Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 70 Simbol yang Tidak Asing


__ADS_3

“Hem… es krim di sini sangat enak.” puji Andi ketika merasakan rasa dari es krim pesanannya.


Pantas saja Widya memilih kedai es krim ini. Es krim yang mereka sajikan memiliki rasa yangpas di lidah. Menikmati es krim ini membuat Andi tercetus ide baru. Kenapa dirinya tidak mencoba membuat es krim sekalian? Atau mungkin dia mendirikan perusahaan es krim sekalian?


“Aku bilang apa. Lebih baik di sini. Jadi bisa dibilang kamu tidak sia-sia datang kemari.”


“Ya kamu benar. Tidak sia-sia datang kemari. Aku tidak menyangka bisa merasakan es krim dengan rasa selezat ini.”


Ketika mereka tengah sibuk menikmati es krim mereka, dua orang gadis terlihat mendekat ke arah meja mereka. “Eh beneran Widya. Aku kira aku salah orang. Ternyata ini beneran kamu.” Ucap salah satu gadis tersebut.


“Mila, Rina.” Sapa Widya.


“Ck. Ck. Ck.” Gadis bernama Mila terlihat berdecak lidah. “Sekarang dapet cowok baru ya. Cowok yang kemaren-kemaren itu dikemanain sekarang? Dibuang, ganti lagi gitu?” ucapnya sinis.


Widya terlihat mengerutkan dahinya mendengar ucapan Mila. “Aku rasa ini tidak ada hubungannya denganmu bukan mau jalan dengan siapa aku. Toh kamu bukan juga keluargaku kenapa juga mengurusi hidupku.”


Gadis bernama Mila itu seolah tidak mengindahkan ucapan Widya. Ia kemudian menatap lekat ke arah Andi. “Hey, hati-hati sama cewek ini. Dia itu playgirl, suka mainin hati cowok. Cowoknya juga cepet banget gantinya. Nggak hanya itu aja, dia sering naik mobil om-om. Kayaknya sih dia ngejual tubuhnya itu.” Ucap gadis bernama Mila itu tanpa memiliki niatan untuk mengecilkan suaranya.


Andi bisa merasakan beberapa pasang mata memandang ke arah mereka. Beberapa terdengar mulai berbisik-bisik mengomentari apa yang baru saja mereka dengar. Jika Andi saja merasakannya, tentu saja Widya yang menjadi objek pembicaraan mereka lebih merasakan hal itu.


“Mila bicara jangan ngaco. Jangan menebar fitnah seperti itu.” Ucap Widya tidak terima dengan ucapan Mila.


“Heh.” Mila mendengus. “Fitnah? Itu adalah sebuah fakta. Kamu itu dari keluarga yang nggak punya, bayar sekolah aja nunggak tetapi kamu bisa memiliki banyak barang bagus. Kalau bukan dari jual diri, dari mana kamu mendapatkan semua uang untuk memberi barang-barang itu. Dan lagi, beberapa kali aku melihatmu dijemput olehs om-om dengan mobil mewah. Jadi mau mengelak apa lagi?”


Keluarga Jayantaka memang berbeda dari tiga keluarga besar lainnya. Mereka menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah negeri milik pemerintah. Sementara itu, anak-anak dari keluarga besar lainnya, mereka masuk ke sekolah elite yang isinya adalah anak-anak orang kaya.


Sudah pasti Mila tidak mengetahui siapa Widya sebenarnya. Untuk masalah menunggak SPP, itu terjadi karena asisten rumah tangga yang biasanya bertanggung jawab melakukan tugas itu mengundurkan diri dari pekerjaannya. Lalu, asisten rumah tangga lainnya, yang mengambil alih tugas tersebut, lupa membayar SPP Widya karena mengira itu sudah dibayarkan.


Widya tidak menyangka hal tersebut membuat dirinya dicap sebagai seorang *****. Semua mobil mewah dan om-om yang di sebut oleh Mila merupakan kerabatnya. Beberapa di antara mereka adalah anak buah ayahnya. Jadi, sangat tidak mungkin Widya menjalani praktik yangs dituduhkan Mila.

