
Jangan lupa vote, like, komen dan tambahkan favorit
terima kasih selamat membaca
---
Andi cukup puas menemani adik-adiknya berjalan-jalan di Kebun Binatang Surabaya. Meskipun setelah rapat dengan Dani tadi Andi tidak menemani adiknya terlalu lama, tetapi itu memuaskan baginya. Banyak hal yang mereka lihat di sini.
Andi bisa melihat senyum lebar tersemat di bibir kedua adiknya. Sepertinya mereka cukup senang dengan jalan-jalan yang mereka lakukan di Kebun Binatang Surabaya.
“Aku nggak nyangka orang utan bisa selucu itu. Kak Andi nggak tahu saja tadi ada kejadian lucu di kandang orang utan.” Ucap Arfan dengan antusias ketika mereka berjalan menuju ke area parkir.
“Oh ya? Memangnya apa yang terjadi.”
“Tadi itu ada ibu-ibu yang liat orang utan. Dia pake kacamata gitu. Lalu kacamta miliknya jatuh di dekat kandang orang utan. Apakah Kakak tahu apa yang orang itu lakukan?” Tanya Arfan untuk memancing Andi memberikan tanggapan.
“Mengambilnya dan mengendusnya? Atau menjilatinya?” Tebak Andi.
Andi pikir itu adalah hal yang sering dilakukan oleh binatang jika menemukan benda asing bukan? Mereka akan mengendusnya, mencoba mencari tahu apakah itu benda berbahaya atau tidak. Setelah itu, biasanya mereka akan menjilat untuk melihat apakah benda asing tersebut bisa dimakan.
Arfan menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Tidak, sama sekali tidak satu pun dilakukan oleh orang utan itu.” Sanggah Arfan.
“Lalu, apa yang di lakukan oleh orang utan tersebut?” Tanya Andi yang mulai penasaran.
“Orang utan tersebut mencoba memakainya.”
“Memakainya?” Tanya Andi heran.
Hewan primata memanglah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya. Jadi, pantas saja jika orang hutan itu melakukan hal itu. Kemungkinan besar, orang utan itu meniru manusia di sekitarnya.
Sudah pasti orang utan tersebut banyak menemui pengunjung memakai kacamata ketika singgah di dekat kandangnya. Lalu, ketika mendapatkan beda asing itu, orang itu mencoba memakainya.
“Iya benar-benar mencoba memakainya. Setelah beberapa kali berusaha, orang utan itu berhasil memakai kacamata tersebut. Ia sepertinya senang sekali mendapatkan mainan baru itu. Yang lebih hebatnya adalah apa yang dilakukan oleh orang utan itu setelah memainkan kacamata itu.”
“Memangnya apa yang dilakukan orang utan itu?”
“Dia melemparkan kacamata itu kembali kepada yang punya.” Jawab Amira.
__ADS_1
“Ih Kak Amira, aku kan mau jelasin hal itu ke Kak Andi. Nggak seru ah.”
“Benarkah? Sekarang orang utan makin cerdas aja.”
“Iya Kak. Aku tadi lagi merekam orang utan itu. Eh ada kejadian kayak tadi.”
Setelah berucap demikian, Amira mengeluarkan ponsel miliknya. Gadis itu kemudian membuka rekaman video menganai kejadian yang baru saja diceritakan oleh Arfan itu.
Melihat kejadian tersebut dari layar ponsel adiknya membuat Andi tertawa. “Hahaha. Itu beneran kejadian kayak gitu. Aku kira tadi cuma bualan Arfan.” Ucap Andi mencoba membuat kesal adiknya.
“Aku nggak membual Kak. Itu benaran. Kan Kakak sudah liat videonya.” Ucap Arfan kesal.
“Ya baiklah, kamu emang nggak membual. Sekarang, kita perlu kembali ke apartemen kakak, lalu mandi dan ganti baju. Untuk makan malam kali ini kalian mau makan apa?”
“Makan pecel lele Kak. Aku pengen makan sambelan kali ini.” Saran Amira.
“Iya Kak makan pecel lele aja.”
“Baiklah kalau begitu kita bersih-bersih tubuh dulu baru nanti beli makan.”
Setelah membersihkan diri, Andi beristirahat di apartemen dengan adik-adiknya. Warung kaki lima yang biasanya menjajakan pecel lele biasanya baru buka di sore di jam lima. Menurut Andi, lebih baik mereka sekarang beristirahat dan nanti akan pergi membeli pecel lele setelah langit menggelap.
Ketika beristirahat, Andi memikirkan naik apa dirinya nanti ketika akan pergi membeli pecel lele dengan adik-adiknya. Andi kurang suka membawa mobil sport miliknya. Bukan apa-apa, hanya saja setiap kali mobilnya lewat, akan selalu ada orang yang memperhatikan.
Andi tahu bahwa orang-orang itu hanya kagum dengan mobil miliknya. Tetapi Andi tidak suka menjadi tontonan seperti itu. Di parkiran kebun binatang tadi saja Andi juga menjadi tontonan ketika memasuki mobilnya.
Segala perhatian berlebih seperti itu membuat Andi tidak suka. Bisa saja Andi sekarang menukar mobilnya dengan mobil yang ada di rumahnya. Tetapi, itu akan memakan waktu banyak di perjalanan.
Lagi pula, Andi juga belum berniat memberitahukan kepada keluarganya mengenai rumah mewahnya itu. Jadi, mau tidak mau dirinya hanya bisa mengendarai mobil sport miliknya ini. Mungkin besok pagi ia akan menukar mobilnya dengan mobil tidak mencolok.
