
Laki-laki yang sebelumnya mengintai interaksi antara Andi dan Dinda, kini tengah mengendarai mobilnya menuju ke luar kota. Setelah satu jam lebih berkendara, laki-laki itu sampai di sebuah rumah mewah berlantai tiga.
Satpam yang berjaga di depan langsung memberikan akses masuk kepada mobil tersebut setelah melihat siapa pengendaranya.
“Anda sudah kembali Tuan Pitu.” Tanya satpam tersebut.
“Ya aku ingin melaporkan sesuatu. Apakah Tuan dan Tuan Besar ada di dalam?” Tanya laki-laki tersebut yang ternyata adalah Nomor Tujuh.
“Ya, Tuan dan Tuan Besar, keduanya ada di rumah.”
“Baiklah. Jaga gerbang rumah baik-baik. Jangan bairkan orang yang tidak dikenal masuk begitu saja. Sekarang ini keadaan semakin menegang. Tuan kita akan melaksanakan rencana mereka setelah ini. Jadi Kamu harus benar-benar siap.” Ucap Nomor Tujuh memperingatkan.
“Tentu Tuan Pitu. Aku akan melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh.” Ucap satpam tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, Nomor Tujuh pun memasuki rumah mewah itu. Ia kemudian disambut seorang laki-laki yang memakai pakaian butler.
“Tuan Zero.” Sapa Nomor Tujuh sembari sedikit membungkukkan badannya.
“Ada apa Kamu kembali ke sini?” Tanya Butler dengan panggilan Zero itu.
“Aku ingin melaporkan sesuatu kepada Tuan dan Tuan Besar, Tuan Zero.”
Zero mengerutkan keningnya mendengar perkataan Nomor Tujuh.
“Bukankah Kamu sudah di serahkan kepada Nona Muda? Jadi, jika kamu ingin melaporkan sesuatu, seharusnya Kamu melaporkan hal itu kepada Nona Muda. Kenapa kamu malah kembali ke rumah utama? Apakah Nona Muda tahu bahwa Kamu ada di sini sekarang?”
“Aku ingin melaporkan sesuatu yang sangat penting Tuan Zero. Ini ada hubungannya dengan Nona Muda. Jadi, aku tidak bisa melaporkan hal ini kepada Nona Muda. Aku melaporkan hal ini langsung kepada Tuan dan Tuan Besar.”
“Aku ingin Tuan dan Tuan Besar memberikan pandangan mengenai hal ini. Jadi aku kemari.” Jelas Nomor Tujuh.
Zero terlihat terdiam sejenak sebelum memandangi Nomor Tujuh dengan tatapan tajam. “Jika laporanmu tidak sepenting itu, maka Kamu harus menerima konsekuensinya karena bergerak tanpa sepengetahuan Nona Muda.”
“Apa yang Kamu lakukan ini sama saja dengan menghianti Nona Muda. Kamu tahu sendiri bukan hukuman bagi para penghianat di keluarga ini? Jadi, apa Kamu yakin akan melaporkan hal ini?” Tanya Zero untuk memastikan kembali.
“Ya aku tahu apa konsekuensinya Tuan Zero.”
__ADS_1
“Baiklah, tunggulah di ruang kerja. Aku akan memberitahu kedatanganmu kepada Tuan dan Tuan besar.”
Nomor Tujuh pun melangkah menuju ke aula yang ada di rumah tersebut. Ini adalah tempat di mana Nomor Tujuh dan keenam rekannya yang lain biasa menerima perintah sebelum mereka diserahkan kepada Nona Muda keluarga ini.
Dekorasi dan penataan tempat yang ada di ruang aula ini tidak jauh berbeda dengan aula yang biasa dipakai Sang Penerus Palsu. Perbedaannya hanya pada nama yang diberikan untuk aula tersebut.
Aula yang sekarang dipakai oleh Sang Penerus Palsu diberi nama The Heaven. Ini karena aula itu berada pada tingkat tertinggi dari bangunan apartemen itu. Tidak hanya itu, bangunan apartemen tempat The Heaven berada, merupakan gedung tertinggi di kota Surabaya.
Lalu, untuk aula yang dimasuki oleh Nomor Tujuh ini adalah The Abyss. Itu karena aula ini berada di rumah utama keluarga mereka. Siapa pun yang membuat kesalahan, akan disiksa layaknya mereka tengah berada di neraka.
Tidak lama setelah Nomor Tujuh berada di sana, pintu aula itu terbuka. Telihat tiga orang laki-laki yang memasuki ruang aula tersebut. Yang berada paling depan adalah seorang laki-laki yang rambutnya sudah beruban. Ia berjalan dibantu dengan sebuah tongkat.
Laki-laki yang membawa tongkat itu kemudian duduk di singgahsana yang ada di aula tersebut. Kedua laki-laki yang mengikutinya, kini berdiri di belakangnya.
“Hormatku kepada Tuan dan Tuan Besar.” Ucap Nomor Tujuh sembari berlutut di depan mereka.
“Bangunlah. Sekarang katakan padaku apa yang ingin Kamu laporkan kepada Kami.”
“Baik Tuan Besar.”
“Aku curiga Nona Muda sudah memiliki perasaan kepada dia Tuan Besar. Anak itu sudah beberapa kali menggalkan rencana kita. Namun, ketika Siji memberikan saran untuk menyingkirkan anak itu, Nona justru marah dan menghukum Siji.” Jelas Nomor Tujuh di akhir laporannya.
