
Andi tidak berlama-lama berada di pesta Dinda. Pemuda itu langsung pamit setelah obrolan terakhirnya dengan Jony. Setidaknya Dinda tahu bahwa Andi sudah datang dan juga, pemuda itu sudah memberikan kado kepada Dinda. Tidak ada masalah jika ia pergi lebih awal sebelum pesta benar-benar berakhir.
Keluar dari hotel, Andi langsung menelfon Damar. Sejak terakhir bertemu dengan laki-laki itu, Andi sudah meminta kontaknya, untuk membantunya melakukan klarifikasi mengenai kesalah pahaman antara Andi dan ayahnya. Pemuda itu tidak menyangka dirinya akan menghubungi Damar secepat ini.
“Hallo Tuan Muda Prayudi.” Sapa Damar di ujung sambungan telfon.
“Hallo kamu di mana sekarang?”
“Saya sedang di markas Tuan Muda. Ada apa Tuan Muda mencari saya?”
“Aku butuh kamu membantuku untuk mengklarifikasi menganai kejadian tempo hari kepada Ayahku. Aku yakin kamu sudah mengetahui di mana biasanya ayahku mangkal. Kita bertemu di sana dua puluh menit lagi.”
“Baiklah Tuan Muda aku akan segera ke sana.”
“Jika kamu sudah sampai lebih dulu, jangan langsung menemui ayahku. Tunggu saja kedatanganku di sana.” Pinta Andi.
Ada alasan Andi mengatakan hal ini. Jika Damar mendatangi ayahnya terlebih dahulu, itu bisa menambah kesalah pahaman baru. Andi perlu meluruskan semuanya. Pemuda itu sudah mengantongi beberapa bukti untuk membantunya membersihkan namanya dari segala tuduhan Andi.
Andi berharap setelah malam ini, semua kesalah pahaman bisa diluruskan. Meskipun Andi sepertinya tetap memilih tinggal di Surabaya nantinya, tetapi dia masih memiliki tempat lain yang bisa ia sebut sebagai rumah.
Dengan semua masalahnya dengan Aripto selesai, setidaknya Andi bisa pulang ke rumah orang tuanya, menemui adik-adiknya atau bahkan mengajak mereka jalan-jalan secara terbuka. Tidak secara sembunyi-sembunyi seperti sebelum-sebelumnya.
“Tentu Tuan Muda, tentu.” Jawab Damar.
…
Dealapan belas menit kemudian Andi sampai di lokasi di mana ayahnya biasanya mangkal untuk menunggu pesanan. Andi tidak melihat keberadaan ayahnya di pangkalan pengemudi ojek online. Sepertinya ayahnya itu sedang ada pesanan saat ini.
“Tuan Muda.” Sebuah suara membuat Andi menolehkan tubuhnya. Pemuda itu melihat Damar yang baru saja turun dari motornya. “Maafkan saya yangs terlambat Tuan Muda.”
Andi mengibaskan sebelah tangannya. “Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu belom telat dari waktu yang kita janjikan kok. Lagi pula, ayahku tidak ada di pangkalan ojek online. Kemungkinan dia masih ada pesanan.”
“Ah jadi seperti itu ya Tuan Muda. Lalu, apakah kita akan menunggu di sini atau mencari tempat lain?” Tanya Damar.
Saat ini mereka sedang berdiri di trotoar, sudah jelas itu bukan tempat nyaman untuk mereka menunggu Aripto. Mereka tidak tahu kapan Aripto akan kembali ke pangkalan. Itu bisa lama juga bisa cepat. Jadi, lebih baik mereka menunggu di tempat yang nyaman bukan?
__ADS_1
“Sudah aku bilang jangan terlalu formal denganku. Aku ini bukan Tuan Muda dari keluarga kaya, aku hanya dari keluarga biasa. Jadi, jangan memanggilku dengan Tuan Muda. Jika kamu takut di hajar oleh Om Burhan karena cara memanggilmu kurang sopan, panggil saja aku Mas Andi. Itu jauh lebih baik daripada Tuan Muda.”
