
Mardi hanya menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap ke arah Burhan. Semenjak ia memberikan laporan kepada laki-laki itu, mengenai orang yang sebelumnya melakukan pembakaran kafe milik keponakannya, Bosnya itu hanya diam.
Burhan belum memberikan respon apapun atas laporan tersebut. Laki-laki itu hanya memasang wajah yang cukup serius, sekarang. Beberapa kali laki-laki itu terlihat mengerutkan keningnya. Itu tandanya ia tengah memikirkan sesuatu dan mempertimbangkan keputusan apa yang akan ia ambil setelah ini.
Melihat semua itu Mardi tidak berani bersuara. Jika dirinya bersuara dan memancing kekesalan Burhan, maka dirinya akan menjadi objek untuk Burhan melampiaskan amarahnya, dan Mardi tidakmauitu menimpanya.
Setelah hampir setengah jam hening, Burhan bersuara.
“Jadi, Kamu bilang orang yang membakar kafe milik keponakanku itu memang anak buah kita?” Tanya Burhan kepada Mardi.
“Ehm, dari penyelidikanku sepertinya begitu Bos. Dia baru bergabung dengan Gang Macan Putih seminggu yang lalu. Sepertinya belum ada yang memberitahu dia mengenai laranganmu menyentuh anggota keluargamu.” Jelas Mardi.
“Lalu siapa yang menerima dia bergabung dengan gang kita?” Tanya Burhan serius.
Dari laporan yang diberikan Mardi padanya, tidak disebutkan siapa yang sudah menerima pelaku pembakaran itu ke dalam Gang Macan Putih. Tiba-tiba saja nama orang itu sudah terdaftar dalam bank data yang dimiliki oleh Gang Macan Putih.
Gang Macan Putih menggunakan bank data digital untuk menyimpan identitas dari semua anggota. Dengan begini, mereka lebih mudah mengorganisir anggota yang ada. Ada tim khusus yang bertangung jawab dalam menjaga bank data tersebut agar tidak di bobol oleh peretas.
Jika sekarang tiba-tiba ada yang bergabung dengan Gang Macan Putih, tanpa ada kejelasan siapa yang membawanya masuk, itu berarti bank data milik mereka sudah di retas.
“Bagaimana kinerja dari tim keamanan digital kita? Kenapa bisa kita diretas seperti ini? Apa Kamu tahu bank data milik kita itu tidak hanya berisi identitas dari anggota kita, tetapi juga klien yang sudah memakai jasa kita.”
“Jika sampai data itu bocor ke pihak musuh atau bahkan ke polisi, tidak hanya kita saja yang berada dalam bahaya, tetapi juga klien kita. Kita mematok harga besar kepada klien kita untuk setiap pekerjaan yang kita lakukan, itu karena kita menjamin kerahasian identitas mereka.” Bentak Burhan kepada Mardi.
Menurut Burhan, Mardi memiliki andil dalam masalah ini. Bagaimanapun juga, divisi keamanan digital berada di bawah komando Mardi. Sudah seharusnya laki-laki itu meminta bawahannya untuk melakukan pengecekan rutin. Jika dia melakukannya, pasti kejadian mereka yang kebobolan seperti ini, tidak akan terjadi.
Burhan baru mengetahui ada masalah ini karena ia menyelidiki pelaku pembakaran kafe milik Andi. Jika saja ia tidak melakukan penyelidikan, sudah pasti dirinya tidak akan pernah tahu mengenai hal ini.
“Sudah berapa lama data kita terbobol?” Tanya Burhan kepada Mardi.
__ADS_1
“Anak buahku masih menyelidiki hal ini Bos. Mereka masih mencari jejak peretas itu. Mereka juga sedang mencari tahu apakah ada data anggota baru yang mencurikan Bos.” Jawab Mardi.
Burhan mengerutkan keningnya mendengar hal itu. Kemungkinan besar, ada banyak data anggota baru yang mencurigakan. Burhan tidak yakin pelaku pembakaran kafe milik Andi adalah satu-satunya data yang mencurigakan.
“Jangan hanya mencaritahu mengenai data anggota baru yang mencurigakan, kamu juga perlu menyelidiki data seluruh anggota. Aku tidak mau gang milikku dimasuki oleh mata-mata. Jangan lupa juga untuk mengecek data klien. Aku rasa kita juga akan menemukan data yang aneh dari beberapa klien.”
Burhan mengatakan hal ini karena data orang yang menyuruh pelaku pembakaran itu untuk membakar kafe milik Andi tidak ada. Seolah-olah tidak ada yang menyuruh pelaku tersebut melakukan pembakaran kafe milik Andi.
Jika seperti ini ada dua kemungkinan. Pelaku itu menerima tugas itu diluar sistem yang sudah di buat oleh Gang Macan Putih. Jika tidak begitu, memang ada orang yang menyuruhnya dan datanya hilang.
Burhan lebih condong kepada pilihan yang pertama. Semenjak Burhan membuka bisnis melakukan kegiatan illegal untuk orang lain, ia membuat aturan yang cukup ketat.
Semua data klien, target, dan pelaksana tugas harus di catat dengan jelas. Tidak hanya itu, tanggal pertemuan antara klien dan pelaksana tugas harus dilaporkan dengan sangat rinci.
Semua itu Burhan lakukan untuk menghindari melakukan sebuah tanggung jawab sendirian, yang sebenarnya itu adalah tanggung jawab bersama. Jika sampai anak buahnya tertangkap ketika melakukan tindakan illegal, mereka bisa memberikan bukti transaksi itu untuk ikut menyeret klien mereka.
