Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 184 Misi : Selamatkan dari Bahaya (1)


__ADS_3

Satu persatu teman-teman Satrio yang meninggalkan kafe tersebut. Sementara itu, Andi tidak terburu-buru untuk pulang sekarang. Lagi mula sekarang ini malam minggu, Andi situs pasar efek juga sudah tutup. Tidak ada salahnya Andi menikmati malam minggu ini seperti anak muda pada umumnya.


Apalagi, Arya dan Widya mengajaknya nonton film bersama sebagai perayaan kecil kerja sama mereka. Jadi, Andi tidak pulang bersamaan dengan tamu yang lainnya.


“Semuanya sudah pulang?” Tanya Andi.


“Ya. Sekarang kita bisa pergi nonton. Aku sudah pesen tiketnya. Untung saja aku masih berhasil mendapatkan tiket. Biasanya malam minggu gini tiket pada habis. Film yang akan kita tonton akan mulai satu jam lagi. Jadi, kita masih memiliki waktu untuk datang ke sana.” Jawab Arya.


“Eh, kalian mau nonton? Kenapa nggak ajak-ajak aku?” Ucap Satrio yang mendengar perkataan Arya.


“Tenang saja, aku sudah memesan empat tiket. Jadi, Kamu bisa ikut bergabung bersama dengan kami.”


“Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Nanti kita bisa menunggu waktu mulainya film dengan jalan-jalan di mall.” Saran Widya.


Keempat orang tersebut kemudian berjalan menuju mobil mereka. Ketika berjalan ke sana, tiba-tiba saja Andi mendengar sebuah pemberitahuan dari sistem. Pemberitahuan tersebut membuat Andi mengerutkan keningnya.


[Ding]


[Modul sistem mendeksi bahwa orang yang sedang bersama Host sekarang dalam bahaya dan nyawanya terancam]


[Ding]


[Misi telah dibuat]


[Misi : Buat orang yang tengah bersama dengan Host sekarang terhindar dari bahaya]


[Hadiah : - Kekuatan +5, Kelincahan +5]


[Ding]


[Selesaikan misi dengan sepenuh hati Host. Kedepannya akan ada misi lainnya dengan hadiah yang sangat menarik]


Orang yang sedang bersamanya dalam bahaya? Itu berarti yang dalam bahaya ada di antara Arya, Satrio, dan Widya. Ada kemungkinan justru mereka bertiga yang ada dalam bahaya.


Meski tidak tahu bahaya apa yang akan menimpa mereka tetapi Andi mempercayai sistem. Peringatan dari sistem mengenai bahaya seperti ini cukup akurat. Jadi, Andi tidak mau meremehkan hal ini. Apalagi ini berhubungan dengan nyawa orang yang dikenalnya.


“Tunggu sebentar.” Ucap Andi sembari menghentikan langkahnya. Hal itu juga membuat tiga orang lainnya ikut berhenti dan memandang Andi dengan tatapan heran.


“Eh kenapa Andi?” Tanya Satrio melihat Andi yang sekarang berhenti.

__ADS_1


Tidak hanya itu, Satrio melihat Andi sedikit berperilaku aneh sekarang. Pemuda itu terlihat mengedarkan pandangannya ke segala arah. Seperti tengah mencari sesuatu menurut Satrio.


Memang saat ini Andi sedang mencari sesuatu. Lebih tepatnya mencari asal muasal bahaya yang bisa saja menimpa ketiga orang yang sedang bersamanya saat ini. Jika ia tahu apa bahaya itu, Andi bisa dengan mudah menghindari hal itu.


Tetapi, ia belum menemukan bahaya apa yang mengintai mereka. Tidak ada orang mencurigakan yang saat ini berada di dekat mereka. Jadi, dari mana asalnya bahaya yang mengancam mereka saat ini?


Tiba-tiba saja pandangan Andi tertuju pada mobil Arya dan Satrio yang saat ini terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Hal itu membuat Andi berpikir ada kemungkinan mobil tersebut merupakan sumber bahaya yang mengancam nyawa ketiga orang tersebut.


Jika demikian, Andi harus membuat mereka bertiga tidak mengendarai mobil tersebut. Meski belum sepenuhnya yakin, Andi harus menghindari semua kemungkinan yang bisa terjadi.


“Aku rasa kita berangkat satu mobil saja. Kita bisa bersama-sama menaiki mobilku.” Ucap Andi kepada tiga orang tersebut.


Mendengar hal itu, Satrio mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa? Kenapa kami harus satu mobil denganmu?”


Bukannya Satrio tidak suka mendengar Andi mengatakanhal seperti itu. Hanya saja, jika alasan yang diberikan oleh Andi tidak masuk akal, Satrio pasti akan menolak usulan Andi tersebut.


“Hari ini adalah malam minggu. Sudah pasti jalanan sangat macet. Jadi, lebih baik kita satu mobil saja agar tidak terjebak macet. Lagi pula, hanya mobilku yang memiliki empat tempat duduk. Mobil kalian hanya ada dua tempat duduk.”


“Selain itu, aku memakai mobil listrik Tusla milikku. Ada auto drive-nya. Jadi kita bisa mengobrol santai di dalam mobil dan yang mengemudi tidak perlu terlalu fokus ke jalanan.” Jelas Andi.


‘Semoga mereka mau mendengar saranku yang ini. Aku tidak memiliki saran lainnya agar mereka tidak menaiki mobil itu.’ Ucap Andi dalam hati.


“Kalau gitu, aku yang setirin ya. Aku mau nyoba duduk dikursi kemudi. Kali aja setelah ini aku bakalan tertarik beli.” Jelas Arya.