“Baiklah Tuan Mu… ah, baiklah Mas Andi.” ucap Damar membetulkan panggilannya setelah mendapatkan tatapan tajam dari Andi.
“Kita tunggu ayahku di kafe itu saja. Dari sana kita bisa tahu jika ayahku kembali.” Ucap Andi sembari menunjuk ke arah kafe di seberang.
Ketika mereka baru akan menyebrang jalan, dari sudut matanya Andi melihat kedatagan ayahnya dengan motor miliknya. “Kita tidak jadi ke sana. Itu ayahku sudah datang.”
Aripto baru turun dari motornya ketika Andi memanggilnya. Sepertinya ayahnya itu tidak mengetahui keberadaan Andi di dekat pangkalan. Jika tahu, Andi tebak ayahnya itu lebih memilih untuk tidak mampir ke tempat pangkalan.
“Ayah.”
Aripto menolehkan kepalanya. Laki-laki itu kemudian melihat anak sulungnya yang sudah ia usir dari rumah berdiri di sana. Pandangan Aripto tidak hanya berhenti di situ, ia melihat keberadaan preman yang tempo hari melapor padanya.
‘Kenapa anak itu datang ke sini bersama dengan preman itu?’ Gumam Aripto dalam hati.
“Mau apa lagi kamu menemuiku?” Tanya Aripto dengan nada cukup sinis.
“Aku mau membicarakan sesuatu dengan ayah.” Pinta Andi.
“Kita bicarakan semuanya baik-baik dengan kepala dingin. Ayolah ayah berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Setidaknya ayah perlu mendengar semua penjelasanku dulu bukan? Setelah itu, ayah boleh menyimpulka semuanya. Jangan menyimpulkan semuanya sendiri seperti ini, padahal ayah belum mendengarkan ceritanya dari versiku.” Mohon Andi.
Aripto terdiam sejenak. Apa yang anaknya katakan itu ada benarnya. Waktu itu dirinya terlalu terbawa emosi sehingga tidak memberikan kesempatan untuk Andi memberikan penjelasan secara rinci. Mungkin ia akan mengikuti saran anaknya, mendengarkan semua penjelasannya kemudian menarik kesimpulan, apakah yang dia pikirkan itu sama dengan kenyataan atau tidak.
“Baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan semuanya.” Ucap Aripto pada akhirnya.
“Tetapi sepertinya kita tidak bisa berbicara di sini ayah.” Andi bisa merasakan beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Sepertinya mereka ingin mengetahui drama apa yang tengah terjadi.
“Baiklah kita pindah ke tempat lainnya.”
…
Pada akhirnya Andi membawa ayahnya ke kafe miliknya. Bisa dibilang di ini adalah tempat yang cukup nyaman untuk mereka membicarakan hal ini. Andi tidak bisa membicarakan ini di rumah karena bisa saja keributan mereka di dengar oleh kedua adiknya.
“Jadi apa yang akan kamu bicarakan.” Ucap Aripto membuka pembicaraan.
__ADS_1
“Aku mau membuat pembelaan ayah. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Om Burhan selama ini.”
Andi mengangkat sebelah tangannya ketika melihat Aripto ingin menyelanya.
“Dengarkan semua penjelasanku dulu sebelum berbicara ayah. Jangan memotong pembicaraanku.” Pinta Andi.
“Baiklah lanjutkan.”
“Jony adalah salah satu teman sekolahku. Dari awal sekolah hingga menjelang kelulusan ini dia selalu menggangguku. Dia sering sekali menyembunyikan barang milikku, mengempesi ban sepedaku. Itu adalah hal yang selalu dia lakukan. Memang dia tidak pernah melakukannya sendiri, tetapi dia sering menyuruh antek-anteknya untuk melakukan hal itu.”