__ADS_1


Sementara itu, Andi ingin tertawa mendengar penuturan gadis bernama Mila itu. Adik Gayatri dikatakan miskin? Perempuan itu saja memiliki toko ponsel, toko pakaian mewah dan Andis yakin Gayatri masih memiliki bisnis lainnya. Adik seorang Gayatri sudah jelas adalah anak orang kaya.


Jika Widya dikatakan anak miskin dengan aset seperti itu, sudah pasti Andi ini bisa dikatakan hanyalah butiran debu yang tidak memiliki arti. Sepertinya gadis bernama Mila ini tidak mengetahui siapa Widya sebenarnya.


“Maaf ya Mbak, tetapi Widya tidak seperti yang Mbak sebutkan tadi.” Ucap Andi tiba-tiba.


Entah kenapa dia ingin membantu gadis yang mentraktirnya es krim, keluar dari segala tuduhan ini. Setidaknya Gayatri pernah membantunya mendapatkan maaf yang pantas diterima oleh Amira, adiknya. Jadi, sudah sepantasnya dirinya membantu Widya bukan?


“Nggak kayak yang aku sebutkan tadi? Aku ini teman sekelasnya, jadi aku tahu bagaimana keseharian Widya di sekolah. Aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana Widya yang biasanya naik taksi online tiba-tiba saja dijemput mobil mewah. Sudah jelas dia itu jadi gundiknya om-om.” Jelas Mila dengan penuh percaya diri, seolah apa yang ia katakan, kesemuanya adalah sebuah kebenaran.


Andi menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut. “Mbak bilang sendiri bukan bahwa Widya ini sering naik taksi online ketika pulang sekolah? Dari situ saja sudah jelas bahwa Widya bukanlah anak miskin. Mana ada anak yang katanya miskin naik taksi online tiap hari. Dan apa Mbak nggak pernah berpikir bahwa semua yang naik mobil mewah itu adalah kerabat Widya?” Tanya Andi kepada Mila.


“Tentu saja dia bisa naik taksi online, kan dia gundiknya om-om. Dia pake duit yang di kasih Om-om itu untuk kebutuhannya sehari-hari.”


“Benar itu. Aku juga beberapa kali melihat Widya yang jemput gonta ganti mobil mewahnya, dan juga kesemuanya yang menjeput adalah om-om.” Imbuh Rina yang sedari tadi diam.


Andi ingin kembali mendebat gadis bernama Mila itu. Tetapi, pemuda itu melihat kode yang diberikan oleh Widya kepadanya. Gadis itu sepertinya memintanya untuk diam karena dia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri.


“Jadi jangan menuduhku dengan cerita yang tidak-tidak seperti itu. Jika kamu tetap saja seperti itu, aku bisa melaporkanmu dengan tuduhan pencemaran nama baik.” Ancam Widya.


Mendengar ancaman Widya, ketakutan sedikit terlihat di mata Mila. Gadis itu memandang Widya dengan sedikit ragu-ragu. “Heh.” Mila mendengus. “Kali ini kamu ada yang belain, lain kali jangan harap ada yang membelamu. Aku akan membuka semua topengmu yang berpura-pura menjadi gadis suci itu.”


“Ayo pergi Rin. Kita cari kedai es krim lainnya saja. Berada di tempat yang sama dengan ***** membuat ***** makanku hilang.” Ucap Mila sebelum menarik pergi Rina.


Setelah kepergian kedua gadis tadi, beberapa pengunjung kafe terlihats kembali berbisik-bisik. Dari yang Andi dengar, beberapa pengunjung kafe berpendapat bahwa Mila hanya memfitnah Widya, karena gadis itu nyalinya langsung menciut karena diancam akan dilaporkan ke polisi. Meski begitu, masih ada beberapa orang yang mempercayai perkataan Mila dan menuduh Widya sebagai perempuan yang tidak baik.


