
“Bos, maafkan kami terlambat datang.” Ucap salah satu pengawal Andi.
“Kita bahas itu nanti. Sekarang, bantu aku mencari sesuatu untuk mengikat tangan laki-laki ini. Lalu, cari satpam gedung ini dan minta meraka kemari. Chayan, hubungi Kim untuk mengakses data rekaman kamera pengawas dari gedung ini.”
Andi tidak mau ada yang menghapus rekaman kamera pengawas dari gedung ini. Andi sudah melihat bahwa kamera pengawas di sekitar sini berfungsi dengan baik. Itu nanti akan menjadi bukti bahwa Andi adalah korban penyerangan, bukan pelaku.
Andi tidak mau ketika polisi tahu bahwa dirinya memiliki cukup banyak pengawal, mereka akan mengira Andilah yang memulai semua ini dan mengeroyok laki-laki ini dengan para pengawalnya.
“Baik bos.”
Dua puluh menit kemudian, polisi beserta ambulance datang ke lokasi. Laki-laki yang tadinya berniat membunuh Andi, kini sudah dibawa ke mobil polisi untuk dilakukan pemerikasaan. Sementara itu, Andi dibawa ke rumah sakit dengan memakai ambulance.
Darah mengalir cukup banyak dari lengan Andi. Untuk pertolongan pertama, satpam gedung ini telah membalut lengan Andi dengan perban. Meski begitu, itu tidak akan menghentikan pendarahan di lengan Andi.
Pemuda itu masih perlu menerima jahitan untuk dan penanganan lanjutan untuk luka di lengannya. Perlu juga dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah pisau itu mengenai tulangnya apa tidak.
Sampai sekarang, Andi belum menghubungi keluarganya. Ia tidak mau membuat mereka khawatir. Hanya Dimas saja yang mengetahui kejadian ini. Itu karena Dimas masih ada di kantor ketika kejadian itu terjadi.
Meski Andi tidak menghubungi keluarganya, mereka masih datang ke ruang IGD untuk mengecek keadaan Andi. Pemuda itu pun memberi tatapan tajam ke arah Dimas. Ia sudah meminta sepupunya ini untuk tidak memberi tahu mereka tentang hal ini, tetapi kenyataannya?
“Maaf aku sudah memberitahu Om dan Tante mengenai hal ini. Aku pikir mereka harus tahu hal ini. Lagipula, bukankah hari ini mereka memang sedang ada di Surabaya? Jadi mereka tidak perlu datang dari luar kota untuk menemuimu.”
“Aku akan buat perhitungan denganmu masalah ini nanti Mas Dim.” Ucap Andi.
Mendenar hal itu, Dimas segera pergi meninggalkan ranjang tempat Andi berada. Ia kemudian menyambut kedatangan Aripto dan Anisa.
Andi langsung melirik ke arah lengannya yang sekarang sudah selesai menerima jahitan. Untung saja saat ini Andi sudah selesai ditangani dan berganti pakaian. Jika tidak, pasti ibunya akan sangat khawatir melihat darah yang mengubah kemeja putih miliknya berubah menjadi merah.
“Andi bagaimana keadaanmu Nak?” Tanya Anisa tanpa bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
“Aku udah nggak papa kok. Kata dokter ini hanya luka ringan tidak telalu berat. Beberapa minggu saja aku pasti sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasanya.” Jelas Andi.
__ADS_1
“Nggak papa gimana? Kamu udah menerima tusukkan kayak gitu masih aja bilang nggak papa.”
“Dokter bilang juga nggak papa kok Bu. Lagian ini aku juga bisa langsung pulang, rawat jalan aja juga bisa. Jadi Ibu nggak perlu sekhawatir itu.” Ucap Andi mencoba menenangkan Anisa.
“Nggak kamu nggak boleh pulang dulu. Kamu harus nginep dulu di rumah sakit. Yah, Ayah setuju bukan dengan hal ini?” Tanya Anisa kepada Aripto yang sedari tadi hanya diam itu.
“Ya kita inapkan saja Andi di rumah sakit.”
Setelah Anisa kembali menghadap Andi, Aripto mengedipkan matanya kepada Andi untuk memberikan kode kepada anaknya. Andi tahu apa maksud Ayahnya itu. Ia perlu menuruti perkataan Ibunya untuk menjalani rawat inap agar perempuan itu lebih tenang dan tidak khawatir lagi.
…
“Jadi, bagaimana Kamu bisa mengalami kejadian ini?” Tanya Aripto kepada Andi setelah dia dipindahkan ke ruang rawat inap.
“Hah.” Andi mengehembuskan nafas panjang. “Aku sendiri juga tidak tahu Ayah. Laki-laki itu tiba-tiba saja datang dan berniat membunuhku. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu.”
Mendengar ucapan Andi, Aripto mengerutkan keningnya. Ia berpikir keras setelah mendengar ada yang berniat membunuh anaknya. Untung Anisa tidak berada di sini sekarang, jika dia berada di sini, pasti istrinya itu histeris mendengar ucapan Andi sekarang.
“Apakah Kamu mempunyai musuh yang membuat mereka sangat ingin membunuhmu?” Tanya Aripto.
Andi tidak bisa menemukan seseorang yang bisa ia curigai. Yang menyerang Andi tadi adalah seseorang yang memiliki kemampuan bertarung cukup tinggi. Itu hampir setara dengan kemampuan Ayahnya. Jadi, siapa pun itu yang mengirim pembunuh tadi adalah orang yang memiliki uang untuk membayarnya.
