Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 159 Berita Duka


__ADS_3

Setelah berbincang banyak dengan Rosalinda mengenai rencananya mempolisikan Hermawan, Andi kemudian mengurus masalah akomodasi perempuan itu. Sebelum perempuan itu berangkat ke luar negeri, sementara dia akan tinggal di apartemen milik Andi.


Andi juga akan mengirim salah seorang asisisten rumah tangga di rumah Surabaya untuk menemani Rosalinda. Selain membuatkan makanan untuk perempuan itu, asisten rumah tangga yang Andi kirim juga akan membantu Rosalinda membeli beberapa keperluannya.


Tidak hanya asisten rumah tangga saja yang Andi kirimkan untuk Rosalinda. Pemuda itu juga mengirimkan seorang pengawal wanita ke apartemennya. Dengan adanya pengawal itu, maka Andi bisa tenang meninggalkan Rosalinda.


Seandainya Hermawan mendatangi apartemennya, pasti pengawalnya itu bisa mengatasi masalah tersebut.


Sekarang Andi perlu mendatangi salah satu kafe miliknya. Hari ini ketiga kafenya yang ada di Surabaya resmi dibuka. Meski tidak harus, Andi tetap datang ke sana sekarang. Lagi pula dirinya tidak memiliki kesibukan apa pun.


Pembukaan kafe yang sekarang lebih ramai daripada kafe miliknya yang ada di kota tempat tinggalnya. Hal ini karena Andi memberikan banyak promo di minggu awal pembukaan. Apalagi tempat ini dekat dengan kampus. Jelas saja banyak yang mendatangi.


Sekarang saja kafenya terlihat cukup penuh di awal pembukaan. Meski tidak penuh, tetapi sebagian besar kursi sudah ada yang menempati. Di depan kafe sudah ada beberapa pengawal ibunya yang bersikap layaknya pengunjung kafe.


Yang berada di luar adalah pengawal ibunya yang berjenis kelamin laki-laki. Andi yakin sekarang pengawal ibunya yang perempuan berjaga di dekat ibunya. Setelah mengobrol singkat menanyakan keadaan, Andi kemudian masuk ke dalam kafe.


Memasuki kafe tersebut, Andi mendapati ibunya yang tengah sibuk memberikan beberapa istruksi keapda para pekerja kafe. Meski terlihat ramai, sepertinya pelayanan di sini tidak terlalu kualahan melayani para pengunjung kafe.


“Bagaimana perkembangannya Bu? Apakah semuanya baik-baik saja?” Tanya Andi kepada ibunya.


“Semua baik-baik saja. Sampai sekarang, tidak ada kendala apapun.” Jelas Anisa.


“Di hari pertama pengunjungnya cukup banyak ya Bu.”


“Ini semua karena promo yang kamu lakuin. Entar kalo promonya abis juga nggak sebanyak ini yang datang. Kayak kafe kita ssebelumnya. Semasa promo, banyak sekali yang datang. Tetapi, setelah promo berakhir, pengunjungnya tidak terlalu banyak.”


“Meski begitu, keuntungan kita masih banyak kok. Seharinya masih dapet untung bersih lima ratus ribu hingga satu juta lima ratus sebulannya. Lumayan lah keuntungan sebanyak itu.” Jelas Anisa.


“Bagaimana kalau kita buka cabang baru lagi Bu? Kalo yang di sini berhasil, kita harus buka cabang di kota lain. Jika bisa, kita buka cabang di seluruh kota besar di negeri ini. Cabangnya di taruh di dekat kampus-kampus besar.”

__ADS_1


“Dengan begini, maka pengunjung kafenya akan lebih banyak. Bagaimana Bu? Kita buka cabang lagi?” Sekarang Andi memiliki uang yang cukup banyak. Jadi untuk membuka banyak cabang kafe seperti sekarang ini tidak terlalu memberatkan Andi.


