
Jangan lupa vote, like, komen, dan masukkan favorit
terimakasih selamat membaca
---
Sepulangnya dari makan siang bersama dengan Widya, Andi kembali ke rumahnya. Ia berniat membuat beberapa kue untuk anak-anak panti. Bagaimana pun juga, Andi sudah berjanji akan mengirimkan kue untuk mereka bukan?
Tadi sebelum berangkat ke mall, Andi sudah memberikan sebuah catatan kepada Sekar dan meminta perempuan itu mengajak salah satu asisten rumah tangganya untuk berbelanja bahan kue. Dengan begini, dirinya tidak perlu lagi berbelanja lagi. Ia hanya perlu membuat kue untuk para anak panti.
Kali ini Andi berencana tidak hanya akan membuat brownies. Pemuda itu juga ingin mmebuat bebebrapa kue kering yang bisa tahan beberapa hari untuk ia kirimkan ke panti. Memikirkan kue kering, tiba-tiba terbesit dalam pemikiran Andi untuk membuat pabrik kue kering.
Bukankah bisnis kue kering sangat laku di Indonesia? Apalagi di masa lebaran. Sudah jelas kue kering akan menjadi jajanan yang dicari untuk disuguhkan pada musim lebaran. Tetapi, itu hanya pemikiran Andi untuk membuka pabrik. Ia tidak akan melakukannya dalam waktu dekat ini.
Semua butuh proses. Meski cukup mudah baginya untuk mengumpulkan uang, tetapi ia tidak bisa begitu saja mendirikan sebuah perusahaan baru untuk saat ini. Mungkin ia akan membuka pabrik kue jika bisnis investasinya sudah memberikannya keuntungan, dan juga game miliknya sudah selesai dibuat.
Bicara soal game, ia juga belum sempat membuat desain untuk gamenya tersebut. Setelah urusan dengan Jony selesai, ia akan memfokuskan konsentrasinya untuk membuat game tersebut.
Dengan dibantu oleh para asisten rumah tangga yang ada di sana, Andi pun membuat kue untuk anak-anak panti. Andi cukup telaten dalam mengajari para asisten rumah tangga di rumahnya mengenai resep kue-kue miliknya. Andi juga menujukkan video miliknya di kanal Ourtube miliknya untuk para asisten rumah tangganya pelajari.
Pada pukul lima sore semua pekerjaan membuat kue selesai. Jika saja di rumahnya ini ada dua buah oven dan dua buah mixer, maka pekerjaan mereka akan cepat selesai. Sayangnya di sini hanya ada satu mixer dan oven.
“Apakah diantara kalian ada yang bisa menyetir?” tanya Andi kepada tukang kebun dan satpam di rumahnya, setelah dirinya selesai membuat kue.
Ada alasan kenapa Andi menanyakan hal ini. Ia baru sadar bahwa dirinya tidak memiliki sopir di rumah. Memang Andi bisa menyetir sendiri, tetapi akan ada saat Andi membutuhkan supir. Mungkin ketika Andi malas menyetir atau sedang sakit. Jelas ia membutuhkan supir.
Selain itu, Andi juga membutuhkan supir untuk mengantarkan para asisten rumah tangganya berbelanja. Tidak mungkin bukan mereka terus menerus menaiki taksi online? Mungkin saja mereka berbelanja banyak dan mendapatkan mobil yang kecil. Jelas Andi juga membutuhkan sopir untuk selalu sedia di rumah.
“Saya bisa Tuan Muda.” Ucap Heru, salah satu tukang kebun yang ada di sana.
“Pak Heru punya sim?”
__ADS_1
“Ada Tuan Muda.”
“Bagus kalau begitu, besok Pak Heru bareng Bu Sekar anterin semua kue-kue yang tadi dibuat ke panti asuhan ya.”
Sekarang Andi bingung mobil mana yang perlu dipakai besok. Saat ini di garasi rumahnya hanya ada dua mobil. Mobil yang selama ini dia pakai dan sebuah mobil listrik yang belum pernah ia pakai. Tidak mungkin Andi meminta Heru membawa mobil listrik itu.
Bukannya tidak percaya dengan Heru, tetapi mobil tersebut tidak muat membawa semua kue-kue buatan Andi. Tadi Andi membuat cukup banyak kue untuk anak-anak panti. Jelas Heru tidak bisa menggunakan mobil itu.
Sebenarnya, jika menggunakan mobilnya yang sekarang ia semua kue-kue itu bisa masuk. Tetapi, setelah ini dirinya akan kembali ke kotanya. Ia tidak mungkin menggunakan mobil listrik, karena di kotanya belum ada stasiun pengisian untuk mobil listrik.
Selain itu, daya rumahnya juga tidak memadai untuk dapat mengecas mobil listrik. Jadi Andi tidak bisa memakainya keluar kota. Bagaimana jika dia kehabisan daya? Apakah dia harus mendorongnya? Itu tidak mungkin.
Lalu Andi teringat akan mobil sport yang ia terima dari hadiah menolong Satrio. Bukankah dirinya masih memiliki mobil itu. Jadi, ia tidak punya pilihan lain selain pulang menggunakan mobil sport miliknya itu.
