
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Andi sampai di kota kelahirannya. Besok pagi-pagi ia ingin mengecek keadaan kafenya. Jika ia berangkat dari Surabaya besok, sudah pasti dirinya harus berangkat di kala hari masih gelap.
Andi malas untuk berangkat pagi-pagi. Jika bisa berangkat sekarang kenapa menunda besok? Karena dirinya tidak bisa pulang ke rumah tentu pemuda itu memilih menginap di hotel. Pemuda itu pun menjalankan mobilnya menuju hotel terdekat.
Setelah memarkirkan mobilnya, langsung saja Andi menuju ke resepsionis untuk membuka kamar. Di meja resepsionis terlihat seorang wanita di akhir empat puluhan yang sepertinya juga akan membuka kamar. Ketika Andi sampai di sana, wanita itu terus memperhatikan Andi.
Andi melihat dengan jelas bagaimana wanita itu menyapukan pandangannya dari ujung kepala hingga ujung kaki tubuh Andi. Bahkan ketika ketahuan memperhatikan, bukannya mengalihkan pandangannya, wanita tersebut malah mengedipkan sebelah matanya kepada Andi.
Andi cukup ngeri diperhatikan seperti itu. Ia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Diperhatikan oleh seorang wanita, yang usianya mungkin saja dua kali lipat usianya, dengan tatapan ingin memakannya.
Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Andi buru-buru pergi dari sana. Ia cukup ngeri berada dekat dengan wanita tersebut. Tetapi sialnya, meski Andi sudah berjalan cepat setengah berlari demi menghindari wanita tersebut, ia terhalang oleh lift yang akan membawanya ke lantai kamarnya berada. Dan ketika Andi ingin menggunakan tangga demi menghidari wanita tersebut, wanita itu sudah berada di samping Andi.
“Tampan, mau kemana? Kenapa buru-buru gitu kayak abis lihat setan aja.” Ucap wanita tersebut dengan sebuah senyuman tercetak jelas di bibirnya.
Melihat hal itu Andi hanya diam tidak menanggapinya. Ia sendiri bingung bagaimana menanggapi wanita ini.
“Kenapa diam saja tampan, tadi aku dengar kamu berbicara di meja resepsionis. Suaramu enak juga didengar. Tetapi, kenapa kamu diam tampan? Jangan bilang kamu takut sama aku?” Tanya perempuan itu sembari mendekat ke arah Andi.
Melihat hal tersebut, langsung saja Andi mundur beberapa langkah menghindar. Wanita ini benar-benar seperti yang ada di pikirannya. Kemungkinan besar dia sedang mencari gigo lo untuk menemaninya. Sudah jelas Andi bukan orang yang seperti itu.
“Ah, kenapa kamu menghindar? Aku nggak gigit kok. Iya kecuali kalo kamu mau aku gigitin, dan aku cakarin. Rawr.” Ucap wanita tersebut sembari membuka sedikit mulutnya dan juga mengulurkan sebelah tangannya seolah ingin menerkam Andi.
“Hehehe.” Wanita itu tertawa pelan melihat Andi yang semakin mundur. “Bagaimana jika kamu temanin aku malam ini. Besok sebelum pergi aku akan memberimu sedikit uang saku. Bagaimana? Apa kamu mau?”
Andi bergidik ngeri mendengar ucapan perempuan itu. Untung saja lift yang mereka tunggu datang sehingga Andi sedikit terselamatkan.
“Berapa nomor kamarmu? Jika kamu tidak mau di kamarku, aku bisa datang ke kamarmu.” Ucap wanita itu ketika memasuki lift.
Andi masih tetap diam. Ia menekan lantai tertinggi di hotel itu, sementara perempuan itu, menekan nomor dua di lift tersebut.
__ADS_1
“Jadi kamu menginap di lantai empat. Berapa nomor kamarmu?” tanya perempuan itu sekali lagi.
Andi tetap diam. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menghindari wanita ini. Ketika lift akan tertutup, langsung saja Andi melesat lari meninggalkan lift tersebut. Ia masih bisa mendengar teriakan wanita tadi yang memintanya untuk berhenti.
