
“Mbak Ros bisakah kita bicara sebentar? Aku ingin menjelaskan perkataan yang waktu itu.” Ucap Andi.
“Yang katamu aku perlu berhati-hati dengan orang di sekitarku itu?”
“Iya. Orang yang aku maksud sebagai serigala berbulu domba adalah teman Mbak Rosa yang namanya Karina itu. Mbak perlu berhati-hati dengan dia.”
“Memangnya kenapa kamu bisa menuduh Karina seperti itu?”
Kemarin Rosalinda menghabiskan waktunya untuk memikirkan perkataan Andi yang ini. Selama apapun dia mencoba mengingat, Rosalinda tidak bisa menemukan alasan kenapa Karina akan menghianati dirinya yang merupakan sahabatnya itu.
“Beberapa waktu yang lalu, aku melihatnya bersama dengan Hermawan. Aku dengar, dia adalah salah satu teman kampus Mbak yang sedang mengejar kejar Mbak Ros, tetapi Mbak tolak.” Jelas Andi.
“Dari mana kamu mengetahui Hermawan?” Tanya Rosalinda heran.
Sependek ingatannya, Rosalinda tidak pernah memberitahu kepada Andi mengenai keberadaan Hrmawan, orang yang selama ini mengejar kejarnya. Lalu, dari mana Andi mengetahuinya?
“Aku kenal dengan Arya, lalu beberapa waktu lalu aku ikut menonton balapan. Di sana aku bertemu dengan Hermawan yang datang bersama dengan Karina. Tidak hanya Hermawan, tetapi aku juga bertemu dengan Marcel di sana.”
Rosalinda cukup kaget mendengar penjelasan Andi barusan. “Tidak mungkin Karina dekat dengan Hermawan. Dia sudah tahu bahwa aku tidak menyukai Hermawan. Jadi, tidak mungkin aku Karina bersama dengan Hermawan.” Ucap Rosalinda tidak percaya.
Sepertinya hubungan Rosalinda dan Karina cukup dekat. Jika tidak, mana mungkin perempuan itu sulit sekali menerima fakta bahwa temannya kemungkinan besar sudah menghianatinya. Andi mungkin saja juga akan begitu jika seseorang mengatakan bahwa Brian akan menghianatinya. Pasti dirinya sulit menerima perkataan orang tersebut.
“Widya juga ada di sana waktu itu. Jadi, jika ada dua orang yang melihat bahwa Karina datang bersama dengan Hermawan di waktu balapan itu pasti Mbak bisa percaya bukan? Wid, apakah kamu masih ingat wajah cewek yang datang ke balapan bersama dengan Hermawan dulu?” Tanya Andi.
Widya yang sedari tadi diam-diam mengamati Rosalinda cukup kaget ketika Andi menyebut namanya. Untung saja kedua orang itu tidak mengetahui apa yang ia lakukan. Widya cukup heran kenapa perempuan seperti Rosalinda diperebutkan. Menurut Widya, Rosalinda tidak secantik itu. Jadi apa yang membuat perempuan itu menjadi rebutan para laki-laki?
“Ya aku ingat wajah cewek yang dateng bareng Hermawan. Tapi, aku tidak mengenalnya. Jadi, aku tidak bisa memberitahu apakah dia orang yang kalian bicarakan apa tidak.” Jelas Widya.
“Kalau begitu, apakah Mbak Rosa punya foto teman Mbak itu? Mungkin Widya bisa membandingkannya dengan cewek yang datang bersama dengan Hermawan di area balap tempo hari.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Andi, Rosalinda langsung saja mengeluarkan ponsel miliknya. Ia kemudian mencari keberadaan foto Karina di ponselnya. Rosalinda kemudian menujukkan foto dirinya dan ketiga sahabatnya.
Rosalinda ingin tahu apakah gadis bersama dengan Andi ini bisa mengetahui dengan langsung siapa yang merupakan Karina di antara perempuan yang ada di dalam foto. Jika ia bisa langsung menunjuk foto Karina, berarti apa yang mereka katakan adalah benar
“Ini dia cewek yang datang ke lokasi balapans barenga Hermawan tempo hari.” Ucap Widya sembari menunjuk ke arah perempuan berbaju biru dalam layar ponsel milik Rosalinda.
Ekspresi tidak percaya terlihat jelas di wajah Rosalinda ketika mengetahui bahwa Widya bisa menebak dengan benar siapa yang merupakan Karina dalam foto tersebut.
“Ini, ini tidak mungkin. Kenapa dia melakukan hal itu?”
“Hah.” Andi menarik nafas panjang melihat reaksi Rosalinda yang seperti ini. “Aku tahu itu berat mengetahui orang yang kita percayai ternyata seperti ini. Untuk keputusan selanjutnya itu terserah Mbak Ros. Mbak bisa tetap aja berteman dengan dia dengan segala resikonya, atau Mbak bisa menjauhunya.”
“Aku dengar Hermawan itu bukan pemuda yang baik. Jadi, aku takut dia merencanakan sebuah rencana jahat kepada Mbak Ros. Jadi, aku perlu mengingatkan Mbak Ros mengenai hal ini.”
*****
“Andi, apakah aku boleh bertanya sesuatu?” Tanya Widya ketika mereka selesai memesan makanan mereka.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Kenapa kamu masih dekat dengan cewek bernama Rosalinda tadi? Bukankah kamu sudah mendengar bahwa dia adalah incaran Marcel dan Hermawan. Dengan mendekati cewek tadi, kamu akan mendapatkan masalah dari Marcel dan Hermawan, bukan? Jadi, kenapa kamu dekat dengannya?”