“Besok Pak Heru anter Bu Sekar pake mobil yang biasa aku pake. Sekarang, Pak Heru bersiap saja. Setengah jam lagi aku minta Pak Heru mengantarkanku ke suatu tempat.”
*****
Pagi harinya Andi sudah berpakaian rapi. Ia akan mengantar Amira sekolah. Tidak hanya itu, ia perlu ke sekolahnya untuk melakukan cap tiga jari ijasah. Semalam ia melihat pengumuman itu di grup kelas miliknya.
Sebenarnya Andi berencana untuk pergi ke rumah Kakek Buyut Adipramana setelah mengantar Amira. Namun karena ada cap tiga jari ini, ia mengurungkannya. Mungkin ia akan menemui Kakek Buyut Adipramana besok setelah mengantar Amira.
Selain itu, Andi menunggu mengetahui rahasia dari sistem sebelum menemui Kakek Buyut Adipramana. Pertemuannya dengan Kakek Buyut Adipramana belum di tentukan harinya. Dalam secarik kertas yang diberikan oleh Kakek Buyut Adipramana, ia hanya diminta untuk menemui beliau dalam minggu ini.
“Kakak yakin akan mengantarku dengan menggunakan mobil ini?” Tanya Amira memandang ke arah mobil sport milik Andi.
Mendengar perkataan adiknya Andi mengerutkan keningnya. “Kenapa memangnya?”
“Ah menurutku itu hanya terlalu mencolok jika hanya mengantarku sekolah bukan? Aku tidak mau kakak dibilang pamer jika membawa mobil ini ke sekolah.” Jelas Amira.
“Ya udah kita naik mobil satunya aja. Tadi ayah dan ibu sudah membawa motornya. Jadi, mau tidak mau kita naik mobil satunya.”
__ADS_1
“Itu tidak masalah.”
Andi memarkirkan mobilnya di dekat sebuah kafe yang terletak di depan sekolahnya. Sekolahnya tidak memiliki area parkir mobil. Jadi, ia hanya bisa memarkirkan mobilnya di luar area sekolah. Setelahnya Andi mengantar Amira hingga masuk ke dalam sekolah.
Setelah itu, Andi kembali menuju ke mobilnya. Jadwal kelas Andi untuk cap tiga jari baru dilakukan nanti jam sebelas. Sekarang ini masih ada kelas-kelas lain yang melakukan cap tiga jari. Jadi, Andi akan menunggu hingga jadwalnya tiba di kafe depan sekolah.
Kebetulan itu adalah kafe dua puluh empat jam. Jadi, Andi tidak perlu menunggu hingga kafe itu buka. Sekarang pun dirinya bisa nongkrong di sana.
Memasuki kafe tersebut, Andi disambut dengan beberapa anak seangkatan dengannya namun beda kelas dan jurusan sedang duduk di sana. Sepertinya tidak hanya dirinya yang berangkat lebih awal dan memilih menunggu di sini.
Langsung saja Andi memesan segelas jus apukat dan memilih duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Tidak lama kemudian, Andi minuman pesanannya diantarkan. Andi cukup kaget melihat siapa yang sekarang mengantar minuman pesanannya. Itu adalah orang yang dikenalnya.
“Putra? Kamu kerja di sini?” Tanya Andi kepada temannya yang sudah cukup lama tidak ditemuinya itu.
“Iya sambil nunggu perkuliahan dimulai, aku bekerja di sini.”
Putra adalah teman Andi sejak TK. Rumah Putra terletak di kampung sebelah di mana keluarga Andi tinggal. Sejak TK hingga SMP mereka selalu bersama. Bisa dibilang Putra, Andi, dan Brian adalah sahabat karib. Hanya saja ketika mereka lulus SMP, Putra lebih memilih masuk SMK berbeda dengan Andi dan Brian yang memilih SMA.
Jadi, mereka tidak bertemu seintens dulu. Meski begitu, dua minggu sekali mereka masih melakukan pertemuan. Seringnya di rumah Brian.
Bicara soal Putra yang merupakan anak SMK, Andi teringat jurusan yang diambil oleh Putra di SMK. Jurusan yang diambil Putra adalah Rekayasa Perangkat Lunak. Seingat Andi, dulu Putra pernah menjelaskan bahwa jurusannya itu mengenai membuat sebuah aplikasi atau perangkat lunak.
Mengingat hal itus, tiba-tiba Andi terpikirkan sesuatu. Bagaimana jika dia mengajak Putra untuk bekerjasama dengannya dalam membuat game? Dengan begini, ia akan lebih cepat menyelesaikan misinya bukan?
“Ah sudah lama sekali kita nggak ketemu. Bisa nggak kita ngobrol bareng setelah ini?”
“Sejam lagi shift kerjaku selesai. Jadi, tunggu sejam lagi.”
“Tidak masalah untukku.”
Dirinya masih memiliki banyak waktu. Jadi tidak masalah baginya untuk menunggu Putra selesai melakukan pekerjaannya.
__ADS_1