
“Berikan aku yang minuman dengan alkohol rendah dan segelas cola untuk temanku ini.” ucap Brian kepada salah seorang bartender.
“Tentu. Tunggulah sebentar.” Ucap Bartender berambut cepak dengan kedua telinganya yang bertindik.
“Bagaimana menurutmu tempat ini? Ramai bukan?” tanya Brian kepada Andi yang kini tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling club.
Andi mengendikkan bahunya. “Ya terlalu ramai dan bising. Sepertinya tempat seperti ini tidak cocok untukku. Sesekali ke sini memang tidak masalah tetapi, aku tidak akan menjadikan tempat ini menjadi tempat nongkrongku.”
Andi tidak menyukai kebisingan dari musik yang diputar oleh DJ. Apalagi ditambah dengan banyaknya orang yang menggoyangkan tubuh mereka di lantai dansa. Ini bukan tempat yang cocok untuk orang seperti Andi.
“Ya tetapi ini tempat yang cocok jika kamu ingin berkenalan dengan para wanita. Minum bareng, mabuk, dan menjalani malam indah bersama. Tentu saja ini hal yang sangat cocok untuk itu. Kamu tahu, jika kamu ingin segera melepas keperjakaanmu, aku bisa mengenalkan beberapa orang padamu.”
Andi mengerutkan keningnya mendengarkan perkataan Brian. “Apakah kamu mengajakku kemari agar aku melepaskan keperjakaanku?”
“Hey, hey, hey.” Ucap Brian sembari mengangkat kedua tangannya di depan badannya. “Aku sama sekali tidak memiliki maksud itu. Sungguh. Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang, melupakan semua masalahmu itu. Ya siapa tahu kamu ingin melakukan itu, aku bisa mengenalkan beberapa wanita yang bersih padamu.”
Andi mengibaskan sebelah tangannya. “Aku tidak tertarik sama sekali. Aku ingin melakukan hal itu hanya dengan wanita yang aku cintai. Aku tidak akan munafik dengan mengatakan bahwa aku hanya akan melakukannya ketika sudah menikah nanti. Setidaknya jika aku melakukannya sebelum menikah, pacarku harus menyetujui hal itu baru aku akan melakukannya.”
“Ah kita masih muda. Bersenang-senang dikit tidak masalah bukan?”
“Aku tidak mau menebar bibit di sana sini. Bibitku ini bibit unggul tidak bisa ditebar sembarangan. Meski memakai pelindung, itu tidak akan seratus persen menjamin tidak akan terjadi pembuahan. Ya kecuali kalau kecebongmu kurang sehat.”
“Semua orang punya prinsip masing-masing. Kamu dengan prinsipmu itu dan aku dengan prinsipku. Tetapi, jika suatu hari nanti ada wanita yang datang menemuimu dan mengaku mengandung anakmu, kamu jangan sampai lepas tanggug jawab. Itu pilihanmu dan kamu harus berani mengambil tanggung jawab atas keputusan yang kamu ambil.”
“Ah Andi, jangan menakutiku seperti itu. Aku hanya melakukannya sekali dan kamu sudah menakutiku seperti itu. Aku masih sangat muda untuk menjadi seorang ayah. Aku masih ingin bersenang-senang. Masih banyak yang ingin aku lakukan. Aku tidak mau aktifitasku dibatasi dengan statusku yang menjadi seorang ayah.”
Brian bergidik ngeri membayangkan dirinya menjadi seorang ayah di usianya yang muda ini. Pasti itu akan sangat merepotkan dan dirinya belum siap dengan semua hal itu. Bayangan Brian tentang hal itu terpecahkan ketika bartender menyerahkan minuman mereka.
“Ini minuman kalian.”
“Terimakasih bung.” Ucap Brian.
“Jadi, kamu sudah melakukannya.”
“Ah itu, ya minggu lalu. Sepupuku yang mengajakku. Dia mengenalkanku dengan salah satu temannya. Percaya padaku rasanya sangat nikmat. Kenikmatan itu jauh berbeda ketika kamu bermain solo. Aku sarankan kamu segera mencari pacar dan mencoba kenikmatan itu bersama dengan pacarmu.” Ucap Brian dengan memberikan Andi senyuman penuh arti.
__ADS_1
Ketika Brian tengah asik menceritakan pengalaman pertamanya, kursi sebelah mereka di isi oleh dua orang pemuda. Di tangan mereka sudah ada segelas minuman. Dari yang Andi dengar, kedua pemuda itu tengah membicarakan seorang perempuan. Sepertinya jika kaum laki-laki berkumpul, sudah pasti bahasan mereka akan diselingi dengan bahasan lawan jenis mereka, perempuan.
