Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 150 Pulang


__ADS_3

“Aku pulang.” Ucap Andi ketika memasuki rumah mewah orang tuanya.


Dibelakangnya, para pengawalnya keluar satu persatu dari dalam bus. Karena mereka berjumlah lebih dari lima puluh orang, Andi meminta Sinta menjemput mereka menggunakan bus.


Sebagian dari pengawalnya untuk sementara akan tinggal di hotel. Sebagaian lagi berjaga di rumah. Tempat tinggal mereka masih dalam proses pembangunan. Jadi, tidak semuanya akan berada di rumah orang tuanya.


Sekarang ini, para pengawalnya mulai menurunkan beberapa kardus berisikan kamera pengawas yang ia beli dari Spanyol. Meski Andi bisa membelinya di Indonesia, tetapi ia lebih memilih membeli di Spanyol. Para pengawalnya bisa membantunya memilih merek terbaik yang selama ini dipakai sebagai kamera pengawas.


“Eh Kakak udah pulang? Kok nggak bilang sih. Tahu gitu aku ikutan jemput di bandara.” Ucap Amira yang berlari dari dalam rumah.


“Nggak usah dijemput juga nggak papa. Kakak bawa rombongan besar.” Ucap Andi sembari menunjuk ke arah pengawal di belakangnya. “Mereka nanti akan menjaga rumah kita. Sebagian akan menjadi pengawalmu.”


“Kok banyak banget Kak?” Tanya Amira setelah melihat jumlah orang yang ada di sana.


Ada puluhan orang yang ada di sana. Amira sedikit heran kenapa Andi menyewa banyak sekali pengawal. Amira tahu bahwa status keluarga mereka sekarang berubah. Mereka sudah menjadi keluarga kaya sekarang, dan membutuhkan keamanan untuk keluarga mereka.


Tetapi, tidak perlu sebanyak ini juga bukan pengawalnya? Beberapa orang kaya bahkan ada yang hanya mengandalkan keamanan rumah mereka pada dua orang satpam. Buktinya mereka masih aman-aman saja. Tetapi keluarga mereka menggunakan orang sebanyak ini. Ini sedikit berlebihan bagi Amira.


“Ini untuk keselamatan kalian. Bukankah aku sudah bilang bahwa kalian akan mendapatkan enam orang pengawal? Pengawal sebanyak itu nanti jika sudah dikurangi oleh pengawal pribadi kalian, pasti juga tersisa sedikit.”


“Tetapi semuanya orang asing. Apakah itu tidak mahal membayar semua gaji mereka?”


Amira memang tahu bahwa kakaknya itu pergi ke luar negeri bersama dengan Brian. Amira kira kakaknya itu melakukan perjalanan bisnis. Jadi ia cukup kaget sekarang ketika tahu bahwa kakaknya pergi ke Spanyol untuk mencari pengawal.


“Semahal apa pun itu, asal kalian selamat aku akan tenang. Aku tidak peduli pengawal yang aku sewa terlalu banyak atau tidak. Bahkan aku tidak peduli membuang uang ratusan juta jika kalian bisa aman. Dengan kalian aman, aku bisa tenang dalam menjalankan bisnisku.” Jawab Andi.


“Tetapi Kak, aku tidak pandai bahasa asing. Aku yakin Arfan, Ibu dan Ayah juga tidak paham. Bagaimana cara kami berkomunikasi dengan mereka?”


“Itu sudah aku pikirkan. Besok akan ada sepuluh orang translator yang akan datang. Mereka yang akan membantu kalian berkomunikasi dengan para pengawal. Setiap dari kalian akan mendapatkan satu translator. Sisanya akan siap sedia di rumah.”


“Tidak hanya itu, para translator itu juga akan membantu kalian mempelajari bahasa asing. Terutama bahasa inggris. Jadi, jangan khawatir dengan kendala bahasa.” Jelas Andi.


“Oh ya Kak, semua mobil yang Kakak pesan sudah datang. Semua sudah ada di garasi. Mobilnya keren-keren Kak. Aku jadi pengen belajar nyetir mobil.” Jelas Amira.

__ADS_1


Bagus jika semua mobil pesanannya sudah tersedia. Dengan begini, para pengawal kedua adiknya dan juga ibunya, bisa langsung bekerja.


“Nanti kalo kamu udah berumur tujuh belas tahun dan bisa dapet SIM, salah satu pengawal akan mengajarimu menyetir.”


Setelah mengobrol sebentar dengan Amira, Andi kemudian membagi tugas kepada seluruh pengawal. Ia juga membagikan beberapa kamar untuk mereka. Sekarang ini, tugas dari para pengawal itu adalah memasang kamera pengawas di setiap sudut rumah.


Baik di luar maupun di dalam rumah. Andi tidak mau sampai ada titik buta dari rumahnya. Ini untuk mencegah kejadian buruk yang mungkin saja terjadi di kemudian hari.


Setelah memberikan banyak instruksi, Andi membersihkan diri. Ia berniat mencari tahu keadaan temannya setelah ini. Dari sekian banyak kenalannya yang ia hubungi, ada tiga orang yang tidak membalas pesannya.


Ketiga orang tersebut adalah Arya, Widya dan Rosalinda. Karena sekarang Andi sudah berada di Indonesia, ia berniat mencari kabar mereka.


Andi cukup heran kenapa Arya dan Widya tidak bisa dihubungi secara bersamaan. Jika salah satu dari mereka bisa dihubungi, maka Andi bisa langsung bertanya kepada mereka mengenai kabar yang lain. Sekarang, Andi perlu mencari tahu kabar mereka dengan mendatangi toko milik Gayatri.


