
“Jadi, perusahaan milik Pak Lukman itu perusahaan apa?” Tanya Andi membuka pembicaraan mereka.
“Perusahaan milikku adalah perusahaan properti. Perusahaan milikku sudah membangun beberapa perumahan kelas menengah kebawah di berbagai kota di provinsi ini. Saat ini, perusahaan milikku ini memiliki proyek pembangunan sebuah gedung apartemen di Surabaya.”
“Tetapi, modal milik perusahaanku sekarang ini tidak ada. Jadi, kemungkinan besar aku tidak bisa menyelesaikan pembangunan gedung apartemen tersebut.”
“Kalau boleh tahu, kenapa perusahaan Pak Lukman ini perusahaan yang cukup besar bukan? Bagaimana bisa perusahaan milik Bapak tiba-tiba saja kekurangan modal?”
Andi membaca berita di internet mengenai perusahaan milik Lukman. Seperti yang dikatakan Lukman, perusahaan miliknya ini sudah membangun beberapa perumahan di beberapa kota di provinsi ini. Bisa dibilang, proyek milik Lukman itu berjalan dengan baik dan lancar.
Tidak hanya perumahan, Lukman juga sudah berhasil membangun sebuah gedung apartemen. Dan sekarang, ketika Lukman membangun gedung apartemen baru, modalnya habis? Andi sulit mempercayainya.
Pastinya ketika membangun gedung apartemen sebelumnya, Lukman sudah mempelajari banyak hal. Dia juga pasti sudah memperhitungkan perkiraan dana yang dibutuhkan untuk membangun sebuah gedung apartemen bukan? Lalu kenapa sekarang kekurangan dana?
“Ini akan menentukan apakah aku akan mengakuisisi perusahaan Bapak atau tidak. Setidaknya aku perlu mengetahuinya. Jika memang ini adalah perusahaan yang bermasalah, tentu saja aku tidak akan mengakuissisinya.”
“Siapa juga yang mau mengakuisisi perusahaan seperti itu. Jadi, Pak Lukman perlu memberitahu aku mengenai hal itu.” Ucap Andi setelah melihat bahwa Lukman tidak segera menjawab pertanyaan darinya.
Mendengar pertanyaan Andi, Lukman sedikit menundukkan kepalanya sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya ia sedikit malu menjelaskan pokok permasalahan yang menjadi alasan perusahaannya diambang kebangkrutan.
Bagaimana pun juga, alasan itu adalah sebuah kebodohan yang ia lakukan karena percaya begitu saja kepada seorang wanita.
“Itu sebanarnya adalah kesalahanku. Sebuah kebodohanku yang mempercayai seseorang begitu saja. Semua ini bermula dari seorang wanita yang mendekatiku. Dia membuatku jatuh akan pesonanya. Pada akhirnya aku menikahinya.”
“Namun, bodohnya aku yang percaya saja dengan semua bujuk rayunya, aku memberitahu kata sandi dari rekening perusahaan. Seluruh perusahaan itu adalah miliku. Tidak ada modal orang lain yang terlibat. Jadi, pikirku tidak masalah bagiku memberitahunya mengenai kata kunci dari rekening perusahaan.”
“Tetapi ternyata, dia selama ini berniat menipuku dan menguras hartaku. Wanita j*lang tersebut mendekatiku hanya untuk bisa mendapatkan akses ke rekening perushaanku. Tidak lama setelah dia tahu kata kuncinya, uang seratus milyar yang akan aku pakai menyelesaikan apartemen itu, dibawa kabur olehnya.”
Lukman menarik nafas panjang. Ia meningat wanita yang dinikahinya itu. Lukman sendiri tidak tahu bagaimana bisa dirinya semudah itu jatuh pada pesona wanita itu. Jika diingat-ingat sekarang, wajahnya tidak secantik itu. Lalu, tidak ada kelebihan lain dari wanita itu yang bisa menambah nilainya.
Mungkin pada saat itu Lukman sudah diguna-guna oleh wanita itu. Jika tidak, bagaimana mungkin dia mau menikahi wanita itu setelah baru mengenalnya selama dua bulan. Lalu, setelah tiga bulan menikah, dia dengan mudahnya memberitahu kata sandi dari rekening perusahaannya.
