
Jangan lupa like, vote, komen, dan tambahkan ke favorit, selamat membaca
---
“Ini adalah rapat terakhir yang aku pimpin di bulan ini. Kedepannya, Pak Purnomo yang akan memimpin rapat mingguan. Tidak hanya itu, mulai hari ini, Pak Purnomo resmi menjadi direktur perusahaan ini.” Ucap Andi ketika membuka rapatnya.
“Baiklah, sekarang kita mulai rapat kali ini. Tolong sampaikan hasil kerja kalian seminggu ini. Dimulai dari Pak Mario.”
“Baiklah terima kasih Mr. A atas waktunya. Selama seminggu terakhir, grafik pengunjung dari website kita naik secara derastis tiap harinya. Ini berarti perusahaan kita mulai dikenal oleh masyarakat.”
Andi mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan Mario. Ini berarti pemasaran yang dilakukan oleh Danang berjalan lancar. Lihat saja website perusahaan mereka mulai banyak di kunjungi. Kemudian Andi meminta Danang memberikan laporannya.
“Kita sudah bekerja sama dengan sebuah studio untuk membuat iklan dan ditayangkan di Ourtube. Uang yang kita keluarkan tidak sia-sia dengan seluruh exposure yang kita dapatkan.”
Di minggu rapat kemarin Andi memang sudah melihat video tersebut. Itu hanyalah video 2 iklan dua menit. Tetapi dengan itu mereka sudah bisa menarik banyak peminat. Cukup sebanding juga dengan uang yang dikeluarkan untuk membuat video tersebut.
“Lalu bagaimana dengan Bu Diana?” Tanya Andi kepada manajer HRD perusahaannya.
“Sejauh ini saya sudah menanyakan kepada seluruh divisi yang ada. Kesemuanya membutuhkan karyawan baru untuk membantu tugas mereka. Karena Pak Purnomo sekarang sudah menjabat sebagai direktur, kita juga perlu tim analisis untuk menilai semua proposal yang masuk. Setidaknya bulan depan akan ada dua puluh hingga tiga puluh karyawan baru yang kita butuhkan.” Jelas Diana.
“Kalau begitu, sekarang Bu Diana sudah bisa memulai perekrutan karyawan baru. Coba bagikan lowongan kerja apa saja yang dibutuhkan. Pak Mario juga bisa mencantumkan lowongan kerja itu pada website kita.”
“Ya kami mengerti.” Ucap Diana dan Mario bersamaan.
“Lalu bagaimana dengan keuangan kita Bu Mila?”
Minggu lalu dirinya memang sudah mengirimkan lima ratus juta ke rekening perusahaannya. Meski terlihat banyak, tetapi Andi yakin itu masih kurang untuk membiayai operasional perusahaan hingga bulan depan.
Sekarang ini Andi perlu membagi uangnya dengan baik. Masih ada dana yang perlu ia sisihkan untuk menjalankan bisnisnya dan juga untuk berdonasi. Jadi, Andi ingin tahu berapa besar uang yang perlu ia sisihkan untuk perusahaannya.
“Untuk operasional bulan ini, dana kita cukup Mr. A. Saya juga memperhitungkan ini masih cukup hingga akhir bulan depan. Itu juga sudah termasuk dengan gaji dari karyawan baru perusahaan kita. Tetapi, jika kita akan berinvestasi ke para pebisnis yang sudah mengirimkan proposal kepada kita tentu saja itu kurang.”
“Ah jadi itu hanya cukup untuk operasional sampai bulan depan rupanya. Lalu Pak Purnomo, bagaimana dengan proposal yang sudah masuk? Apakah sudah ada yang lolos seleksi dan pantas kita berikan suntikan dana?”
“Tentu Mr. A. Selama semingu ini, sudah ada dua puluh proposal yang masuk. Saya cuma ambil tiga yang terbaik untuk saat ini.” Setelah berucap demikian, Purnomo menyerahkan tiga buah proposal kepada Andi.
__ADS_1
Andi pun membaca satu persatu proposal tersebut. Proposal yang pertama dikirim oleh seorang pengusaha mebel. Ia ingin bengkelnya membuka toko online di market place. Untuk melakukan hal itu, pengusaha ini perlu membuat beberapa stok barang siap kirim untuk awalan.
Meski ia bisa melakukan sistem pre order, tetap saja ia masih butuh modal besar untuk membeli kayu dan bahan lainnya. Pengusaha mebel itu juga menyertakan model mebel yang mereka punya. Dari gambar tersebut, Andi tahu bahwa mebel yang mereka buat adalah barang yang akan memiliki cukup banyak peminat.
Meski bukan di dalam negeri, mereka bisa mengekspornya ke luar negeri. Jadi, prospek dari bisnis pengusaha ini cukup bagus. Lalu, Andi melihat dana yang diinginkan oleh pengusaha ini. Dua ratus juta. Bukan angka yang kecil juga.
Lalu, Andi membaca proposal kedua. Itu dikirim oleh pebisnis pakaian. Ia ingin memperluas cakupan pasar dan model pakaian yang dimilikinya. Melihat bagaimana kinerja dari bisnis pakaian ini selama beberapa bulan terakhir, Andi tahu bahwa merek ini sudah cukup dikenal oleh masayarakat.
Proposal kedua ini juga mmeberikan Andi prospek bisnis yang bagus. Pebisnis pakaian ini meminta dana seratus lima puluh juta kepada perusahaan Andi. Dengan yang sebelumnya berarti sudah tiga ratus lima puluh juta.
Lalu, yang ketiga adalah sebuah club game online. Andi cukup kaget melihat Purnomo meloloskan proposal mengenai club game online ini. Ia kemudian menanyakan kepada Purnomo mengenai hal itu.
