Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 142 Pembicaraan Jony dan Bejo


__ADS_3

Jangan lupa Vote, Like, Komen dan tambahkan favorit


Jony menyerahkan beberapa lembar kertas kepada laki-laki di depannya. Di punggung tangan sebelah kiri laki-laki itu, terdapat sebuah tato bergambar bulan bintang. Setelah beberapa saat mencari, pada akhirnya Jony berhasil menemukan club yang dikelola oleh Gang Rajawali Hitam.


Jony ingin menyelesaikan urusannya yang belum terselesaikan. Meskipun ayahnya melarangnya untuk keluar rumah, tetapi ini adalah urusan yang sangat penting. Ia perlu membalaskan kekesalannya pada Andi.


Untuk urusan perusahaan keluarganya, ada atau tidaknya Jony tidak akan memberikan banyak pengaruh. Lagi pula semua itu tidak ada urusannya dengannya. Jadi daripada hanya berdiam diri di rumah, Jony memilih pergi ke Surabaya.


“Jadi, ini informasi mengenai target?” Tanya laki-laki bertato itu.


“Iya Mas. Itu informasi dari target Mas Bejo. Aku ingin Mas Bejo merusak cewek itu. Memper kosanya, memukulinya semuanya bisa Mas lakukan. Yang penting dia rusak.”


“Yang cowok Mas bisa patahin beberapa tulangnya. Buat dia cacat itu jauh lebih baik. Lalu setelahnya, Mas Bejo bisa buang dua orang itu di pinggir jalan. Aku yakin Mas Bejo bisa kan mengurus mereka berdua bukan?”


Laki-laki bernama bejo itu terlihat menganggukkan kepalanya. “Tentu saja aku bisa melakukannya. Cewek ini cukup cantik juga. Urusan seperti ini tentu saja aku mau melakukannya. Dibayar untuk menikmati tubuh cewek kayak gini, siapa juga yang nggak mau.”


Sebuah seringai tercetak jelas di bibir Bejo. Jony bahkan melihat Bejo beberapa kali membasahi bibirnya. Dia seolah sudah tidak sabar mecicipi adik dari Andi itu.


Bejo pikir sangat sayang untuk gadis secantik Amira dicicipi lalu dibuang begitu saja. Itu tidak akan memberinya uang lebih. Bejo berencana setelah menculik targetnya ini, ia akan menjualnya pada pria hidung belang.


Bejo yakin dengan begini ia akan mendapatkan uang berlebih. Lagi pula, bisnis pel acuran milik gangnya sedang membutuhkan bibit baru saat ini. Jadi, jika ada tawaran untuk menculik seseorang seperti ini, tentu saja Bejo tidak akan melewatkannya.


Setelah segel gadis itu dijebol oleh pria hidung belang, maka saat itulah Bejo dan anak buahnya bisa mencicipi tubuh gadis itu. Bagaimana pun juga, gadis tersegel harganya jauh lebih mahal daripada yang segelnya sudah jebol.


Lalu untuk target satunya, Bejo juga memiliki rencana lain untuknya. Sekarang ini beberapa pria hidung belang tidak hanya berminat pada kaum hawa. Kaum adam pun sekarang mulai mereka embat. Jadi, nasib anak laki-laki ini tidak akan jauh berbeda dengan gadis sebelumnya.


Meski Bejo memiliki niatan seperti ini, dirinya tidak akan memberitahukan hal itu kepada Jony. Jika ia memberitahu Jony, bisa saja bayaran yang ia terima menurun. Jony yang tahu Bejo akan menjual Amira pasti akan memberinya bayaran yang tidak terlalu tinggi.


“Tetapi, semua itu tergantung bayarannya. Kalo bayarannya gede, ini bisa beres dan nggak ada jejak. Kalo bayarannya kecil, jangan harap kami bisa ambil tugas ini. Tahu sendiri kan, sekarang polisi makin pinter. Kalo aku lengah dikit aku bisa ketangkep.”


