
Andi sekarang sudah berada di apartemennya. Setelah berbelanja, Andi memasakkan Rosalinda dan Brian makan malam. Hari ini dia tidak jadi untuk membuat konten bersama Rosalinda. Hari sudah terlalu sore untuk melakukan hal itu.
Jika mereka melakukannya, sudah pasti nantinya Rosalinda perlu menginap kembali di apartemennya. Bukannya Andi tidak mengijinkan, hanya saja itu akan membuatnya kembali berpikir macam-macam tentang Rosalinda seperti waktu itu. Oleh karenanya, Andi meminta Rosalinda datang besok pagi untuk membuat konten bersamanya.
Sekarang ini, Andi tengah merenung di dalam kamarnya, memikirkan misi tersembunyi yang baru saja ia selesaikan. Dia mendapatkan pemberitahuan menyelesaikan misi tersembunyi setelah membantu Sekar. Hal ini bisa dibilang bahwa misi tersembunyi dari sistem ada hubungannya menolong seseorang.
Tetapi, misi tersembunyi sebelumnya yang sudah ia selesaikan, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan menolong seseorang. Ia tidak menolong siapa pun ketika dirinya menyelesaikan misi tersebut. Jadi, sebenarnya apa misi rahasia dari sistem?
Andi hanya tahu menolong orang lain adalah salah satu dari misi tersembunyi itu. Tetapi, Andi belum memahami secara umum apa sebenarnya misi rahasia dari sistem.
“Aku akan mencoba mengetes semuanya. Mungkin ada hal yang terlewatkan yang belum aku pikirkan. Sekarang mari kita cek apa hadiah dari sistem.”
[Ding]
[Selamat Host telah membuka kotak misteri tingkat perunggu]
[Ding]
[Selamat Host telah mendapatkan uang tunai sebesar seratus lima puluh juta rupiah]
[Host kumpulkan semua kotak misteri dan ungkap misteri dibaliknya]
“Aku mendapatkan kotak perunggu lagi. Dan isinya kembali berbeda dari dua kotak misteri tingkat perunggu yang sebelumnya aku dapatkan. Kemungkinan besar, isi dari kotak misteri ini juga beragam. Jika ada perunggu, berarti di atasnya pasti ada perak, emas, dan lainnya. Aku akan mengetahui semua itu setelah mendapatkan kotak-kotak misteri itu.”
“Panel status.”
[Ding]
[Modul Menjadi Kaya]
[Level 6 (399575200/500000000)]
[Saldo Host : Rp 673.810.300,-]
[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 16 rupiah]
[Misi : - Selesaikan pendaftaran perusahaan milik host ]
[Target Bulanan : Capai saldo Rp 1.000.000.000,- (673810300/1000000000)]
[Penyimpanan : - Kekuatan +5, Stamina +5]
__ADS_1
[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya
Pengalaman Pembalap : Tingkat 1
Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1
Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1
Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
“Sekarang aku memiliki uang cukup banyak. Untuk target aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Aku hanya perlu menjalankan beberapa misi tersembunyi sehingga aku bisa mendapatkan uang tunai. Sepertinya aku perlu menaikkan level dari modul sistemku. Aku tinggal mengeluarkan uang seratus juta untuk bisa menaikkan levelku.”
“Hem…. Mungkin aku akan memakai uang untuk membantu seseorang. Mungkin aku bisa memulainya dengan membantu panti asuhan. Ya aku bisa melakukan hal itu.”
Andi sudah memutuskan hal itu. Mungkin besok dirinya akan menanyakan hal ini kepada Rosalinda. Mungkin saja perempuan itu mengetahui di mana panti asuhan terdekat dari apartemennya.
*****
Pagi hari sekali Andi sudah mempersiapkan bahan-bahan kue untuk membuat kue brownies. Hari ini ia akan membuat resep baru untuk dijual di toko dessert miliknya. Sebelum Rosalinda datang, ia akan membuat terlebih dahulu brownies ini. Hitung-hitung ini adalah praktek pertamanya.
Meski memiliki kemampuan lidah manis, ia masih perlu melakukan percobaan. Resep yang ada di internet tidak semuanya cocok dengan lidahnya. Jadi, ia perlu melakukan percobaan untuk mengubah susunan resep yang ada di sana.
Langsung saja Andi memulai mempersiapkan semuanya. Ia memakai mixer yang baru kemarin ia beli. Semua bahan Andi campur sesuai dengan takaran yang sudah ia buat. Setelah semua tercampur, Andi menuangkan adonan ke dalam loyang sebelum memanggangnya.
Selagi menunggu browniesnya matang, kini Andi beralih membuat sarapan. Untuk sarapan kali ini Andi memilih membuat nasi goreng dengan nasi sisa semalam. Sarapan Andi selesai bersamaan dengan matangnya brownies buatannya.
Andi segera saja mengeluarkan brownies tersebut dari dalam oven. Ia perlu menunggu brownies tersebut dingin sebelum dirinya bisa mencicipi rasa dari brownies tersebut. Di saat bersamaan, ponsel milik Andi berbunyi. Pemuda itu buru-buru mencari ponselnya untuk melihat siapa yang menelfonnya.