“Bisnis game sekarang sudah mulai besar. Hal itu membuat banyaknya perhelatan kompetisi game online. Sekarang mereka sudah tidak dianggap main-main tetapi bisa dikatakan sebagai olahraga. Jika seseorang bisa membeli saham dari club bola, kenapa kita tidak bisa berinvestasi kepada club game online?”
“Aku sudah menyelidiki mengenai club ini. Mereka cukup bagus manajemennya clubnya. Meski mereka belum pernah menang dalam kompetisi, tetapi mereka beberapa kali masuk ke perempat final. Jadi, tidak ada salahnya menyuplai dana kepada mereka.”
“Lagi pula, kita bisa juga menganggap ini sebagai sarana promosi kita. Kita bisa meminta mereka untuk mencantumkan nama perusahaan kita di kaos mereka. Bukankah dengan begitu, orang-orang akan lebih mengenal kita, ketika club ini mengikuti kompetisi?.” Jelas Purnomo.
Apa yang dikatakan Purnomo tidak ada yang salah. Mungkin dengan berinvestasi kepada club game, mereka tidak akan mendapatkan keuntungan secara langsung. Tetapi, jika menganggap mereka adalah banner promosi berjalan, itu tidak terlalu buruk.
Andi kemudian mengecek berapa nominal yang diingkan oleh club game ini. Dua ratus lima puluh juta. Dengan yang sebelumnya, berarti total enam ratus juta. Saldo di rekeningnya saat ini tidak sampai lima puluh juta. Jadi, ia perlu mengumpulkan dana terlebih dahulu untuk semua ini.
Setelah Andi memberikan instruksi lainnya, Andi kembali ke ruangannya. Ia memanggil sekertarisnya Sinta untuk masuk ke ruangannya.
“Aku membunyai tugas untukmu.”
“Apa itu Mr. A?”
“Carikan aku sebuah perkantoran yang di sewakan. Kalau gedung ini memilikinya, lebih baik di gedung ini. Jika tidak, carikan yang terdekat dengan gedung perkantoran ini.”
“Apakah Anda akan memindahkan kantor kita Mr. A?”
Mendengar pertanyaan Sinta, Andi terdiam seseaat. Meski kantornya saat ini cukup luas, tetapi dengan adanya karyawan baru, jelas kantor yang ia sewa sekarang ini akan sempit dengan adanya karyawan baru nantinya.
“Kalau begitu, carikan aku dua kantor yang disewakan yang cukup luas. Salah satunya harus di gedung ini yang lainnya bisa di tempat lain. Aku akan membuka perusahaan baru jadi aku memerlukan kantor baru untuk perusahaanku itu.” Jelas Andi.
__ADS_1
Sinta cukup kaget mendengar penuturan Andi. Bukannya perusahan ini masih cukup baru? Dan lagi, perusahaan ini belum memberikan Andi keuntungan sama sekali. Ibarat bayi, ini baru belajar merangkak.
Tetapi, kenapa Andi berani sekali membuka perusahaan baru? Apakah Andi tidak takut keuangan perusahaannya akan berantakan jika ia melakukannya? Sependek pengetahuannya, Andi adalah satu-satunya orang yang mensuplai uang perusahaan. Bisakah pemuda ini membiayai dua perusahaan sekaligus?
Meski Sinta memiliki banyak keraguan mengenai keputusan Andi, ia tidak bisa mengutarakannya begitu saja. Ini adalah salah satu hal yang diminta Andi ketika menerimanya sebagai sekertaris. Ia tidak boleh memepertanyakan keputusan yang dibuat oleh Andi.
‘Anak orang kaya mah bebas. Abis bikin satu perusahaan, suruh yang lain urusin, sekarang mau bikin perusahan baru. Uang kayaknya ga jadi masalah buat mereka.’ Gumam Sinta dalam hati.
“Baiklah Mr. A, akan saya lakukan hal itu.”
Tepat ketika pintu ruangannya ditutup, Andi mendengar sebuah pemberitahuan dari sistem.
[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan salah satu misi tersebunyi dari sistem]
[Hadiah telah dikirim ke penyimpanan milik Host]
Rupanya salah satu sepupunya sudah mendonasikan uang pemberiannya itu. Andi cukup lega sekarang karena dengan cara seperti ini dirinya masih bisa menjalankan misi. Awalnya Andi tidak yakin cara ini berhasil.
Bisa dibilang Andi tidak langsung berdonasi ke panti asuhan bukan? Hanya sepupunya yang berdonasi atas namanya. Jadi, ia takut dengan cara ini sistem tidak mengakui hals tersebut dan tidak memberikannya hadiah. Jika ini bisa dilakukan, maka langkah yang Andi ambil sudah benar.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Andi. Itu adalah pesan dari sepupunya, Bima. Ia mengirimkan bukti transfer ke rekening sebuah panti asuhan. Rupanya yang terlebih dulu berdonasi adalah Bima.
Andi kemudian membuka kotak misteri yang ia dapatkan dari donasi yang Bima lakukan.
[Ding]
[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat perunggu]
[Ding]
[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah]
[Host kumpulkan semua kotak misteri dan ungkap misteri dibaliknya]
__ADS_1
Ini adalah lebih dari dua kali lipat dari uang yang ia donasikan. Melihat uang itu, langsung saja Andi mengirimkan dua ratus juta kepada Bima. Andi meminta sepupunya itu untuk berdonasi lebih dari seratus lima puluh juta ke panti asuhan yang menjadi tujuan Bima selanjutnya.
Sekarang, Andi perlu bersiap untuk bertemu dengan Ghani dan Adimas. Dirinya sudah janjian dengan mereka akan bertemu jam sebelas nanti. Dan sekarang sudah jam sepuluh. Ia perlu mempersiapkan bbeerapa hal sebelum menemui mereka.