Jony sudah Andi coret dari daftarnya. Lalu keluarga Sanjoyo, Andi sudah menyerahkan semua bukti itu kepada keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Jadi, keluarga Sanjoyo tidak akan menemukan bukti keterlibatannya dalam masalah itu.
Jadi siapa yang melakukannya? Apa alasan? Apa tujuannya? Andi sendiri bingung memikirkan hal itu.
“Ayah, kita perlu memperketat keamanan anggota keluarga kita. Aku tidak mau siapa pun itu yang melakukan hal ini, menyerang keluarga kita karena gagal menghabisiku.”
“Ya Kamu benar. Bisa saja mereka memindahkan target mereka ke keluarga kita yang lain. Kita harus bersiap untuk kemungkinan itu terjadi.” Jawab Aripto.
Tidak lama kemudian, pintu kamar rawat inap Andi diketuk. Langsung saja Andi mempersilahkannya untuk masuk. Itu adalah salah satu translator yang Andi sewa untuk bekerjasama dengan pengawalnya yang lainnya. Jika Andi tidak salah ingat, nama dari anak buahnya ini adalah Satya.
__ADS_1
“Maaf Tuan Muda aku telah mengganggu waktu istirahatmu. Tetapi, ada hal penting yang perlu aku laporkan kepadamu.” Jelas Satya.
“Berita apa yang ingin Kamu laporkan?” Tanya Andi.
Jika Satya melaporkan hal ini sekarang dan tidak menunggu hingga besok pagi, ini berarti masalah yang akan dia laporkan cukup penting. Jadi Andi tidak keberatan waktunya terganggu.
“Pelaku penusukanmu yang sudah ditangkap polisi, sekarang ditemukan meninggal dunia.”
“Apa meninggal dunia? Bagaimana mungkin dia bisa meninggal seperti itu?” Tanya Aripto tidak percaya.
“Aku mendengar kabar bahwa setelah dibawa ke kantor polisi, pelaku dimasukkan ke dalam sel. Mereka tengah menunggu penyelidik untuk melakukan interogasi. Tetapi, ketika mereka kembali ke sel untuk melakukan interogasi, pelaku tersebut sudah ditemukan tidak bernyawa.”
“Dia menenggak racun yang sudah ditanam di salah satu giginya. Jadi, proses penyelidikan dihentikan oleh polisi karena pelaku sudah meningal. Mereka tidak bisa menemukan bukti lain yang menunjukkan keterlibatan orang lain pada kasus ini.” Jelas Satya.
“Terima kasih sudah memberitahu hal ini Satya. Kamu bisa pergi sekarang.” Ucap Andi.
“Sial.” Umpat Aripto beberapa saat setelah Satya pergi dari sana. “Sepertinya orang yang kita lawan ini cukup berat Nak. Mereka sudah mempersiapkan pasukan berani mati seperti ini. Jelas-jelas ini bukan orang sembarangan.”
“Musuh seperti apa sebenarnya yang sudah Kamu buat Nak?”
“Aku juga tidak tahu Ayah. Aku tidak memiliki musuh dendam kesumat sebesar itu sehingga membuat mereka harus mengirimkan pasukan berani mati seperti itu. Ayah, apakah ini ada hubungannya dengan sejarah keluarga kita?” Tanya Andi tiba-tiba.
“Ayah ingat bukan bahwa dulu Kakak dari Kakek Buyut Adipramana yaitu Kakek Buyut Arganta memiliki musuh besar yang ingin membunuh seluruh keluarga kita bukan? Mungkinkah ada dari mereka yang masih tersisa dan sekarang berniat kembali membalas dendam?”
Perkataan Andi membuat Aripto mengerutkan keningnya. “Tetapi, bukankah Kakek sudah mengatakan bahwa seluruh keluarga para penghianat itu sudah dihabisi? Jadi cukup tidak mungkin jika ini adalah orang yang sama bukan?”
“Itu sangat mungkin Ayah. Jaman dulu jumlah anggota keluarga tidak tercatat dengan baik seperti sekarang ini. Jadi mungkin saja ada satu dua orang yang lolos dalam pembalasan itu. Jika benar ada yang lolos tidak menutup kemungkinan pelakunya ada hubungannya dengan keluarga itu Ayah.”
“Ayah tahu sendiri bukan bahwa bisnisku sekarang sudah mulai bekembang pesat. Tidak hanya itu, para sepupuku semuanya juga sudah membuka bisnis mereka masing-masing dengan bantuanku. Pergerakan besar dari kita ini, jelas membuat keluarga kita semakin dikenal.”
“Dari dulu hingga sekarang, nama keluarga kita juga tidak memiliki perubahan bukan? Jadi, cukup mudah bagi siapa pun itu mengenali keluarga kita. Semua fakta ini membuatku berpikir bahwa pelakunya adalah mereka.” Jelas Andi.
__ADS_1
Kerutan dikening Aripto semakin dalam setelah mendengar penjelasan Andi. Semua penjelasan Andi itu memang masuk akal.
“Kalau begitu, aku akan pergi ke rumah induk untuk membicarakan kemungkinan ini dengan yang lain. Benar atau tidaknya kecurigaanmu ini, kita perlu bersiap untuk kemungkinan terburuk.”