Andi bernafas lega mendengar hal itu. Jika Arya sudah berkata demikian, itu berarti mereka setuju menaiki mobilnya. Andi tidak tahu harus membujuk mereka dengan cara apa jika mereka tidak setuju dengan usulan yang dibuatnya.


“Baiklah tidak masalah untukku.”


“Aku akan duduk di depan. Kamu duduk di belakang saja dengan adikku.” Ucap Satrio.


*****


Di lain tempat, seorang laki-laki tengah duduk di sebuah bangku yang ada di pinggir jalan. Ia terlihat memandangi lalu lalang mobil yang tengah lewat. Tidak lama kemudian, ponsel milik laki-laki itu berbunyi. Langsung saja laki-laki mengangkat panggilan tersebut.


“Ya hallo.” Sapa laki-laki itu.


“Apakah mereka sudah lewat di tempatmu?” Tanya seseorang di ujung panggilan.


“Belum. Aku belum melihat dua mobil itu lewat. Apakah kamu sudah bertanya kepada Santen? Aku rasa dua mobil itu lewat di jalan yang ia awasi.” Jelas laki-laki tersebut.

__ADS_1


“Santen belum juga melihat kedua mobil itu lewat di jalan yang ia awasi. Jadi, aku menelfonmu sekarang.”


“Kamu yakin pesta itu sudah selesai? Aku dengar pesta itu sudah selesai dua puluh menit yang lalu. Jadi, aku rasa semua orang sudah pergi dari sana. Jadi, bagaimana mungkin sampai sekarang kedua mobil itu belum muncul juga?”


“Jalan keluar dari kafe itu hanya melewati jalan yang aku awasi atau jalan yang diawasi Santen. Tidak mungkin bukan mereka lewat gang-gang kecil. Untuk apa pula mereka lewat sana. Atau ada yang sudah membocorkan rencana kita ini?” Tanya laki-laki tersebut.


“Aku sendiri tidak tahu mengenai hal itu. Kalau begitu, aku akan mengirim seseorang untuk melihat kafe tadi. Aku ingin tahu apakah mereka sudah ada masih ada di sana atau sudah pergi.”


“Sementara ini, tetaplah berada di tempatmu. Aku tidak mau kamu sampai tidak mengetahui jika kedua mobil itu lewat nantinya.”


“Tenang saja Mono, aku akan menjalankan tugasku dengan baik. Sedari tadi pun aku belum pergi dari pos penjagaanku.” Jawab laki-laki itu. Tidak lama kemudian sambungan telponnya bersama dengan mono terputus.


Laki-laki itu cukup kesal sebenarnya. Ia sudah menunggu cukup lama di sini. Bahkan tubuhnya sudah gatal karena digigit nyamuk. Tetapi apa yang ditunggunya belum juga lewat. Sebenarnya, perlu berapa lama lagi dirinya menunggu di sini?


Hari ini ia mendapatkan job untuk mencelakai orang, membuat mereka sampai kehilangan nyawa justru lebih bagus lagi. Mereka sudah memotong rem dari mobil target. Tetapi, mereka ingin meperparah kondisi kecelakaan yang akan terjadi. Maka dari itu, mereka berniat menabrak mobil target mereka dengan sebuah truk.


Dengan begitu, ada kemungkinan target mereka mengalami luka yang fatal, bahkan bisa menghilangkan nyawa mereka. Untuk melakukan hal itu, mereka harus membagi beberapa orang untuk mengawasi pergerakan target mereka.


Jika mereka melihat target lewat, maka truk yang sudah mereka siapkan akan bersiap. Ada dua truk yang mereka persiapkan untuk misi kali ini. Jadi, jalan mana pun yang target mereka pilih, tugas hari ini bisa terlaksana.


Klien mereka mengatakan bahwa target mereka sedang menghadiri sebuah pesta di sebuah kafe. Sepulang dari pesta itu, mereka bisa mencelakai target itu. Hal itulah yang membuat laki-laki ini berada di pinggir jalan sekarang.


Laki-laki itu mendapatkan tugas untuk mengawasi jalan. Laki-laki itu harus melaporkan jika target mereka sudah lewat di jalan di depannya ini.


“Kenapa belom lewat juga sih. Sampe kapan aku harus nunggu kayak gini.” Ucap laki-laki itu sembari menggoyangkan kakinya yang digigit nyamuk.


“Apa orang-orang itu nggak mau pindah tempat? Kenapa masih betah berada di sana lama.” Keluh laki-laki itu.


Tidak lama kemudian, ponsel laki-laki itu kembali berbunyi. “Semoga aja ini kabar baik. Mungkin target sudah lewat di jalan yang diawasi Santen. Dengan begitu, aku bisa segera pergi dari nyamuk-nyamuk ini.”


“Hallo, bagaiamana Mono? Apakah ada kabar terbaru?” Tanya laki-laki itu.


“Misi gagal. Target kita sudah pergi.” Jawab Mono.


“Apa gagal? Bagaimana bisa? Aku yakin kedua mobil itu belum lewat di depanku. Jadi, aku tidak meloloskan mereka. Apakah Santen yang sudah meloloskan dua mobil itu?”


“Tidak. Mobil itu memang tidak meninggalkan kafe itu. Tetapi, mobil itu masih berada di parkiran kafe. Target kita pergi menggunakan mobil yang lain. Sekarang, kita kembali ke markas.” Jelas Mono yang kemudian menutup panggilan telponnya.


Mendengar hal itu, laki-laki itu geram. “Sial. Kalau begitu sia-sia dong aku digigitin nyamuk seperti ini. Misi kita jadi gagal.”

__ADS_1


__ADS_2