
“Bukan pacarmu? Tetapi aku lihat tadi kalian cukup dekat. Terlihat seperti orang yang sudah pacaran. Bahkan aku juga melihat kamu tersenyum ketika berbicara dengan cowok ini. Kayaknya seneng banget ketemu sama dia.” Ucap Karina.
Andi mengernyit mendengar penuturan Karina. Apakah perempuan ini berniat menggiring mereka sampai mereka mengaku bahwa mereka sudah pacaran? Jika Andi memang benar-benar pacaran dengan Rosalinda, tentu saja ia akan mengakuinya. Tetapi, mereka tidak memiliki hubungan lain selain sebatas teman.
Jadi, Andi merasa risih dengan pertanyaan Karina ini. Andi kemudian mengedarkan pandangannya ke tubuh perempuan itu. Ia bukannya tengah menilai tubuh Karina. Tetapi, ia ingin melihat apakah perempuan itu tengah merekam pembicaraan mereka.
Andi beberapa kali melakukan hal ini. Jadi, ia menaruh kecurigaan seperti itu kepada Karina. Benar saja, perempuan itu tengah menggenggam ponselnya sekarang. Kamera dari ponsel tersebut tengah ia arahkan kepada Andi dan Rosalinda.
Sepertinya perempuan ini tengah membuat rekaman video yang menampilkan dirinya dan Rosalinda. Andi menduga, dia meggiringnya untuk mengakui hubungannya dengan Rosalinda sebagai pacar, lalu memberikan bukti rekaman itu kepada para tuan muda.
Jika seperti itu, tentu saja akan ada masalah baru yang datang menghampiri Andi. Kenapa masalah sekarang suka sekali menghampirinya. Ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghindari masalah. Namun, sepertinya masalah lah yang sekarang mendatanginya.
Masalah dengan Jony saja belum selesai sekarang, ada ancaman baru lagi dari para tuan muda itu. Kedepannya, Andi merasa hari-harinya akan dipenuhi dengan masalah yang diberikan oleh para Tuan Muda itu.
“Kami tidak pacaran. Aku dan Mbak Rosa hanya sebatas teman. Jadi, jangan ngomong sembarangan Mbak pake bilang kalo kami ini pacaran. Memangnya kalo kita ketemu temen itu nggak boleh senyum? Nggak boleh ketawa?”
“Menurutku, wajar-wajar saja kalo kita merasa seneng kalo ketemu temen. Apalagi sampe ketawa-ketawa. Yang salah itu, kalo cuma lihat sekilas tapi langsung nyimpulin sesuatu kayak yang Mbak lakuin.” Ucap Andi.
“Ye, jangan sewot juga dong. Kenapa marah kayak gitu? Lihat tuh Lin, cowokmu ini. Masak baru ketemu aku dia kayak gitu. Lagian aku cuma tanya, apakah kalian pacaran. Kenapa responnya kayak gitu?”
Rosalinda sendiri juga sedkit heran mendengar perkataan Andi. Meski ia mengenal Andi belum terlalu lama, tetapi ia tahu bahwa Andi adalah pemuda yang baik. Ia cukup sopan jika berbicara dengan orang lain, terutama kepada wanita dan mereka yang lebih tua.
Rosalinda tidak menyangka bahwa Andi akan memberikan respon seperti itu kepada Karina. Pertemuan pertama mereka terjadi di mall. Kalo tidak salah itu bulan lalu. Rosalinda ingat bahwa pada saat itu mereka tidak memiliki banyak interaksi.
Saat itu Rosalinda malihat Karina yang berniat mendekati Andi tetapi pemuda itu buru-buru pulang. Tidak mungkin bukan Andi marah hanya karena kejadian itu? Lalu sekarang adalah pertemuan kedua mereka. Jelas tidak ada konflik di antara mereka bukan?
Jadi, apa yang membuat Andi memberikan respon buruk seperti itu kepada Karina? Apakah mereka bertemu lagi dan Rosalinda tidak mengetahuinya? Jika demikian, apa yang terjadi pada pertemuan itu sehingga Andi bersikap demikian kepada Karina?