“Hem…. Apakah aku perlu membeli mobil baru lagi? Mobil baru untuk oprasional orang rumah. Memakai mobil mewah ternyata tidak semenyenangkan itu. Mungkin besok aku akan membeli sebuah mobil lagi. Aku juga perlu memikirkan memiliki supir pribadi untukku.”
“Pak Heru akan menjadi supir orang rumah. Sementara supir pribadiku, aku perlu mencarinya lagi. Lalu aku juga butuh supir yang merangkap pula sebagai pengawal untuk Amira dan Arfan, sekalian untuk ibu. Mereka membutuhkan hal itu juga.”
Andi tahu bahwa dalam perjalanan mendirikan kerajaan bisnisnya, dirinya akan memiliki banyak saingan. Pemuda itu tidak akan senaif itu berpikir bahwa saingan bisnisnya hanya akan bersaing secara sehat. Itu sangat tidak mungkin.
Meskipun Andi akan menyembunyikan identitasnya dalam menjalankan bisnis, itu tidak akan selamanya bisa ditutupi. Teknologi sekarang sudah semakin maju. Jadi, jika bisnisnya sudah mulai besar, cepat atau lambat identitas dirinya akan terkuak juga.
__ADS_1
Jika hal itu terjadi, para saingan bisnisnya akan melakukan segala cara untuk menggagalkan Andi mencapai kesuksesan. Kemungkinan besar keluarganya akan menjadi incaran oleh musuh-musuhnya. Karena mereka adalah titik terlemah Andi saat ini. Sudah ada Jony yang mulai berfokus pada titik terlemahnya. Kedepannya, pasti akan ada Jony Jony yang lainnya.
Dan lagi, Andi tidak percaya Jony sudah mengurungkan niatannya menghancurkan dirinya melalui adik-adiknya. Meski Andi sudah melakukan serangan awal untuk menghancurkan keluarga Jony, tetapi Andi yakin pemuda itu tidak mengetahui bahwa itu Andi yang melakukan.
Jadi, Andi masih perlu waspada terhadap serangan dari Jony kepada adik-adiknya. Setelah pembaruan dari sistem miliknya ini, semakin banyak kegiatan yang perlu Andi lakukan. Jadi dirinya tidak bisa terus menerus berada di samping kedua adiknya.
“Tetapi, di mana aku bisa mencari seseorang yang memiliki kemampuan hebat untuk bisa menjadi pengawal adik-adikku? Setidaknya pengawal itu haruslah memiliki kemampuan bertarung mendekati kemampuan bertarung ayah.”
“Dengan begitu aku akan tenang menyerahkan keselamatan kedua adikku kepada mereka.”
Andi tahu itu hal yang sulit. Andi ingat bahwa kemampuan seorang pimpinan gang, yang hanya cabang kecil saja, memiliki kekuatan setara dengan kekuatan yang dimiliki Andi, sebelum dirinya diperkuat oleh sistem. Jika demikian, di markas pusat para preman pasti ada orang yang lebih hebat lagi.
Hal itu membuat Andi bingung mencari orang sehebat itu. Lalu, ada masalah lain yang perlu juga Andi pikirkan jika bisa menemukan orang seperti itu. Kesetiaan dari orang itu. Pecuma bukan memiliki pengawal yang hebat namun tidak setia.
Jika nanti mereka bertemu dengan musuh yang cukup hebat, bisa jadi para pengawal itu bukannya melindungi kedua adiknya, mereka malah membantu musuh dalam mencelakai adiknya.
“Ini sangat sulit. Biasanya, para keluarga kaya sudah membesarkan seseorang menjadi pengawal keluarga mereka sejak kecil. Calon pengawal tersebut akan disekolahkan dan juga dibesarkan oleh keluarga tersebut. Lalu, ketika besar mereka akan sepenuh hati mengabdi kepada keluarga tersebut.”
“Sayangnya aku saat ini baru memulai lagi semuanya. Aku tidak memikili banyak waktu untuk memakai cara itu. Memangnya berapa lama aku harus menunggu untuk membesarkan seseorang agar menjadi pengawal setia keluargaku?”
Memikirkan ini saja membuat Andi terasa pusing. Apalagi identitasnya sebagai seorang penerus membuatnya perlu berhati-hati dalam mempercayai seseorang. Salah sedikit maka keselamatan seluruh keluarga besar Prayudi akan kembali terancam.
Andi tidak mau darah seorang Prayudi kembali terancam punah. Kejadian yang menimpa Kakek Buyut Arganta memberikan pembelajaran besar bagi Andi. Kita tidak bisa semudah itu mempercayai seseorang. Apalagi mereka yang baru kita kenal.
“Hem…. Perlukah aku mencari pengawal dari luar negeri? Orang asing? Mereka tidak terlalu banyak tahu mengenai sang penerus bukan? Jadi, menggunakan mereka akan sedikit lebih aman daripada menggunakan orang lokal.”
“Tapi, darimana aku mendapatkan informasi mengenai pengawal yang berasal dari luar?”
Ketika memikirkan hal ini, tiba-tiba Andi ingat Brian. Bukankah ayahnya adalah orang asing? Dan juga, keluarga Brian masih memiliki beberapa bisnis di luar negeri. Jadi kemungkinan besar dia bisa memberi Andi informasi mengenai pengawal yang handal.
Namun, baru saja Andi mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Brian, Amira sudah mengetuk pintu kamarnya.
“Kakak, ayo berangkat sekarang. Aku dan Arfan sudah sangat lapar.” Ucap Amira.
“Baiklah.”
Sepertinya Andi perlu menunda hal ini untuk saat ini. Yang terpenting, sekarang dirinya sudah memiliki sedikit titik terang untuk mencari pengawal bagi adik-adiknya. Ia akan menghubungi Brian nanti setelah dirinya selesai makan malam.
__ADS_1