Andi harap dirinya bisa bertemu dengan kakak dari Widya di sana. Jika Andi tidak bisa menemukan Gayatri di toko miliknya, maka ia akan mencari tahu ke rumahnya. Setelahnya, Andi bisa sekalian menanyakan kabar Arya.


Mungkin mereka mengetahui kabar pemuda itu. Bagaimana pun juga, keluarga Widya dan keluarga Arya merupakan dua dari empat keluarga besar. Jadi, sedikit banyak mereka pasti tahu kabar yang lainnya.


Untuk Rosalinda, cukup sulit bagi Andi menemukan perempuan tersebut. Ia hanya tahu nomor telfon dari perempuan itu. Andi sama sekali tidak mengetahui di mana perempuan itu tinggal. Baik rumahnya yang terletak di kota yang sama dengannya. Atau kosannya di Surabaya.


*****


Dengan disupiri Marcus, orang yang ia pilih sebagai pengawal pribadinya, Andi pergi menuju ke Surabaya. Dirinya sampai di kota itu ketika langit mulai menggelap. Langsung saja Andi meminta Marcus membawanya ke mall di mana toko Gayatri berada.


Untung saja mobil miliknya dilengkapi GPS. Jadi, Marcus tidak terlalu kesulitan membawa Andi ke Surabaya meski pun ini adalah kali pertama laki-laki itu menyetir di Indonesia.


“Apakah Mbak Gayatri ada?” Tanya Andi kepada salah satu pegawai toko ponsel milik Gayatri.


“Mas kenal dengan Bos saya?”


“Ya, aku kenal dengan Mbak Gayatri. Pemilik toko ponsel ini.”


“Kenapa nggak dihubungi langsung aja?” Tanya pelayan toko tersebut. Jika orang di depannya ini benar-benar mengenal bosnya, kenapa tidak menghubungi langsung saja?

__ADS_1


“Aku nggak punya nomernya. Bisa minta nomernya nggak?”


Setelah mendengar perkataan Andi, pelayan toko tersebut menatap Andi dengan curiga. Mana ada orang yang saling kenal tidak mengetahui nomor telfon kenalannya? Itu cukup mencurigakan.


Melihat pelayan toko tersebut mulai curiga, Andi langsung mengambil sebuah tindakan. “Kalau nggak boleh minta nomernya, Mbak tolong hubungi Mbak Gayatri aja. Bilang Andi yang pernah makan malam di rumahnya mencarinya.”


Pelayan toko tersebut menyampaikan pesan dari Andi kepada atasannya. Ia tidak tahu pemuda bernama Andi tersebut benar-benar mengenal Gayatri atau hanya membual. Tetapi ia perlu memberi tahu hal ini kepada atasannya. Setidaknya mereka perlu menanyakan kepada Gayatri apakah perempuan itu benar-benar mengenal Andi atau tidak.


Tidak lama kemudian, penanggung jawab toko tersebut menghampiri Andi. Di tangannya, terdapat sebuah ponsel yang masih terhubung dengan sebuah panggilan. Sekilas Andi melihat nama yang tertera di sana. Bos.


“Maaf Tuan Muda, Bos saya ingin berbicara dengan Anda.” Ucap penanggung jawab toko tersebut.


“Baiklah.” Jawab Andi sembari mengambil ponsel yang di serahkan oleh penanggung jawab toko tersebut.


“Hallo.” Sapa Andi.


“Hallo Andi. Ada perlu apa kamu mencariku?” Tanya Gayatri.


“Aku ingin mencari Widya Mbak. Aku mencoba menghubungi dia tetapi nggak bisa.”


“Ah kamu mencari Widya rupanya. Aku kira ada apa. Sejak hari minggu kemarin Widya berada di Bali. Dia saat ini tengah menghadiri pesta ulang tahun sepupu kami. Dia sekalian liburan. Jadi kemungkinan hari Jumat dia baru pulang.”


“Mobil yang ditumpangi Widya kacanya dipecahkan oleh seseorang. Mereka mengambil tas serta ponsel milik Widya jadi Kamu tidak bisa menghubunginya. Apakah kamu perlu menghubungi Widya sekarang? Aku bisa memberikanmu nomor sementara yang dipakai oleh Widya.”


“Baiklah Mbak, tolong berikan nomor yang dipakai Widya sekarang Mbak. Tapi Mbak, apakah Widya-nya baik aja?”


“Dia nggak kenapa-napa kok. Waktu itu mobilnya lagi parkir ketika mereka ke mini market.” Jawab Gayatri.


“Mbak Gayatri tahu keberadaan Arya juga nggak Mbak? Dia aku hubungi juga nggak bisa.”


“Hah.” Andi mendengar Gayatri menghembuskan nafas panjang.


“Entah ini kebetulan atau apa, Arya yang saat itu satu mobil dengan Widya juga meninggalkan ponselnya di mobil. Jadi, ponsel miliknya juga hilang.”

__ADS_1


Mendengar jawaban Gayatri, Andi langsung mencoret nama kedua orang tersebut sebagai kenalannya yang tertimba masalah. Sekarang tinggal menyisahkan nama Rosalinda. Andi perlu mengecek keadaan perempuan itu.


Tetapi, Andi tidak bisa melakukannya sekarang. Langit saat ini sudah gelap. Jelas tidak banyak mahasiswa di kampus Rosalinda. Andi hanya bisa mengecek perempuan itu di kampusnya besok pagi. Sekarang lebih baik dirinya pulang ke rumahnya yang ada di Surabaya dan beristirahat.


__ADS_2