Itu bukan rekening pribadinya. Tetapi renening perusahaannya. Setelah membawa kabur uang milik perusahaan Lukman, wanita itu pergi ke luar negeri. Jika seperti ini, sulit bagi Lukman menemukannya. Ia saja tidak mengetahui negera tujuan dari wanita itu.
__ADS_1
Memang ia mengambil sebuah penerbangan ke Singapura. Tetapi, Lukman yakin tidak lama setelahnya ia pergi menuju negara lain. Singapura hanya dia jadikan negara transit sebelum sampai di negara tujuannya.
“Itu semua adalah kebodohanku. Aku sangat bodoh mau mempercayai semua wanita j*lang tersebut. Sekarang ini aku tidak bisa menyelesaikan proyek pembangunan apartemenku. Bahkan, aku juga masih memiliki hutang lima puluh milyar yang perlu aku bayarkan.”
“Jika aku menjual semua aset milikku pun, itu tidak akan cukup membayar hutangku. Apalagi menyelesaikan proyek pembangunan itu.”
Andi terdiam mendengar ucapan Lukman. Jika dipikir-pikir, memang Lukman termasuk bodoh karena menyerahkan kata sandi rekening perusahaannya dengan mudahnya. Meski wanita yang membawa kabur uang tersebut berstatus istrinya tetapi tetap saja hal itu tidak bisa dilakukan.
Rekening perusahaan haruslah dibedakan dengan rekening pribadi. Dan kata sandi dari rekening perusahaan tidak seharusnya di umbar seperti itu. Kata sandi rekening perusahaan milik Andi saja hanya diketahui oleh Andi dan manager keuangannya. Keluarganya tidak ada yang tahu.
Tidak hanya itu, kata sandi dari rekeningnya pun tidak diketahui oleh keluarganya. Jika Andi ingin memberikan uang kepada keluarganya, maka lebih baik Andi membuka rekening baru dan mengisinya dengan beberapa uang. Lalu, ia akan memberikan rekening tersebut kepada keluarganya.
Andi tidak akan memberikan kata sandi dari rekening utamanya kepada siapapun.
“Jadi itu alasan kenapa perusahaan Pak Lukman diambang kebangkrutan.”
“Ya itu alasannya. Jadi bagaimana? Apakah kamu masih tetap akan mengakuisisinya.”
“Tentu saja aku akan mengakuisisinya. Tetapi aku masih perlu meminta ahlinya untuk menilai kembali perusahaan milik Pak Lukman supaya kita bisa tahu berapa nilai dari perusahaan Bapak.”
“Baiklah. Itu tidak masalah untukku. Aku akan membantumu dengan semua proses penentuan nilai perusahaanku. Jika kamu bisa cepat mengakuisisi perusahaanku itu lebih baik. Aku bisa segera memulai membuka usaha baru.” Ucap Lukman.
Tetapi Andi memiliki rencana lain bagi Lukman. Laki-laki ini bisa dibilang pengusaha yang baik. Ia bisa mengelola usahanya dari usaha kecil hingga sebesar ini. Sudah jelas Lukman adalah pemimpin yang bagus.
Dalam mengakuisisi nanti, Andi berencana menjadikan Lukman sebagai pimpinan peusahaan ini. Bagaimana pun juga, Lukman sudah tahu seluk beluk bisnis properti ini lebih dari Andi. Daripada Andi mencari orang baru, lebih baik ia mempekerjakan Lukman bukan? Itu pun jika laki-laki itu mau.
“Dalam minggu ini aku yakin aku sudah menyelesaikan akuisisi perusahaan Pak Lukman. Tetapi, apakah Pak Lukman bisa merahasiakan identitasku untuk saat ini? Maksudku sebagai pemilik baru perusahaan Pak Lukman. Aku tidak ingin orang tahu identitasku.”
“Jika ada yang bertanya mengenai siapa yang mengambil alih perusahaan Bapak, katakan saja bahwa itu diambil alih oleh PT. Dana Mimpi Anak Bangsa.”
Andi sengaja melimpahkan semua ini kepada perusahaan investasinya. Bagaimana pun juga, perusahaan milik Lukman merupakan perusahaan yang cukup besar di kelasnya. Jadi, ketika perusahaan itu beralih kepemilikan, sudah pasti orang banyak yang akan mencari tahu siapa pemiliknya sekarang.
