
“Bagaimana ayah?” Tanya Doni melihat ayahnya yang diam saja.
Tanpa menjawab pertanyaan Doni, Rama menyerahkan liontin berserta kaca pembesarnya kepada anaknya. “Lihat saja sendiri.” Ucap Rama.
Doni melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sang ayah. Dia mendekatkan kaca pembesar di dekat liotin tersebut. Beberapa kali ia membolak balik liotin tersebut untuk mencari ukiran khusu yang merupakan penanda.
Seperti kata Rama, Doni bisa menemukan ukiran-ukiran tersebut. “Benar yang Ayah katakan. Ini adalah kalung milik Sang Penerus. Tidak salah lagi, penempatan ukirannya, gaya ukirannya, semuanya sama dengan kalung milik Sang Penerus sebelum-sebelumnya.” Ucap Doni.
“Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan Ayah?”
“Tentu saja mengembalikan kalung ini kepada pemiliknya.” Setelah berucap demikian, Rama mengarahkan pandangannya ke arah cucunya, Widya. “Apa kamu tahu siapa nama lengkap temanmu itu, Wid? Apa kamu tahu nama keluarganya?” Tanya Rama.
Widya menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengetahui nama lengkap Andi. Mereka belum lama saling mengenal. Dan ketika berkenalan dengan Andi pun, mereka tidak saling memberikan nama lengkap mereka. Jadi, bagaimana mungkin Widya tahu siapa nama keluarga Andi.
“Aku tidak tahu kakek.”
“Kalau begitu, hubungi temanmu itu. Tanyakan padanya, apakah dia kehilangan kalung miliknya atau tidak.”
“Baiklah Ayah.”
“Telfon saja dia, jangan mengirim pesan.” Perintah Rama.
Widya pun menghubungi Andi melalui sambungan telfon. Tetapi sudah beberapa kali ia menelfon tetapi sambungan telfonnya tidak terhubung. “Tidak angkat Kakek, Ayah. Mungkin saat ini dia masih dalam perjalana.” Ucap Widya.
“Lalu sekarang bagaimana Ayah? Kemungkinan kalung ini punya Andi adalah lebih dari lima puluh persen. Langkah apa yang perlu kita ambil?” Tanya Doni.
“Tentu saja kita melakukannya seperti sebelum-sebelumnya. Berteman dengannya dan menjaga hubungan baik dengan dia. Bukankah sejauh ini sudah bagus? Kita tidak memiliki konflik dengannya. Jadi, pertahankan saja yang sekarang.”
“Lalu kalian berdua,” Rama memandang ke arah Gayatri dan Widya, “pertahankan hubungan baik ini. Jika bisa, jika dia membutuhkan bantuan apa pun, bantu dia.” Ucap
“Iya Kakek kami mengerti.” “Aku tahu kakek.” Jawab Gayatri dan Widya bersamaan.
Bicara soal bantuan, Rama teringat akan Marcel dan Hermawan yang sudah memiliki masalah dengan Andi. “Nasib keluarga Sasongko dan Sanjoyo sepertinya akan berakhir dengan sejarah.” Ucap Rama tiba-tiba.
“Maksud Ayah?”
“Apa kamu sudah lupa? Tadi Widya sudah mengatakan bahwa keturunan kedua keluarga tersebut memiliki masalah dengan Andi bukan? Cepat atau lambat mereka akan mendapatkan masalah besar karena menghadapi sang penerus.” Jelas Rama.
“Perlukah kita memperingatkan mereka agar tidak lagi mengganggu Andi kakek?” Tanya Gayatri.
Rama tidak percaya mendengar cucunya menanyakan hal ini kepadanya. Untuk apa memperingatkan mereka? Bukankah ini kesempatan bagi mereka? Dengan hancurnya kedua keluarga itu, bukankah pesaing keluarga mereka di kota ini semakin berkurang?
Jika demikian, kenapa pula keluarganya memperingatkan kedua keluarga itu? Mereka tidak berkewajiban melakukan hal itu.
Rama menggelengkan kepalanya. “Aku tidak percaya kamu masih berpikir senaif itu Gayatri. Tentu saja kita tidak akan memberitahu mereka tentang hal ini. Ini adalah kesempatan keluarga kita untuk berkembang lebih pesat daripada sebelumnya. Jadi, untuk apa kita memberitahu mereka?”
“Asal kalian tahu saja, keempat keluarga besar itu bisa sebesar ini sedikit banyak ada hubungannya dengan Sang Penerus. Jika kita memberitahu mereka, itu berarti memberikan kesempatan untuk mereka semakin maju.”
__ADS_1
“Meski kelihatannya keempat keluarga akur-akur saja, tetapi, kita tidak seakur itu. Persaingan di antara kita cukup ketat. Hancur bangkitnya sebuah keluarga sudah menjadi hal yang sangat lumrah jika sang penerus muncul.”
“Keluarga Sasongko dan Sanjoyo sendiri yang mengundang sendiri kehancuran mereka. Seharusnya mereka bisa mendidik keturunan anggota keluarga mereka dengan baik. Jangan karena sekarang mereka kaya, mereka bisa berbuat semena-mena.”
“Sang Penerus selalu mengingatkan untuk terus mengedepankan didikan moral kepada anak buahnya. Jadi, itu semua salah keluarga Sasongko dan Sanjoyo. Kita tidak memiliki kewajiban untuk membantu mereka.” Jelas Rama.
