Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 178 Tujuh Anak Buah Sang Penerus


__ADS_3

Di sebuah aula, terdapat delapan orang yang sedang melakukan pembicaraan serius sekarang. Satu orang duduk di singgahsana, seorang lagi berdiri di belakang orang tersebut. Enam orang lainnya duduk di kursi yang berbaris di sebelah kanan dan kiri dari singgah sana.


“Jadi, bagaimana tugas yang aku berikan kepada kalian?” Tanya orang yang duduk di singgahsana.


“Sang penerus, aku dan Enem sudah melaksanakan tugas yang Anda berikan dengan baik. Anak buah kami sudah banyak yang menyusup ke wilayah lawan. Satu perintah dari Anda, maka mereka akan melaksanakan rencana kita.” Ucap nomor lima.


“Bagus. Tetap saja menunggu perintah selanjutnya dariku Limo, Enem. Minta anak buah kalian mengawasi semua gerak gerik mereka. Jika bisa, sedikit demi sedikit gerogoti mereka dari dalam. Jika waktunya tiba, kita akan memberikan pukulan besar pada mereka.”


“Baik, Sang Penerus.” Jawab nomor lima dan nomor enam secara bersamaan.


“Lalu kamu Loro, bagaimana dengan musuh utama kita? Apakah kamu sudah menguasai bisnis utamanya saat ini?” Tanya Sang Penerus pada nomor dua.


“Orang-orang yang mengurusi bisnis itu adalah mereka yang menaruh kesetiaannya padaku. Jadi bisa dibilang bahwa, sembilan puluh persen bisnis itu ada pada kekuasaanku Sang Penerus. Sisanya hanya orang yang mengurusi pembukuan di markas besar kelompok orang itu.”


“Pergerakanku di sana sudah bebas sekarang. Aku bisa mengatur semuanya tanpa takut ada yang mengawasi. Lalu, dengan uang yang diberikan oleh keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo, aku sudah memperbesar skala bisnis tersebut. Keuntungan kita juga semakin banyak Sang Penerus.”


“Secara sedikit-demi sedikit, aku juga mengurangi jumlah keuntungan yang aku setorkan pada dia. Dalam satu bulan, kita bisa mengambil keuntungan seratus lima puluh milyar rupiah. Itu adalah angka bersih yang kita dapatkan.”


“Jadi uang itu tidak perlu lagi dipotong uang keuntungan yang sudah kita janjikan kepada keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo. Tanpa mengeluarkan modal, kita bisa mendapatkan keuntungan sebesar itu.”


“Apakah dia mencurigaimu?” Tanya Sang Penerus.


“Tidak. Sampai sekarang dia tidak mencurigaiku. Semua sudah di persiapkan sejak lama. Aku memulainya dari tingkatan terendah dan naik ke hingga aku mendapatkan kekuasaan yang sekarang. Jadi, dia sudah menganggapku sebagai bagian dari kelompoknya. Dia tidak akan curiga padaku.”


Nomor dua terlihat sangat percaya diri dengan apa yang ia ucapkan. Ia sudah menyusup dan bergabung dengan kelompok orang itu selama dua belas tahun. Nomor dua yakin bahwa orang itu sama sekali tidak akan mencurigai dirinya.


Sekarang saja, dirinya mendapatkan kekuasaan dibawah dia. Ini berarti kepercayaan orang itu kepadanya cukup tinggi. Nomor dua akan memanfaatkan kepercayaan itu agar bisa melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuannya yang asli.


“Meski begitu, Kamu tidak boleh menganggap remeh orang itu, Loro. Kamu tetap harus berhati-hati. Satu kesalahan kecil bisa merusak semua rencana yang sudah disusun puluhan tahun ini. Aku tidak mau Kamu mengacaukan rencanaku.”


Diperingatkan seperti itu, Nomor dua hanya bisa menundukkan kepalanya. “Baiklah Sang Penerus. Aku akan mengingat hal itu dengan baik. Terima kasih sudah menyadarkanku.”

__ADS_1


Mendengar perkataan nomer dua, Sang Penerus menganggukkan kepalanya. Ia suka dengan para bawahannya ini. Mereka sangat penurut dan mau menuruti perkataannya. Dia peringatkan sedikit saja, mereka merasa seperti sudah melakukan kesalahan besar.


Seperti yang dilakukan oleh si nomer dua sekarang. Ia hanya menundukkan kepala, tidak lagi menngangkat tinggi kepalanya seperti sebelumnya.


“Baguslah jika Kamu sudah paham. Sekarang, Telu bagaimana dengan tugasmu?” Tanya Sang Penerus kepada nomor tiga.


“Beberapa anak buahku sudah menyusup ke perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo, Sang Penerus. Tiga puluh persen dari mereka yang menyusup ke perusahaan kedua keluarga itu, sudah memiliki jabatan yang cukup tinggi.”


“Jadi, kita sudah mengetahui cukup banyak rahasia perusahaan mereka. Kita bisa menjual rahasia perusahaan mereka untuk melemahkan kekuatan mereka.” Jelas nomor tiga.


“Lalu, bagaimana denganmu Papat?” Tanya sang penerus kepada nomor empat.


“Anak buahku juga sudah menyusup menjadi karyawan di perusahaan milik keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Sayangnya, mereka cukup ketat. Jadi, tidak ada satupun dari anak buahku yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan itu. Mereka hanyalah pekerja biasa di sana.”


