
Jangan lupa like, vote, komen, dan tambahkan ke favorit, selamat membaca
----
Di halaman rumah Kakek Buyut Adipramana, terlihat Andi dan Dimas sudah beberapa kali saling menukar pukulan dan tangkisan. Jika orang melihatnya, mungkin mereka hanya tengah melatih sebuah koreografi perkelahian saja, karena tidak terlalu terlihat keseriusan berkelahi di antara mereka.
Jika diperhatikan lebih teliti, Andi dan Dimas saling tersenyum kali ini. Sudah jelas orang yang tidak tahu kenapa mereka berkelahi dari awal mungkin akan mengira mereka sedang bercanda satu sama lainnya.
Sekarang Andi terlihat memberikan tendangan memutar kepada Dimas, tetapi Dimas berhasil menghindar dengan menundukkan badannya. Kemudian membalas dengan mengarahkan sebuah pukulan ke arah kepala kepala Andi. Beberapa senti sebelum tinjuan Dimas mengenai kepalanya, Andi memiringkan kepalanya untuk menghindar.
Andi kemudian melompat menjauh dari Dimas. Mereka terdiam sejenak. Wira yang melihat hal itu terjadi, kemudian meneriaki kakaknya. “Ayolah Mas Dimas tujukkin kemampuan Lu. Masak dari tadi Lu main-main gitu. Serius dikit napa.” Teriak Wira menyemangati.
Melihat Wira yang menyemangati kakaknya, Arfan yang ada di sana tidak mau ketinggalan. Ia juga meneriakkan ucapan dukungan kepada Andi. “Kak Andi juga jangan mau kalah. Tunjukkin semua kekuatan Kakak.”
Mendengar ucapan adiknya, Andi menatap ke arah sepupunya. “Apakah kita perlu serius sekarang?”
“Tentu, gue pengen banget bikin Lu babak belur karena udah buat Amira kayak gitu.”
“Kan udah aku bilang, bukan aku yang bikin Amira kayak gitu.” Andi membela diri.
“Tetap saja ini salah Lu. Lu yang ada di dekat Amira sudah nggak becus dalam lindungin dia. Lihat dia sampai kayak gini. Otomatis Lu perlu gue bikin babak belur.”
Sedikit banyak apa yang dikatakan oleh Dimas ada benarnya. Dirinya yang tidak bisa menjaga keselamatan adiknya dengan baik. Bukankah Jony memberikan ancam seperti itu karena ia memiliki masalah dengan Andi?
Tetapi meski tahu dirinya salah dalam hal ini, Andi tidak akan menyerah begitu saja dalam perkelahian kali ini. Jika dia menyerah, maka yang menghajarnya bukan hanya Dimas, tetapi juga Aripto. Seorang Prayudi tidak bisa menyerah begitu saja sebelum mencoba.
“Aku nggak akan ngasih kamu kesempatan buat hajar aku Mas.”
Perkelahian mereka kembali berlanjut. Kali ini kekuatan yang mereka gunakan semakin meningkat dari sebelumnya. Meski begitu, belum terlihat siapakah yang akan keluar menjadi pemenang dalam perkelahian kali ini.
Kombinasi pukulan dan tendangan dari Dimas, masih bisa Andi tangkis. Beberapa kali Andi tidak sempat menghindar dan menahan serangan Dimas dengan kedua tangannya. Andi melakukannya agar serangan sepupunya itu tidak mengenai tubuhnya.
Jika dilihat dari sejarah perkelahian mereka selama ini, Andi memang tidak pernah menang dari Dimas. Sekarang saja mulai terlihat bahwa Andi sedikit kewalahan dengan Dimas yang mulai menaikan kecepatan serangannya. Sekarang beberapa kali pukulan Dimas mengenai tubuh Andi.
Meski berhasil memukul Andi, tetapi Dimas tidak memberikan pukulan di area vital dari Andi. Bagaimana pun juga, mereka bukanlah musuh yang perlu memberikan pukulan mematikan. Jadi, Dimas hanya memukul pundak dan menendang area kaki Andi.
__ADS_1
Andi tahu jika dirinya tidak meningkatkan kekuatannya, dirinya akan kalah. Tetapi, hadiah dari sistem adalah peningkatan kekuatan dan stamina, bukan kecepatan. Jadi, meski Andi meningkatkan serangannya, belum tentu ia bisa mengungguli Dimas dalam perkelahian ini.
