Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 197 Penangkapan Hermawan


__ADS_3

Sekarang ini, Hermawan bersama dengan Karina tengah menuju ke sebuah club langganan mereka. Hermawan mengajak Karina ke sana karena dia suntuk.


Sudah sebulan lebih ia melakukan penyelidikan tentang keberadaan Rosalinda, tetapi tidak juga menemukan titik terang. Perempuan itu menghilang tanpa jejak. Bahkan orang tuanya pun tidak mengetahui keberadaan perempuan itu.


Hermawan juga sudah menyuruh beberapa orang untuk membuntuti orang tua Rosalinda. Tetapi setelah membututi mereka selama lebih dari dua minggu, orang suruhan Hermawan tidak melihat bahwa orang tua Rosalinda menemui perempuan itu. Lalu bersembunyi di mana perempuan itu?


Tidak hanya penyelidikan tentang keberadaan Rosalinda yang tidak membawakan hasil, penyelidikan tentang siapa penolongnya pun juga belum menemukan titik terang. Tidak mungkin perempuan itu bisa lolos dari mereka tanpa ada yang menolongnya.


Apalagi saat ini semua foto dan video yang mereka ambil sudah hilang. Pasti yang menolong Rosalinda bukan orang yang sembarangan. Bisa menyelinap ke rumah Hermawan tanpa meninggalkan jejak adalah hal yang luar biasa.


“Jadi, apakah Kamu sudah tahu siapa yang nolongin Linda?” Tanya Karina.


“Semuanya nggak membuahkan hasil. Ini semakin membuatku suntuk saja. Jika mereka bisa mengambil semua foto dan video itu dari tangan kita, ada kemungkinan siapa pun dia, tengah bersiap untuk menjebloskan kita ke penjara.” Jawab Hermawan.


“Apa Kamu tidak bisa melakukan sesuatu? Aku tidak mau masuk ke dalam penjara. Masa depanku masih panjang. Aku tidak mau semua itu rusak dengan aku masuk ke dalam penjara.”


“Kamu kira aku juga mau masuk penjara? Tidak.”


“Lalu, tidak bisakah Kamu memakai koneksi dan kekuasaan yang keluargamu punya agar kita tidak terjerat hukum?”


“Yang kita hadapi ini bukan orang sembarangan. Jika dia bisa mengabil semua foto dan video itu dengan mudahnya dari tangan kita, maka dia pasti memiliki anak buah hebat yang membantunya melaksanakan hal tersebut.”


“Aku saja belum tahu sebesar apa kekuasaan yang dimiliki oleh orang itu apakah lebih besar atau tidak dari keluargaku. Jika kekuasaan orang itu lebih besar, sudah pasti akan sulit bagi keluargaku untuk meloloskanku dari jeratan hukum.”


Hermawan memiliki kecurigaan bahwa keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka yang telah melakukan semua ini padanya. Selain mereka Hermawan tidak bisa menemukan orang lain yang memiliki anak buah untuk melakukan hal tersebut.


Keluarganya yang sudah menyerang kedua keluarga itu membuat Hermawan yakin dengan hal ini. Tetapi, Rosalinda hilang sebelum keluarganya melakukan penyerangan besar-besaran kepada kedua keluarga tersebut.


Hal itu membuat Hermawan bimbang. Benarkah mereka yang melakukannya? Atau orang lains yang melakukan semua itu? Hermawan belum bisa menyimpulkannya.


“Kita bicarakan ini lain waktu, aku mau melupakan sejenak semua masalahku.” Ucap Hermawan ketika mobil yang ia kendarai sampai di tempat parkir dari club ayang bisa ia kunjungi.


Baru beberapa langkah Hermawan meninggalkan mobilnya, sebuah teriakan keras membuat dirinya dan Karina berhenti.


“Polisi. Jangan bergerak kalian sudah kami kepung. Sekaran angkat tangan kalian dan arahkan tubuh kalian menghadap ke mobil.” Ucap salah seorang polisi.


