Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 106 Makan Malam dengan Keluarga Jayantaka (1)


__ADS_3

Setelah belanja bulanan bersama dengan Sekar, Andi pulang ke rumah barunya. Kedatangan Andi hampir bersamaan dengan mobil dari biro penyalur tenaga kerja. Langsun saja Andi mendatangani kontrak antara dirinya dan para pekerja barunya itu.


Andi kemudian mengenalkan Sekar kepada mereka. Ia ingin mereka tahu bahwa Sekar adalah atasan mereka. Perintah Sekar sama saja dengan perintahnya. Hal ini Andi lakukan agar tidak terjadi konflik di antara para pekerja rumahnya. Mereka perlu diberi tahu siapakah wakil Andi di sini.


Setelah itu, Andi meminta Sekar membagi tugas untuk semua pekerja di sini. Siapa yang bertanggung jawab memasak, bersih-bersih dan mencuci. Semuanya Andi serahkan kepada Sekar untuk membaginya. Setelah itu, Andi meminta tukang kebun dan satpam rumahnya membawa semua belanjaan ke dalam.


Tidak hanya kebutuhan bulanan saja yang Andi beli. Tetapi beberapa barang elektronik yang belum tersedia juga Andi beli. Terutama perlatan membuat kue. Dapur di rumah ini lebih bagus dan lebih luas daripada dapur apartemennya. Jadi, kedepannya Andi akan membuat video memasak di rumah ini.


Setelah membagi semua tugas, Andi menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Sekar. Itu adalah rekening yang baru Andi untuk operasional rumah. Seperti belanja bahan makanan, perlatan bersih-bersih, juga sabun dan kawan-kawannya. Dengan adanya rekening ini, Andi hanya perlu mengirim uang ke rekening tersebut tiap bulannya.


Setelah semuanya selesai, Andi membawa mobilnya menuju ke apartemennya. Ia perlu bersiap untuk pergi ke rumah Widya. Meski semalam dirinya sudah membuat beberapa kue, tetapi ia ingin membuat kue dengan beda jenis. Kali ini ia akan membuat kue dengan takaran gula yang tidak banyak. Pasti ada anggota keluarga Widya yang tidak bisa memakan makanan yang terlalu manis.


Jam setengah lima sore Andi sudah terlihat rapih. Ia sebuah kemeja yang dibalut dengan sebuah balzer. Dengan begini, ia tidak akan terlihat terlalu santai, juga tidak terlalu formal. Semua kue yang akan ia bawa ke rumah Widya juga sudah tertata rapi di dalam kardus.


Sebelum berangkat, Andi mengirimkan pesan kepada Widya untuk memberikan kabar kepada gadis itu. Lalu Andi menjalankan mobilnya menuju ke sana. Dua puluh lima menit kemudian, dengan mengandalkan ingatannya ketika mengantar Widya, Andi berhasil sampai di rumah gadis itu tanpa tersasar.


Gerbang rumah Widya sudah terbuka. Terlihat beberapa orang berbaris rapi gerbang rumah Widya. Mereka terlihat tengah menunggu kedatangan seseorang dan menyambutnya. Andi sedikit heran melihat hal itu.


“Apakah mereka berbaris seperti ini karena akan menyambutku?”


Meski tidak mau terlalu percaya diri, tetapi tiba-tiba saja pemikiran seperti itu muncul di otak Andi. Apakah ada tamu lain yang sedang keluarga Jayantaka tunggu selain dirinya? Ah itu mungkin saja terjadi.


Memikirkan kemungkinan tersebut, Andi tidak langsung membawa mobilnya masuk ke rumah Widya. Ia memarkirkannya dua puluh meter sebelum gerbang rumah Widya. Lebih baik ia menghubungi gadis itu dan mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai di depan rumahnya. Mungkin gadis itu akan memberikan instruksi tambahan untuk Andi.


Tidak lama setelah Andi mengirim pesan kepada Widya, seseorang berseragam hitam-hitam mendekat ke arah mobil Andi. Orang tersebut kemudian mengetuk kaca mobil milik Andi. Langsung saja Andi menurunkan kaca mobilnya.


“Apakah Tuan Muda ini adalah teman Nona Widya yang akan makan malam bersama Tuan Besar?” Tanya orang tersebut kepada Andi.


“Ya, aku orangnya.”

__ADS_1


“Tuan Muda langsung saja masuk ke dalam. Nanti akan ada yang membantu Tuan Muda untuk memarkirkan mobil Anda. Tuan Besar sudah menunggu Anda di dalam.” Ucap orang tersebut.


‘Jadi semua kehebohan ini adalah untuk menyambutku? Kenapa mereka memperlakukanku begini?’ Gumam Andi dalam hati.


Mungkin ini karena mereka menganggap betapa berharganya nyawa anggota keluarga mereka. Jadi, mereka menyambut kedatangan Andi dengan kehebohan seperti ini.


Andi langsung saja mengemudikan mobilnya masuk ke pekarangan rumah Widya. Ketika melewati gerbang, Andi melirik ke arah pagar besi dari gerbang rumah Widya. Ia ingin melihat simbol yang ada di depan pagar gerbang rumah Widya.


Sayangnya sambutan yang megah ini membuat Andi gagal melihat simbol itu. Seseorang berdiri tepat di depan simbol tersebut. Hal ini membuat Andi kesulitan untuk melihat, apalagi memotretnya.


‘Mungkin lain waktu aku akan meminta Widya mengirimkan gambar dari simbol yang di gerbang rumahnya.’ Gumam Andi dalam hati.