“Sudah-sudah nggak usah rebut kayak gini. Aku dan Andi emang nggak ada apa kok. Dia cuma kenalanku aja. Dia ini punya bisnis kue, kue bikinan dia enak. Sudah sangat cocok dengan lidahku. Jadi aku langganan kue ke dia.”
__ADS_1
“Itu lah yang bikin aku deket sama Andi. Ini tadi Andi bilang dia ingin mmebuat kue baru. Jadi, aku merasa senang. Aku pengen cicipin kue baru bikinan Andi.” Jelas Rosalinda.
Mendengar ucapan Rosalinda, seringai tipis tersemat di bibir Karina. Ia kemudian memberikan Andi tatapan penuh arti. “Oh jadi kamu punya bisnis kue? Seenak apa kue buatanmu itu?”
Dari ucapan Karina sekarang, Andi bisa menebak bahwa sebentar lagi masalah akan menerpanya. Dan ini berhubungan dengan bisnis kue miliknya.
“Sangat enak. Sebentar lagi dia akan membuka tiga buah kafe dan dessert shop. Salah satunya ada di dekat kampus kita. Lain kali aku akan mengajakmu ke sana. Aku yakin kamu pasti akan ketagihan dengan rasa kue buatan Andi.” Jelas Rosalinda.
Ketika Rosalinda memberikan informasi itu kepada Karina, Andi merasa seperti mendengar seseorang menjatuhkan stempel untuk meluluskan masalah yang akan menimpanya. Nasibnya sudah tersegel rapi. Sekarang para tuan muda itu memiliki cukup banyak informasi mengenai bisnisnya. Tinggal menunggu waktu saja hingga masalah itu mengetuk pintu bisnisnya.
Ini semua karena infromasi yang Rosalinda berikan. Bisa saja Andi menghentikan perempuan itu ketika dia akan memberikan informasi mengenai bisnisnya. Tetapi Andi tidak bisa melakukannya. Itu malah akan membuat Rosalinda bertanya-tanya kenapa Andi melarangnya. Andi tidak mau kembali ada keributan.
Dan lagi, jika para tuan muda itu memang akan memberinya masalah, cepat atau lambat mereka akan mengetahui mengenai bisnis Andi. Jadi, tidak ada bedanya mereka tahu sekarang atau nanti.
Lagi pula, ini adalah wajah yang ditampilkan Andi kepada publik bukan? Seorang pemuda yang berbisnis kuliner. Ia tidak akan mengumumkan bahwa saat ini dirinya memiliki bisnis-bisnis lainnya. Jika demikian, maka bisnisnya yang baru terlahir itu akan ditekan dari semua sisi dan tidak bisa berkembang.
Setidaknya jika hanya satu bisnisnya yang tertimpa masalah, Andi tidak akan terlalu pusing dalam mencari solusi bukan?
“Gagal atau berhasilnya bisnisku nggak ada hubungannya sama Mbak. Mau gagal kek mau berhasil kek, ini adalah bisnisku. Aku yang menjalankan, dan semuanya juga adalah uangku.”
Setelah berucap demikian, Andi memandang ke arah Rosalinda. “Mbak Ros, nanti kirimkan alamat kosan Mbak aja. Biar nanti kuenya aku kirim ke kosan Mbak.”
Mendengar perkataan Andi, Rosalinda tahu bahwa rencananya untuk pergi ke apartemen Andi kembali diurungkan. Ini semua karena suasana hati Andi yang memburuk setelah bertemu dengan Karina. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka.
Sebelum pergi, Andi kemudian memberikan sebuah nasihat kepada Rosalinda. Ia berharap dengan perkataannya ini, Rosalinda lebih berhati-hati dengan Karina.
“Mbak, hati-hati sama orang di sekitar Mbak.” Ucap Andi sembari melirik ke arah Karina. “Kadang orang yang kita anggap teman bisa jadi musuh dalam selimut. Serigala saja biar bisa memakan domba, mau repot-repot berkamuflase menjadi seekor domba. Jadi Mbak Rosa perlu berhati-hati.”
