
Pagi sekali Andi sudah berada di area car free day. Ia sudah mendapatkan pesan bahwa Widya dan Satrio sudah berada di tempat ini. Mereka sudah menentukan tempat janjian. Jadi Andi tidak perlu lagi mencari keberadaan kakak beradik Jayantaka itu.
“Hei superman.”
Andi tidak menyangka Fawzul ikut mereka ke sini. Pemuda itu sekarang terlihat berlari kecil menghampiri Andi. Ia kemudian merangkul pundak Andi. Melihat Andi yang cukup kaget dengan keberadaan Fawzul, Widya buru-buru menjelaskan.
“Tadi itu kami bertemu Fawzul yang sedang lari. Dia memaksa ikut ketika tahu kami akan ke car free day. Apalagi ketika tahu kami akan bersamamu. Fawzul semakin memaksa ikut.” Ucap Widya yang sekarang menatap Andi dengan pandangan meminta maaf.
Andi menarik nafas panjang. Ia tidak bisa menyalahkan Widya mengenai hal ini. Orang seperti Fawzul adalah spesies langka. Jadi, Andi harus bersabar saja menghadapinya.
“Superman, apa Kamu menghindariku? Kenapa Kamu seperti tidak senang gitu melihat kedatanganku?” Tanya Fawzul.
“Ah tidak seperti itu. Aku hanya kaget Kamu datang kemari.”
“Benarkah?” Ucap Fawzul sembari mengerutkan keningnya. Fawzul melihat Andi mengangukkan kepalanya dengan penuh semangat.
“Tetatpi, kenapa Kamu tidak menjawab pesanku semalam? Aku sudah mengirim pesan padamu menanyakan mengenai porsi latihan yang Kamu lakukan sehingga memiliki kekuatan sebesar itu. Tidak ada satupun dari puluhan pesan yang aku kirim, mendapatkan balasan darimu.”
Andi menggaruk belakangs kepalanya yang tidak gatal. Ia memang tahu bahwa Fawzul mengiriminya pesan. Andi melihat dari pemberintahuan yang muncul di layar ponselnya. Tetapi Andi tidak membalas pesan tersebut.
Itu karena Andi sendiri tidak tahu apa yang harus dijelaskan kepada Fawzul. Ia mendapatkan semua kekuatan itu dari sistem. Kemarin saja ia mendapatkan penambahan keuatan dari sistem. Jadi, tidak ada porsi latihan yang bisa ia bagi kepada Fawzul.
“Aku sulit menjelaskannya padamu.” Ucap Andi.
“Ayolah, bagi rahasiamu.” Fawzul tiba-tiba membuka resletin jaket yang ia kenakan. “Kamu lihat otot-otot yang aku miliki ini, meski aku punya otot sebesar ini, tetapi kekuatanku belum bisa sebesar Saitama. Jadi bagi rahasiamu kepadaku.” Ucap Fawzul.
Andi tidak percaya bahwa di balik tubuh Fawzul yang terlihat ramping itu, tersembunyi otot-otot besar seperti itu. Otot-otot itu merupakan sebuah bukti bahwa Fawzul sudah bekerja keras dalam melatih dirinya.
“Sebenarnya, itu adalah teknik turun temurun dari keluargaku. Aku tidak bisa memberitahukan rahasianya padamu.” Ucap Andi pada akhirnya.
Toh ucapannya ini tidak sepenuhnya salah. Jadi tidak masalah Andi mengatakan hal ini. Dengan Andi mengetakan bahwa itu ada teknik rahasia keluarga, yang tidak bisa diberitahukan kepada orang asing, ia berharap Fawzul tidak lagi mencercanya dengan pertanyaan mengenai porsi latihannya.
“Sayang sekali itu adalah teknik keluargamu. Kalau begitu aku menghormati hal itu kawan. Kamu cukup beruntung terlahir di keluarga yang memiliki teknik rahasia seperti itu. Sayangnya aku terlahir dari keluarga pebisnis.”
