
Andi memperhatikan mobil ambulance yang membawa Satrio pergi dari lokasi kecelakaan. Ternyata bukan hanya mobil ambulance yang dihubungi, tetapi juga mobil pemadam kebaran. Sekarang ini mobil pemadam kebakaran terlihat sibuk memadamkan mobil Satrio.
Arya mengikuti ambulance dengan mobilnya, sementara Widya menaiki mobil ambulance menemani kakaknya yang masih tidak sadarkan diri. Andi merasa sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan di sini. Lebih baik dia kembali ke hotel dan beristirahat.
Ketika sampai di dekat mobilnya, Andi merasakan sakit di tangannya. Pemuda itu kemudian memandang ke bawah, ke arah tangannya. Ia melihat tangannya sebelah tangannya saat ini melepuh. Mungkin karena dia memadamkan api di tubuh Satrio tadi sehingga hal ini terjadi padanya.
Sedari tadi ia tidak merasakan rasa sakit di tangannya. Mungkin itu karena adrenalinnya masih tinggi tadi. Sekarang, setelah semuanya cukup tenang, ia baru merasakan rasa sakit di tangannya. Ia memandang ke sekelilingnya, sekarang ini sudah cukup sepi. Sebagian orang yang menonton balapan telah kembali pulang. Hanya tinggal beberapa orang saja di sini.
Di antara beberapa orang yang masih tinggal pun, tidak ada yang Andi kenal. Hal ini berarti, Andi tidak bisa meminta bantuan mereka untuk membawanya ke rumah sakit.
“Ini berarti aku hanya bisa menyetir dengan cukup pelan.” Gumam Andi.
Pemuda itu pun memaksakan diri menyetir mobilnya dengan tangannya yang terluka. Untung saja jalan yang akan dilewatinya untuk menuju rumah sakit bukanlah jalan yang banyak belokan, tanjakkan, dan turunan. Jadi, ia tidak membutuhkan tangannya untuk menjalankan manuver-manuver khusus yang baisa dilakukan di jalur pegunungan.
Andi kemudian menemudikan mobilnya dengan pergelangan tangannya. Telapak tangannya yang terluka sama sekali tidak ia pergunakan untuk menyetir mobil. Pemuda itu berharap dengan menyetir menggunakan cara ini dirinya bisa sampai dengan selamat di rumah sakit.
Andi bernafas lega ketika dirinya bisa sampai dengan selamat di sebuah rumah sakit. Langsung saja Andi menuju ke IGD untuk meminta penanganan atas luka yang dialaminya. Ketika Andi sedang ditangani, ia teringat akan janji yang sudah ia buat esok hari.
Besok dia berjanji akan membawa adik-adiknya berenang. Sudah jelas dengan tangannya yang seperti ini, Andi tidak bisa melakukan hal itu. Untuk menyetir saja dirinya kesusahan apalagi harus berenang. Apa yang harus ia jelaskan kepada kedua adiknya mengenai luka di tangannya ini?
*****
Pagi-pagi sekali, Andi mendapatkan telfon dari ibunya. Anisa mengatakan bahwa ia dan kedua adik Andi sudah berada di lobby hotel tempat Andi menginap. Pemuda itu pun bergegas menuju ke lobby.
“Kak Andi.” Ucap Arfan sembari memeluk Andi ketika pemuda itu datang. Sepertinya adiknya yang satu ini cukup kangen dengannya. Sudah seminggu lebih dia tidak bertemu dengan Andi .
“Kak Andi kenapa nggak pulang-pulang?” Tanya Arfan.
“Nanti tiap akhir pekan Kakak akan usahakan untuk pulang. Ketika Kakak pulang nanti, Kakak akan ajak kalian jalan-jalan.” Jelas Andi.
“Kenapa Kakak pake sarung tangan?” tanya Amira tiba-tiba.
Saat ini Andi memakai sebuah kaos dengan jaket kulit menutupi tubuhnya. Kedua tangannya pun dibalut dalam sebuah sarung tangan kulit berwarna hitam. Itu adalah cara yang Andi lakukan untuk menutupi tangannya yang terluka.
“Ah ini. Ini adalah style berpakaian yang ingin aku coba. Jaket kulit dengan sarung tangan kulit. Aku pernah lihat beberapa orang memakai style seperti ini. Dan ketika mencobanya, ternyata syle ini juga cocok denganku.” Jelas Andi.
