Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 43 Diusir


__ADS_3

“Maafkan aku Ayah, aku mendapatkan uang itu dari….”


“Dari Burhan bukan? Kamu kira ayah nggak tahu kamu dapat semua uang itu dari Burhan bukan? Minggu kemarin kamu mendatangi Burhan untuk meminta dia mengirim anak buahnya untuk menghajar teman-temanmu itu kan?”


Andi menatap ayahnya bingung. Kenapa Aripto bisa berpikiran dirinya mendapatkan semua itu dari Burhan? Andi saja tidak tahu di mana laki-laki itu tinggal. Ia hanya tahu bahwa sepupu ayahnya itu tinggal di Surabaya. Terakhir kali mereka bertemu pun tahun lalu di sebuah pertemuan tahunan keluarga Prayudi.


“Itu nggak benar Ayah. Aku sama sekali bukan mendapatkan uang itu dari Om Burhan. Aku bahkan baru tahu kalo Om Burhan itu adalah seorang pimpinan gang besar, setelah bertemu dengan para preman itu. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menyuruh mereka menghajar Jony dan Rendi.”


“Tidak bisakah ayah percaya padaku?”


“Heh.” Aripto mendengus mendengar ucapan Andi. “Percaya padamu? Kamu saja tidak mau jujur kepada kami bagaimana kami bisa mempercayai perkataanmu. Sekarang katakan, jika bukan dari Burhan lalu dari mana kamu mendapatkan uang itu.”


“Aku…. Aku mendapatkannya dari….”


“Dari mana? Cepat katakan!”


“Dari memenangkan togel online yang aku ikutin.”


“Togel?” Tanya Aripto sembari melebarkan matanya. Kemarahan Aripto semakin memuncak ketika melihat Andi menganggukkan kepalanya. “Kamu, kamu….” Ucap Aripto terbata-bata sembari menunjuk ke arah Andi.


“Aku tidak menyangka kamu lebih mengecewakan dari apa yang aku kira. Kamu tidak hanya menghajar teman-temanmu sampai seperti itu, tetapi kamu juga sudah berani-beraninya bermain judi togel seperti itu. Setelah mendekati Burhan kamu jadi seperti ini. Sekarang aku tidak mau orang sepertimu berada di rumah ini.”


“Sekarang kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini. Aku tidak mau kamu tetap berada di rumahku. Sekarang kamu pergi saja ke Om Burhanmu yang bisa mengajarimu menjadi seorang preman dan mendapatkan uang banyak dalam waktu sekejab.”


Setelah berucap demikian, Aripto melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah. Ia ingin mencari ketenangan. Jika dia tetap berada di sana, sudah pasti ia akan menjatuhkan sebuah pukulan kepada Andi. Laki-laki itu tidak yakin dirinya bisa mengontrol tenaganya ketika emosi seperti ini. Bisa-bisa Andi akan memiliki luka lebih parah dari apa yang temannya terima ketika Aripto menghajarnya.

__ADS_1


Andi terdiam terpaku di tempat. Pemuda itu tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayahnya mengusirnya. Ia diusir dari rumah yang sudah 15 tahun ia tinggali ini. Andi tidak akan bisa lagi kembali datang ke rumah ini.


Anisa yang sedari tadi diam, kini berjalan menghampiri Andi. Ia memegang pelan lengan Andi. “Jangan hiraukan perkataan ayahmu. Dia sedang emosi saat ini. Lebih baik kamu menginap dulu di rumah temanmu. Nanti jika emosi ayamu sudah reda, pasti dia akan mencarimu dan meminta kamu pulang.” Ucap Anisa.


“Hah.” Andi menghembuskan nafas panjang. “Ayah sudah mengusirku Bu. Dia tidak ingin aku ada di sini. Aku hanya membuat sebuah kesalahan dan Ayah langsung mengusirku dari sini?”


“Ayahmu hanya marah karena kamu berhubungan dengan sepupunya itu. Kamu tahu sendiri bahwa Ayahmu itu sangat tidak menyukai Burhan. Jadi dia sangat marah ketika kamu dekat dengan sepupunya itu.”


Andi memandang ibunya lekat-lekat. Air mata mulai mengalir di pipi pemuda itu. “Ibu juga mempercayaiku?” Andi kira ibunya akan mempercayai kata-katanya mengenai dirinya, yang sama sekali tidak berhubungan dengan Burhan. Tetapi sepertinya perempuan itu lebih percaya dengan pemikiran Aripto.


“Demi Tuhan, aku sudah berbicara jujur dengan mengatakan bahwa aku sama sekali tidak berhubungan dengan Om Burhan. Aku juga tidak menyuruh para preman itu untuk menghajar Jony dan Rendi.” Andi menggelengkan kepalanya pelan. “Kalian tidak mempercayaiku.”


