
Setelah kepergian para polisi, Andi dibawa ke ruang rawat inap. Selama di ruang rawat inap, Andi hanya memandang kosong ke arah plafon. Pemuda itu memikirkan kembali semua yang terjadi pada dirinya.
Semua kejadian asal muasalnya hanya keirian seseorang terhadap harta yang dimiliki oleh orang lain. Leluhur Dinda yang sebelumnya mengingkan apa yang dimiliki oleh leluhurnya. Lalu semua itu berujung pada pembantaian dan pembalasan dendam.
Andi pikir dendam ini perlu di selesaikan di generasinya. Lagipula, keluarga Dinda sudah tidak ada. Yang tersisa hanya Dinda. Dengan apa yang Andi laporkan kepada polisi sebelum ini, sudah pasti perempuan itu akan mendekam beberapa tahun di penjara.
Itu berarti, Andi perlu membujuk keluarganya untuk tidak melakukan apa pun kepada Dinda setelah ini. Mempertimbangkan hubungannya yang terjalin dengan Dinda sebelum ini, dan Andi yang ingin mengakhiri semuanya di sini.
“Sistem jika aku melepaskanmu sekarang, apakah semua kekayaan dan kemampuan yang selama ini aku kumpulkan akan hilang?” Tanya Andi tiba-tiba.
Entah kenapa Andi merasa semakin lama memiliki sistem juga merupakan beban yang besar untuknya. Banyak yang harus ia pikirkan dan pertanggung jawabkan jika dirinya memiliki sistem.
Sebenarnya, impian Andi sejak kecil adalah memiliki kerjaan yang mapan dan hidup tenang tanpa terlalu banyak masalah. Ia ingin nantinya memiliki pekerjaan yang membolehkannya menghabiskan waktu banyak dengan anak-anaknya kelak.
Namun, kedatangan sistem dalam kehidupannya, membuat Andi sedikit merubah rencananya. Ia berencana memperkaya diri dan mengubah kehidupan keluarganya.
Andi rasa sekarang semua itu sudah cukup bagi Andi. Kekayaan dirinya sudah cukup untuk menghidupi beberapa generasi meskipun mereka tidak bekerja sama sekali. Lalu, impian leluhurnya mengenai membangkitkan kembali kerajaan mereka, Andi rasa itu juga sudah terlaksana.
Ya meskipun dirinya belum menguasai semua bisnis di dunia, tetapi kerajaan bisnisnya mulai berkembang sekarang. Dalam beberapa tahun mendatang, Andi rasa ia akan mencapai ke tingkat itu jika dirinya masih memiliki semua kemampuan yang ia dapatkan dari sistem.
[Tidak Host]
[Semua kemampuan dan kekayaan yang Host miliki tidak akan hilang jika Host melepaskan Sistem sekarang]
“Baguslah. Kalau begitu sistem, aku akan melepaskan diri darimu. Kembalilah kepada keluarga Prayudi jika nanti keluarga kami dalam bahaya. Apakah aku bisa meminta hal itu?” Pinta Andi kepada Sistem.
Jika leluhurnya bisa melakukan hal itu, tentunya dirinya bisa melakukannya bukan? Meski kekayaannya bisa bertahan beberapa generasi, itu tidak akan menjamin keluarga Prayudi akan selama berjaya.
Suatu hari nanti pasti ada masa di mana keluarga Prayudi terpuruk. Andi ingin ketika masa itu tiba, Sistem mau kembali dan membantu keluarga Prayudi yang saat itu dalam masa terpuruk.
[Tentu Host, itu bisa dilakukan]
[Apakah Host yakin akan melepaskan sistem sekarang?]
“Ya aku yakin.” Jawab Andi.
[Pelpasan sistem dari Host]
__ADS_1
[0%]
[5%]
[10%]
…
…
[85%]
[90%]
[95%]
[100%]
[Selamat tinggal Host semoga hari-harimu setelah ini menyenangkan]
Setelah berucap demikian, Andi tidak mendengar jawaban apa pun dari sistem. Ia tahu pada saat itu sistem sudah meninggalkannya.
Andi menjalani masa pengobatannya di rumah sakit. Pemuda itu berhasil menyakinkan keluarganya bahwa mereka tidak perlu lagi memperpanjang masalah ini. Lebih baik mereka kembali menjalankan kehidupan masing-masing.
Selain itu, Andi juga meminta mereka untuk memanggil kembali keluarga mereka yang sebelumnya dikirim ke luar negeri.
Andi di rawat selama dua minggu penuh di rumah sakit. Sebenarnya dia sudah bisa pulang setelah satu minggu dirawat tetapi keluarganya memaksanya tinggal lebih lama lagi.
