan dua orang itu. Mereka bersikap normal, bahkan ketika mereka tidak sengaja menyenggolnya ketika mereka memasuki lift, Nomor lima bersikap biasa saja.


“Maaf, Mas nggak sengaja.” Ucap sang perempuan.


Nomor Lima mengibaskan sebelah tangannya setelah mendengarkan permintaan maaf perempuan itu. “Nggak papa.” Jawabnya santai.


Dirinya tidak setiap hari mengunjungi The Heaven. Jadi, Nomor Lima tidak hafal siapa saja yang menjadi penghuni gedung apartemen ini.


Pasangan suami istri itu turun di lantai lima. Setelah mereka turun, barulah Nomor Lima mengeluarkan kartu akses miliknya. Kartu ini akan membuat lift yang ia naiki naik ke lantai teratas tempat The Heaven berada.


Setelah sampai di lantai teratas, Nomor Lima langsung masuk ke The Heaven. Sebelum pergi ke aula, Nomor Lima memasuki bilik kecil yang berada di dekat pintu masuk. Di sana ia mengambil sebuah topeng dan sebuah jubah yang berada di loker nomor lima.


Meskipun mereka sudah saling tahu wajah masing-masing, tetap saja Bosnya menginginkan mereka memakai topeng dan jubah itu jika mereka melakukan pertemuan di The Heaven.


Baru ada empat orang yang berkumpul di aula The Heaven ketika Nomor Lima datang. Ini berarti, mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Nomor Satu yang biasa datang bersamaan dengan Bos mereka.


Meski di aula The Heaven sudah ada empat orang, tetapi tidak ada obrolan yang mereka buat.


“Kamu sudah datang Limo.” Sapa Nomor Enam ketika melihat Nomor Lima datang.


“Ya, aku baru saja menghadiri konfrensi pers dari Naranga Group. Aku perlu melaporkan hal ini kepada Sang Penerus.” Jelas Nomor Lima.


“Jangan diperinci dulu.” Potong Nomor Tiga. “Kamu jelaskan saja nanti ketika Sang Penerus datang.”

__ADS_1


“Aku tahu itu.” Jawab Nomor Lima.


Setelah itu, aula The Heaven kembali hening. Memang mereka sudah dilatih untuk tidak banyak bicara yang tidak penting. Jadi, selama menunggu Bos mereka datang, mereka lebih memilih diam dan tidak bersuara.


….


Andi langsung menuju ke parkiran yang ada di basement setelah sampai di gedung apartemen yang didatangi anak buah musuh. Anak buah Andi sudah melapor bahwa mereka berhasil menaruh penyadap di tubuh mata-mata tadi.


Andi hanya meminta mereka merekam percakapan mereka untuk saat ini. Meski sudah ada di sini, Andi tidak langsung menemui anak buahnya. Ia memilih melakukan pengamatan di parkiran.


Sudah lima belas menit Andi menunggu di parkiran tetapi belum ada yang datang ke sana. Meski begitu, Andi tidak langsung pergi dari sana. Ia memilih menunggu. Ia perlu bersabar dalam melakukan pengawasan seperti ini.


Tidak lama kemudian, mobil sedan berwarna masuk ke parkiran basement apartemen tersebut. Kedatangan mobil itu menarik perhatian Andi. Pasalnya mobil itu memilih parkir di pojokan dari parkiran. Padahal, masih banyak tempat parkir yang belum terisi.


Andi melihat dua orang keluar dari dalam mobil tersebut. Seorang perempuan dan laki-laki. Tetapi, Andi tidak melihat wajah dari perempuan itu, ia hanya bisa melihat punggung dari perempuan itu. Meski hanya punggungnya saja, Andi merasa cukup mengenal pemilik punggung itu.


Melihat gelagat mereka yang mencurigakan seperti itu, Andi ingin mencari tahu kenapa mereka masuk ke ruangan itu. Tetapi, Andi tidak langsung mendatangi ruangan yang sebelumnya dua orang itu masuki. Ia masih perlu menunggu beberapa saat.


Jika dirinya mendatangi mereka sekarang, maka bisa jadi mereka akan mengetahui keberadaan Andi. Maka dari itu Andi menunggu beberapa saat.