Andi tidak menghiraukan teriakan wanita itu. Ia buru-buru pergi ke resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar dan mengambil KTP-nya. Andi tidak jadi menginap di hotel ini. Pemuda itu akan mengingat-ingat nama hotel ini. Ke depannya, ia tidak akan mau menginap lagi di hotel ini.
“Sepertinya aku perlu mencari rumah di sini. Meski tidak membelinya, meyewa pun tidak masalah. Entah kenapa aku jadi trauma dengan yang namanya hotel.” Ucap Andi ketika dirinya berada di dalam mobilnya.
Sekarang dia sedikit bingung harus ke mana dirinya pergi. Dengan kejadian barusan, Andi sedikit ragu pergi ke hotel lain. Itu tidak akan menjamin dirinya tidak bertemu dengan tamu hotel dengan semacam wanita tadi. Meski kemungkinannya sangatlah kecil, tetapi Andi masih merasa trauma.
Andi tidak memiliki teman dekat lainnya, yang bisa ia repotkan dengan menginap di rumah mereka. Brian masih diajak ayahnya ke beberapa kota untuk berkenalan dengan kolega bisnisnya. Teman sekelasnya yang lain? Kebanyakan mereka adalah pendukung Jony. Sudah jelas mereka tidak akan memberi ijin Andi menginap di rumah mereka.
“Hah, sungguh menyebalkan. Apa yang aku lakukan hari ini sehingga mendapatkan kesialan seperti ini.” Gumam Andi. “Lebih baik aku berkeliling saja untuk menenangkan suasana hatiku. Siapa tahu nanti aku sudah tidak merasa ngeri lagi untuk menginap di hotel.”
Andi pun segera menjalankan mobilnya menuju Jalan Benteng Pancasila. Jam segini di sana masih cukup ramai. Apalagi banyaknya penjual makanan di sana. Mungkin Andi bisa makan beberapa makanan di sana.
Andi menghentikan mobilnya di dekat gerobak penjual sosis bakar. Langsung saja Andi memesan beberapa tusuk aneka sosis yang ada di sana. Ketika Andi menunggu sosis pesanannya dipersiapkan, seseorang mengendarai motor datang mendekat ke arahnya.
“Tuan Muda, ternyata aku tidak salah lihat. Ini benar-benar Anda Tuan Muda dari keluarga Prayudi.” Sapa Damar sembari membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat kepada Andi.
Melihat hal itu langsung saja dia berdiri dari duduknya. Ia merasa risih jika ada yang memberi hormat kepadanya seperti itu. “Kamu tidak perlu membungkuk seperti itu ketika menyapaku.”
“Itu adalah keawajiban bagi kelompok kami jika bertemu Bos Besar, kami perlu membungkukkan badan. Hal itu juga berlaku bagi anggota keluarga Bos. Anda adalah seorang Prayudi jadi, sudah pasti aku harus membungkuk jika menyapa Anda.” Jelas Damar.
“Jadi untuk apa kamu menemuiku?” tanya Andi.
“Ah kebetulan tadi aku lewat sini dan melihat seseorang Anda. Jadi, aku berhenti di sini untuk menyapa Anda. Tidak ada maksud lain.”
“Apakah itu kamu dan anak buahmu yang menghajar Jony dan Rendi?”
__ADS_1
“Iya itu aku Tuan Muda. Apakah Anda kurang puas dengan hasil tersebut?”
“Aku sama sekali tidak menyuruh kalian melakukannya bukan? Kenapa kalian melakukan itu? Menghajar Jony dan Rendi hingga mereka masuk rumah sakit.”
“Tentu saja karena meraka adalah musuh Anda Tuan Muda. Mereka sudah sepantasnya mendapatkan semua pukulan itu. Apalagi mereka menjebakku untuk melawan Tuan Muda. Jika Bos Besar tahu aku berniat menghajar Tuan Muda, maka aku akan dihajar olehnya.”
