Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 213 Sasongko dan Sanjoyo (1)


__ADS_3

Kediaman Keluarga Sanjoyo.


Ketegangan terasa jelas di dalam ruang keluarga mereka. Di sini sekarang ada Bayu dan beberapa anaknya. Bahkan cucu-cucunya juga ikut berkumpul dalam pertemuan keluarga mereka kali ini. Ini adalah pembahasan mengenai masa depan keluarga mereka.


Saat ini, keadaan perekonomian keluarga mereka sedang terganggu. Nilai saham mereka anjlok terastis. Tidak hanya itu saja, beberapa proyek perusahaan mereka mengalami banyak kegagalan. Hal ini membuat mereka pontang panting mencari solusi agar keluarga mereka bisa mengatasi semua masalah ini.


“Jadi bagaimana ini Mas Arman?” Tanya Deryl adik dari Arman.


“Kenapa sampai sekarang belum juga ada solusi mengenai masalah ini. Semua urusan perusahaan sudah kami serahkan kepada Mas Arman. Dulu Mas Arman janji bisa mengurusi perusahaan dengan baik dan bisa membawa perusahan kita lebih maju lagi.”


“Tetapi lihatlah sekarang bagaimana nasib perusahaan kita di tangan Mas Arman? Bukannya bertambah maju, bisnis keluarga kita malah di penghujung kehancuran. Tinggal menunggu waktu saja hingga kita benar-benar hancur.” Imbu Deryl.


Selama ini keluarga Sanjoyo memang sudah membagi harta keluarga mereka. Meski anggota keluarga yang lain tidak ikut terjun langsung dalam mengurus perusahaan tetapi mereka masih memiliki saham di perusahaan mereka.


Sebelumnya Bayu sudah menanyakan kepada anak-anaknya tentang siapa yang akan mengurus perusahaan mereka. Lalu, ketiga anaknya sepakat bahwa Arman, anak tertuanya, yang akan mengurus perusahaan mereka.


Deryl anak keduanya memilih menjadi seorang dokter, sedangkan Firda anak ketiganya, dia memiliki bisnis butiknya sendiri. Jadi, sekarang mereka mempertanyakan kinerja dari Arman dalam mengurus perusahaan mereka.


Terutama kasus yang menerpa Hermawan. Kasus itulah yang menjadi penyebab besar masalah yang dihadapi oleh keluarga mereka kali ini.


“Mas Arman juga sangat tidak becus dalam mendidik anak. Lihat saja apa yang dilakukan oleh Hermawan. Tidak hanya satu, tetapi Hermawan sudah melakukan pemerkosaan terhadap beberapa orang mahasiswi. Ini semua memperburuk citra keluarga kita.” Ucap Firda menambahkan.


Arman memandang tajam ke arah kedua adiknya. “Kalian kira aku tidak mencoba mengatasi semua ini? Tentu saja sudah. Aku sudah melakukan segalanya yang aku bisa untuk mengatasi semua ini.” Jelas Arman.


“Tetapi, bukan hanya publik saja yang menyerang kita. Masih ada keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang kita. Hampir setengah proyek kita gagal karena ulah mereka. Mereka sudah mengambil semua itu.”


“Kalian tahu sendiri bukan bahwa keluarga mereka lebih unggul dari keluarga kita. Jelas dalam kondisi puncak keluarga kita saja kita tidak bisa mengalahkan salah satu dari mereka. Sekarang, ketika kita dalam keadan jatuh seperti ini, kita justru mengahadapi keduanya.” Jelas Arman.


“Memang keluarga kita semakin terpuruk seperti ini. Tetapi kalian tenang saja. Meskipun kita dalam keadaan seperti ini, kita masih memiliki solusi lain. Ada kenalanku yang bisa membantu keluarga kita terlepas dari masalah ini.” Jelas Bayu yang ikut bicara dalam diskusi mereka.


Meskipun mereka mulai mencurigai Sang Penerus yang selama ini mereka andalkan, tetapi saat ini hanya Sang Penerus yang bisa membantu mereka. Jadi, mau tidak mau Bayu akan kembali meminta bantuan kepada Sang Penerus dalam menghadapi masalah ini.

__ADS_1


Bayu berharap kali ini Sang Penerus mampu membantu mereka dalam menghadapi masalah ini, setelah sebelumnya menolak membantu dalam menyelesaikan masalah mengenai Hermawan.


Saat ini cucunya itu sudah menjalani proses penyidikan. Statusnya juga sudah naik menjadi tersangka. Besok berkas-berkasnya juga akan diserahkan ke Kejaksaan. Tidak lama lagi persidangan dengan Hermawan sebagai terdakwanya pun akan dimulai.


“Jika Ayah sudah memiliki penyelesaian tentang masalah ini kami mengikuti saja. Tetapi, aku tidak akan membantu Mas Arman dan keluarganya jika rencana ini gagal dan nantinya mereka menjadi bangkrut.” Jelas Deryl.


….


Belum terlalu larut malam ketika Bayu dan Arman sampai di apartemen di mana mereka biasa menemui Sang Penerus palsu. Keduanya yakin, saat ini mereka bisa bertemu langsung dengan Sang Penerus palsu tersebut.


Ketika mereka berada di lobby, mereka bertemu dengan Darsono dan Rusdi dari keluarga Sasongko. Kedua laki-laki tersebut memasang wajah masam sekarang ini. Bayu dan Arman pun menghampiri keduanya.