Setelah Andi keluar dari rumah sakit, Andi mendengar Gang Macan Putih resmi di bubarkan. Burhan yang menjadi pemimpin gang tersebut, menyerahkan diri ke polisi dan mempertanggung jawabkan apa yang selama ini sudah ia lakukan.
Meski anggota keluarga Prayudi yang lain sudah melarangnya, Burhan tetap bersikeras menyerahkan diri ke kantor polisi. Laki-laki itu ingin menebus kesalahannya, terutama selama ini telah mengecewakan keluarga besar Prayudi.
Sebulan setelah Andi keluar dari rumah sakit Dinda menjalani sidang pertamanya. Sidang itu berlangsung selama satu bulan lamanya. Pada akhirnya, hakim memvonis Dinda dengan hukuman penjara selama dua puluh lima tahun penjara atas pembunuhan yang dia lakukan.
****
Sepuluh tahun kemudian
__ADS_1
Di sebuah gang kecil di Kota Paris, terdapat sebuah kafe yang cukup nyaman untuk mengahbiskan waktu bersama dengan teman. Kafe tersebut sekarang terlihat cukup ramai sekarang. Banyak yang sekedar mengopi dan mengobrol dengan teman-teman mereka.
Tidak hanya minuman saja yang mereka pesan, tetapi beberapa makanan ringan pun mereka pesan. Berabagai kue kering, bolu dan cake terlihat dipesan oleh pengunjung.
Dibalik meja kasir, seorang laki-laki yang dari wajahnya bisa terlihat bahwa dia berasal dari Asia Tenggara, terlihat menyapa setiap pengunjung kafe yang datang. Ia menyapa dengan sebuah senyuman lebar ketika pengunjung kafenya datang.
Sesekali ia akan menyebutkan nama pengunjung kafe. Ia terlihat sudah cukup akrab dengan beberapa pengunjung yang ada.
Pengunjung kafe tersebut pun berangsur-angsur menurun. Melihat hal itu, laki-laki yang sebelumnya berdiri di balik meja kasir kini memanggil seseorang untuk menggantikannya. Laki-laki itu lalu menuju ke arah dapur. Di dekat sana ada sebuah tangga menuju ke lantai dua.
“Papa, kenapa Kamu lama sekali? Aku dan Dave sudah lama menunggu kedatanganmu. Aku sangat lapar sekali.” Ucap seorang anak perempuan.
Di samping anak perempuan itu duduk seorang anak laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengannya. Mereka terlihat seperti anak berusia sembilan atau sepuluh tahun.
Di depan keduanya kini sudah ada beberapa makanan. Rencananya, mereka akan makan siang bersama dengan ayah mereka.
“Maaf Sarah, kafe cukup banyak pengunjung hari ini. Jadi, aku tidak bisa makan siang bersama dengan kalian. Bukankah aku sudah mengatakan kalian bisa makan duluan tanpa harus menungguku?” Tanya laki-laki itu.
“Dave melarangku makan duluan.”
Mendengar perkataan Sarah, laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke arah David, anak laki-laki yang sekarang tengah memandang ke arah Ayahnya.
“Aku ingin tetap menjaga tradisi kecil keluarga kita. Setiap hari kita makan bersama. Apakah aku tidak boleh melakukannya?” Tanya David.
Laki-laki itu pun tersenyum. “Itu tidak masalah. Bagus jika Kamu memang mau mempertahankan tradisi kecil keluarga kita itu. Hanya saja, lain kali biarkan Kakakmu mengisi perutnya dengan sedikit makanan. Jangan biarkan dia kelaparan seperti itu.” Nasihat laki-laki itu.
“Tentu saja Papa.”
Laki-laki itu ingin kembali membuka mulutnya. Tetapi, sebelum sempat dia melakukannya, sebuah suara terdengar di belakangnya.
“Kamu sudah ke atas rupanya. Aku baru saja berniat turun ke bawah untuk memanggilmu Andi.”
Laki-laki yang ternyata adalah Andi itu memandang perempuan yang baru datang itu. Perempuan itu tidak datang sendirian. Di dalam gendongannya, terdapat seorang anak perempuan berusia lima tahun.
Melihat Andi, anak perempuan itu langsung mengulurkan tangannya meminta Andi menggendongnya. Tentu saja Andi tidak tinggal diam. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengambil anak perempuan itu dari gendongan istrinya.
“Aku baru saja naik. Sekarang ayo kita makan siang bersama Wid.” Ajak Andi kepada Widya, istri yang ia nikahi enam tahun lalu.
__ADS_1