“Baiklah. Baik. Jika kalian kalian tidak percaya maka aku akan pergi dari sini. Jika memang itu yang kalian inginkan maka aku akan pergi.”


Hati Anisa terasa sakit ketika melihat air mata mengalir di pipi putra sulungnya itu. Anaknya yang satu ini tidak pernah terlihat menangis sejak berusia tiga tahun. Bahkan ketika berlatih fisik yang cukup keras dalam mempelajari bela diri, dia sama sekali tidak menangis atau sekadar mengeluh. Sekarang air mata itu kembali Anisa lihat di pipi putranya.


Setelah berkata demikian, Andi pergi meninggalkan rumah yang telah ia tinggali selama lima belas tahun terakhir. Ia tidak lagi melihat kebelakang. Jika demikian, sudah pasti dirinya akan merasa berat meninggalkan rumah ini. Tidak ada yang Andi bawa dari rumah ini. Hanya pakaian yang melekat pada tubuhnya dan juga tas kecil berisi dompet dan ponsel saja.


*****


Andi melangkahkan kakinya tanpa arah. Ia tidak tahu dirinya harus ke mana setelah diusir dari rumah seperti ini. Setelah satu jam lebih berjalan tanpa arah, Andi tiba di depan sebuah rumah mewah yang sering ia kunjungi.


Dari balik pagar, seorang satpam terlihat kaget dengan kehadiran Andi yang tanpa semangat itu. Satpam tersebut bergegas membuka pagar rumah tersebut dan kemudian menghampiri Andi. “Andi kenapa kamu seperti ini?” Tanya Pak Min.


“Briannya ada Pak?”

__ADS_1


“Den Brian masih di luar kota belum balik lagi. Memangnya kenapa?”


“Oh.” Hanya itu jawab dari Andi. “Kalau begitu aku pergi dulu Pak Min. Nanti aku akan menghubunginya.”


Melihat Andi yang berjalan menjauh, timbul rasa khawatir pada diri Pak Min. Bukan apa-apa, tampilan Andi yang seperti itu dan juga dia yang datang kemari tanpa membawa kendaraan, membuat Pak Min berpikir ada sesuatu yang salah. Pak Min tadi bisa melihat dengan jelas keputus asaan terpancar di mata Andi. Jadi laki-laki itu takut bahwa Andi akan melakukan hal yang ceroboh.


“Andi!” Suara Pak Min menghentikan langkah kaki Andi. Pemuda itu menolehkan kepalanya ke belakang tanpa memberikan respon lainnya.


“Kamu sekarang mau kemana?”


“Stasiun.”


Ketika Pak Min mendengar hal itu, pemikiran buruk mucul di kepalanya. Dengan keadaanya yang sekarang, Pak Min memiliki pemikiran bahwa Andi datang ke sana untuk mengakhiri hidupnya. Dan itu membuat Pak Min was-was dan khawatir. Ia tidak ingin besok ada berita mengenai ditemukannya mayak seorang pemuda yang ditemukan terlindas kereta. Itu sangat mengerikkan.


“Kamu mau ke sana naik apa?”


“Jalan.” Jawab Andi singkat.


“Bapak anterin aja ya?” Pak Min menawarkan diri. Ia ingin memastikan bahwa tujuan Andi benar-benar stasiun kereta dan bukan rel kereta yang ada di sana. Oleh karena itu ia ingin mengantarkan Andi ke tempat tujuannya.


Melihat Andi tidak menjawab dan hanya diam di tempat, membuat Pak Min berpikir bahwa Andi menyetujui tawarannya. Laki-laki itu kemudian bergegas masuk ke dalam untuk mengambil motornya. Ia kemudian berpesan kepada supir keluarga Brian untuk menjaga pos sementara dirinya pergi.


Pak Min melakukan semuanya dengan sedikit terburu-buru. Ia takut ketika dirinya pergi mengambil motornya, Andi pergi meninggalkan tempatnya tadi. Pak Min bernafas lega ketika mengetahui Andi masih berada di tempat ia tinggalkan tadi.


Ketika sampai di stasiun, Pak Min tidak meninggalkan Andi begitu saja. Laki-laki itu mengikuti Andi menuju loket, Pak Min melihat bahwa Andi membeli tiket menuju Surabaya. Pak Min masih mengawasi Andi hingga kereta yang akan dia naiki tiba. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada kejadian apa pun, Pak Min sedikit bernafas lega.

__ADS_1


Masih ada rasa khawatir dalam diri Pak Min. Andi bergerak seperti mayat hidup. Pak Min tidak tahu alasan pemuda itu ke Surabaya. Yang jelas, ia perlu mengabarkan hal ini kepada Brian.


__ADS_2