Tetapi, Andi tetap akan mencoba meningkatkan kekuatannya. Mungkin saja dirinya nanti memilki kesempatan dan membalik keadaan bukan. Sebelum mencoba sampai akhir, Andi tidak akan menyerah.
Kali ini Andi berniat memberikan pukulan dengan seluruh kekuatannya ke arah pundak Dimas. Tetapi Dimas menghindar ke samping sehingga pukulan Andi mengenai pohon yang ada di belakangnya. Pukulan Andi cukup keras hingga terdengar suara seperti benda retak setelah tinju Andi mengenai pohon.
Mendengar hal itu Dimas mendorong tubuh Andi. “Time out, time out, gue minta time out.” Ucap Dimas dengan sedikits terburu-buru.
Mendengar ucapan sepupunya itu, Andi menghentikan niatannya untuk kembali berkelahi dengan Dimas. Dia sedikit melemaskan otot-ototnya yang sebelumnya tegang karena berkelahi dengan Dimas itu.
“Kenapa Mas? Padahal ini baru mulai serius bukan? Kenapa kok berhenti sih?”
“Heh.” Dimas mendengus mendengar pertanyaan Andi. “Lu mau bikin gue mau rumah yakit ya? Tuh liat segede apa kekuatan yang lu pake.”
Dimas kemudian berjalan mendekat ke arah pohon yang sudah menerima tinjuan dari Andi. Ia melihat sebuah retakan di sana. Dimas bersumpah bahwa sebelumnya pohon ini utuh tanpa ada retakan di sana. Seberapa kuat pukulan sepupunya itu hingga bisa membuat pohon retak seperti ini.
Jika Dimas melihat Andi mematahkan papan kayu, ia tidak akan terlalu kaget. Itu hanya sebuah papan kayu, jadi, lebih mudah membuatnya patah atau hanya meninggalkan sebuah retakan. Tetapi ini pohon, pohon hidup yang memiliki diameter batang lebih kurang tiga puluh sentimeter. Itu sangat berbeda dengan papan kayu.
“Damn. Pohonnya beneran retak. Hey kalian coba liat ini.” Panggil Dimas kepada adik dan para sepupunya.
“Ah itu beneran retak.” Ucap Amira.
“Lu pake kekuatan badak apa? Lu kok bisa bikin pohon retak kek gini.” Imbuh Wira.
“Seinggat gue, Lu nggak sekuat gini deh dulu. Bukannya ngeremehin Lu, tetapi seingat gue Lu nggak punya kekuatan segede ini? Apa yang selama ini Lu lakuin sehingga Lu punya kekuatan sebesar ini.” Tanya Dimas pensaran.
Terakhir kali Dimas bertemu Andi ada empat, lima bulanan yang lalu, ketika libur tahun baru. Ketika itu, Dimas liburan di rumah Kakek Buyut selama pergantian tahun. Waktu itu ia berduel dengan Andi, ia ingat bahwa Andi tidak memiliki kekuatan sebesar ini.
Latihan seperti apa yang Andi lakukan selama empat bulan lebih ini sehingga ia memliki kekuatan sebesar ini? Yang membuat Dimas pensaran adalah, alasan sepupunya itu meningkatkan kekuatannya. Apa yang membuat dia memilih meningkatkan kekuatannya daripada fokus ke ujian sekolahnya.
Dimas kemudian melihat ke arah Amira. Apakah ini ada hubungannya dengan Amira yang murung? Masalah seperti apa yang sekarang dihadapi oleh keluarga paman ketiganya itu? Dimas perlu mengatakan ini kepada ayahnya. Setidaknya ayahnya perlu tahu bahwa keluarga adiknya tengah dalam masalah. Siapa tahu mereka bisa membantu hal ini.
“Aku nggak lakuin apa-apa. Tiba-tiba aja kekuatanku bertambah kayak gini.”
Benar bukan? Andi sama sekali tidak melakukan apapun. Ini semua sistem yang melakukannya. Ia sama sekali tidak melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatannya. Tetapi, ia tidak bisa dengan mudah mengatakan keberadaan sistem bukan?