Dengan Andi memakai nama perusahaan investasinya itu, maka itu sama saja dengan memperkenalkan perusahaan investasinya bukan? Jadi, jika ada promosi gratisan seperti ini, kenapa tidak?
__ADS_1
“Baiklah. Aku akan mengikuti kemamuanmu.”
Lalu Andi kembali mengobrol dengan Lukman mengenai bisnisnya. Setelah setengah jam mengobrol, Andi berpamitan kepada Lukman. Ia masih harus menjemput kedua adiknya. Tadi mereka pergi ke bioskop sementara dirinya rapat dengan Lukman.
Ketika menuju ke bioskop, Andi melewati toko elektronik tempatnya biasanya membeli peralatan komputer. Melewati toko itu membuat Andi ingat bahwa ia belum membeli peralatan komputer untuk perusahaan gamenya itu. Tidak hanya itu, penambahan karyawan di perusahaan investasinya membuat Andi juga membutuhkan perangkat komputer baru.
Untuk perusahaan game miliknya, Andi memerlukan komputer dengan spek yang lebih tinggi daripada komputer di perusahaan investasinya. Ia pasti akan membutuhkan uang yang cukup banyak untuk membeli semua perangkat komputer itu.
“Ah, kenapa tidak aku buat sendiri saja perusahaan komputer milikku? Aku bisa merakit sendiri sebuah perangkat komputer. Aku tinggal membeli beberapa hardware untuk komputerku. Jika aku membeli dengan jumlah banyak, pastinya akan jauh lebih murah daripada membeli di toko seperti ini.”
Memikirkan hal itu membuat Andi memiliki ide untuk mendirikan bisnis baru. Tetapi, ia perlu memastikan sesuatu dulu dengan sistem.
“Sistem, mengenai misi memiliki lima perusahaan baru, apakah perusahaan itu hanya perusahaan yang aku beli? Lalu, perusahaan yang aku miliki yang resmi berdiri setelah misi apakah itu juga masuk hitungan?” tanya Andi.
[Perusahaan baru yang Sistem hitung adalah perusahaan yang Host miliki setelah misi diluncurkan. Itu termasuk perusahaan yang Host beli juga perusahaan yangresmi berdiri pada saat misi berlangsung.]
Mata Andi berbinar mendengar perkataan Sistem. “Berarti, perusahaan game yang sedang dalam proses pendirian ini bisa masuk dalam hitungan? Perusahaan game milikku ini kan belum benar-benar terdaftar.”
[Betul Host. Perusahaan game yang masih dalam proses pendirian itu bisa masuk dalam hitungan.]
“Lalu, perusahaan milik Jony? Aku sudah memiliki dua puluh persen sahamnya bukan? Aku tinggal menunggu memiliki sepuluh persen saham. Dengan begitu, itu masuk dalam hitungan satu perusahaan baru bukan?” Tanya Andi.
[Itu tidak masuk dalam hitungan Host]
“Lah, kenapa memangnya?” Tanya Andi heran.
[Itu karena dua puluh persen saham yang Host miliki itu sekarang dalam proses penjualan. Jadi, meskipun nantinya Host memiliki lebih dari tiga puluh persen saham, jika host menjual semuanya maka itu tidak akan masuk dalam hitungan.]
“Jadi seperti itu ya.”
Bagi Andi itu tidak terlalu masalah. Dalam minggu depan dirinya yakin bisa mengambil alih kepemilikan perusahaan milik keluarga Jony itu. Dengan begitu Andi perusahaan itu akan masuk dalam hitungan sistem.
Jika dihitung, tidak lama lagi Andi akan memili tiga perusahaan baru. Perusahaan game miliknya, perusahaan milik keluarga Jony yang akan ia ambil alih, dan perusahaan milik Lukman. Jika Andi benar-benar membuat perusahaan elektronik, maka dirinya akan memiliki empat perusahaan baru.
__ADS_1
“Ini berarti aku tinggal mencari satu perusahaan lagi. Dengan begini, aku akan memiliki uang lebih untuk memperbesar perusahaanku yang lainnya.”