Sambutan untuk Andi tidak hanya berhenti di gerbang rumah, di depan pintu rumah pun masih ada sambutan lain. Tepat di depan rumah Widya, Andi melihat beberapa orang sudah berbaris rapi. Di antara orang yang berdiri di sana, Andi bisa melihat keberadaan Gayatri dan Widya. Ini berarti, yang sekarang menyambutnya adalah anggota keluarga Widya.


Andi langsung menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah Widya. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, seseorang sudah melakukan hal itu untuknya. Andi langsung keluar dari mobilnya. Tidak lupa ia mengambil bingkisan yang ia bawa untuk keluarga Widya.


“Teryata ini dia orangnya yang sudah menyelamatkan nyawa cucu laki-lakiku satu-satunya.” Ucap seorang laki-laki yang sudah beruban itu.


Laki-laki tua yang sebelumnya menyapa Andi itu, kini menganguk-anggukkan kepalanya. Ia cukup senang melihat kesopanan Andi. Apalagi ketika laki-laki itu melihat bingkisan di tangan Andi. Meski ia tidak tahu apa isinya, yang jelas ia senang dengan itikad baik dari Andi yang membawa sesuatu ke rumahnya.


“Ini ada sedikit kue buatanku sendiri.” ucap Andi sembari menyodorkan bingkisannya yang ia bawa.


Langsung saja laki-laki tua itu menerima bingkisan pemberian Andi. Ia lalu menyerahkannya kepada seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya. Sepertinya itu adalah butler di rumah ini. Itu Andi ketahui dari ucapan laki-laki tua ini.


“Bawa ini ke dapur, dan sajikan kuenya buatan anak muda ini. Ah apa ini betul kue buatanmu?” Tanya laki-laki tua itu.


“Iya Tuan, itu adalah kue buatanku sendiri.”


“Aku tidak menyangka kamu ini bisa membuat kue. Dan jangan panggil aku Tuan, bagaimana pun juga, kamu sudah menyelamatkan Satrio. Jadi, panggil aku Kakek Rama. Di sampingku ini adalah Doni, ayah dari Satrio.”

__ADS_1


“Lebih baik kita bicara di dalam saja Ayah. Kita tidak bisa membuat tamu kita berdiri saja di depan pintu bukan?” Ucap Doni.


“Ah ya, di mana letak sopan santunku. Bagaimana bisa aku membiarkan tamu kita berdiri di sini. Ayo masuk. Mobilmu tinggalkan saja di sana. Nanti akan ada seseorang yang memarkirkan mobilmu itu.” ucap Rama.


Meski dari luar rumah milik keluarga Widya ini terlihat seperti rumah modern, tetapi bagian dalamnya sungguh berbeda dari luarnya. Di dalam banyak sekali nuasna kayu dari rumah ini. Tiang kayu dengan ukiran indah juga menghiasi rumah ini. Ini seperti perpaduan antara rumah tradisional dengan bangunan modern.


Andi pun mengikuti keluarga Widya menuju ke ruang tamu mereka. Di sana Kakek dan Ayah Widya mulai bertanya-tanya mengenai informasi Andi.


“Jadi, kamu juga sering ikut balapan?” tanya Rama.


“Tidak Kakek, aku sama sekali tidak pernah mengikuti balapan mobil.”


“Lalu malam itu?”


Rupanya Rama menanyakan kenapa Andi bisa berada di lokasi kecelakaan mobil Satrio. Jika Andi tidak mengikuti balapan, sudah pasti dia tidak akan ada di sana bukan?


“Waktu itu Arya yang mengundangku untuk datang. Aku hanya datang ke sana untuk melihat jalannya balapan. Itu saja kali pertama aku melihat balapan mobil.” Jelas Andi.


“Aku bersyukur kamu melihat balapan malam itu. Karena kamu ada di sana, cucuku bisa terselamatkan. Jika tidak ada orang seberani dirimu, aku tidak yakin Satrio bisa selamat dari kecelakaan itu. Oleh Karena itu aku dan keluargaku berterima kasih kepadamu mengenai hal itu.”


Setelah berucap demikian, Rama dan keluarganya yang lain mulai berdiri. Mereka membungkukkan badannya kepada Andi sembari mengucapkan terima kasih mereka kepada Andi.


Rama sudah melihat sendiri bangkai dari mobil sport yang dikendarai Satrio. Mobil itu hanya tinggal kerangkanya saja. Bagian dalam mobilnya sudah ludes terbakar. Jika saja Andi menarik Satrio dari dalam mobil, sudah pasti nasih cucunya itu sama seperti bagian dalam mobilnya. Ludes dimakan si jago merah.


Melihat semua orang di depannya membungkuk seperti itu, Andi merasa canggung. “Sudah-sudah. Kalian tidak perlu membungkuk seperti itu padaku. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang manusia yang beradap.”


“Sesama manusia harus saling tolong menolong bukan? Apalagi aku sanggup dan berada di sana saat Satrio kecelakaan. Sudah menjadi tugasku untuk menolongnya. Aku tidak bisa diam saja dan membiarkan api membakar tubuh Satrio.”


Mendengar ucapan Andi, semuanya kembali berdiri tegak. Lalu mereka kembali duduk di tempat masing-masing.

__ADS_1


“Tetap saja kami selaku keluarga Satrio perlu berterima kasih kepadamu. Jadi, apa yang kamu inginkan setelah menolong Satrio? Apa pun yang kamu minta, asalkan itu tidak melanggar hukum, kami akan berusaha memenuhinya. Nyawa anakku jauh lebih berharga dari segelintir harta. Jadi, katakan saja apa keinginanmu.” Tanya Doni.


Dan ini dia, akhirnya muncul juga kalimat yang sudah Andi tebak. Imbalan atas jasa Andi menyelamatkan Satrio.


__ADS_2