
Selepas dari apartemen teratas gedung tersebut, Sang Penerus kembali ke ruangan khusus yang ada di basement. Ia perlu kembali berganti pakaiannya dan kembali memakai identitas aslinya.
Sebenarnya, identitasnya sebagai Sang Penerus adalah identitas curian yang diambil oleh Kakek Buyutnya. Kakek buyutnya mempersiapkan semuanya agar bisa memiliki identitas dari Sang Penerus.
Mulai dari kalung khusus yang memiliki banyak keunikan, hingga penambahan topeng dan jubah. Semua sudah disiapkan oleh Kakek Buyutnya demi memiliki indentitas dari Sang Penerus dan bisa mengelabui orang lain.
Itu semua karena Kakek Buyutnya ingin membalaskan dendam atas pembantaian keluarga mereka oleh seseorang yang mengatas namakan dirinya sebagai Sang Penerus. Nyawa dibalas dengan nyawa.
Dendam dari kakek buyutnya ini tidak akan bisa dengan mudah dilepaskan begitu saja. Sang Penerus itu sudah membantai keluarganya. Dari mereka yang sudah tua, mereka yang sudah dewasa, bahkan sampai mereka yang masih bayipun tidak diampuni.
Jika Kakek buyutnya dulu tidak sedang diasingkan di luar pulau, sudah pasti nyawanya juga tidak akan tertolong dan seluruh keluarganya pasti sudah punah. Ketika Kakek Buyutnya pulang ke Pulau Jawa, ia baru tahu bahwa keluarganya telah mengalami pembantaian.
Awalnya ia mengira keluarganya dibantai oleh penjajah, tetapi setelah menyelidiki ternyata itu adalah ulah dari Sang Penerus. Sejak saat itu, Kakek Buyutnya menyiapkan semua rencana ini. Ia mencari tahu siapa Sang Penerus itu sebenarnya.
Kakek Buyutnya juga mencari tahu siapa saja yang ikut membantu Sang Penerus dalam pembantaian keluarganya. Kakek Buyutnya bertekad membalaskan semua itu kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian. Keluarga yang berdarah dingin seperti itu sudah seharusnya dihancurkan.
Kali ini Sang Penerus palsu ini tidak akan langsung membantai keluarga mereka. Ia tidak mau sampai ada yang lolos dan membalasnya di kemudian hari. Mencabut rumput itu harus sampai akarnya, jika tidak rumput itu pasti akan tumbuh lagi.
Lebih baik memakan waktu lama hanya untuk mengawasi semuanya dan memastikan siapa saja yang menjadi anggota keluarga itu, daripada nanti ada yang terlewatkan. Setelah semua jelas, barulah Sang Penerus palsu ini bisa mehancurkan mereka semua.
Semua rencana ini sudah di susun sejak Kakek Buyutnya masih hidup, lalu menurun ke Kakeknya, lalu ayahnya, dan sekarang dirinya yang meneruskan.
Kakek Buyutnya membangun bisnis kecil dari nol untuk mempersiapkan pembalas dendaman ini. Sekarang bisnis mereka cukup besar dan bisa membantu mereka mempersiapkan pembalasan dendam ini.
Gedung apartemen yang sebelumnya Sang Penerus palsu ini kunjungi adalah gedung yang dibangun keluarganya untuk rencana ini. Di lantai paling atas dibangun apartemen yang lebih mirip sebagai istana sebagai tempat Sang Penerus dan bawahannya bertemu.
Selain itu, apartemen itu akan dipakai untuk mengelabuhi orang lain untuk membangun citra dari Sang Penerus palsu ini. Jika ada yang palsu sudah jelas ada yang asli bukan?
Dengan membangun citra dari Sang Penerus palsu seperti itu, maka orang lain mengetahui mengenai Sang Penerus tidak akan menaruh kecurigaan sedikitpun. Ini sangat baik bagi rencana mereka kedepannya.
Sang Penerus palsu ini sudah bertekad menyelesaikan dendam ini di generasinya. Semua rencana yang sudah disusun puluhan tahun ini sudah matang. Jadi, dirinya tinggal melakukan eksekusi saja.
__ADS_1
Semua ini dianggap matang karena delapan belas tahun lalu, mereka menemukan Sang Penerus yang baru. Bukankah dengan begini mereka bisa membalaskan dendam mereka dengan tuntas?
Sang Penerus itu mewarisi sesuatu dari Sang Penerus sebelumnya. Itu berarti, dia sangat pantas mewarisi pembalas dendaman ini.
Setelah dirinya berganti pakaian, nomor satu sudah menunggunya di aula ruangan tersebut. Dia sekarang juga sudah berganti memakai pakaian yang sebelumnya.
“Bos, kapan Kamu mau melaksanakan semua rencana kita? Aku rasa semua rencana yang kita susun sudah matang. Kita hanya tinggal menunggu keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo menekan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Setelah itu, kita bisa melaksanakan semua rencana kita.”
“Tetapi, kenapa Kamu menundanya Bos? Jika kita menundanya lagi, bisa jadi keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo akan curiga kepada kita. Bukankah Sang Penerus sebelumnya memberikan sebuah bisnis untuk mereka kelola? Sedangkan kita, hanya meminta uang mereka dan memberikan sedikit keuntungan.”
“Apa alasanmu menunda semua rencana kita Bos?” Tanya nomor satu kepada Sang Penerus palsu itu.
Mendengar perkataan bawahannya, Sang Penerus palsu itu mengerutkan keningnya.
“Siji, ingat posisimu. Yang bertindak sebagai Bos itu aku atau Kamu? Kenapa kamu mempertanyakan keputusanku seperti itu?”