Jony langsung mengerti apa maksud Bejo setelah mendengar ucapannya. Laki-laki itu ingin bayaran besar dari Jony. Asalkan semua bisa diselesaikan dengan cepat, itu tidak menjadi masalah besar untuk Jony.


Di tabungannya masih ada dua milyar. Itu adalah hadiah yang diberikan ayahnya atas kelulusannya. Jadi, Jony bisa mengeluarkan uang cukup besar untuk rencananya ini terlaksana.

__ADS_1


“Aku akan memberikan Mas Bejo seratus juta untuk melakukan semua ini. Tetapi, sekarang aku hanya membayar setengahnya. Nanti, jika Mas Bejo sudah menyelesaikan semua itu, akan aku bayar sisanya.”


Mata Bejo berbinar mendengar ucapan Jony. Tetapi laki-laki itu segera mengubah ekspresinya. Ia tidak mau terlihat senang dengan jumlah bayaran yang akan Jony berikan padanya. Jika Jony tahu, bisa jadi dia akan berubah pikiran.


“Baiklah. Aku akan mengambil kerjaan ini.”


Langsung saja Jony mentransfer uang muka untuk menghancurkan adik-adik Andi ke rekening milik Bejo. Dengan begini, nasib kedua adik Andi sudah tersegel. Sebentar lagi mereka akan menderita.


“Aku ingin Mas Bejo segera menyelesaikan tugas ini. Aku tunggu kabar dari Mas Bejo.”


Setelah urusannya dengan Bejo selesai, Jony melangkahkan kakinya menuju meja bar. Ia berniat minum beberapa gelas alkohol sebagai perayaan permulaan rencananya. Jony berharap rencananya ini berjalan dengan lancar dan tanpa kendala apa pun.


‘Ini semua karena kamu selalu menghalangi jalanku Andi. Seharusnya kamu tetap menunduk jika di depanku dan tidak melawan. Kehancuran adik-adikmu itu adalah ulahmu sendiri Andi.’ Gumam Jony dalam hati.


Jony menikmati suasa club malam yang mulai ramai ini. Sesekali ia akan mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama musik yang dibawakan oleh DJ yang ada di club ini. Jony sudah tidak asing dengan kehidupan malam seperti ini.


Setiap akhir pekan, dirinya juga sering pergi ke club malam di kotanya. Meskipun itu adalah satu-satunya club yang ada dikotanya dan ukurannya tidak besar, tetapi Jony menikmatinya. Yang terpenting, ada alkohol yang membantunya melupakan beberapa masalahnya.


Di tengah-tengah Jony menikmati minumannya, seseorang menarik daun telinganya dari belakang. Jelas saja Jony tidak terima diperlakukan seperti ini. Dirinya hanya duduk menikmati minumannya dan tidak membuat masalah dengan siapa pun malah di perlakukan seperti sekarang ini.


“Bang sat, lepaskan tanganmu itu dari telingaku.” Teriak Jony. Ia mencoba mengibangi suara musik yang saat ini diputar cukup keras itu.


“Oh, sekarang kamu sudah berani mengumpat kepadaku? Tidak hanya itu, kamu sekarang juga sudah berani melemparkan minuman di mukakku? Sudah merasa hebat rupanya.” Ucap orang tersebut.


Jony sedikit mengerutkan dahinya. Kenapa orang di depannya ini memiliki suara seperti ayahnya? Ah mungkin alkohol dan musik yang keras itu membuat Jony salah dengar.


“Apa maksudmu bajing an. Kamu kira aku tidak berani mengumpat dan melemparkan minuman padamu? Aku juga berani menamparmu. Kamu pikir kamu bisa seenaknya menjewer telingaku.”


Setelah berkata demikian, Jony mengangkat sebelah tangannya. Ia mencoba melakukan apa yang baru saja ia ucapkan. Menampar orang di depannya ini. Namun, sebelum tangannya mendarat di tubuh orang di depannya, seseorang menahan tangannya.


