Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 91 Tajuk Berita Buatan Jony


__ADS_3

“Ini rumah siapa Kak?” Tanya Arfan ketika Andi memarkirkan mobilnya di depan rumah berlantai dua.


“Rumah baru kita.” Jawab Amira.


“Ayo sekarang bantu kakak bawa satu unit komputer ke kamar Arfan.” Pinta Andi kepada adik-adiknya.


“Lah terus satunya lagi buat apa kak?” Tanya Arfan.


“Itu nanti urusan Kakak. Sekarang kita bawa yang punya kamu ke kamar. Ah ya, kita belum pilih kamar ya? Kamar utama yang gede itu buat Ayah dan Ibu, jadi, masih ada empat kamar kosong.” Seingat Andi, selain kamar utama, semua perabotan di kamar lainnya sama saja. Jadi, tidak ada bedanya memilih kamar yang mana.


“Yang ada balkonnya kamar aku. Aku sudah naruh meja rias di sana.” Ucap Amira.


“Nah tingal dua kamar di lantai atas dan satu di lantai bawah. Kamu pilih yang mana Arfan?”


“Atas aja Kak. Aku pengen punya kamar di lantai atas.” Jawab Arfan dengan penuh keantusiasan.


“Berarti, yang di kamar bawah kita biarkan untuk dijadikan kamar tamu saja. Kalo begitu, kita bawa semuanya ke atas.”


Andi membutuhkan waktu dua puluh menit untuk menaruh perangkat komputer milik Arfan di kamarnya. Saat ini di kamar Arfan belum ada meja untuk menaruh semua perangkat komputer ini, oleh karena itu, Andi hanya menaruhnya di sana.


“Kak apakah kita akan tidur di sini malam ini?”


“Kita belum memiliki sprei di sini Arfan. Jadi, kita tidak bisa tinggal di sini. Lagi pula, aku belum mengatakan kepada ayah dan ibu mengenai rumah baru ini. Mungkin kita akan menunggu syukuran dulu baru bisa tinggal di sini.”


“Ayolah Kak tidak bisakah kita tidur semalam saja di sini?” Mohon Arfan.


Arfan ingin merasakan empuknya kasur barunya. Kasur di rumah lamanya merupakan kasur kapuk yang sudah mulai mengeras. Tidur di kasur kapuk tidak terlalu nyaman bagi Arfan. Jadi, ia ingin merasakan senyaman apa kasur barunya ini.


“Baiklah kita akan mengatakan hal itu kepada Ayah dan Ibu setelah ini. Tetapi, kita masih perlu membeli sprei untuk semua kamar. Tentu saja kita perlu mencucinya terlebih dahulu sebelum kita pakai.”


Andi kemudian mengecek jam di layar ponselnya. Masih pukul tujuh kurang. Belum terlalu malam menurutnya. Malam minggu seperti ini kafenya akan buka lebih larut daripada biasanya. Jadi, Andi akan mendatangi orang tuanya setelah dirinya berbelanja.


“Kita pergi beli sprei dan beberapa peralatan mandi dulu. Setelah itu, aku akan menurunkan Amira di sini untuk mencuci sprei dan handuk yang akan kita beli. Tenang saja, di sini sudah ada mesin cuci dan mesin pengering. Jadi kamu tidak akan bekerja terlalu keras.” Jelas Andi.

__ADS_1


Andi lalu teringat bahwa dirinya membeli dua robot vacuum ketika di Surabaya. Mungkin dirinya akan membiarkan robot itu menyala untuk membersihkan rumah sementara mereka pergi berbelanja. Lalu Andi mengedarkan pandangannya ke sekitar, beberapa sampah plastic dan kardus masih ada di sana. Mereka belum sempat membuangnya.


“Kita bereskan sampah-sampah kardus ini sebelum kita pergi berbelanja.”


*****


Andi dan adik-adiknya masing-masing mendorong sebuah troli belanja. Kali ini Andi tidak hanya membeli sprei. Dirinya juga ingin membeli beberapa makanan ringan untuk dibawanya besok ke pertemuan tahunan keluarga Prayudi. Di sana akan banyak sepupu dan keponakannya. Jadi, Andi ingin berbagi makanan dengan mereka.


