
Malam itu Andi tidak bisa menikmati bersenang-senang dengan teman-temannya. Ia lebih banyak diam. Ia tidak akan bisa tenang sebelum dirinya mendapatkan pemberitahuan dari sistem bahwa ia telah menyelesaikan misinya.
Hal itu berarti masih ada bahaya yang mengancam Arya, Satrio, dan Widya. Mereka belum sepenuhnya terbebas dari masalah. Itulah yang membuat Andi tidak bisa tenang dan cemas. Meski begitu, Andi sama sekali tidak menunjukkan kecemasan di wajahnya.
Andi tidak mau membuat tiga orang yang bersamanya khwatir. Jika seperti itu, Andi akan bingung menjawab pertanyaan dari mereka bertiga mengenai apa yang membuatnya cemas. Andi tentunya tidak bisa bilang bahwa mereka dalam bahaya bukan?
Jika seperti itu mereka akan kembali bertanya dari mana Andi mengetahui hal itu. Memikirkannya menjelaskan semua itu saja membuat Andi pusing. Maka dari itu, Andi sebisa mungkin menutupi kecemasannya dengan memaksakan diri menikmati waktu nongkrongnya bersama dengan mereka.
“Sekarang sudah malam, pasti jalanan sudah tidak terlalu ramai sekarang. Bagaimana jika kita kembali ke kafe tadi dan mengambil mobil kita?” Tanya Arya.
Sekarang ini sudah jam tangan Arya menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Meskipun malam minggu, Arya yakin di jam segini jalanan tidak seramai sebelumnya. Tidak masalah bagi mereka untuk mengendarai mobil mereka sekarang.
Bukannya Arya tidak mau berada di mobil Andi. Hanya saja rumahnya dan rumah kakak beradik Jayantaka, berbeda arah. Sudah jelas jika Andi mengantar mereka pulang ia akan melewati setengah Kota Surabaya untuk mengantar mereka.
Jarak dari mall tempat mereka berada saat ini tidak terlalu jauh dari kafe tempat mereka memarkir mobil. Jadi, lebih efisien bagi mereka untuk mengambil mobil ke sana dan pulang dengan mobil masing-masing.
Mendengar ucapan Arya, alarm peringatan di kepala Andi berbunyi. Ia tidak bisa membiarkan mereka mengambil mobil yang ada di kafe tersebut. Andi belum sepenuhnya yakin dengan keamanan kafe tersebut.
Selama nongkrong bareng tadi, Andi sudah menyuruh Kim untuk mengecek kamera pengawas yang ada di sekitar kafe. Anak buahnya itu melaporkan bahwa kamera pengawas di sana telah rusak. Kim tidak dapat mengakses rekaman dari kamera pengawas kafe tersebut.
Terakhir kali kamera pengawas itu berfungsi adalah tadi siang. Hal itu membuat Andi tidak bisa mengetahui apakah sudah ada yang mengotak atik mobil Arya dan Satrio apa tidak. Oleh karena itu, Andi tidak bisa membiarkan Arya dan Satrio mengambil mobil mereka.
“Aku bisa mengantar kalian pulang. Tenang saja. Kenapa repot-repot mengambil mobil kalian?”
“Rumah kami sangat jauh. Kamu akan menghabiskan banyak waktu di jalan jika ingin mengantar kami pulang.” Jawab Arya.
“Tidak masalah untukku. Aku belum tidak tahu rumahmu di mana Arya. Jadi, sekalian saja aku mengantarmu pulang. Dan Kamu Satrio, Kamu baru saja keluar dari rumah sakit pagi ini. Jangan terlalu memaksakan dirimu.”
“Lebih baik aku mengantarmu pulang. Apakah Kamu mau membiarkan Widya menyetir sendirian?”
Mendengar ucapan Andi, kedua pemuda itu menerima alasan yang diberikan oleh Andi. “Alasanmu benar juga. Tetapi, bukankah sama saja dengan kamu mengikuti mobilku dari belakang?”
“Tidak perlu itu akan membuang waktu. Sekarang langsung saja aku mengantar kalian pulang.” Ucap Andi kekeuh.
Mendengar Andi yang kekeuh ingin mengantar mereka, pada akhrnya Arya dan Satrio menurut saja. Meski sedikit aneh, permintaan Andi ini masih mereka terima dengan logika mereka.
“Baiklah.”
Andi pun mengantar mereka pulang. Pertama dia mengantar Arya ke rumahnya. Itu karena rumah keluarga Jayantaka tidak terlalu jauh dari rumahnya. Jadi itu searah dengan jalan pulang Andi.
__ADS_1
Rumah milik Arya tidak terlalu berbeda mewahnya dengan rumah keluarga Jayantaka. Di gerbang rumah Arya, Andi kembali melihat simbol Surya Naranga. Setelah dirinya mendengar cerita dari Almarhum Kakek Buyut Adipramana, Andi tahu apa arti dari simbol tersebut.
Andi kemudian menatap Arya dengan pandangan yang sedikit berbeda. Ternyata keluarga Wijoyokusumo ada hubungannya dengan Sang Penerus sebelumnya. Mungkin itu karena mereka ditakdirkan menjadi rekan dari Sang Penerus, mereka kembali dipertemukan dengan Andi.
“Baiklah terima kasih Andi sudah mengantarku kemari. Besok pagi kita jadi kan jalan-jalanke car free day?” Tanya Arya.
“Tentu saja. Kita kan sudah janjian.” Ucap Andi.
Sebenarnya mereka ingin nongkrong lebih lama lagi. Tetapi, mereka perlu mempertimbangkan Satrio yang baru keluar dari rumah sakit. Jadi, besok mereka akan kembali nongkrong bareng dengan datang ke car free day yang ada di Kota Surabaya.