Setelah sepuluh menit dan tidak ada pergerakan lainnya dari ruangan tersebut, Andi pun keluar dari mobilnya dan mendekat ke sana. Untung dirinya sedang memakai riasan kali ini, jadi ia tidak akan takut aka nada yang mengenalinya.


Ketika sudah dekat dengan ruangan itu, Andi sama sekali tidak mendengar suara apapun dari dalam ruangan itu. Andi lalu memberanikan diri membuka pintu ruangan itu setelah memastikan lagi tidak ada orang di dalam sana.


Sebelum masuk Andi tidak lupa memakai sebuah sarung tangan yang sebelumnya sudah ia siapkan. Andi tidak mau meninggalkan bukti apapun, termasuk sidik jarinya.


Ketika Andi sampai di dalam, ruangan itu kosong. Tidak ada orang di dalam sana. Hanya ada beberapa tumpukan barang dan beberapa rak buku. Hanya itu tidak ada ruangan lainnya.

__ADS_1


“Tidak ada satu orang pun di sini. Lalu kemana kedua orang itu perginya?” Gumam Andi dalam hati.


“Mungkinkah ada ruangan khusus di sini?”


Selain itu, Andi bisa menemukan alasan lainnya mengapa dua orang tadi menghilang. Kemungkinan besar ada ruang rahasia di sekitar sini. Andi lalu mengedarkan pendangannya ke sekeliling ruangan. Ia memandang dengan teliti setiap sudutnya.


Andi tidak menemukan perbedaan apa pun di ruangan tersebut yang menunjukkan adanya ruang rahasia di sana. Meski begitu Andi tidak menyerah. Ia lalu meraba seluruh tembok yang ada di sana. Mencoba mencari tahu keberadaan pintu menuju ruang rahasia.


Setelah meraba tembok yang ada di sana, Andi belum juga menemukan pintu masuknya. Namun, ketika Andi sampai di depan salah satu rak buku, ia merasa angin di sini cukup berbeda. Setelah Andi rasakan lagi, ada angin dingin yang datang dari rak buku itu.


“Rupanya pintu masuk dari ruang rahasia itu adalah rak buku ini. Sekarang, aku perlu mencari tahu tombol atau apa pun itu yang menjadi cara membuka pintu rahasia ini.” Gumam Andi.


Andi pun menarik asal buku-buku yang ada di sana. Dari film-film yang ia tonton, biasanya kunci membuka pintu rahasia yang berupa rak buku seperti yang ada di depannya ini, adalah salah satu buku yang ada di sana.


Pada akhirnya, Andi berhasil menemukan kunci membuka pintu rahasia itu. Di balik pintu rahasia itu, Andi disambut dengan lorong gelap tanpa cahaya.


Tiba-tiba saja Andi merasa ragu sekarang. Meski ia tahu bahwa kemungkinan besar di balik pintu ini adalah markas dari musuh, Andi tidak bisa semudah itu masuk ke dalam. Ia sendirian tanpa persiapan apa pun.


Tadinya Andi memang tidak berniat menyusup ke markas musuh. Ia hanya ingin ikut memantau keadaan musuh. Tetapi, ia malah menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan ini.


Andi tidak jadi memasuki lorong itu. Ia menutup kembali pintu tersebut.


“Aku perlu memberitahukan hal ini kepada keluargaku. Aku yakin temuanku ini cukup berguna. Biarkan saja mereka yang memutuskan apa langkah selanjutnya yang perlu diambil. Aku tidak menyusup ke dalam sekarang dan mempertaruhkan nyawaku.” Gumam Andi.


Setelah itu, Andi mengedarkan pandangan ke area sekitarnya. Ia ingin melihat apakah ada barang yang letaknya berubah banyak. Ia tidak mau membuat musuh mengetahui bahwa ruangan ini dimasuki orang lain selain mereka. Hal itu akan membuat mereka semakin wasapada.


Setelah semuanya kembali seperti semula, Andi pergi meinggalkan ruangan itu. Setelah ini ia masih ada kelas latihan suara yang perlu ia ikuti. Jadi, Andi tidak bisa berlama-lama di sini.

__ADS_1


__ADS_2