“Apa kamu dengar tadi, Marcel berniat menembak Rosalinda minggu ini.” ucap salah satu orang dari kedua pemuda itu.
Mendengar nama Rosalinda di sebut, Andi langsung memasang telinganya mencoba mencuri dengar pembicaraan kedua pemuda tersebut. Meskipun pemilik nama Rosalinda bukan hanya satu orang, tetapi Andi ingin mengetahui apakah Rosalinda yang mereka bicarakan itu sama seperti Rosalinda yang ia kenal.
“Itu akan sangat sulit, Rom. Kamu tahu bukan Rosalinda kurang menyukai Marcel. Aku dengar dia sering menolak ajakan Marcel untuk jalan bareng. Belum lagi Hermawan juga menyukai perempuan itu. Aku rasa Hermawan tidak akan membiarkan rencana Marcel untuk menembak Rosalinda berjalan dengan mulus.”
“Ya kamu benar Gas. Aku tidak menyangka seorang perempuan seperti Rosalinda menjadi rebutan dua Tuan Muda dari dua keluarga besar. Meski aku akui bahwa Rosalinda itu cantik, tetapi dia tidak secantik itu sehingga membuat kedua Tuan Muda itu memperebutkannya.”
“Heh.” Bagas mendengus pelan. “Romi, Romi. Itu sudah sangat jelas bukan Rosalinda yang menjadi alasan utamanya, tetapi ego dari kedua Tuan Muda itu. Kamu tahu bukan bahwa Rosalinda menolak pernyataan keduanya sejak kita menjadi mahasiswa baru, hal itu mengusik ego para Tuan Muda itu.”
“Selama ini para wanita itu berebut untuk mendekati mereka, bahkan mereka berebut untuk hanya bisa tidur semalam dengan mereka. Namun, mereka dihadapkan dengan perempuan yang sama sekali tidak tergiur dengan apa yang mereka punya. Apalagi ketika mereka juga tahu, bahwa mereka memiliki saingan dari salah satu empat keluarga besar. Sudah jelas itu menjadi tantangan untuk mereka.”
“Ah kamu benar juga Gas. Itu malah membuat mereka saling berlomba satu sama lain untuk merebutkan Rosalinda. Siapapun yang menjadi pacar Roslinda akan menjadi pemenangnya dan berarti dia lebih unggul dari yang lain.”
Bagas menjentikkan jarinya mendengar penjelasan Romi. “Nah kamu sudah memahami hal itu. Tentu Rosalinda mereka jadikan sebagai objek yang menentukan keunggulan mereka, bahkan keluarga mereka. Jadi meski tidak terlalu cantik, Rosalinda akan menjadi perebutan mereka berdua. Aku dengar seseorang dari keluarga Wijoyokusumo membuka taruhan tentang siapa yang akan menang dalam memperebutkan Rosalinda.”
Andi menghentikan mengupingnya. Ia tidak mendapatkan informasi banyak mengenai apakah Rosalinda yang mereka bicarakan ini sama dengan Rosalinda kenalannya. Yang jelas Andi tahu bahwa Rosalinda yang mereka bicarakan kini menjadi bahan rebutan oleh dua orang tuan muda dari dua keluarga besar. Sepertinya salah satu diantara kedua tuan muda itu adalah pemuda yang ia temui tadi di parkiran.
“Ya aku mendengar ceritamu. Jadi, apakah kamu bertukar nomor dengan cewek pertamamu itu?”
*****
Andi terbangun karena suara dering ponselnya yang cukup nyaring di telinganya. Dengan mata yang masih tertutup, pemuda itu mencoba mencari sumber suara yang mengganggunya itu. Setelah menemukannya, ia memaksakan matanya untuk terbuka dan melihat siapa yang kini menelfonnya.
Andi bisa melihat nama Rosalinda di layar ponselnya. Semalam dia mendengar seseorang membicarakan perempuan bernama Rosalinda. Pagi ini Rosalinda yang di kenalnya tengah memanggilnya. Tetapi kenapa perempuan itu pagi-pagi sekali menelfonnya.
Betapa kagetnya Andi ketika melihat jam yang ada di layar poselnya sudah menunjukkan jam setengah sepuluh. Andi tidak menyangka dirinya akan kesiangan seperti ini. Semalam dirinya memang sama sekali tidak menyentuh minuman berakolhol. Namun hal itu berbeda dengan Brian.
Temannya itu mengulur-ulur waktu untuk pulang. Pada akhirnya Brian menghabiskan beberapa gelas alkohol yang membuatnya mabuk. Mereka berdua sampai di apartemen pada pukul setengah dua pagi. Sampai di apartemen pun Andi tidak bisa langsung beristirahat.
