Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 230


__ADS_3

Andi sekarang berada di IGD sebuah rumah sakit. Dokter tengah menangani lukanya yang cukup parahitu. Meski itu hanya luka luar, jika tidak ditangani dengan baik maka itu juga bisa membahayakan Andi. Apalagi jika sampai terjadi infeksi.


Sementara itu, Dinda masih setia berada di samping Andi. Sebenarnya dokter sudah memintanya pergi dari ruang IGD agar mereka bisa menangani Andi dengan baik. Sayangnya, Dinda menolaknya.


Tangan perempuan itu masih memegang pistol, hal itulah yang membuat para dokter dan perawat tidak berani melarang Dinda lagi. Mereka takut pistol itu di arahkan kepada mereka. Jadi tidak ada lagi yang meminta perempuan itu pergi.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Dinda setelah dokter selesai menutup luka Andi dengan perban.


“Dia baik-baik saja. Kami sudah membersihkan lukanya. Ia hanya tinggal menunggu waktu saja agar lukanya mengering.” Ucaps dokter tersebut.


“Oh begitu.”


“Setelah ini suster akan membantu Tuan Andi menuju ke ruang inap.”


“Aku mau yang terbaik, berikan ruang terbaik yang kalian punya.” Pinta Dinda.


“Tentu.” Ucap dokter tersebut.


Ketika berada cukup jauh dari bilik perawatan Andi, dokter yang tadi menangani Andi kemudian melihat ke arah suster di sampingnya.


“Hubungi polisi segera.” Perintah dokter tersebut.


“Tentu dokter.”


Dari gelagatnya saja dokter sudah bisa menebak seperti apa sebenarnya Dinda itu. Perempuan itu memiliki gangguan psikis. Orang seperti Dinda yang membawa senjata di tempat umum seperti ini cukup membahayakan orang lain.


Dokter itu tidak mau ada kejadian buruk terjadi. Maka dari itu, mereka memerlukan kehadiran polisi untuk mengamankan Dinda.


Dokter itu cukup berani meninggalkan Andi dengan Dinda tanpa pengawasan orang lain. Itu karena dirinya melihat bahwa Dinda tidak memiliki niatan buruk kepada Andi. Jika tidak, maka pandangan khawatir tidak akan Dinda tunjukan di dalam ruang perawatan tadi. Jadi, pemuda itu aman untuk saat ini.


Sepuluh menit kemudian, lima orang polisi terlihat mendatangi ruang IGD tersebut. Meskipun polisi-polisi tersebut tidak memakai seragam, tetapi kelimanya memakai rompi anti peluru. Salah seorang polisi langsung mendatangi suster yang ada di sana.


“Di mana orang yang membawa senjata api itu?” tanya salah seorang polisi tersebut.

__ADS_1


“Di sana.”


Suster tersebut pun menunjukkan bilik yang ditempati Andi. Saat ini Andi masih berada di IGD dan belum dipindahkan ke ruang perawatan.


Kelima polisi itu pun melangkah dengan pelan menuju ke bilik yang Andi tempati. Dua orang di sisi kanan, dan dua orang di sisi kiri. Lalu, salah seorang di antara mereka berada di tengah.


Setelah semua sudah berada di posisi masing-masing, mereka mengangguk satu sama lainnya. Lalu, dua orang yang terdekat dengan tirai, menarik tirai tersebut.


“Jangan bergerak.” Teriak tiga orang polisi secara bersamaan.


Di dalam bilik itu, terlihat Andi yang membuka matanya perlahan. Di sampingnya, Dinda memegang tangan pemuda itu dengan erat.


Dinda sudah tahu ini akan terjadi jika dirinya membawa Andi ke rumah sakit dengan membawa senjata api. Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan senjata api itu di mobil miliknya.


Namun ia sengaja membawanya, agar polisi menangkapnya. Hal ini karena sebelum ini Andi mengatakan sesuatu yang membuatnya berubah pikiran.


Tiga puluh menit sebelumnya.


“Apa Kamu sama sekali nggak menyesal sudah membunuh keluargamu seperti itu?” Tanya Andi kepada Dinda.


“Tapi mereka keluargamu.”


“Keluarga tidak akan memaksa anak berumur enam tahun untuk mengikuti latihan fisik yang cukup berat hanya untuk membalaskan dendam mereka. Keluarga tidak akan memaksa anak berumur delapan untuk membunuh orang lain.”


“Mereka bukan keluargaku. Mereka hanya orang yang memiliki DNA yang sama denganku. Selebihnya, aku rasa mereka tidak pantas disebut keluargaku.” Jawab Dinda.


