
“Jadi Mbak Ros sebenarnya aku sama Brian udah ada janji hari ini mau pergi.”
“Lah tadi kamu kan udah setuju kita bikin video kolaborasi lagi? Kenapa sekarang kamu malah bilang kalo kamu udah janji sama Brian?” Tanya Rosalinda tidak terima.
Rosalinda sudah ingin makan enak. Ia juga bingung harus makan apa untuk mengisi konten kanalnya. Jadi ia memikirkan rencana untuk meminta Andi membuat makanan untuknya, kolaborasi membuat video namun tidak ada satupun di antara mereka hadir di video yang lain. Hanya sebuah kolaborasi antara Andi yang memasak dan Rosalinda yang memakannya.
Jika Andi tidak memasak untuknya, lalu bagaimana bisa dia memiliki alasan untuk memakai peralatan milik pemuda itu. Andi memiliki peralatan yang lebih baik dari miliknya. Meski Rosalinda sudah memiliki peralatan yang cukup banyak dari membuat konten makan-makan selama dua tahun ini, tetapi ia tidak memakai uang tersebut untuk membeli peralatan yang lebih baik lagi.
Menurut Rosalinda, uang yang ia dapatkan dari hasil makan-makan haruslah ia gunakan untuk makan pula. Alhasil pendapatannya itu kebanyakan ia habiskan untuk membeli makanan mewah yang bernilai fantastis. Rosalinda masih bertahan dengan peralatan sederhanya yang belum ia ganti setelah setahun lebih memilikinya.
Hasil videonya kemarin mendapatkan respon positif dari penontonnya. Tidak hanya itu, peralatan audio milik Andi bisa menangkap dengan jelas suara kecil yang Rosalinda hasilkan ketika dirinya menikmati makanan. Sudah jelas Rosalinda ingin memakai kembali peralatan Andi itu.
Rosalinda bisa saja membawa makannya sendiri dan meminjam peralatan milik Andi. Perempuan itu masih punya sedikit rasa malu. Jadi dirinya memakai kedok mengajak Andi berkolaborasi agar bisa meminjam peralatan Andi.
“Aku tidak pernah menyetujui permintaan Mbak Ros. Mbak Ros udah ngomong banyak duluan tanpa ngasih aku kesempatan buat bicara. Jadi, mana bisa aku menyetujui permintaan Mbak Ros.”
“Humb….” Rosalinda memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Andi. “Nggak seru ih. Memang kalian janjian mau kemana?”
“Kami akan mencari toko kosong untuk disewa. Ya kalau bisa tempatnya luas, soalnya kami mau buat dessert shop sama kafe.” Jelas Brian yang kini sudah selesai mencuci mangkuk kotor.
Mata Rosalinda berbinar mendengar ucapan Brian. “Apa kamu udah mau buka cabang toko dessert box di sini?”
Andi mengangguk pelan. “Ya aku mulai sekarang udah tinggal di Surabaya. Jadi aku sudah memiliki banyak waktu untuk membuka cabang.” Jelas Andi.
Mendengar hal itu, Rosalinda menepuk tangannya sekali. “Bagus. Itu aku sangat mendukungnya. Harusnya kamu bilang dari tadi dong kalo kamu mau nyari lokasi buat buka dessert shop. Jika aku tahu, aku akan datang ke sini lebih pagi lagi.”
Brian dibuat melongo dengan sikap Rosalinda. Entah bagaimana Andi menemukan perempuan seperti Rosalinda. Tadi dia terlihat akan marah karena Andi tidak akan bisa memenuhi permintaannya karena sudah ada janji. Lalu, sekejap saja setelah mendengar apa yang akan mereka lakukan, perempuan itu paling bersemangat dibandingkan mereka berdua yang memiliki bisnis ini.
Andi tertawa dalam hati melihat ekspresi wajah Brian. Mungkin temannya ini cukup kaget bertemu dengan orang seperti Rosalinda. Bisa dibilang Rosalinda ini memang perempuan unik. Andi bisa menebak bahwa isi kepala perempuan itu kebanyakan adalah menu makanan enak hari ini. Apa pun yang berhubungan dengan makanan, perempuan itu pasti akan sangat bersemangat untuk membahasnya.