“Oh jadi sekarang kamu juga sudah berani memukul ayahmu. Jony Bagaskara, buka matamu itu lebar-lebar, dan lihat siapa yang sekarang berdiri di depanmu ini.” Bentak laki-laki yang berdiri di depan Jony.


Mendengar perkataan orang di depannya itu, Jony menerjab nerjabkan matanya mencoba memperjelas tubuh orang di depannya. Jony cukup kaget ketika mengetahui siapa sebenarnya orang yang sedari tadi ia bentak itu.

__ADS_1


“Ayah? Kenapa Ayah ada di sini?”


Jony tahu bahwa dirinya sekarang ini dalam masalah besar. Tidak menuruti perkataan ayahnya untuk tetap di rumah bisa dibilang bukan masalah yang cukup serius. Tetapi, mengumpat kepada ayahnya, melemparinya dengan minuman dan berniat menamparnya?


Itu adalah masalah yang cukup serius bagi Jony. Sekarang Jony perlu memikirkan cara agar terhindar dari hukuman ayahnya itu.


“Tentu saja menjemputmu untuk pulang.” Ucap Marcel dingin.


“Benar kataku bukan? Jika Kakak tidak segera menjemput Jony, dia pasti akan memberikan masalah besar untuk keluarga kita. Denganmu saja dia berani melakukan semua itu. Apalagi dengan orang lain. Sudah pasti dia akan membuat masalah baru.”


“Jika Kamu tidak mendidik anakmu ini dengan benar, maka aku yakin cepat atau lambat keluargamu akan hancur di tangan Jony yang sering membuat masalah.” Ucap Marco dengan nada dinginnya yang khas.


“Diamlah. Aku masih bisa mendidik anakku sendiri. Kamus tidak perlu ikut campur dalam urusan ini.”


Setelah berucap demikian, Marcel menyeret Jony pergi dari sana. Jika saja dirinya tidak membutuhkan Marco sebegai penunjuk mengenai keberadaan Jony, maka Marcel tidak akan mengajak adiknya itu kemari.


Marco hanya menggelengkan kepala memandang kakaknya yang kini tengah menyeret keponakannya pergi itu. Tidak lama kemudian, seseorang berjaket hitam menghampiri Marco.


“Bos.” Ucap orang tersebut.


Sebenarnya, Marco sama sekali tidak memasang GPS pada mobil Jony. Ia hanya menyuruh salah satu anak buahnya untuk membututi Jony jika keponakannya itu pergi dari rumah. Marco tidak mau Jony menambah masalah mereka.


“Jadi, apa saja yang dilakukan oleh keponakanku selama di sini?” Tanya Marco.


“Dia tadi hanya keluar masuk di beberap club. Dia seperti tengah mencari keberadaan seseorang. Lalu, ketika ke sini, dia mencari penanggung jawab club ini. Mereka berbicara berdua di ruang tertutup. Jadi aku tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan.” Lapor anak buah Marco.


Kemudian, anak buah Marco melihat ke sekeliling mereka. Setelah merasa tidak ada yang memperhatikan mereka, anak buah Marco lalu mencondongkan tubuhnya kedepan. Ia ingin mendekatkan mulutnya ke telinga Marco.


“Aku dengar, club ini dikelola oleh Gang Rajawali Hitam. Jadi aku pikir keponakan Bos sedang merencanakan sesuatu sekarang.” Bisik anak buah Marco.


“Jadi seperti itu ya. Kalau begitu, sebisa mungkin awasi pergerakan dari orang suruhan Jony. Aku ingin tahu siapa yang dia targetkan sekarang. Jika dia orang yang memiliki kekuasaan, segera beritahu aku. Jika dia orang biasa biarkan saja.”


“Sebisa mungkin kamu juga jangan mengkonfrontasi secara langsung para preman itu. Cukup pantau dari jauh. Aku tidak ingin menambah masalah saat ini.”

__ADS_1


“Baik Bos.”


__ADS_2