“Kita pergi saja dari sini.” Ucap Widya yang mulai risih dengan bisik-bisik pengunjung kedai es krim.


Andi menurut saja. Ia tahu keadan di dalam sangat tidak nyaman. Dirinya saja tidak nyaman dengan perkataan mereka. Semoga saja adiknya, Amira, tidak mendapatkan tuduhan-tuduhan yang seperti ini di sekolahnya.

__ADS_1


“Maafkan aku karena tidak membuatmu terlibat dalam keadaan tidak nyaman tadi.” Ucap Widya ketika mereka berada di dalam mobil.


“Ah itu tidak masalah untukku.”


“Aku juga sangat berterimakasih padamu karena sudah membantuku menjelaskan semuanya.”


“Itu tidak masalah untukku. Lagi pula aku tahu kamu bukan seperti yang gadis tadi ucapkan.” Jawab Andi.


“Kenapa kamu bisa percaya sekali denganku mengenai hal itu? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya bukan? Jadi, dari mana kamu yakin aku tidak melakukan semua yang dituduhkan Mila tadi?”


Andi mengangkat bahunya. “Gampang saja. Kamu ini adiknya Mbak Gayatri bukan?”


Widya menjawab dengan sebuah anggukan.


“Nah, sependek pengetahuanku, Mbak Gayatri ini memiliki toko ponsel yang menjual ponsel dengan harga belasan juta. Tidak hanya itu, kakakmu itu juga memiliki toko pakaian mewah yang harga pakaian termurah di sana adalah delapan juta untuk satu setel.”


“Jika demikian, akan sangat bodoh jika aku mempercayai ucapan gadis tadi. Sudah jelas kakakmu kaya, jadi kamu juga kaya. Mana ada orang yang sudah kaya menjadi ***** seperti yang dituduhkan gadis tadi.”


Widya tersenyum mendengar penjelasan Andi. “Ah ya, akan sangat bodoh jika kamu mempercayai perkataan Mila begitu saja setelah mengetahui siapa kakakku. Untung saja kamu bukan orang bodoh.”


Andi hanya tersenyum mendengar ucapan Widya. “Jadi, kita akan kemana setelah ini? Traktiran es krimmu berakhir dengan kekacauan seperti ini. Jangan bilang kamu ingin kita pindah ke kedai es krim lainnya?”


“Tidak. Seperti katamu ini berakhir dengan kekacauan. Aku tidak bisa melanjutkan es krim dengan suasana hati yang buruks seperti ini. Tolong antarkan aku pulang saja. Lain waktu aku akan mentraktirmu lagi. Sebagai ganti traktiran hari ini yang gagal dan juga rasa terimakasihku sudah membelaku tadi.”


Andi pun mengantarkan Widya ke alamat yang dia berikan. Alamat tujuan Widya adalah sebuah rumah mewah yang cukup besar. Di gerbangnya terdapat ukiran-ukiran membentuk sebuah simbol. Terdapat dua simbol yang berbeda di sana.


Tetapi, Andi seperti mengenali salah satu dari dua simbol tersebut. Entah di mana dia melihatnya, Andi rasa beberapa kali dia pernah melihat simbol tersebut. Andi terlihat sibuk memikirkan simbol tersebut hingga tidak menyadari bahwa Widya sudah turun dari mobilnya.


“Terimakasih sudah mengantarkanku. Lain kali jika ada kesempatan lainnya aku akan mentraktirmu.” Ucap Widya sebelum gadis itu memasuki gerbang rumah mewah itu.

__ADS_1


Hal itu menyadarkan Andi dari lamunannya. Ketika ia ingin merespon Widya, perempuan itu sudah menghilang di balik gerbang yang mulai tertutup.


“Ah sudahlah, mungkin simbol di gerbang rumah Widya hanyalah simbol yang umum. Jadi, untuk apa aku memikirkan simbol tersebut.” Setelah berucap demikian, Andi memacu mobilnya meninggalkan rumah Widya.


__ADS_2