Untuk membuka sebuah kafe, setidaknya Andi memerlukan uang sepuluh hingga dua puluh milyar. Hal itu digunakan untuk membeli ruko, melakukan renovasi dan segala peralatan lainnya. Dengan pendapatannya dari sistem, Andi sanggup membuka sepuluh hingga dua puluh kafe lagi.


“Ah kamu ini. Yang ini aja belom kelihatan hasilnya gimana. Kok kamunya terburu-buru pengen buka cabang baru lagi. Ikuti kata pepatah, alon-alon asal kelakon. Pelan-pelan tapi pasti. Jangan terburu-buru seperti itu.”


“Kalo emang mau buka cabang, ya lihat dulu pendapatan dari ketiga kafe yang baru kita buka. Kalo beneran bagus, kita ikuti saranmu tadi. Membuka cabang baru di dekat kampus-kampus besar. Kalo keuntungannya ga bagus, lebih baik jalanin aja yang sekarang.” Jelas Anisa.


“Jika memang seperti itu, ya udah. Kita tunggu hasilnya dari ketiga kafe ini aja.”


“Ya udah aku nurutin maunya ibu aja. Tapi meski kita nggak akan buka cabang dalam waktu dekat ini, aku tetap akan nyuruh orang buat survey lokasi. Nggak papa kan Bu? Jadi, ketika kita sudah mutusin buat buka cabang, kita tahu mana lokasi yang bagus.”


Andi kemudian mengobrol dengan Anisa mengenai arah perkembangan kafe mereka kedepannya. Andi belum perlu mempersiapkan maknan baru untuk kafenya.


Mungkin dua minggu lagi Andi baru akan mulai memperkenalkan resep makanan baru untuk dijual di kafenya. Terlalu banyak makanan yang tersedia di menu justru malah membuat pegawainya kualahan. Untuk sekarang makanan di kafenya sudah cukup.


Ketika Andi tengah asik mengobrol dengan Ibunya, tiba-tiba ponsel perempuan itu berbunyi. Langsung saja Anisa mengangkat panggilan telepon tersebut. Tidak lama setelah Anisa menerima panggilan itu, Andi bisa melihat wajah Anisa yang tiba-tiba memucat.


“Ibu kenapa? Siapa yang telepon itu Bu?” Tanya Andi.


“Andi, kita perlu kembali pulang.” Ucap Anisa dengan suara yang menahan tangis.


“Memangnya kenapa Bu? Ada apa sehingga kita perlu pulang sekarang?”


Melihat Anisa yang seperti ini membuat Andi semakin khawatir. Apa yang membuat ibunya terlihat pucat dan bersedih seperti ini? Sebenarnya apa isi panggilan barusan?


“Kakek Ayahmu, Kakek Buyutmu, dia meninggal. Kita perlu kembali sekarang.” Jawab Anisa dengan sedikit terbata-bata.


Andi cukup kaget mendengar hal ini. Terakhir kali dirinya bertemu dengan Kakek Buyut Adipramana, laki-laki itu terlihat sehat bugar. Ia tidak terlihat seperti sedang sakit. Itu adalah dua minggu yang lalu. Dan sekarang, ibunya mengatakan bahwa Kakek Buyut Adipramana meninggal?

__ADS_1


Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Andi tidak mendengar kabar bahwa laki-laki itu jatuh sakit. Bagaimana mungkin Kakek Buyut Adipramana meninggal secepat ini?


“Kita perlu pulang sekarang.”


Ucapan Anisa membawa Andi kembali kepada kenyataan. Segera saja ia meminta para pengawalnya menyiapkan mobil dan bersiap kembali ke kota tempat tinggalnya. Dirinya perlu menghadiri pemakaman Kakek Buyut Adipramana sekarang.


Andi dan Anisa duduk di dalam mobil yang membawa mereka pulang dalam keheningan. Tidak ada seorang pun yang berbicara dalam perjalanan pulang tersebut. Andi sibuk mengingat kenangan miliknya dengan Kakek Buyut Adipramana.