Ketika mereka berada di lorong minuman, Andi bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin ditemuinya. Jony. Pemuda itu sepertinya tengah membeli beberapa minuman bersoda sekarang ini. Ia mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah Andi dan kedua adiknya.


“Cih.” Jony berdecih. “Sial sekali aku bertemu lagi denganmu.” Ucap Jony tidak suka.


“Aku sendiri juga tidak berharap bertemu denganmu sekarang. Jika kamu tidak ingin lagi bertemu denganku, lebih baik kamu pindah dari kota ini. Dengan begitu, kamu tidak akan lagi bertemu dengan orang sepertiku.”


“Hanya untuk orang seperti dirimu? Aku tidak akan pernah melakukannya. Justru orang rendahan sepertimu yang seharusnya pergi dari kota ini.”


Kemudian pandangan Jony tertuju kepada kedua adik Andi, ia memusatkan pandangannya sedikit lebih lama kepada Amira. Sebuah seringai tiba-tiba muncul di bibir Jony.


Mendengar hal itu, amarah Andi langsung memuncak. Tidak ada yang boleh menyentuh adiknya. Tidak jika dirinya masih bernafas. “Jangan pernah berpikir untuk menyentuh adikku. Kamu tidak akan pernah tahu apa akibat yang akan kamu terima jika melakukan hal itu.”


Melihat Andi yang seperti itu, Jony merasa senang. Sepertinya dirinya sudah salah selama ini. Seharusnya dirinya tidak menyentuh Andi. Pemuda itu terlalu kuat untuk ditandingi. Jika ia ingin menghajar Andi, pasti membutuhkan uang yang cukup besar untuk membayar preman yang kuat.


Mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk seorang Andi? Itu sangat tidak sepadan. Lebih baik ia menggunakan cara lain untuk menjatuhkan Andi. Menyentuh titik lemahnya lebih cepat menjatuhkan pemuda itu. Dan sekarang Jony sudah menemukan titik lemah dari Andi.


Membayar seseorang untuk menghancurkan seorang gadis lemah lebih murah bukan, jika dibandingkan dengan mengahajar Andi? Dengan begini, Andi akan menerima pembelajaran yang berharga untuk tidak membantah seorang Jony Bagaskara.


“Siapa yang akan menyetuh adikmu? Aku hanya tengah mengatakan judul berita yang bagus. Apa itu kurang bagus? Bagaimana dengan yang ini. Seorang anak laki-laki ditemukan bersimbah darah di sebuah parit. Ketika ditemukan, kesepuluh jari-jari tangan anak itu sudah menghilang. Polisi tidak menemukan jari-jari dari anak laki-laki itu. Bagaimana? Lebih bagus bukan?” Ucap Jony sembari menunjukkan sebuah seringai lebar.


Mendengar hal itu, Andi bergerak maju berniat untuk menghajar Jony saat ini juga. Namun, di belakangnya Amira menarik tangannya.


“Kak ini di tempat umum.”


Andi menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Emosi hampir saja membutakan pemikirannya. Ia baru ingat mereka sedang ada di supermarket saat ini. Di sini tentu saja banyak CCTV yang merekam mereka dari beberapa arah. Dari rekaman CCTV tersebut, pasti akan terlihat bahwa Andi lah yang pertama kali menyerang.

__ADS_1


Hal itu akan sangat merugikannya. Apalagi ketika dirinya emosi seperti sekarang ini. Sudah pasti ia akan menghajar Jony dengan sekuat tenaga. Memang dirinya bisa memberi pelajaran kepada Jony. Tetapi, setelah itu terjadi, Andi pasti akan mendekam di bali jeruji besi selama beberapa bulan kedepan.


Jika dirinya sampai memberikan luka parah pada Jony, tentu saja hukumannya bukan lagi beberapa bulan. Tetapi beberapa tahun. Andi tidak mau hal itu terjadi. Itu sama saja dengan memberikan kemenangan kepada Jony.