Setelah berucap demikian, Andi pergi meninggalkan Rosalinda. Entah perempuan itu mengerti maksudnya atau tidak, yang penting ia sudah mengingatkannya. Mungkin di lain hari Andi akan meminta bertemu dengan Rosalinda. Ia lalu akan menjelaskan secara langsung tentang siapa Karina dan kecurigaannya kepada perempuan itu.
__ADS_1
Rosalinda hanya memandang punggung Andi yang kini berjalan semakin menjauh. Ia sekarang tengah meresapi perkataan Andi barusan. Apa maksudnya dengan mengatakan hal itu kepadanya? Apakah ada serigala berbulu domba di sekitarnya?
Tetapi siapa itu? Rosalinda tadi melihat bahwa Andi melirik ke arah Karina. Apakah orang yang Andi maksud adalah Karina? Ah itu tidak mungkin terjadi. Karina adalah teman baiknya. Mereka sudah berteman sejak jaman ospek.
Dirinya dan Karina tidak memiliki konflik apapun selama ini. Jadi, kenapa Andi menuduh Karina serigala berbulu domba? Itu sangat mustahil terjadi. Rosalinda yakin seratus persen bahwa Karina tidak akan menghianatinya seperti itu.
“Ck.” Karina berdecak lidah setelah Andi menghilang dari pandangannya. “Temenmu itu resek banget sih Lin. Kok mau kamu temenan sama cowok kayak gitu. Dia beneran cowok kan? Kenapa reseknya ngelahin cewek sih.”
“Suka ngomel-ngomel nggak jelas pula. Kalo aku sih, aku nggak bakal mau tuh temenan sama cowok kayak gitu.” Ucap Karina.
Rosalinda mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Karina. “Dia nggak seperti itu kok aslinya. Aku nggak tahu kenapa hari ini dia tiba-tiba kayak gitu. Tetapi, biasanya dia baik banget.”
Rosalinda lalu memandang ke arah Karina. “Apakah kalian pernah bertemu dan memiliki konflik sebelum ini?”
“Tidak. Aku tidak pernah bertemu dengan temanmu itu selain waktu itu denganmu. Jadi kenapa temanmu itu seperti itu.”
“Entahlah, aku tidak tahu.” Ucap Rosalinda sembari mengangkat kedua bahunya.
“Apa bener kamu dan dia nggak pacaran Lin?” Tanya Karina untuk yang kesekian kalinya.
“Kan tadi sudah aku jelasin berkali-kali Kar. Aku dan dia cuma temenan, kita belom pacaran.”
“Belom?” Karina memandang Rosalinda sembari mengangkat sebelah alisnya. “Kalau kamu bilang belum, berarti kamu punya harapan buat pacarans sama dia?”
Rosalinda mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku mulai suka sama dia. Dia baik, pinter masak, dan dia juga sudah mulai berbisnis sejak muda. Mungkin ini memang suka atau ini hanya perasaan kagum. Aku nggak tahu. Yang jelas, aku pengen deket sama dia dan memastikan kembali apa yang aku rasakan.”
“Kami aja baru kenal. Ketemu aja cuma beberapa kali. Jadi, aku nggak bisa simpulin apakah aku hanya akan menjadi temannya, atau berharap menjadi pacarnya.” Jelas Rosalinda.
Sebuah seringai tercetak jelas di bibir Karina setelah mendengar ucapan Rosalinda. Sementara itu, Rosalinda tidak melihatnya. Pandangan Rosalinda kali ini mengarah ke lorong yang tadinya Andi lewati.
__ADS_1
‘Bingo. Linda, Linda. Kenapa kamu lebih memilih cowok yang nggak seberapa kaya itu? Kenapa kamu menolak para tuan muda itu. Padahal, mereka bisa memberikan sesuatu kepadamu dengan mudahnya. Heh. Berharap mendapatkan cinta? Naïf seali kamu Lin.’
‘Lihat saja setelah aku menjukkan rekaman ini kepada Hermawan, aku yakin dia akan memberikan pelajaran kepada temanmu itu. Ini semua kamu sendiri yang minta Lin. Siapa suruh kamu selama ini membicarakan hal buruk tentang aku. Ini adalah balasan untukmu.’ Gumam Karina dalam hati.