Hingga dia masuk SMP, tiap akhir pekan Aripto selalu membawanya berkunjung ke rumah Kakek Buyut Adipramana tiap akhir pekan. Jadi, sekarang ketika mengetahui bahwa Kakek Buyut Adipramana meninggal, Andi merasa sangat terpukul.


Dalam ingatan Andi, sosok Kakek Buyut Adipramana adalah sosok yang sangat dihormati. Ia bersikap cukup adil kepada anak, cucu dan cicitnya. Meski pun Kakek Buyut Adipramana keras dalam didikannya, tetapi beliau sangat disayangi oleh keturunannya.


Andi juga begitu. Sejak Andi kecil, dalam ingatannya Kakeknya sudah tinggal bersama dengan Kakek Buyut Adipramana. Jadi, setiap dirinya mengunjungi Kakek Haryanto, dirinya akan selalu bertemu dengan Kakek Buyut Adipramana.


Ketika sampai di kota mereka tinggal, Andi dan Anisa tidak langsung menuju ke kediaman Kakek Buyut Adipramana. Mereka masih perlu berganti pakaian lebih dulu. Tidak hanya itu, Amira dan Arfan juga perlu ikut.


Sebelumnya Andi sudah menghubungi kedua adiknya itu. Jadi ketika Andi dan Anisa sampai di rumah, keduanya sudah bersiap. Aripto sudah berangkat lebih dulu. Jadi, jika Andi dan yang lainnya sedikit terlambat datang tidak terlalu masalah.


Setelah bersiap, Andi dan keluarganya berangkat pergi ke kediaman Kakek Buyut Adipramana. Sesampainya di sana, belum banyak keluarga yang datang. Hanya anak-anak Kakek Buyut Adipramana dan beberapa cucunya yang tinggal di kota yang sama saja yang sudah datang. Yang lainnya belum datang karena mereka tinggal di kota yang berbeda.


Di ruang tamu rumah itu Andi bisa melihat tubuh Kakek Buyut Adipramana yang sudah terbujur kaku ditutupi kain. Di sini barulah Andi yakin bahwa Kakek Buyut Adipramana sudah tiada.


Orang yang memberitahunya mengenai impian leluhurnya, orang yang memintanya mewujudkan impian leluhurnya, orang tersebut sudah tidak ada lagi di dunia ini. Andi akan mengingat semua nasihat yang sudah Kakek Buyut Adipramana berikan kepadanya.


‘Kakek Buyut, aku berjanji akan mewujudkan impian leluhur kita. Jadi, Kakek Buyut bisa pergi dengan tenang. Ceritakan kepada leluhur kita bahwa ada keturunan mereka yang akan membuat sebuah kerajaan bisnis yang menguasai dunia.’ Gumam Andi dalam hati.


Beberapa orang dengan mata sembab berkumpul di ruang tamu rumah tersebut untukk berbagi kesedihan mereka. Andi ikut larut dalam kesedihan kehilangan sosok Kakek Buyut Adipramana. Satu persatu keturunan Kakek Buyut Adipramana datang.


Andi dengar dari pembicaraan paman-pamannya, Kakek Buyut Adipramana akan dimakamkan sore ini. Semua anak-anaknya sudah ada di sini. Jadi, tidak perlu menunggu lagi. Untuk cucu dan cicitnya, mereka tidak perlu ditunggu.

__ADS_1


Kakek Buyut Adipramana akan dimakamkan di pemakaman keluarga yang letaknya tidak jauh dari rumah ini. Beliau akan dimakamkan si sebelah mendiang istrinya, sesuai wasiat yang dulu beliau ucapkan. Andi membantu apa pun yang bisa ia lakukan dalam menyiapkan pemakaman Kakek Buyut Adipramana.


__ADS_2