“Apa Kamu mau memberontak dari keluargaku sekarang? Apa Kamu sudah mau bertindak sebagai Bos sekarang?” Tanya Sang Penerus palsu dengan nada dingin.
Siji langsung saja berjongkok dengan satu lututnya setelah mendengar nada bicara Bosnya yang berubah menjadi dingin. Kepalanya juga ia tundukkan. Sekarang ia tidak berani melihat ke arah bosnya itu. Ia tahu bahwa kali ini dirinya sudah salah dalam berucap.
“Maafkan aku Bos. Aku siap menerima hukuman atas kesalahan yang sudah aku buat.” Ucap nomor satu lirih.
Sang Penerus palsu itu kemudian memandangi nomor dua yang sekarang tengah berlutut menghandapnya. Ia sama sekali tidak risih mendapatkan perlakuan seperti ini. Ia sudah sering mendapatkan perlakuan seperti ini dari ketujuh anak buahnya.
“Setelah ini, kembali ke rumah utama dan hukum cambuk dirimu seratus kali!” Perintah Sang Penerus palsu.
Sang Penerus palsu itu memberikan hukuman dengan sangat mudah. Ia tidak mempertimbangkan bahwa seratus cambukan itu cukup berat diterima oleh seseorang. Baginya ini adalah hukuman yang sangat pantas diterima oleh nomor dua karena ucapannya tadi.
Sang Penerus palsu ini malah berpikir untuk memotong lidah dari nomor satu agar tidak lagi salah bicara. Sayangnya ia masih butuh berkomunikasi dengan nomor satu. Jadi ia mengurungkan hukuman itu.
“Baik Bos. Terima kasih sudah memberikan hukuman untukku.” Ucap nomor dua.
__ADS_1
Nomor dua terlihat tidak akan memprotes Sang Penerus palsu mengenai hukumannya. Ia juga tidak meminta agar hukumannya diperingan. Jika dirinya melakukannya, bukannya tambah ringan malahan hukumannya akan diperberat.
Itu adalah bagian dari pelatihan yang mereka terima. Sejak nomor satu mengabdikan diri kepada keluarga Sang Penerus palsu ini, tubuhnya sudah bukan lagi menjadi miliknya. Bahkan nyawanya juga ada di tangan Sang Penerus palsu ini. Jadi, mau tidak mau ia harus menerima hukuman ini.
Seperti kata nomor satu, sebenarnya rencana besar mereka akan dilaksanakan sebulan lagi. Namun, Sang Penerus tiba-tiba mengalami keraguan. Ia belum sepenuhnya yakin rencana mereka akan berhasil jika dilaksanakan sekarang.
Sang Penerus palsu ingin memastikan semuanya dengan agar dirinya tidak mengalami kegagalan. Ia merasa ada faktor penting lainnya yang terlewatkan. Jadi, ia tidak mau tergesa-gesa melaksanakan rencana mereka.
Bukankah mereka sudah menunggu puluhan tahun untuk melakukan semua rencana ini? Jadi, tidak ada salahnya mereka menunggu beberapa bulan lagi, untuk bisa mencapai kemenangan dengan sekali serang bukan?
“Sekarang Kamu bisa bangun.” Ucap Sang Penerus.
Mendengar dirinya sudah diperbolehkan bangkit dari posisi berlututnya, nomor dua langsung saja berdiri. Ia kemudian membungkukkan badannya sembilan puluh derajat ke arah Sang Penerus palsu.
“Terima kasih Bos.”
Sang Penerus palsu hanya mengangguk pelan, merespon ucapan nomor dua.
“Setelah ini, antar aku ke apartemen tempatku tinggal. Ke depannya, jika ada sesuatu yang ingin kamu laporkan, Kamu hubungi aku lewat telepon saja. Jangan langsung muncul di depanku. Aku tidak mau ada yang mencurigai identitas asliku sekarang. Apa kamu mengerti?”
Dengan identitas aslinya, Sang Penerus palsu berniat mendekati beberapa targetnya. Ia ingin mengetahui secara langsung mengenai mereka. Hal ini ia lakukan untuk mengenal mereka lebih dekat, Sang Penerus palsu ini bisa melihat apa yang kurang dari rencananya.
Dengan begitu, itu akan menghilangkan keraguan yang Sang Penerus palsu miliki. Jika keraguannya hilang, rencananya sudah bisa dilaksanakan sesegera mungkin.
“Baiklah Bos.”
Keduanya kemudian pergi dari ruangan tersebut. Yang pertama kali keluar adalah nomor satu. Ia perlu melihat keadaan luar. Meskipun sekarang ini mereka berada di tempat yang cukup sepi, tetapi itu tidak menutup kemungkinan ada orang lain di parkiran.
Jika ada yang melihat mereka keluar dari ruangan gudang itu, bisa jadi akan ada orang yang penasaran dan mengecek apa yang ada di sana. Mereka tidak mau keberadaan ruang rahasia itu diketahui orang lain.
Mengirim seseorang untuk menjaganya juga sama saja. Itu malah lebih menarik perhatian orang lain untuk mencari tahu. Jadi, nomor satu sekarang memastikan tidak ada orang lain yang melihat mereka.
__ADS_1
Setelah memastikan keadaan aman, keduanya kembali ke mobil dan meninggalkan parkiran gedung apartemen tersebut.
Sebenarnya, tidak hanya nomor satu saja yang mendapatkan kemarahan dari bosnya. Di lain tempat, ada seseorang yang kini juga mengalami hal yang sama. Tertunduk diam menunggu bosnya memarahinya.