Setelah Nomor Tujuh selesai memberikan laporannya, ruang aula tersebut berubah hening. Yang terdengar hanyalah suara ketukan antara jari telunju dan lengan kursi dari singgahsana. Tidak berapa lama kemudian, orang yang dipanggil sebagai Tuan Besar itu bersuara.
“Jadi Dinda tidak fokus pada tujuannya sebagai seorang Sang Penerus? Hemm…”
Mendengar nada bicara dari orang yang duduk di singgahsana, salah satu laki-laki yang berdiri di belakangnya maju ke depan. Ia lalu berlutut di depan laki-laki itu sembari menundukkan kepalanya.
“Maafkan aku Ayah. Aku tidak bisa mendidik putriku dengan benar. Jika Ayah ingin menghukum seseorang, hukum saja aku jangan menghukum Dinda ayah.” Ucap laki-laki itu.
“Hem… Gilang, siapa bilang aku akan menghukum Dinda? Dia adalah cucuku satu-satunya. Dia adalah penerus kita untuk membalaskan dendam keluarga kita ini. Tentu saja aku tidak menghukumnya. Sekarang bangunlah.” Perintah laki-laki tersebut yang ternyata adalah Kakek dari Dinda.
“Lalu, apa yang akan Ayah lakukan?” Tanya Gilang.
“Jika aku tidak bisa menghukum Dinda, tentu saja aku harus menyingkirkan apa pun itu yang menjadi alasan dia kehilangan fokusnya.”
__ADS_1
Kakek dari Dinda itu kemudian mengarahkan pandangannya kepada Nomor Tujuh. “Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?”
“Tentu Tuan Besar aku akan melaksanakannya.”
“Kerjakan serapi mungkin dan secepat mungkin. Sejauh ini, apa yang Dinda lakukan sudah sangat bagus. Aku tidak mau kehadiran pemuda ini merusak rencana kita.”
Setelah mendapatkan perintah seperti itu, Nomor Tujuh undur diri dari sana. Meski Nomor Tujuh sudah pergi, ketiga orang yang ada di sana sama sekali tidak memiliki niatan untuk pergi.
“Gilang, pantau terus pergerakan putrimu itu. Aku tidak mau rencana kita gagal. Jika dia terlihat mulai menyimpang, ingatkan dia secara baik-baik.”
“Tentu saja Ayah aku akan melakukannya.” Jawab Gilang.
Laki-laki yang duduk di singgah sana itu terlihat berpikir keras. Jika saja keluarganya memiliki banyak anggota keluarga, maka mereka akan memiliki banyak kandidat untuk melakukan balas dendam ini. Sayangnya, seperti mendapatkan sebuah kutukan, hanya ada satu kelahiran di setiap generasi.
Gilang adalah satu-satunya anak yang Sahab miliki, dan Dinda adalah satu-satunya anak Gilang. Tidak hanya jumlah anggota keluarga mereka yang menurun, kesehatan dari keluarga mereka juga menurun. Sejak kemunculan Burhan, seharusnya Gilang lah yang bertanding melawan laki-laki itu.
Sayangnya Gilang berubah menjadi sakit-sakitan. Dia sudah tidak pantas lagi menyandang identitas sebagai Sang Penerus. Sedangkan Sahab? Dirinya telalu tua untuk melakukan hal itu. Sama seperti Dirga, kesehatannya juga terus menurun.
Untung saja mereka masih memiliki Dinda. Jadi, ketika Dinda sudah berumur tujuh tahun, mereka melatih gadis itu untuk melakukan balas dendam ini. Latihan yang dijalani Dinda cukup keras bagi anak seusianya.
Meski dalam dirinya masih ada rasa tidak tega melihat Dinda seperti itu, tetapi Sahab mengeraskan hatinya dan membiarkan cucunya menjalani latihan itu.
Demi dendam keluarga mereka, demi mereka dan leluhur mereka bisa tenang di alam sana. Apa pun akan Sahab lakukan demi mencapai hal itu, termasuk dengan mengorbankan masa kecil cucunya.
“Bagus. Zero, sekarang bantu aku kembali ke kamarku. Uhuk, uhuk.” Ucap Sahab yang diakhiri dengan batuk yang cukup keras.
Sahab menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi mulutnya. Setelah ia selesai batuk, Sahab bisa melihat ada darah di telapak tangannya.
“Tuan apa Anda tidak apa-apa?” “Ayah apa Kamu baik-baik saja?” Tanya Gilang dan Zero secara bersamaan. Kekhawatiran terdengar jelas pada nada suara keduanya.
“Uhuk, uhuk. Aku baik-baik saja. Sakitku ini sudah menahun. Jadi sudah biasa aku mengalami hal ini.”
Sahab mengusap bekas darah pada sudut bibirnya. Laki-laki tua itu kemudian memandang lekat ke arah Gilang yang ada di sampingnya.
“Waktuku di dunia ini sudah tidak terlalu banyak. Aku ingin Dinda mempercepat semuanya. Aku ingin sebelum aku pergi dari dunia ini, keluarga Prayudi sudah hancur hingga ke akar-akarnya. Dengan begitu, aku bisa memberikan kabar bahagia itu kepada leluhur kita.”
__ADS_1