Hermawan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Saat ini beberapa orang telah mengepungnya. Beberapa orang di antara mereka tengah mengacungkan senjata kepada Hermawan dan Karina.

__ADS_1


“Sial.” Gumam Hermawan lirih.


Baru saja dirinya dan Karina membahas mereka yang tidak ingin dipenjara, sekarang polisi benar-benar mendatangi mereka. Tanpa diberi penjelasan pun Hermawan tahu apa yang menjadi alasan para polisi itu mengepungnya sekarang.


Sejak semua foto dan video itu hilang, Hermawan sudah bisa menebak bagaimana nasibnya ke depannya. Pemuda itu hanya tidak menyangka bahwa orang itu menunggu selama iini. Lebih dari sebulan. Padahal semua bukti-bukti itu bisa membawa Hermawan mendekam di balik jerujibesi.


Jika sudah dikepung seperti ini, Hermawan tidak berani melawan. Jika dirinya melawan, timah panas akan bersarang di kakinya. Lebih baik ia menurut saja ketika polisi memborgolnya dan membawanya pergi dari sana.


Nanti ketika dirinya sampai di kantor polisi, barulah Hermawan akan menelfon keluarganya untuk membantunya keluar dari penjara. Meskipun Hermawan tidak tahu sebesar apa kekuasaan orang yang dihadapinya ini, tetapi lebih baik berusaha dari pada diam saja dan menunggu nasib bukan?


*****


“Dia sudah dibawa oleh polisi. Tenang saja, orang-orang yang mengurusi kasus ini adalah orang kepercayaan kita. Aku yakin keluarga Sanjoyo tidak akan bisa berbuat banyak. Mereka tidak akan bisa membantu Hermawan keluar dari tahanan semudah itu.” Ucap Dirga kepada Rama.


Saat ini mereka memang tengah melakukan pertemuan untuk membahas rencana mereka kedepannya mengenai keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo. Serangan pertama mereka sudah mereka luncurkan.


“Ya aku tahu itu. Anak buahku juga baru saja melapor bahwa video penangkapan Hermawan oleh polisi sudah di-unggah ke internet. Aku sudah menuangkan banyak sumber daya agar berita itu naik ke permukaan.”


“Beberapa bukti rekaman suara itu juga sudah kita unggah. Dengan banyaknya mata yang ikut mengawasi jalannya kasus ini, aku yakin keluarga Sanjoyo tidak akan bisa mengeluarkan dia dari penjara. Jika mereka melakukannya, sudah pasti citra mereka akan semakin rusak.”


“Yang bisa mereka lakukan saat ini adalah memikirkan cara untuk memperingan hukuman yang diterima oleh Hermawan.” Jelas Rama.


“Ya Kamu benar Dirga. Aku sudah menyiapkan seranganku untuk keluarga Sanjoyo.”


“Bukti-bukti yang Andi berikan kepada kita itu sangat membantu kita dalam memenangkan pertarungan empat keluarga besar ini. Sedikit lagi kita melangkah menuju kemenangan.”


“Sudah aku bilang dia itu adalah Sang Penerus. Jika Sang Penerus sudah bertitah, maka apa yang ia inginkan akan menjadi kenyataan.” Ucap Rama.


“Meski begitu aku belum mempercayai seratus persen ucapanmu. Mungkin aku akan percaya jika aku melihat sendiri kalung tersebut. Jika itu semua hanya dari sisimu, aku akan sulit pecaya.”


“Sudahlah aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Tetapi, aku yakin pada akhrinya Kamu akan percaya bahwa dia adalah Sang Penerus.”


*****


“Sial. Siapa ini yang berani-beraninya berniat menjebloskan anakku ke penjara. Apakah dia sudah bosan hidup.” Teriak Arman sembari membanting barang-barang yang ada di meja kerjanya.