Amira menerima alasan kakaknya tersebut. Memang dia sendiri juga pernah melihat seseorang mememakai style yang dipakai kakaknya ini. Jadi, ia tidak curiga sama sekali.
Andi bernafas lega ketika mengetahui tidak ada lagi yang bertanya soal sarung tangan yang ia pakai. Sepertinya cara ini berhasil mengelabuhi keluarganya.
“Ibu titipkan adik-adikmu ya. Jaga mereka baik-baik.” Ucap Anisa setelah anak-anaknya bercengkrama melepas rindu.
__ADS_1
“Tentu saja Bu. Mereka adik-adikku, jadi, aku akan menjaga mereka dengan baik.” Jawab Andi.
“Nanti jam setengah tiga ibu akan jemput kalian di sini. Jadi, usahakan jam dua kalian sudah kembali.” Siap komandan.
Ketiga bersaudara itu kemudian memandang motor yang ibu mereka kendarai pergi meninggalkan hotel. Setelah Anisa tidak terlihat lagi, Amira bertanya kepada Andi.
“Jadi, Kakak akan mengajak kami berenang?” Tanya Amira.
Andi menggeleng pelan. “Rencana berubah. Kita tidak jadi berenang.”
“Lah kenapa nggak jadi Kak? Aku udah bawa baju renang loh. Kenapa nggak jadi?” Tanya Arfan kepada Andi.
Andi memberikan adiknya itu sebuah senyuman. “Kita nggak jadi renang bukan berarti Kakak nggak mau ajak kalian senang-senang. Masih ada cara lainnya. Sekarang, Kakak bebasin kalian memilih. Mau bersenang-senang di mana kalian hari ini?” Tanya Andi.
Mendengar ucapan Andi barusan, kedua adiknya telihat diam dan mulai berpikir. Keduanya saat ini tengah memikirkan tempat yang pas untuk mereka bersenang-senang.
“Kita ke tempat outbound aja Kak. Di sana kan banyak yang bisa kita lakukan. Naik flying fox, naik ATV, banyak deh. Aku dengar dari temanku ada lokasi outbound yang baru dibuka di kota kita.” Saran Amira.
“Boleh itu Kak Andi, kita ke tempat outbound aja. Aku belum pernah rasain naik ATV. Mungkin itu akan seru.” Ucap Arfan penuh semangat.
Andi tersenyum, ke lokasi outbound memang terdengar menyenangkan. Setidaknya di sana ada satu dua wahana yang bisa Andi nikmati dengan tangannya yang luka ini. Dengan begitu, ia masih bisa bersenang-senang bersama dengan adiknya.
“Baiklah kalau begitu, kita akan ke sana. Amira sekarang tolong kamu pesankan taksi online untuk kita ke sana.” Pinta Andi.
Belum sempat Amira melanjutkan ucapannya, Andi sudah mengedipkan matanya untuk memberikan kode kepada Amira. Melihat hal itu, Amira teringat bahwa kakaknya tidak mau fakta bahwa dia memiliki mobil diketahui orang lain untuk saat ini.
“Baiklah Kak. Akan aku pesankan taksi online untuk kita ke sana.” Jawab Amira.
Setengah jam kemudian, ketiga bersaudara itu sampai di lokasi. Arfan terlihats tidak sabaran dan ingin segera masuk area outbound. Andi langsung saja menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada Amira.
“Kamu belilah tiketnya. Aku kan mengurusi taksi onlinenya dulu.” ucap Andi.
“Oke Kak.”
Lokasi outbound yang mereka tuju merupakan daerah pinggiran kota. Apalagi ini adalah di daerah pegunungan. Sudah jelas akan sudah untuk mencari kendaraan yang bisa membawa mereka pulang. Andi perlu bernegosiasi dengan sang sopir taksi online.
Siapa tahu sopir tersebut mau menunggu mereka hingga Andi dan adik-adiknya selesai bersenang-senang. Tentu saja Andi akan membayar sopir taksi tersebut selama ia menunggu. Hitungannya, Andi menyewa sopir berikut mobilnya selama setengah hari.
Setelah negosiasi beres, Andi kemudian menuju ke arah Amira yang masih menunggunya di pintu masuk. “Arfan mana?” Tanya Andi ketika tidak melihat keberadaan adik laki-lakinya di sana.
“Dia udah masuk. Ga sabar pengen nyoba naik ATV.” Jawab Amira.
__ADS_1
“Emangnya dia udah bawa uang?”
Sependek pengetahuan Andi, di tempat wisata seperti ini, biasanya wahana bermainnya perlu membayar lagi. Hanya ada beberapa saja yang gratisan.