Gayatri terdiam setelah mendengarkan perkataan kakeknya. Memang benar apa yang kakeknya ucapkan, mereka ini adalah saingan. Jadi, kenapa pula keluarganya memperingatkan keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo.
Berkurangnya saingan bukannya lebih bagus untuk mereka? Dari pengamatan Gayatri akhir-akhir ini, kedua keluarga itu bergerak aktif berusaha mengungguli yang lain. Jika mereka menggunakan cara legal, mungkin Gayatri tidak akan masalah.
Tetapi sayangnya, Gayatri dengar mereka sekarang sudah mendekati mereka yang berasal dari dunia bawah untuk bekerja sama. Meski belum memiliki bukti kongkrit mengenai hal itu, tetapi Gayatri sekarang lebih berhati-hati jika menghadapi mereka.
Jika semua perkataan kakeknya tentang Sang Penerus itu benar, maka ini adalah kesempatan bagi keluarga mereka. Mereka bisa menyingkirkan dua pesaing lainnya. Tetapi meski begitu, Gayatri tidak akan menurunkan kewaspadaannya begitu saja.
“Kakek benar tentang hal itu.” Jawab Gayatri.
“Kita hanya perlu menjadi penonton dalam masalah Andi dengan Marcel dan Hermawan. Kita tidak akan memperingatkan keluarga kedua anak itu, tetapi kita juga tidak akan mempersulit mereka. Yang perlu kita lakukan adalah siap sedia jika Andi membutuhkan bantuan kita.”
Setelah Rama berkata demikian, ponsel milik Widya berbunyi. Ia melihat siapa yang menghubunginya. Ketika melihat siapa yang menghubunginya, Widya langsung melaporkan hal itu kepada kakeknya.
“Andi menelfon Kek.”
“Agka saja.”
*****
Apalagi dirinya sudah membawa beberapa setel baju ganti, jadi, mala mini Andi akan menginap di sana. Ketika sampai di rumahnya, Andi langsung saja menuju kamarnya di lantai tiga. Ia berencana untuk berganti pakaian.
Ketika membuka bajunya di depan cermin, Andi memperhatikan otot-otot miliknya. Sebelum-sebelumnya, ia juga sering mengagumi tubuhnya sendiri. Otot-otot itu adalah hasil kerja kerasnya selama ini. Jadi, Andi tentu saja bangga ketika melihat tubuhnya di depan cermin.
Andi merasa ada yang kurang ketika dirinya berdiri di depan cermin. Tetapi ia tidak bisa mengingat apa itu. Setelah terdiam beberapa saat, Andi melihat ke arah lehernya.
“Astaga. Di mana kalungku berada? Apakah aku menjatuhkannya? Tetapi di mana kalungitu jatuh? Itu adalah pemberian Kakek Buyut Adipramana, bagaimana bisa aku menghilangkannya begitu saja.”
Mengetahui kalungnya hilang, kecemasan melanda Andi. Dengan sedikit tergopoh-gopoh, ia mencari keberadaan kalung tersebut di antara baju yang tadi ia pakai. Siapa tahu kalungnya tersangkut di bajunya.
Tetapi Andi tidak menemukan kalung tersebut. Ketika dirinya akan mencari di dalam mobilnya, Andi melihat panggilan tidak terjawab dari Widya.
“Ah mungkinkah kalungku tertinggal di sana?”
Tanpa berpikir panjang Andi langsung menghubungi balik Widya. Pada deringan ketiga, sambungan telfonnya terhubung dengan Widya.
“Hallo Wid, apakah kamu mengetahui kalungku? Kalung itu memiliki tali berwarna hitam dengan liontin berwarna emas. Di liontin tersebut terdapat gambar seekor elang yang memakai sebuah mahkota. Apakah di rumahmu kamu menemukan kalung seperti itu? Kalung tersebut adalah kalung yang sangat berharga untukku.” Ucap Andi tanpa henti, tanpa memberikan Widya kesempatan untuk merespon ucapan Andi.
“Ya, salah satu penjaga rumahku menemukan kalung seperti itu. Jadi itu kalungmu?”
“Syukurlah ternyata kalung tersebut jatuh di rumahmu. Aku kira aku sudah kehilangan kalung tersebut. Bisakah kamu menyimpan kalung tersebut untukku. Besok aku akan mengambilnya.”
__ADS_1
“Tidak masalah.” Jawab Widya. “Kita bisa bertemu besok di jam makan siang. Bagaimana jika kita bertemu di kedai es krim yang waktu itu saja?” Tanya Widya.
“Baiklah. Itu tidak masalah untukku.”
Andi merasa lega bahwa kalung pemberian Kakek Buyut Adipramana itu tidak hilang. Ia tidak bisa membayangkan jika nanti ketika bertemu dengan Kakek Buyut Adipraman, beliau menanyakan keberadaan kalungnya, bagaimana ia harus menjawabnya? Untung saja kalung tersebut tidak hilang.
Setelah merasa tenang, Andi kemudian mengecek saldo miliknya. Seperti halnya kemarin, hari ini Andi ingin mengecek hasil yang dihasilkan oleh para ssepupunya itu.
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 9 (4.566.135.200/10.000.000.000)]
[Saldo Host : Rp 33.731.253.158,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 37 rupiah]
[Misi : - Buatlah sebuah game. Hitung mundur 87 hari 17 jam]
[Target Bulanan : -]
[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)]
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1
Pengalaman Desainer Game
Pengalaman Programer]
__ADS_1
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]