Di sana tertera nama Amira, adik perempuannya. Melihat hal itu, Andi segera mengangkat paggilan dari adiknya itu. “Hallo, Amira?”
“Hallo, Kak Andi. Kak bisa jemput aku di stasiun nggak?” tanya Amira tiba-tiba.
“Jemput di stasiun? Memangnya kamu sekarang di mana?” Andi mendengar suara berisik di sekitar Amira. Ia tebak adiknya itu kini tengah berada di tempat umum.
“Aku sekarang ada di kereta dalam perjalanan ke Surabaya. Nanti jemput aku di stasiun ya Kak. Aku mau ke tempat Kak Andi. Kebetulan sekarang hari Minggu jadi ibu memintaku datang ke Surabaya dan mengecek keadaan Kak Andi.” Jelas Amira.
__ADS_1
Andi tidak menyangka bahwa ibunya akan menyuruh Amira untuk mengecek keadaannya. Sudah pasti ibunya itu masih khawatir dengan dirinya sehingga perempuan itu mengutus Amira untuk datang mengecek keadaannya.
“Hah.” Andi menghembuskan nafas panjang. “Kamu turun di stasiun G. Itu adalah stasiun terdekat dari tempat Kakak. Nanti keretamu sampai di sini jam berapa?” Tanya Andi.
“Baiklah Kak aku nanti akan turun di stasiun G. Sekitar dua puluh menit lagi keretaku akan sampai di Surabaya.” Jelas Amira.
“Baiklah nanti aku kan menjemputmu.” Ucap Andi sebelum menutup sambungan telfonnya.
Jika Amira akan datang kemari, sudah pasti dirinya tidak bisa melanjutkan membuat brownies. Padahal setelah mencicipi brownies yang baru ia buat, Andi berencana kembali membuat makanan pencuci mulut itu. Mungkin nanti ketika Amira sudah sampai di sini, dirinya bisa melanjutkan membuat brownies.
Sepertinya sekarang dirinya sudah harus berangkat menuju stasiun. Meski stasiun G adalah stasiun terdekat dari sini, ia masih membutuhkan waktu untuk ke sana. Lebih baik dirinya yang menunggu di satsiun daripada membiarkan adiknya yang menunggu.
Sembari mempersiapkan diri, Andi kemudian memesan ojek online untuk membawanya ke stasiun. Sekarang Andi merasa bahwa dirinya membutuhkan kendaraan untuk mobilitasnya.
Andi kembali mengingat bagaimana kemarin dirinya dan Rosalinda cukup kerepotan dengan belanjaan mereka yang banyak. Apalagi taksi online yang mereka dapatkan berjenis sedan. Mobil itu langsung saja penuh dengan belanjaan.
Jika sekarang dirinya sudah memiliki mobil, tentu saja dia akan langsung pergi menuju ke stasiun tanpa perlu menggunakan jasa ojek online. Andi bisa saja meminjam mobil milik Brian untuk menjemput Amira. Tetapi pemuda itu tidak melakukannya.
Mobil milik Brian terlalu menarik perhatian jika digunakan untuk ke stasiun. Jika saja mobil Brian bukan mobil sport sudah pasti Andi akan meminjam mobil temannya itu. Andi tidak suka menarik perhatian terlalu banyak pada dirinya.
“Hemm…. Sepertinya aku bisa membeli mobil sekarang. Bukan mobil sport tetapi mobil biasa. Mobil bekas pun tidak masalah. Baru sekarang aku sadar bahwa aku membutuhkan kendaraan.”
Sekarang ini, mobil sudah menjadi kebutuhan Andi, bukan lagi barang yang hanya akan jadi objek gaya-gayaan. Jadi, tidak masalah untuknya membeli mobil.Andi kembali mengecek panel status milik sistem.
“Sepertinya lebih baik aku membeli mobil setelah target bulanan terpenuhi. Itu hanya kurang dari tiga ratus juta lebih dikit. Aku yakin jika benar-benar aku bisa mendapat uang tersebut dari menjalankan misi rahasia.”
Sembari menunggu ojek online pesanannya datang, Andi menghampiri salah satu satpam yang cukup ia kenal di sana.
“Pak Simon.” Sapa Andi.
“Eh Mas Andi, ada apa Mas?”
“Nanti kalo ada temen saya datang, tolong kasih tahu dia untuk pencet bel apartemen Brian saja. Saya mau keluar jadi saya tidak bisa memberinya akses masuk ke atas.”
Andi rasa tidak lama lagi Rosalinda akan datang ke apartemennya. Sudah jelas ketika perempuan itu datang Andi tidak akan berada di apartemen. Maka dari itu Andi menitipkan pesan kepada Simon untuk Rosalinda. Andi harap Brian sudah terbangun ketika perempuan itu datang.
“Oh, teman perempuan Mas Andi yang kemarin itu?” tanya Simon memastikan.
“Ya yang itu. Nanti jika dia datang tolong suruh dia pencet apartemen Brian saja kalo semisal saya belum kembali.”
“Baiklah siap Mas Andi.”
__ADS_1