Di ruangan tempat Arman berada saat ini, banyak pecahan botol yang berserakan. Tidak hanya itu, barang-barang yang lainnya pun letaknya tidak beraturan lagi. Sofa yang terbalik, laptop yang layarnya rusak karena dilempar. Itu semua adalah hasil dari Arman meluapkan amarahnya.

__ADS_1


Sepuluh menit yang lalu dirinya mendapatkan sebuah penggilan yang mengatakan bahwa Hermawan anak kesayanganya, ditahan di kantor polisi. Alasannya, Hermawan sudah memperkosa seseorang dan sekarang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.


Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Arman terbuka. Dia sana berdiri Bayu yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan anaknya itu. Bayu kemudian mengerutkan keningnya.


“Apa gunanya Kamu marah-marah dan membanting semua barang-barangmu? Tidak ada bukan? Daripada Kamu marah-marah seperti ini, lebih baik gunakan otakmu itu untuk berpikir dan mencari solusi.”


“Aku membesarkanmu bukan untuk membuatmu bisa marah-marah dan membanting semua barang-barang ini. Lebih baik tahan amarahmu sekarang lampiaskan semuanya nanti, kepada mereka yang melaporkan Hermawan ke polisi.”


Ucapan Bayu seperti sebuah air es yang dituangkan ke kepala Arman. Amarahnya langsung redam. Ayah dari Hermawan itu terlihat beberapa kali menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Ketika sudah cukup tenang, Arman pun memandangi Ayahnya.


“Kau benar Ayah. Dengan aku marah seperti ini, itu tidak akan membuahkan hasil apa pun. Keadaan juga tidak akan berubah. Seharusnya aku memanfaatkan waktuku untuk mencari solusi yang bagus.”


“Bagus jika Kamu sudah sadar.” Ucap Bayu.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan Ayah? Apakah Ayah sudah tahu siapa yang melaporkan Hermawan ke polisi?”


“Itu adalah Rama dan Dirga. Mereka yang melakukannya. Keduanya bekerja sama untuk mengirim Hermawan ke penjara. Akan sulit bagi kita untuk membebaskan Hermawan dari penjara saat ini.”


“Apakah kita tidak bisa memakai koneksi kita Ayah? Mungkin kita bisa melakukan satu dua hal agar Hermawan bisa bebas bukan?”


Bayu menggelengkan kepalanya. “Kamu belum melihat berita bukan?”


Arman menggelengkan kepalanya.


“Ketika Kamu marah-marah seperti itu, berita mengenai kasus ini sudah naik. Sekarang ini wajah Hermawan terpampang di internet. Kamu bukannya meredam itu semua malah sibuk membanting barang.”


Mendengar ucapan Ayahnya, Arman hanya menundukkan kepalanya. Meskipun ia sudah dewasa dan memiliki anak sebesar itu, Arman masih tidak berani menentang Ayahnya. “Maafkan aku Ayah.”


“Heh.” Bayu mendengus mendengar permintaan maaf Arman. “Kamu minta maaf pun tetap tidak mengubah segalanya. Dengan berita itu naik, semua orang mengikuti perkembangan kasus ini. Kita tidak akan bisa berbuat banyak untuk mengeluarkan dia dari penjara.”


“Jika kita melakukannya, saham perusahaan kita akan semakin menurun.”


“Saham perusahaan kita menurun?” Pertanyaan Arman ini memotong ucapan Bayu.


“Kamu bahkan tidak mengetahui hal ini?”


Mendengar pertanyaan Ayahnya itu Arman semakin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Heh.” Bayu mendengus. “Dasar tidak berguna. Sekarang bersihkan dirimu dan pakai pakaian yang layak. Aku akan mengajakmu menemui Sang Penerus. Aku yakin dia memiliki solusi agar Hermawan bisa keluar dari masalah ini. Apa Kamu dengar?”


“Baiklah Ayah. Aku akan segera bersiap.” Jawab Arman.


__ADS_2