“Bagaimana dengan dua orang lainnya? Apakah Kamu berhasil mencari tahu keberadaan mereka?”
Dari data yang ada, pelaku pembakaran kafe milik Andi tidak berjumlah satu orang. Melainkan tiga orang. Mereka sudah membuat janji untuk membakar kafe milik Andi di waktu bersamaan. Sekarang ini yang tertangkap hanyalah satu orang pelaku. Itu juga Andi dan anak buahnya yang menangkap.
Mardi menggelengkan kepalanya pelan. “Maaf Bos, kami tidak bisa menemukan keberadaan mereka. Mereka berdua adalah anak baru. Jadi, tidak banyak yang mengenal mereka dan tahu di mana mereka berada sekarang ini.” Jelas Mardi.
“Bodoh. Mencari dua orang seperti itu saja kalian tidak becus. Kamu juga perlu berhari-hari mendapatkan informasi yang sekarang kamu berikan. Sebenarnya Kamu niat nggak sih menyelidiki kasus ini?” Bentak Burhan kepada Mardi.
Mendengar bentakan Burhan, Mardi semakin menundukkan kepalanya. Burhan memberikannya tugas ini padanya di hari Jumat minggu lalu. Sekarang ini sudah hari Jumat. Itu berarti Mardi baru menyerahkan informasi yang Burhan minta setelah satu minggu. Pantas saja Burhan marah padanya.
“Maaf Bos, tetapi server dari bank data kita mengalami masalah. Jadi, anak buahku perlu memperbaikinya terlebih dahulu sebelum berhasil mengambil informasi yang Bos inginkan.” Jawab Mardi dengan suara lirih.
“Kenapa Kamu tidak memberitahuku mengenai informasi sepenting ini?” Lagi-lagi Burhan membentak Mardi karena kinerjanya yang kurang itu.
__ADS_1
“Jika Kamu tidak mampu melakukannya, bilang saja. Kamu bisa mundur dari jabatanmu sekarang. Masih banyak orang di Gang Macan Putih yang bersedia mengisi jabatanmu itu.”
Mardi masih menundukkan kepalanya dan tidak menjawab ucapan Burhan barusan.
Dalam beroperasi, Gang Macan Putih tidak terlalu berbeda dengan sebuah perusahaan. Di Gang Macan Putih juga terdapat beberapa divisi yang mengurusi hal tertentu.
Persaingan di Gang Macan Putih pun cukup kejam. Banyak yang menginginkan memiliki jabatan yang tinggi di sini. Mereka tidak segan-segansaling sikut menyikut untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Jika Burhan tidak memiliki kekuatan yang sangat luar biasa yang tidak ada tandingannya, sudah pasti laki-laki itu akan banyak yang menantang untuk merebut jabatan sebagai pemimpin Gang Macan Putih. Bagaimanapun juga, menjadi pemimpin Gang Macan Putih banyak keuntungan. Jadi itu pasti menjadi rebutan.
“Sekarang Kamu boleh pergi. Segera urusi apa yang sudah aku perintahkan. Aku kamu menyelesaikan tugas ini secepatnya. Jika tidak, maka kamu harus mengucapkan selamat tinggal jabatanmu yang sekarang. Apa kamu paham?” Tanya Burhan.
Mardi mengangguk pelan. “Baik Bos. Aku paham tugas darimu. Akan segera aku laksanakan tugas darimu itu.” Setelah berucap demikian, Mardi undur diri dari ruang kerja milik Burhan.
Burhan masih tetap mengurung diri di ruang kerjanya. Ia masih perlu menganalisa informasi yang baru saja ia dapatkan. Setelahnya, Burhan baru bisa menyimpulkan sesuatu dari hal ini.
Semua rentetan kejadian ini cukup aneh dan mencurigakan menurut Burhan. Hal itu membuat Burhan berpikir bahwa ada penghianat di antara orang kepercayaannya. Jika ini adalah orang lain yang melakukan, pasti anak buahnya akan melaporkan hal itu.
Dari sekian banyak orang kepercayaannya, Burhan menaruh kecurigaan kepada Mardi. Laki-laki itu seolah mempersulit Burhan dalam memperoleh informasi mengenai pelaku pembakaran kafe milik Andi. Jika tidak, Mardi tidak akan memberikannya informasi selama ini.
Apalagi informasi yang sudah dikumpulkan oleh Mardi selama seminggu ini belum juga lengkap. Hal itulah yang membuat Burhan menaruh kecurigaan kepada Mardi. Selama ini Mardi selalu memberikannya informasi dalam hitungan jam.
Waktu terlama yang Mardi butuhkan dalam mencari informasi adalah dua kali dua puluh empat jam. Informasi itupun merupakan informasi mengenai pihak luar. Sekarang, ketika mencari informasi di dalam oraganisasi mereka sendiri, Mardi membutah waktu satu minggu.
Meski Burhan mencurigai Mardi, dirinya tidak bisa bertindak gegabah dan menanyakan hal ini kepada anak buahnya itu. Burhan perlu memiliki bukti yang cukup.
Meski begitu, kejadian ini tidak sia-sia. Burhan sekarang akan lebih berhati-hati jika bersama dengan anak buahnya. Bisa saja mereka menunggu kesempatan untuk menikam Burhan dari belakang.
“Siapapun dia yang sudah menghianatiku, akan kupastikan dia mati tanpa menyisahkan mayak.” Gumam Burhan.
__ADS_1