__ADS_1
“Sekarang tunggu apalagi. Kita harus bergegas. Aku mengetahui satu buah tempat yang bagus. Mungkin itu cocok dengan kriteria yang kalian cari. Apalagi ini dekat dengan area kampus. Sudah jelas akan menjadi tongkrongan para mahasiswa.” Jelas Rosalinda dengan penuh semangat.
Jika Andi boleh menebak, area kampus yang dimaksud oleh Rosalinda sudah pasti kampus tempatnya berkuliah. Pasti perempuan itu sudah membayangkan bahwa setiap pulang kuliah dirinya akan mampir membeli dessert di sana. Atau mungkin, jika ada kerja kelompok, perempuan itu akan mengajak temannya untuk mengerjakan tugas mereka di sana.
Brian memberikan sebuah tatapan penuh tanya kepada Andi. Melihat hal itu, sepertinya Andi perlu memberikan sedikit penjelasan kepada Brian agar pemuda itu tidak lagi kebingungan seperti ini.
“Jadi, Mbak Ros ini pernah beli dessert box yang aku jual ketika aku jualan di Benpas. Dia suka dengan rasanya. Dia sudah nunggu saat-saat aku buka cabang di sini. Sudah pasti dia sekarang sangat seneng setelah tahu kita akan buka cabang di sini.” Jelas Andi.
“Oh jadi seperti itu. Dia seorang foodie rupanya.”
“Ayo kalian cepat sebelum kesiangan.” Ucap Rosalinda yang kembali masuk mendatangi mereka setelah melihat Andi dan Brian tidak juga menyusulnya.
Untung saja pintu apartemennya belum Rosalinda tutup. Jika sampai pintunya tertutup, sudah pasti Rosalinda akan terkunci di luar. Hal itu pasti membuat menunggu lebih lama agar kedua pemuda itu keluar dari apartemen.
“Ayo Bro. Kita bergegas. Sekarang ada Baginda Ratu Rosalinda yang perlu kita penuhi keinginannya.” Canda Andi kepada Brian.
Ketiga orang tersebut pada akhirnya pergi menggunakan taksi online. Brian hanya memiliki mobil sport dengan dua kursi di basement, tidak ada mobil yang lain. Sudah pasti mobil itu tidak bisa mereka gunakan saat ini.
Ketika melihat lokasi yang ditawarkan oleh Rosalinda kepada mereka, baik Brian maupun Andi langsung setuju untuk mengambil tempat itu sebagai lokasi bisnis mereka. Lalu, mereka mencari dua lokasi lainnya di area kampus lain. Di Surabaya tidak hanya ada satu universitas, hal itu membuat mereka mudah mencari lokasi yang pas untuk bisnis mereka.
Pada akhirnya semuanya selesai pada pukul tiga siang. Mereka hanya tinggal menandatangani kontrak sewa besok siang. Dengan bantuan Rosalinda, mereka berhasil menemukan tiga buah lokasi yang cocok untuk bisnis mereka.
“Ah aku lapar sekali. Aku mengikuti kalian ke sana ke mari hingga kita melewatkan makan siang.” Keluh Rosalinda setelah mereka sudah menyelesaikan sewa menyewa dengan pemilik lokasi ketiga.
Melihat Rosalinda yang terlihat lemas itu, Andi jadi merasa kasihan. “Terimakasih loh Mbak udah bantu kami nyari lokasi. Lokasi yang Mbak saranin ini semuanya bagus-bagus dan strategis. Sebagai bentuk rasa terimakasih aku karena Mbak udah bantuin, Mbak mau minta apa aku beliin deh.”
Rosalinda mengibas sebelah tangannya. “Santai saja. Aku nggak minta kalian beliin aku barang. Tetapi kalian harus bertanggung jawab karena sudah buat aku telat makan siang. Mentang-mentang kalian tadi makan siangnnya dirapel sarapan, terus kalian biarin aku nggak makan gitu?”
“Lah bukannya Mbak Ros tadi udah makan sereal bareng aku?” Tanya Brian heran dengan perkataan Rosalinda. Meski tidak terlalu mengenyangkan, tetapi makan sereal tidak seburuk itu. Memang sekarang Brian sudah merasakan lapar setelah tadi makan sereal, tetapi, rasanya juga tidak selapar itu.
__ADS_1
Andi mengedip kedipkan matanya seolah memberikan kode kepada Brian untuk tidak meneruskan perkataannya. Sebelum Brian menangkap kode Andi, Rosalinda sudah tersinggung duluan.