“Meski begitu, anak buahku itu bisa memberikan dorongan kuat jika ada yang menyerang dari luar.” Jelas nomor empat.


Ini adalah alasan Sang Penerus menghubungi keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo. Ia ingin membatunya menghancurkan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka.


Oleh karena itu, Sang Penerus memutuskan menghubungi keluarga Sasongko dan keluarga Sanjoyo untuk membantu menenkan keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka.


Jika keempat keluarga tersebut yang saling berkonflik, itu akan memberikan kesempatan besar bagi Sang Penerus dan anak buahnya untuk menghancurkan mereka. Para penyusup itu akan menggerogoti dari dalam sementara mereka saling serang di luar.


Bukankah dengan begitu, kehancuran keempat keluarga itu bisa dipercepat lagi? Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


“Bagus. Kalian juga tingal menunggu tanggal mainnya saja. Setelah itu, semuanya akan menyerang bersama-sama. Aku yakin dengan kita membuat masalah bagi mereka yang bisa mendukungnya, orang itu tidak akan berbuat banyak.”


“Sekarang kita masuk ke tahapan selanjutnya. Politik kambing hitam. Loro, kerjamu cukup bagus untuk membakar kafe itu.”


“Aku hanya melaksanakan semua perintahmu Sang Penerus. Semua itu adalah idemu. Jadi aku tidak pantas menerima pujian ini.” Ucap nomor dua merendah.


“Sekarang, kita perlu melakukan serangan lainnya dan mengarahkan semua buktinya kepada orang itu. Limo, Enem, sekarang kalian bisa membuat sedikit masalah di wilayah musuh. Buat semua bukti itu mengarah ke target utama kita.”

__ADS_1


“Baik, kami akan melaksanakannya Sang Penerus.” Ucap nomor lima dan enam secara bersamaan.


“Pitu, aku mempunyai tugas baru untukmu.”


“Aku siap melakukan apapun perintahmu Sang Penerus.”


Nomor tujuh sudah langsung menerima perintah dari Sang Penerus meskipun ia belum mendengar apa perintah itu sebenarnya. Ini adalah didikan yang mereka terima sejak kecil.


Mereka semua itu adalah anak-anak terpilih yang dididik untuk dipersiapkan menjadi anak buah dari Sang Penerus.


Ketujuh orang tersebut sudah dicuci otak untuk melakukan semua ini. Bagi mereka, Sang Penerus seperti dewa mereka, kepercayaan mereka. Jadi segala perintah Sang Penerus harus mereka laksanakan dengan baik. Bahkan jika perintah itu adalah mengambil nyawa mereka sendiri.


“Aku ingin Kamu menyelidiki anak yang bernama Andi itu. Aku ingin tahu apa saja yang dia lakukan saat ini. Kamu juga harus mencari tahu bisnis apa yang sekarang dia lakukan.” Perintah Sang Penerus.


“Tentu Sang Penerus. Aku akan melaksakanan hal itu.” Jawab nomor tujuh.


“Lalu Siji, bagaimana keadaan keuangan kita saat ini?” Tanya Sang Penerus kepada nomor satu yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


“Terakhir kali aku hitung, uang tunai yang kita miliki saat ini adalah tiga puluh triliyun rupiah. Itu belum termasuk properti yang kita miliki. Tetapi, jika dibandingkan dengan gabungan kekayaan yang dimiliki oleh musuh kita, kita masih jauh di bawah mereka.”


“Dari kabar terakhir yangaku peroleh, keluarga Jayantaka memiliki kekayaan mencapai tujuh pululuh triliyun rupiah, keluarga Wijoyokusumo memiliki kekayaan mencapai lima puluh sembilan triliyun rupiah, keluarga Sanjoyo memiliki kekayaan mencapai tiga puluh delapan triliyun rupiah, dan keluarga Sasongko memiliki kekayaan mencapai tiga puluh satu triliyun rupiah.”


“Gabungan kekayaan seluruh keluarga musuh utama kita jika diperkirakan sudah mencapai delapan puluh triliyun rupiah. Jadi, kita masih jauh dari mereka.” Jelas nomor satu.


Sang Penerus memang sudah tahu bahwa dari segi kekayaan, kelompoknya ini masih jauh dibawah musuh-musuh mereka. Tetapi, Sang Penerus tidak hanya memanfaatkan kekayaan untuk mengalahkan mereka. Ia lebih suka menggunakan strategi.


Rencana ini sudah di susun sejak tiga puluh tahun yang lalu. Jadi sudah pasti mereka tahu langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan. Apalagi mereka di sisi gelap yang tidak disadari keberadaannya oleh musuh.


Ketika Sang Penerus melakukan serangan, pasti musuh-musuhnya akan tumbang meski mereka jauh lebih kaya dan berkuasa.


“Baiklah pertemuan kita akhiri di sini. Kalian jalani saja semua tugas kalian dengan baik. Jika ada perkembangan dari tugas yang kalian lakukan, hubungi Siji.”

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Sang Penerus bangkit dari singgahsananya. Ia kemudian berjalan menuju ke sebuah pintu yang mebawanya ke lift khusus yang terhubung dengan basement. Yang memiliki akses lift ini hanya Sang Penerus dan pengawal setianya, nomor satu.


__ADS_2