“Kenapa? Nggak jadi mukulnya? Padahal udah marah kayak gitu tapi nggak jadi mukul? Cih. Dasar pecundang.” Ejek Jony melihat Andi yang tidak jadi memukul tersebut.


Melihat gerakan Andi tadi, Jony berharap pemuda itu memukulnya. Bukannya Jony masokis, tetapi, dengan Andi memukulnya terlabih dahulu ia bisa mengirim Andi ke penjara. Kejadian sebelumnya memberikan pembelajaran besar bagi Jony. Jangan bertindak duluan, yang memukul duluan tidak akan menjadi pihak yang menang, tetapi pihak yang kalah.


Setelah dipukul oleh Andi, mungkin dirinya akan kembali dirawat di rumah sakit. Tetapi, beberapa bulan di sana tidak akan memberikan dampak besar jika dibandingkan dengan yang akan Andi terima. Seorang residivis sangat sulit diterima oleh masyarakat bukan?


Jika hal itu terjadi, bukankah Jony bisa menghancurkan masa depan Andi? Daripada luka di tubuh yang bisa sembuh, lebih baik menghancurkan masa depan Andi bukan? Sayangnya pemuda ini tidak melakukannya. Mungkin dia akan kembali ke rencana awal. Menghancurkan titik lemahnya.


“Jony, kamu sudah membangkitkan singa yang tertidur saat ini. Berhati-hatilah untuk mendapatkan pembalasan dariku.”


“Orang sepertimu tidak akan pernah bisa menghancurkanku. Kamu hanya banyak omong tetapi tidak ada tindakannya. Jika kamu memang ingin membalas, cepat lakukan. Jangan buat aku menunggu sebuah omong kosong darimu.”


Andi mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Baiklah. Aku tidak pernah berpikir akan melakukan ini. Dan aku sendiri tidak mau melakukannya. Tetapi, kamu sendiri yang memintanya. Jadi jangan salahkan aku jika aku menghancurkan keluargamu.”


Andi ingat perkataan Brian. Di dunia ini tidak ada yang namanya belas kasihan. Jika kita tidak mau hancur, maka kita perlu menyerang terlebih dahulu. Meski Andi tidak mau menggunakan cara illegal, tetapi masih banyak cara legal yang bisa ia lakukan untuk menghancurkan Jony dan keluarganya.


Andi yakin bulan depan dirinya bisa menghancurkan keluarga Jony. Sebelum itu, ia perlu mengumpulkan uang banyak untuk melakukannya. Menggunakan cara legal sedikit merepotkan dan membutuhkan banyak uang. Tetapi itu tidak masalah untuk Andi.


Baginya berapapun uang yang dimilikinya, jika keluarganya hancur itu tidak akan ada artinya. Lagi pula saat ini dirinya cukup mudah mengumpulkan uang. Jadi, menghamburkan uang untuk menghancurkan Jony dan keluarganya bukanlah hal yang sia-sia.


“Hahahaha ….” Jony tertawa lantang mendengar penuturan Andi. “Orang sepertimu berniat menghancurkan keluargaku? Itu lucu sekali. Aku pikir kamu akan mengatakan akan menghajarku. Tetapi menghancurkan keluargaku? Itu sangat tidak mungkin.”


Jony merasa penuturan Andi tadi adalah lelucon yang sangat lucu di tahun ini. Bagaimana bisa seorang Andi menghancurkan keluarganya? Ayahnya hanyalah pengemudi ojek online, sementara ibunya hanyalah pengusaha katering.


Jony yakin, Andi membutuhkan seribu tahun lebih untuk bisa melakukan hal itu. Tetapi, seribu tahun lagi pun keluarga Jony masihlah jauh di atas keluarga Andi. Jadi, apa yang dikatakan Andi mustahil terjadi.


“Bangunlah dari mimpimu itu, karena apa yang kamu pikirkan itu tidak mungkin terjadi.”


“Kita lihat saja. Bulan depan aku yakin kamu pasti akan memohon-mohon padaku untuk tidak mengahancurkan keluargamu. Ketika itu terjadi, ingat ini. Seekor kelinci bisa berubah menjadi seekor singa jika keluarganya sedang terancam.”

__ADS_1


__ADS_2