“Jika saja keluargaku memiliki teknik seperti milikmu, pasti aku akan senang sekali. Dengan begitu, cita-citaku untuk menjadi orang terkuat di dunia ini bisa tercapai. Hahaha.” Fawzul kembali tertawa sembari meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“Karena Kamu nggak bisa memberi tahuku mengenai rahasia dari porsi latihanmu, sebagai gantinya kapan-kapan kamu perlu ikut aku latihan bareng.” Pinta Fawzul.
__ADS_1
“Tidak masalah untukku.”
*****
“Tuan, saya baru mendapatkan sebuah telfon dari bengkel.” Ucap Kohar kepada Rama yang saat ini tengah memberi makan ikan yang ada di kolam.
“Jadi bagaimana dengan keadaan kedua mobil itu? Apakah memang ada masalah?” Tanya Rama tanpa melihat ke arah Kohar. Ia masih sibuk memandangi ikan-ikan peliharaannya.
“Benar Tuan. Ada masalah dengan kedua mobil itu. Dua-duanya remnya rusak. Ketika ingin mengecek kamera pengawas yang ada di mobil, kartu memorinya sudah hilang. Jadi, kita tidak bisa menemukan siapa pelaku perusakan mobil Tuan Muda Satrio dan Tuan Muda Arya.” Lapor Kohar.
“Lalu bagaimana dengan kamera pengawas yang ada di sekitar sana?”
“Maaf Tuan. Semuanya juga rusak.”
Mendengar hal itu, Rama mengerutkan keningnya. Ini berarti kerusakan rem mobil itu dilakukan dengan tujuan mencelakai siapa pun yang memakai mobil tersebut. Siapa itu yang mencoba mencelakai anggota keluarganya.
“Ambilkan ponsel milikku, dan tolong sambungkan aku dengan Dirga.” Ucap Rama
Kohar langsung saja melaksanakan tugas dari Rama. Ia mengambil ponsel milik bosnya itu dan menelpon Dirga, pemimpin dari keluarga Wijoyokusumo. Setelah itu, Kohar menyerahkan ponsel itu kepada Rama. Tidak lama kemudian sambungan telepon itu terhubung.
“Tidak. Ada yang lebih penting daripada mengajakmu memancing. Aku punya kabar penting sekarang. Apakah kita bisa bertemu sekarang?” Tanya Rama.
“Sekarang ini juga? Kenapa tidak bicara di telepon saja?”
“Ini terlalu penting. Lebih baik kita melakukan pertemuan untuk membicarakan hal ini. Ini semuan menyangkut keselamatan nyawa dari cucumu.” Jelas Rama.
Mendengar keseriusan dari nada bicara Rama, Dirga tidak lagi basa basi. “Baiklah. Setengah jam lagi aku akan sampai di rumahmu. Tunggu saja aku di sana.” Setelah mendengar Dirga berucap demikian, sambungan panggilan mereka terputus.
Tepat tiga puluh menit kemudian, Dirga sampai di kediaman Jayantaka. Laki-laki yang umurnya tidak jauh berbeda dari Rama itu menampakkan wajah seriusnya kali ini. Ini menyangkut keselamatan nyawa cucu laki-laki satu-satunya yang ia miliki. Jadi Dirga tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk kepada cucunya itu.
“Kamu sudah datang. Ayo sekarang kita masuk ke ruang kerjaku. Lebih baik kita membicarakan hal ini di sana.” Ajak Rama.
“Jadi, sebenarnya apa informasi penting yang ingin kamu bagi denganku?” Tanya Dirga ketika mereka sudah sampai di ruang kerja Rama.
“Apa kamu ingat kemarin aku memberitahumu bahwa aku akan membawa mobil cucumu ke bengkel?” Tanya Rama.
“Ya aku ingat itu. Samsuri memberitahuku mengenai hal itu. Ia bilang Kohar yang menelfon. Memangnya kenapa? Apa hubungannya itu dengan cucuku?”
__ADS_1
“Aku baru mendapatkan kabar dari bengkel. Mobil cucu kita remnya sudah dirusak seseorang. Jika kemarin mereka memakai mobil itu, ada kemungkinan mereka akan mengalami kecelakaan. Untung saja mereka tidak memakai mobil itu kemarin.” Jelas Rama
“Apa dirusak?” Ucap Dirga yang tidak percaya dengan ucapan Rama. “Kamu bilang mereka tidak mengendarai mobil itu. Kenapa bisa begitu? Maksudku tidak biasanya cucuku meningalkan mobilnya dan tidak membawanya pulang.”