“Baiklah sampai bertemu besok.” Ucap Arya yang kemudian membuka pintu mobil Andi.
“Arya tunggu sebentar.”
“Ada apa?”
“Aku cuma mau ingetin Kamu. Kalau mau ambil mobilmu, jangan kamu setirin sendiri. Lebih baik suruh orang lain yang melakukannya. Jika perlu, kamu panggil derek dan bawa mobilmu ke bengkel.” Ucap Andi memperingatkan.
“Memangnya kenapa aku harus membawa mobilku ke bengkel? Mobilku baik-baik saja. Kemarin bahkan mobil itu baru keluar dari bengkel setelah servis rutin.” Arya cukup heran dengan peringtan dari Andi. Kenapa dia mengatakan hal itu?
“Kamu inget-inget saja peringatan dariku ini. Jangan menyetir mobil itu sendirian.” Ucap Andi yang kemudian meninggalkan Arya yang masih memikirkan ucapan Andi.
Ketika sampai di rumah Jayantaka, Andi juga memberikan peringatan yang sama kepada Satrio. Ia memberikan banyak penekanan mengenai hal itu kepada Satrio. Sebelum pergi dari sana, Andi memandang lekat ke arah gerbang rumah keluarga Jayantaka.
Sepertinya keluarga Jayantaka memanglah anak buah dari Sang Penerus sebelumnya. Ini berarti, mereka sudah mengetahui identitas Andi sebenarnya. Andi sendiri masih bingung kenapa keluarga Jayantaka tidak mengontaknya dan menanyakan hal itu.
Mungkin mereka sama seperti Andi, ingin memastikan lebih jauh sebelum melakukan kontak. Bedanya, Andi memastikan bahwa mereka adalah anak buah yang baik dan bukan penghianat.
Andi baru mengendarai mobilnya beberapa puluh meter dari gerbang rumah keluarga Jayantaka, ketika ia mendengar sebuah pemberitahuan dari sistem.
[Ding]
[Misi membuat orang yang tengah bersama dengan Host sekarang terhindar dari bahaya telah selesai]
[Hadiah telah disimpan di penyimpanan sistem]
[Host hanya perlu menginformasikan sistem ketika sudah siap untuk menerima hadiah]
Mendengar hal itu, Andi bernafas lega. Ini berarti tiga orang yang tadi bersamanya, sudah terhindar dari bahaya yang mengancam nyawa mereka.
__ADS_1
“Sepertinya, bahaya tersebut memanglah dari mobil mereka. Setelah aku mengantar mereka ke tempat yang aman, misi ini selesai. Tetapi, siapa yang ingin mencelakai mereka sampai menginginkan nyawa mereka melayang?” Gumam Andi.
Tetapi Andi tidak bisa menentukan siapa saja dalang dari kejadian malam ini. Ia tidak terlalu paham siapa saja musuh yang dimiliki oleh keluar Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Hanya ini yang bisa Andi lakukan untuk menolong mereka.
Andi harap, baik Arya maupun Satrio mau mendengarkan peringatan yang diberikannya tadi.
…
“Kami pulang.” Ucap Widya ketika memasuki rumah.
“Kalian sudah pulang rupanya. Tetapi, kenapa aku tidak mendengar suara mobil milik Satrio?” Tanya Rama kepada kedua cucunya.
“Ah itu Andi yang mengantar Kami pulang. Mobilku masih ada di kafe. Entah kenapa Andi bersikap sedikit aneh. Setelah aku pikir-pikir, Andi sangat kekeuh melarang aku dan Arya menaiki mobil kami. Dia juga mengantar Arya pulang tadi.”
“Lebih aneh lagi Andi memberi kami peringatan untuk tidak menaiki mobil kami sebelum membawa mobil itu ke bengkel. Padahal mobilku baik-baik saja. Mobil Arya juga. Bukankah itu sangat aneh Kakek?” Tanya Satrio kepada Rama.
“Andi bilang seperti itu?”
“Iya apa yang dikatakan Mas Satrio memang benar Kakek. Andi memberi peringatan seperti itu.”
Mendengar perkataan kedua cucunya, Rama mengerutkan keningnya. Tidak mungkin Andi mengatakan hal itu tanpa ada alsan yang jelas. Tetapi, apa alasannya? Apakah ini ada hubungannya dengan mobil cucunya.
“Kohar.” Ucap Rama setengah berteriak memanggil butler keluarga mereka.
“Iya Tuan. Ada perlu apa Anda memanggilku?” Tanya Kohar yang baru saja datang.
“Minta seseorang menderek mobil milik Satrio dan membawanya ke bengkel. Ah sekalian mobil milik Arya. Beritahu kepada keluarga Wijoyokusumo mengenai hal itu.”
“Baiklah Tuan akan saya laksanakan.” Setelah itu, Kohar pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh bosnya.
“Kakek kenapa Kakek membawa mobilku ke bengkel?” Tanya Satrio heran dengan apa yang dilakukan oleh Kakeknya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan bahwa mobilmu baik-baik saja.”
“Apa Kakek curiga mobilku ada masalah? Apa ini karena Kakek mendengar Andi mengatakan hal itu? Kenapa Kakek percaya begitu saja?”
Rama menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan sepenuhnya mempercayai orang lain tanpa ada bukti. Tetapi, tidak ada salahnya bukan kita mengecek mobilmu. Jika ada masalah dengan mobilmu, itu berarti Andi sudah kembali menyelamatkanmu.”
“Jika tidak ada masalah apapun, anggap saja dia sendang mengerjai kita. Tidak ada salahnya bertindak hati-hati seperti sekarang. Toh tidak ada ruginya bagi kita melakukan hal ini.” Jelas Rama.
__ADS_1