“Hah.” Andi menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Widya. Memang jika dipikir-pikir dekat dengan Rosalinda akan mendatangkan masalah untuknya. Seperti halnya masalah yang mungkin saja mengancam bisnis kuenya. Tetapi Andi tidak bisa begitu saja menjauhi Rosalinda.
“Bisa dibilang, aku ini orang yang sentimental. Mbak Ros adalah orang yang pertama yang membeli jualanku ketika aku berjualan di car free day, setelah cukup lama tidak ada yang membeli. Selain itu, dia termasuk penikmat kue buatanku yang paling setia.”
“Awal mengenalnya pun, aku tidak mengetahui bahwa dekat dengannya bisa memberiku cukup banyak masalah. Aku baru mengetahui bahwa dia diperebutkan oleh Marcel dan Hermawan juga belum lama ini.”
“Jadi, aku tidak bisa begitu saja menjauhi Mbak Rosa setelah mengenalnya bukan? Meski aku belum mengenal dia sedekat itu, tetapi tidak mungkin bagiku menjauhi teman hanya karena dia bisa saja memberiku masalah. Asalkan dia tidak secara langsung dan terang-terangan mengarahkan masalah itu padaku, aku tidak masalah.” Jelas Andi.
__ADS_1
Dari perkataan Andi ini, Widya bisa tahu bahwa Andi bukanlah tipe orang yang dengan mudahnya meninggalkan temannya. Meskipun mereka belum lama saling mengenal, ia tidak akan menjauh begitu saja dari temannya meski temannya itu bisa saja membawa masalah untuknya.
Bukankah ini juga bagus untuk keluarganya? Meski Widya belum sepenuhnya yakin dengan perkataan Kakeknya, tetapi dengan sifat Andi yang seperti ini, keluarga mereka aman-aman saja kedepannya. Mereka tidak perlu menjalin hubungan yang sangat dekat pun Andi tidak akan meninggalkan mereka.
Orang seperti Andi ini sangat cocok dijadikan rekan bisnis. Dalam dunia bisnis biasanya seseorang akan menjauhi seseorang yang memiliki masalah dalam usaha mereka. Mereka menjauh karena tidak mau ikut terkena imbas masalahnya.
Jika mendapatkan rekan bisnis seperti Andi, bukankah itu baik? Dia tidak akan mudah meninggalkan rekannya yang sedang dalam kesusahan. Jadi, jika bisa, Widya ingin sekali bekerja sama dengan Andi. Sayang saja, keluarganya belum membolehkannya terjun ke dunia bisnis.
“Lalu, apakah kamu menyukai cewek tadi?” Tanya Widya penasaran. Bukankah ini juga adalah alasan seorang laki-laki tidak mau begitu saja meninggalkan perempuan? Karena mereka menyukai sang perempuan. Karena mereka masih ada rasa.
Andi menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Aku sendiri juga tidak tahu, apakah aku sudah menyukainya apa tidak.”
“Kenapa kamu tidak tahu?”
“Ya karena perasaan itu belum muncul. Mungkin hanya suka tapi cinta tidak. Perasaan berdebar-debar ketika bertemu dengan orang yang kita cintai, perasaan yang ingin selalu bersama, perasaan rindu yang menggebu jika tidak bertemu. Aku belum merasakan semua itu pada Mbak Ros.”
“Aku ingin semuanya pelan-pelan saja. Lagi pula aku masih mudah bukan? Aku tidak akan langsung pacaran meskipun aku menyukainya. Aku akan menunggu bertemu dengan orang yang benar-benar bisa membuatku jatuh cinta padanya.” Jelas Andi.
Mendengar perkataan Andi Widya tertawa. “Hahaha. Jadi kamu ini belum pernah pacaran?”
Andi menggeleng pelan. Ia sedikit malu melakukan pengakuan ini kepada Widya. “Selama ini aku fokus pada sekolahku jadi aku tidak memikirkannya.” Jelas Andi.
Widya kembali tertawa mendengar hal itu. Ia lalu mengibaskan sebelah tangannya. “Tenang saja, aku juga belum pernah pacaran. Jadi jangan malu seperti itu. Ucapanmu tadi memang benar, lebih baiks kita memulai pacaran dengan orang yang kita cintai.”
“Jangan hanya pacaran karena ingin coba-coba saja. Tapi pada akhirnya hubungannya tidak bertahan lama.”
“Ah ya aku perlu mengembalikan kalungmu.”
Widya kemudian mengambil kalung milik Andi dari dalam tasnya. Kalung tersebut sekarang sudah tersimpan di kotak beludru kecil. Ini adalah ide Gayatri untuk menyimpan kalongs milik Andi pada sebuahs kotak perhiasan.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menyimpankan ini untukku. Kalung ini sangat berharga untukku. Ini adalah pemberian Kakek Buyutku. Jadi, aku tidak bisa menghilangkannya begitu saja. Sekali lagi terima kasih sudah menemukan kalung milikku ini.” Ucap Andi tulus.
Widya menggoyangkan kedua tangannya. “Ah itu tidak masalah. Bukankah kamu mentraktirku sekarang karena sudah menyimpankan kalung milikmu itu? Jadi, kamu tidak perlu berterima kasih seperti itu.”