“Ck. Itu hanya camilan. Kamu ingat baik-baik camilan. Mana bisa camilan seperti itu mengenyangkanku. Apalagi porsinya kecil banget.” Ucap Rosalinda sembari mengerutkan hidungnya.
Brian langsung saja melongo mendengar perkataan Rosalinda. Sependek ingatannya, sereal tadi baru ia buka. Ia hanya memakan seperempat dari sereal itu. Sisanya masuk ke mangkuk Rosalinda secara bertahap. Jika saja mangkuk yang ia berikan kepada Rosalinda bukanlah mangkuk kecil, sudah pasti perempuan itu akan menuangkan semua sereal itu sekaligus.
Dan yang membuat Brian lebih heran lagi adalah, Rosalinda menyelesaikan makan sereal lebih awal daripada Brian. Sunguh perempuan yang sangat unit dan luar biasa. Baru kali ini Brian melihat perempuan yang memiliki porsi makan besar seperti Rosalinda.
Bukankah perempuan biasanya menjaga porsi makan mereka? Apalagi di depan lawan jenis, sudah pasti mereka akan makan dengan porsi sedikit dan bersikap seanggun mungkin ketika makan. Tetapi Rosalinda tidak seperti itu. Meski pun perempuan itu makan cukup cepat, namun masih terlihat enak dipandang, tidak seperti orang kelaparan. Tetapi tetap saja berbeda dengan perempuan kebanyakan.
“Ya, ya, ya. Itu hanya sebuah camilan aku tahu itu Mbak.” Ucap Andi menengahi. “Jadi, Mbak Ros minta makan apa buat kopensasi?”
“Setelah aku makan sereal di tempatmu, aku jadi ingin beberapa hari ke depan sarapan sereal. Jadi sebagai kopensasi makan siang, aku ingin kamu membelikanku beberap kotak sereal untukku. Lalu, kamu juga perlu memasakkanku makan malam. Makanan apa pun, harus yang lezat dengan porsi jumbo.”
“Tidak masalah untukku. Sekarang kita perlu berbelanja dulu. Stok makananku sudah habis. Kamu nggak keberatan kan Bro kalo kami belanja dulu?” tanya Andi kepada Brian.
Melihat Andi yang bertanya seperti itu, tiba-tiba Brian memiliki pemikiran usil. “Ah lebih baik kalian berdua saja yang belanja. Aku akan kembali ke apartemen. Alkohol yang kemarin aku minum efeknya belum sepenuhnya hilang. Jadi, aku ingin menebusnya dengan tidur di apartemen.”
Brian kemudian berjalan mendekat ke arah Andi. Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada temannya itu. “Mending kalian belanja berdua aja. Aku nggak mau jadi obat nyamuk. Kalo emang kamu suka dia, ada rasa ama dia, pepet aja kali aja jodoh. Anggep kalian ini lagi PDKT.”
Setelah berucap demikian, Brian memundurkan badannya dan memberikan Andi sebuah senyuman penuh arti. “Aku juga titip sereal dan susu ya Bro. Makanan itu lebih praktis dimakan saat sarapan. Selamat berbelanja untuk kalian berdua.”
Setelah berucap demikian, Brian meninggalkan Andi dan Rosalinda. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk Andi. Ia berharap temannya itu segera memiliki pasangan agar bisa merasakan kenikmatan duniawi sama seperti yang ia rasakan beberapa hari yang lalu. Mungkin suatu hari nanti Andi akan berterimakasih kepadanya karena memberikannya kesempatan ini.
“Apa yang Brian bisikkan kepadamu tadi?” Tanya Rosalinda setelah Brian sudah tidak terlihat lagi.
“Ah dia hanya bilang bahwa nanti dia akan menggantikan setengah uang yang aku pakai untuk membelikan Mbak Ros sereal. Bagaimana pun juga, bisnis ini adalah bisnis kami berdua yang menjalankan. Jadi dia ingin ikut andil memberikan kompensasi kepada Mbak Ros.”
Mata Rosalinda berbinar mendengar ucapan Andi. “Jika seperti itu, aku bisa membeli banyak sereal. Kalian berdua yang akan membelikannya untukku jadi aku harus memanfaatkan hal ini dengan baik. Sekarang, ayo kita pesan taksi online. Kita perlu segera berbelanja dan memasak. Perutku sudah berteriak-teriak minta diisi.”
__ADS_1