Lalu Andi melanjutkan ceritanya kepada Aripto, alasan dibalik Jony melakukan semua itu, Andi yang selama ini diam tidak melawan, hingga pada akhirnya melawan balik ke Jony secara verbal. Dan setelahnya, Andi menceritakan kejadian perusakan dan pengeroyokannya sehingga dia melakukan laporan polisi.
“Karena dia dan antek-anteknya gagal menghajarku, maka dia membayar preman untuk menghajarku.” Jelas Andi.
“Ya itu benar Tuan. Apa yang anak Anda ceritakan itu benar. Rendi membayar kami untuk menghajar anak Anda. Waktu itu aku belum datang jadi anak buahku mengeroyok anak Anda. Dengan kemampuan anak buahku, jika Mas Andi tidak ahli dalam bela diri, sudah pasti yang masuk rumah sakit bukanlah Jony, tetapi Mas Andi.” Ucap Damar menambahi.
“Lalu kemudian aku datang ke lokasi setelah Mas Andi menumbangkan seluruh anak buahku. Meski Mas Andi menghajar mereka, tetapi luka yang mereka dapat bukanlah luka yang serius. Melihat anak buahku yang sudah dihajar oleh Mas Andi, aku berniat untuk membalaskan dendam anak buahku dengan menghajar Mas Andi.”
“Tetapi, setelah mengerahkan seluruh kekuatanku, aku tidak bisa mengalahkan Mas Andi. Dari gaya bertarung Mas Andi aku tahu bahwa Mas Andi ini memiliki hubungan dengan Bos Besar, Burhan Prayudi.” Jelas Damar panjang lebar.
“Ya seperti itu kejadiannya ayah. Lalu, Mas Damar meminta maaf padaku. Meski aku sudah memaafkannya, Mas Damar masih merasa takut dihajar oleh Om Burhan karena sudah berniat menghajar keponakannya. Setelah aku pergi, Mas Damar pun menghajar Jony dan Rendi karena menurutnya, dengan melakukan hal itu dia bisa terhindar dari amarah Om Burhan.”
Andi lalu mengeluarkan ponselnya. Dengan sedikit susah payah karena tangannya masih sakit, Andi memutarkan sebuah rekaman suara di ponselnya. Itu adalah rekaman suara yang Andi ambil ketika dia berbicara dengan Jony di dalam lift.
Dari pembicaraan itu, Aripto tahu bahwa semua yang dikatakan Andi itu benar. Anaknya itu sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan para preman. Itu hanya kesalah pahaman belaka. Aripto sendiri tahu bagaimana kejamnya sepupunya itu. Jadi, itu tidak mengherankan jika anak buahnya sangat takut kepadanya.
Melihat ayahnya yang masih saja diam setelah Andi menjelaskan semunya, membuat pemuda itu sedikit khawatir. Apakah Aripto akan mempercayai semuanya, atau dia akan kembali bersikap keras kepala dan tidak mau menerima penjelasan Andi.
“Jadi…,” ucap Andi sedikit takut, “apakah ayah percaya dengan apa yang aku ucapkan sekarang?”
Aripto menarik nafas panjang. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk Andi. Lihatlah apa yang sudah ia perbuat? Karena dirinya sama sekali tidak memberikan kesempatan anaknya untuk berbicara, sebuah kesalah pahaman terjadi. Akibatnya anaknya itu harus mendapatkan sebuah pengusiran.
Aripto tahu pasti Andi sangat kecewa padanya. Bagaimana tidak, orang terdekatnya malah menaruh kecurigaan dan tidak mempercayainya. Aripto sendiri saja kecewa dengan dirinya sendiri, apalagi Andi? Tetapi, setidaknya ini masih bisa diperbaiki. Dengan Andi yang berinisiatif mengajaknya berbicara, ini berarti masih bisa diperbaiki.
“Ayah percaya padamu Nak. Maafkan ayahmu ini yang gagal menjadi ayah yang baik. Maafkan ayah yang tidak mempercayaimu. Maafkan ayah yang sudah memarahimu dan mengusirmu dari rumah.” ucap Aripto sembari memandang lekat wajah anaknya.
__ADS_1