“Kenapa pula kamu berinisatif membawa mobil itu ke bengkel? Apakah kamu sudah tahu bahwa mobil mereka telah dirusak?” Tanya Dirga.
“Tentu saja tidak. Ada seseorang yang memperingatkan cucu kita dan meminta mereka tidak mengendarai mobil itu. Ia juga meminta mereka untuk membawa mobil mereka kebengkel. Karena aku ingin memastikan sesuatu, mangkanya aku membawa mobil mereka ke bengkel.”
“Apakah dia pelakunya? Kenapa dia bisa tahu jika mobil mereka rusak?”
Rama menggelengkan kepalanya. “Tidak. Jika dia pelakunya, dia tidak akan mengantar cucu kita pulang dengan selamat. Apa kamu bisa menebak siapa dia?” Tanya Rama.
“Aku tidak mau menebak. Cepat katakan saja siapa dia. Kita masih perlu memikirkan siapa dalang dibalik pengerusakan mobil cucu kita. Jangan bertele-tele lagi.” Ucap Dirga tidak sabaran.
“Sang Penerus. Sang Penerus generasi ini sudah muncul.”
Sebenarnya Rama tidak mau berlama-lama menyembunyikan keberadaan Sang Penerus. Hanya saja, dari pengamatannya Andi cukup dekat dengan Arya. Cepat atau lambat keluarga Wijoyokusumo akan tahu mengenai Andi yang merupakan Sang Penerus.
Jadi, lebih baik Rama memberi tahu keluarga Wijoyokusumo sekarang. Dengan begitu, mereka pasti akan merasa hutang budi kepada keluarga Jayantaka. Mungkin mereka bisa memanfaatkan hal ini untuk meminta bantuan keluarga Wijoyokusumo. Lagi pula hubungan kedua keluarga cukup baik.
Mendengar hal itu, wajah Dirga semakin serius. Ia tidak percaya Rama mengatakan hal itu. Sang Penerus. Itu adalah sebuah nama yang melegenda di kedua keluarga. Jika Dirga tidak salah dengar, Rama tadi mengatakan bahwa Sang Penerus sudah muncul.
“Apakah kamu yakin dia adalah Sang Penerus asli?” Tanya Dirga memastikan.
“Aku sudah mengeceknya. Dia memiliki kalung yang sama seperti Sang Penerus sebelumnya. Semua ciri-ciri khusus itu juga ada di kalung itu. Jadi aku yakin dia adalah Sang Penerus asli.” Ucap Rama.
“Tetapi Kamu juga harus ingat, bahwa kita juga bisa membuat kalung seperti itu. Bukankah kita pernah iseng membuatnya semasa muda dulu. Kalung buatan kita mirip sekali dengan yang asli. Itu karena kita tahu apa ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh kalung itu.”
“Jadi, asalkan ada orang lain yang tahu mengenai Sang Penerus dan ciri-cirinya, dia bisa memakai identitas sebagai Sang Penerus. Jangan sampai kamu menjadi korban penipuan.”
Rama tahu sifat hati-hati dan penuh kecurigaan sudah mendarah daging pada darah keluarga Wijoyokusumo. Ketika Rama mengatakan bahwa Sang Penerus sudah muncul, bukannya senang Dirga malah mempertanyakan keaslian dari Sang Penerus tersebut.
“Aku tahu apa yang Kamu khawatirkan Dirga. Dia bukanlah penipu seperti yang Kamu khawatirkan. Jika dia menipu, dia pasti akan mengumumkan dirinya ketika mendekati keluargaku. Tetapi dia tidak. Keluargaku sendiri yang mengetahui identitasnya ketika kalungnya tertinggal di sini.”
“Bisa saja dia sengaja meninggalkannya.”
“Ah sudahlah. Entah Kamu percaya atau tidak, tetapi aku sudah mengatakan hal itu. Pemuda yang menjadi Sang Penerus di generasi ini sudah menolong cucu kita selamat dari bahaya. Siapapun identitasnya, kita tetap berhutang budi kepadanya.” Jelas Rama.
__ADS_1