Dinda lalu menceritakan kehidupan masa kecilnya kepada Andi. Segala didikan yang Dinda terima ia ceritakan kepada Andi.


Mendengar semua itu, Andi merasa iba dengan Dinda. Tidak seharusnya memang anak kecil di umur segitu merasakan semua ini. Itu tidak adil bagi Dinda. Semua itu sudah merusak Dinda.


Seharusnya di usia seperti itu, Dinda berhak memiliki masa kecil yang yang indah. Sedikit banyak Andi mengerti kenapa Dinda sekarang seperti ini.


Didikan yang Dinda terima selama ini membuatnya memiliki kepribadian yang sekarang. Andi tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada Dinda.

__ADS_1


“Din, Kamu butuh ke psikolog.” Ucap Andi pada akhirnya.


“Ke psikolog? Heh.” Dinda mendengus.


“Kamu menganggapku gila ya menyarankan aku datang ke psikolog.”


Andi menggeleng pelan. “Nggak. Aku nggak anggap Kamu gila. Kamu masih waras. Hanya saja, psikismu sedang sakit. Kamu butuh penanganan.”


“Bukankah Kamu sendiri yang bilang bahwa bisa saja Kamu hamil saat ini.” Ucap Andi sembari melirik ke arah perut Dinda yang masih rata.


Memang kemungkinannya cukup kecil untuk Dinda langsung hamil. Tetapi itu juga mungkin saja terjadi. Andi memang sangat tidak menyukai apa yang mereka lakukan. Tetapi, jika nanti Dinda memang hamil, dirinya tetap akan bertanggungs jawab kepada anak itu.


Tidak pantas jika dirinya nanti meluapkan kekesalannya kepada anak itu. Dia tidak bersalah. Andi malahan sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan jika Dinda benar-benar hamil nantinya.


“Apa Kamu nggak mau bukan membesarkan anak dengan keadaan psikismu yang seperti ini. Jadi, Kamu ke psikolog ya?” Pinta Andi dengan nada bicara yang cukup serius.


Hal itulah yang membuat Dinda memilih membawa senjata api miliknya ke dalam rumah sakit. Ia ingin sedikit mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia juga akan meminta pendampingan psikolog nantinya.


Maka dari itu, ketika polisi-polisi itu tiba, Dinda sama sekali tidak melawan. Pistol yang awalnya ia pegang pun ia letakkan di ranjang rawat Andi. Cukup jauh dari jangkauannya.


Ketika polisi berada di belakangnya pun Dinda sama sekali tidak memberikan perlawanan yang berarti. Sikap kooperatifnya itu membuat polisi tidak terlalu bertindak kasar kepada Dinda. Setelah memborgolnya, Dinda digiring menuju mobil polisi yang sudah menunggu di depan IGD.


Sebelum pergi, Dinda memandang wajah Andi dengan lekat. Perempuan itu tahu, setelah ini akan sulit baginya untuk menemui Andi. Jadi, dia ingin mengingat dengan jelas setiap jengkal wajah Andi.


“Tunggu aku kembali.” Ucap Dinda sebelum pergi.


Setelah kepergian Dinda, salah seorang polisi mengintrogasi Andi yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Mereka ingin tahu apa hubungan antara Andi dan Dinda, lalu kenapa juga Andi masuk ke rumah sakit dengan luka yang seperti ini.


Mereka juga ingin menanyakan siapa yang memberikan luka kepada Andi. Karena dari perkataan dokter, luka yang diderita Andi ini terlihat sekali sebagai luka yang diterima dari sebuah penyiksaan.


Andi bersikap kooperatif dengan menjawab semua pertanyaan dari polisi. Tidak ada yang ia tutup-tutupi dari polisi. Mulai dari siapa dirinya, apa hubungannya dengan Dinda, siapa yang menyiksanya, dan sampai pada alasan Dinda membawa senjata.


Tidak ada yang Andi tutup-tutupi. Semua ia ceritakan kepada pihak kepolisian.

__ADS_1


“Baiklah. Terima kasih atas informasi yang Anda berikan. Setelah ini, Kami akan membantu Anda menghubungi keluarga Anda. Beberapa anak buahku juga akan mendatangi rumah itu dan mengecek keberadaan tiga mayat itu.” Ucap polisi yang sebelumnya mengintrogasi Andi.


Polisi itu cukup terkejut mengetahui kasus yang ia temukan ini seserius ini. Melibatkan kasus penculikan dan pembunuhan. Meski begitu, ia perlu mengecek kebenaran dari cerita Andi ini. Jika benar keadaan di lapangan seperti yang Andi ceritakan, maka kasus ini perlu diselidiki lebih medalam lagi.


__ADS_2