“Darsono kalian juga kemari?” Sapa Bayu.


“Ya. Ternyata bukan hanya aku saja yang ingin menemui Sang Penerus tetapi kalian juga ternyata.” Jawab Darsono.


“Tentu saja. Aku ingin meminta bantuan kepada Sang Penerus. Jadi, aku datang kemari untuk menemuinya.” Jelas Bayu.


“Maksdumu apa? Aku tidak mengerti?”


“Kartu akses yang aku miliki, tidak bisa lagi dipergunakan untuk menuju lantai teratas. Aku yakin milik kalian juga sama. Kita tidak bisa menemui Sang Penerus sekarang.” Jelas Darsono.


Sebelum ini Darsono dan Rusdi datang kemari ingin menemui Sang Penerus palsu. Tetapi, ketika berada di dalam lift, kartu akses yang mereka miliki, tidak bisa membawa mereka menuju ke lantai teratas, menuju The Heaven.


Ayah dan anak itu pun juga sudah mencoba menghubungi kontak dari asisten Sang Penerus palsu yang mereka miliki. Namun, panggilan mereka tidak juga terhubung. Awalnya mereka mengira nomor mereka diblokir. Tetapi, ketika mencoba menelpon menggunakan nomor lainnya, hasilnya sama.


Ini berarti, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Selain nomor itu, mereka sama sekali tidak memiliki kontak yang bisa menghubungkan mereka dengan Sang Penerus palsu itu.


Ketika mereka berencana untuk pulang dan kembali lagi besok pagi, mereka bertemu dengan Bayu dan Arman di lobby.


“Eh benarkah itu?” Tanya Bayu tidak mempercayai ucapan Darsono.

__ADS_1


Bayu lalu berjalan cepat menuju lift yang ada di sana. Ia kemudian mengeluarkan kartu akses yang ia miliki untuk bisa membawanya menuju lantai teratas. Namun seperti tebakan Darsono, kartu akses milik Bayu tidak bisa membawanya menuju lantai teratas gedung apartemen ini.


“Kenapa ini bisa begini? Kenapa aku tidak bisa naik ke atas?” Tanya Bayu pada dirinya sendiri.


“Sudah aku bilang kartu milikmu tidak bisa digunakan.” Jawab Darsono yang kini sudah tiba di dekat Bayu.


“Bagaimana dengan tangga? Apa kalian sudah mencobanya? Aku yakin ada tangga yang bisa memberi kita akses ke lantai teratas gedung ini bukan?” Tanya Bayu.


Bayu yakin ada tangga darurat yang bisa membawa mereka menuju ke lantai atas. Tidak mungkin tidak ada. Itu adalah hal yang wajib dimiliki oleh gedung bertingkat seperti ini.


Rusdi menggelengkan kepalanya pelan. “Aku sudah naik hingga lantai teratas dengan menggunakan tangga. Bahkan aku sampai menuju ke atap. Tetapi, lantai teratas yang bisa diakses dengan tangga gedung ini bukanlah The Heaven yang biasa kita kunjungi. Itu hanyalah apartemen biasa.” Jelasnya.


“Eh bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa tiba-tiba bisa begini? Kenapa Sang Penerus seolah memutuskan hubungan dengan kita?” Tanya Arman yang mulai panik.


Jika Sang Penerus meninggalkan mereka, lalu kemana lagi Arman akan mencari bantuan untuk mengatasi masalah keluarganya ini? Jika ia gagal mengatasinya, sudah pasti saudaranya akan meninggalkannya.


Mereka sudah memberi pernyataan sebelum ini, bahwa mereka tidak akan memberikan bantuan apa pun kepada Arman jika dirinya bangkrut. Itu semua karena Arman juga sudah merugikan mereka. Jadi cukup wajar jika mereka mengatakan hal seperti itu.


Arman lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Laki-laki itu mencoba menghubungi asisten dari Sang Penerus. Tetapi, setelah mencoba beberapa kali, penggilan teleponnya tidak juga tersambung. Arman sudah mencoba menghubungi dengan nomor lain. Tetapi hasilnya sama saja.


“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa panggilanku tidak juga terhubung.”


“Percuma saja Kamu melakukan hal itu Arman, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Kita benar-benar sudah tidak bisa menghubungi Sang Penerus sekarang.” Jelas Rusdi.


“Jadi, kita sudah benar-benar ditinggalkan oleh Sang Penerus? Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah kita tidak membuat kesalahan apa pun? Kenapa kita ditinggalkan seperti ini?”


Sama seperti anaknya, Bayu juga terlihat cukup panik dengan hal ini. Pasalnya ia sudah terlalu bergantung kepada Sang Penerus. Sekarang, tiba-tiba saja tempat ia bergantung menghilang begitu saja ketika ia sangat membutuhkan.


Apalagi, ini berhubungan dengan masa depan keluarga mereka. Keluarga mereka bisa jadi berubah menjadi miskin dan tinggal menjadi sejarah jika tidak bisa mengatasi hal ini dengan baik. Bayu tidak mau hal itu terjadi.


Bayu masih menyukai kehidupannya yang nyaman seperti sekarang. Jika kehidupannya berubah derastis, jelas Bayu tidak dapat menerima hal itu dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2