__ADS_1
Mendengar ucapan Andi, Dimas yang masih penasaran dengan hal itu, mencoba menahan diri. Ia tahu jika Andi memberikan pernyataan seperti itu, dirinya tidak akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan, meskipun sudah berkali-kali bertanya.
Sebaiknya sekarang ia menanyakan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh keluarga sepupunya itu. Siapa tahu sepupunya ini mau menceritakannya. Dengan begitu, ia bisa memikirkan cara untuk membantu sepupunya itu.
“Baiklah, sekarang pertarungan kita, kita anggap seri.” Ucap Dimas pada akhirnya.
“Ah sialan kamu Mas Dimas. Padahal aku tadi udah hampir memenangkan pertarungannya. Tetapi kamu minta time out. Sekarang kamu malah pengen hentiin pertarungan kita dan anggap semuanya seri. Itu ngak adil.”
Di lubuk hati Andi yang paling dalam, ia ingin sekali mengalahkan sepupunya yang satu ini. Bagaimana pun juga, dirinya tidak pernah menang jika bertarung dengan Dimas. Otomatis sekarang ini dirinya ingin menang dari sepupunya itu.
“Sialan Lu An, Lu beneran pengen gue masuk rumah sakit ya? Dengan kekuatan Lu segede itu, mana bisa gue menang lawan Lu kalo kita lanjutin geludnya. Meski gue bisa ngasih serangan cepat, sekali gue kena satu serangan dari Lu, sudah pasti gue tumbang.”
“Kalo gitu, itu nggak seri namanya. Aku yang menang kali ini.” Ucap Andi bangga.
“Ya, ya, ya. Lu udah menang puas?”
Mendengar pernyataan Dimas barusan, Andi tersenyum lebar. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Amira dan mengalungkan lengannya di pundak adik perempuannya itu.
“Sekarang kakak kamu ini bukan lagi yang paling lemah di antara sepupu-sepupu kita.”
Mendengar ucapan Andi, Amira ikut tersenyum. Ia tahu bahwa kakaknya ini tidak ingin terlihat lemah. Tiap kali akan bertemu dengan sepupu mereka, Andi selalu berlatih agar dirinya tidak terlalu babak belur ketika dihajar para sepupunya. Sekarang Andi mendapatkan apa yang menjadi impiannya selama ini. Tentu saja sebagai adik, Amira ikut senang.
Andi yang melihat Amira tersenyum merasa lega. Perkataan Jony kemarin jelas memberikan pukulan besar untuk Amira. Sejak tadi pagi, adiknya itu murung dan tidak tersenyum. Setidaknya ia bisa membuat adiknya ini tersenyum.
“Ah sudahlah jangan somobong dulu Lu. Baru menang sekali juga. Aku yang selalu menang aja biasa. Lu yang baru menang sekali aja kek orang yang beberapa kali menang.” Ucapan Dimas menghancurkan kebahagiaan kecil yang dirasakan oleh Andi.
“Sialan kamu Mas Dimas. Nggak suka ya lihat aku seneng. Pake bicarain fakta yang menyakitkan kek gitu.”
“Udah deh jangan bahas itu. Sekarang, jelaskan kepada kami kenapa Amira murung kek gitu.” Potong Wira.
Mendengar ucapan Wira, Andi yang tadinya cengengesan berubah memasang wajah serius. “Nanti akan aku ceritakan mengenai hal itu. Ceritanya cukup panjang soalnya. Sekarang, aku dan adik-adikku perlu menyapa Kakek Buyut dan Kakek. Jika aku tidak segera melakukannya, nanti orang tuaku pasti akan marah.”
Andi baru sadar dirinya sudah cukup lama di luar bersama dengan kedua adiknya. Sudah saatnya mereka masuk dan menyapa mereka yang berasal dari generasi sebelumnya. Jika tidak segera melakukannya, maka bisa-bisa Andi dan kedua adiknya akan di cap sebagai anak yang tidak tahu sopan santun. Jika seperti itu, pasti nanti orang tuanya akan menjadi pembicaraan anggota keluarga yang lainnya.
“Baiklah. Gue tunggu di rumah pohon sama Wira. Kayaknya tadi Mas Ganang, Mas Ardi sama Mas Bima masih bersama dengan Kakek buyut. Mereka ada di halaman belakang.”
__ADS_1