“Oleh karena itu aku perlu menghajar kedua cecunguk itu untuk sedikit meredam amarah Bos Besar. Apakah Anda kurang puas dengan hasil tersebut?” tanya Damar sekali lagi.
Jadi itu alasan Damar? Hanya karena dia takut dihajar oleh Burhan, dia menghajar Jony dan Rendi. Tidak tahukah Damar bahwa keputusan sepihaknya itu sangat merugikan Andi.
“Lalu, kenapa kamu malah melaporkan semua itu kepada Ayahku? Jika ini adalah urusanku, kamu dan kedua anak itu, kenapa kamu melibatkan Ayahku dalam hal ini?” Tanya Andi. Jika saja Damar melakukan semua itu dan tidak melaporkannya kepada Aripto, sudah jelas Andi tidak mengalami pengusiran bukan?
“Itu karena aku tidak bisa menemukanmu Tuan Muda. Aku mencari keberadaanmu dan waktu itu aku menemukan di mana Anda tinggal. Tetapi, pada saat itu aku bertemu dengan ayah Anda. Aku pikir, sama saja melaporkan hal ini kepada Anda atau ke Ayah Anda. Jadi aku melaporkan hal itu kepada Ayah Anda.” Jelas Damar.
Jadi seperti itu. Kemungkinan besar, ketika Damar mencarinya, Andi tengah berada di Surabaya. Sudah pasti laki-laki itu tidak akan menemukan keberadaan Andi di rumahnya. Dan apa yang dikatakan Damar tidak ada salahnya. Melapor ke Andi atau Aripto sama saja di mata Damar. Tetapi itu sangat berbeda di mata Andi.
Andi menarik nafas panjang. Sepertinya ini memang nasibnya mengalami kemalangan yang seperti ini. Sebuah kesalah pahaman membuatnya harus di usir dari rumah. Mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang yang Andi perlu lakukan adalah memperbaiki kesalah pahaman ini. Ia berharap Damar bisa membantunya meluruskan kesalah pahaman ini.
Andi ingin melanjutkan obrolannya dengan Damar. Tanpa dia ketahui, beberapa puluh meter dari tempatnya sekarang berada, seseorang laki-laki mengawasinya. Laki-laki itu mengenakan jaket hijau. Ia kini tengah duduk di atas motornya, sembari menunggu pesanan dari pelanggan, yang perlu ia antarkan, selesai dibuat.
“Rupanya semua dugaanku benar selama ini. Heh. Hampir saja aku memaafkan anak itu. Tetapi ternyata anak itu benar-benar ada hubungannya dengan mereka.” Gumam laki-laki itu dalam hati.
Laki-laki itu marah sekarang. Jika saja sorot lampu mengenai wajahnya, maka orang lain akan merasa ketakutan dengan eskpresi kemarahan yang ditunjukkan oleh laki-laki ini.
“Ini Pak pesanannya.”
Ucapan pedagang nasi goreng tesebut membuyarkan lamunan laki-laki yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online itu. Ia buru-buru mengubah ekspresinya menjadi ramah kembali. Jika ia tidak mengubahnya, sudah pasti pedagang nasi goreng tersebut akan ketakutan melihat ekspresi wajahnya.
“Ah iya, Pak terimakasih.”
__ADS_1
Jika saja dirinya tidak sedang ada pesanan yang perlu diantar, maka laki-laki itu akan kembali mengawasi anak laki-laki tadi. Ia ingin tahu seberapa jauh hubungannya dengan kelompok preman itu. Sayangnya ada pekerjaan yang perlu ia lakukan. Meski begitu, apa yang ia lihat malam ini menjadi salah satu bukti keterlibatan anak itu dengan para preman tersebut.
“Omongan orang lain bisa saja adalah dusta. Aku bisa saja salah paham jika hanya mendengar omongan orang lain. Tetapi, apa yang aku lihat saat ini adalah sebuah fakta. Apa pun yang akan kamu katakan nantinya, tidak akan bisa mengubah keputusanku.” Gumam laki-laki itu dalam hati sebelum kemudian mengendarai motornya untuk mengantarkan makanan pesanan pelanggan.