“Kayaknya dia nggak bawa uang deh Kak.”
Andi bisa menebak bahwa Arfan akan kecewa, ketika tidak bisa langsung menikmati ATV, seperti yang dia inginkan setelah terburu-buru masuk. “Ya udah ayo kita masuk. Kakak yakin adik kita itu akan ngambek kalo kita nggak buru-buru masuk.”
“Jadi, apa kamu sudah mencoba berinvestasi dengan uang yang kakak kirimkan?” Tanya Andi sembari mereka berjalan menuju wahana ATV.
“Sudah. Aku sudah mencoba berinvestasi di reksadana seperti yang Kakak sarankan.”
“Lalu bagaimana yang kamu rasakan?”
“Hah.” Amira menarik nafas panjang. “Itu sangat menegangkan sekali kak. Kayak naik roller coaster tau ga. Hari ini untung besok tiba-tiba rugi. Tapi kadang untungnya bisa gede. Tiga persen lima persen. Segitu untungnya lumayan loh Kak.” Jelas Amira.
“Investasi reksadana itu untuk membantu kita mencapai tujuan ekonomi yang kita inginkan. Misalnya aja kamu pengen beli motor dengan harga tiga puluh juta dalam tiga tahun lagi. Nah jika kamu pake reksadana, kamu hanya perlu nabung rutin tujuh ratus ribu sebulannya selama tiga tahun.”
“Tetapi kalo kamu nabung biasa, buat ngedapetin uang tiga puluh juta dalam tiga tahun itu masih delapan ratus ribu lebih. Sudah jelas lebih enak nabung dengan cara investasi reksadana.” Jelas Andi.
“Tapi Kakak kok bisa langsung dapet banyak?” Tanya Amira sedikit heran dengan
“Itu karena setelah kakak medapatkan uang yang cukup banyak dari reksadana, kakak langsung mencari sendiri saham yang ingin kakak beli di bursa.”
“Memang beda kak?” Tanya Amira sedikit bingung.
“Tentu beda. Jika diibaratkan, bursa itu adalah pasar induk yang ngejual barang dengan sistem keseluruhan, kamu ga bisa beli ecer. Tentu saja buat kamu yang pengen beli barang eceran ga bisa masuk ke bursa. Jadinya kamu beli yang eceran itu lewat aplikasi yang kakak saranin.”
“Di sana saham aja bisa kamu beli ecer mulai dari sepuluh ribu. Nah kalo kakak, belinya yang model karungan. Harga lebih mahal dapetnya lebih mahal pula. Jelas entar keuntungannya juga beda. Apalagi kalo kakak dapetin barang bagus. Jelas akan dapet untung berkali-kali lipat.” Jelas Andi.
“Ah jadi seperti itu toh. Sekarang aku lebih paham lagi Kak. Jadi kalo aku mau langsung dapet untung gede harus main ke bursa ya?” tanya Amira.
“Iya itu sudah jelas. Tetapi, meski kamu mau beli di bursa langsung, kamu kalo ga paham mana barang bagus mana yang nggak juga bikin bahaya. Sekarang keliatannya untung, setelah kamu beli langsung turun juga bisa terjadi.”
Pembicaraan keduanya terhenti ketika mereka melihat Arfan datang ke mereka. “Kakak kok lama sih. Aku tungguin dari tadi ga nyampe-nyampe. Aku udah pengen main nih.”
“Oke-oke ini buat main sana.” Ucap Andi sembari menyerahkan uang seratus ribuan kepada Arfan.
Menerima uang itu, langsung saja Arfan membali tiket untuk bisa menyewa ATV. Anak laki-laki itu sudah tidak sabar mengendarai kendaraan beroda empat itu.
“Untuk sekarang cukup sampai di sini dulu penjelasan dari kakak. Lain kali kalo kamu ada pertanyaan, kamu tinggal hubungi kakak. Meski reksadana kamu itu merugi, jangan langsung dijual. Simpen aja dulu. Kalo tujuan investasimu tercapai baru dicairin. Rugi hari ini bisa jadi untung besar besok. Jadi, jangan khawatir kalo merugi.”
__ADS_1
Seharian itu Andi menemani adik-adiknya untuk bersenang-senang. Andi hanya mencoba beberapa wahana outbound yang tidak melibatkan terlapak tangannya. Untung saja kedua adiknya tidak menaruh kecurigaan sedikitpun mengenai hal ini.