Ketika sampai di apartemen, Brian muntah sehingga mengotori pakaiannya. Hal itulah yang membuat Andi perlu mengganti baju yang dipakai Brian juga membersihkan bekas muntahan Brian di lantai. Andi baru bisa tidur sejam kemudian. Alhasil sekarang dirinya bangun kesiangan.
…
__ADS_1
Andi buru-buru mengangkat panggilan telfon dari Rosalinda. Ketika dirinya mengangkat telfonnya itu, Andi bisa mendengar gerutuan Rosalinda dari telfon yang tersambung.
“Kenapa lama amat sih anggatnya. Aku udah telfon berkali-kali dari tadi pagi kok nggak di angkat sih.”
“Hallo, selamat pagi juga Mbak Rosalinda.” Sapa Andi sarkas.
“Ih, cepets jawab aja kenapa baru angkat.”
“Hah.” Andi mengehembuskan nafas panjang. “Aku baru bangun Mbak. Aku baru tidur jam setengah empat pagi. Jadi aku bangun kesiangan. Mbak Ros kenapa telfon?” Tanya Andi.
“Ayo buat video lagi. Kamu kapan bisa ke Surabaya lagi, aku ingin berkolaborasi lagi denganmu. Kamu yang masak aku yang makan. Videomu kemaren cukup banyak ditonton. Jadi tidak ada salahnya kamu meneruskan membuat video bukan?”
Andi melupakan hal itu. Setelah mengupload video tersebut, Andi tidak melihat lagi kanal yang ia buat. Andi menganggap kanal tersebut tidak akan memberikan pendapatan yang banyak baginya. Jadi, ia hanya akan membuat video jika memiliki waktu luang saja.
“Cukup banyak ditonton? Memangnya berapa kali videoku ditonton? Aku baru mengunggahnya dua hari yang lalu bukan. Berapa banyak yang aku dapat selama dua hari itu?”
Menurut Andi, videonya itu tidak akan banyak yang menonton dalam dua hari ini. Itu hanya video memasak dengan resep yang cukup mudah ditemukan. Beberapa orang sudah mengunggah resep dessert box versi mereka di kanal Ourtube mereka. Jadi, Andi tidak yakin videonya dintonton oleh banyak orang.
“Videomu sudah sepuluh ribu kali ditonton. Untuk video awalan, aku rasa itu sudah sangat bagus. Apalagi ini baru dua hari diunggah. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini. Kamu perlu membuat video agar semakin banyak yang mengikuti kanal milikmu. Jadi, kapan kamu akan ke Surabaya?”
“Aku sedang ada di Surabaya sekarang.”
Rosalinda kembali berbicara. Perempuan itu sama sekali tidak memberikan Andi kesempatan untuk berbicara lagi. “Baiklah, sekarang aku akan berangkat ke apartemenmu. Setelah itu kita akan membicarakan makanan apa yang perlu kamu masak di video kali ini. Kita bisa berbelanja bahan makanan di supermarket dekat apartemenmu.”
“Sekarang kamu mandilah dan bersiap-siap. Setengah jam lagi aku akan sampai di apartemenmu.” Setelah Rosalinda berkata demikian, ia langsung menutup sambungan telfonnya. Sepertinya hari ini Andi akan kembali menjadi koki pribadi untuk Rosalinda.
Setelah panggilan telfonnya dengan Rosalinda berakhir, Andi kemudian membuka aplikasi Ourtube di ponselnya. Ia ingin mengecek kebenaran perkataan Rosalinda. 10.127. Itu adalah angka yang tertera dalam kolom jumlah video ditonton.
Pemuda itu kemudian mengecek kolom komentarnya. Ia melihat banyak komentar positif di sana. Kebanyakan ingin mencoba membuat kembali resep Andi. Beberapa orang juga terlihat sudah mencoba resep buatan Andi dan sukses. Mereka berterimakasih kepada Andi karena memberikan resep dessert box lezat kepada mereka.
Andi tidak menyangka mendapatkan respon yang sangat positif seperti ini. Ia juga tidak menyangka ide isengnya memberikan kebahagiaan bagi orang lain seperti ini. Andi rasa, ia akan tetap melanjutkan membuat video-video berbagi resep seperti ini. Memberikan kebahagiaan kepada orang lain tidak perlu dengan memberikan hal-hal yang berbentuk fisik. Hal non fisik seperti ini juga bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan salah satu misi tersebunyi dari sistem]
__ADS_1
[Hadiah telah dikirim ke penyimpanan milik Host]