Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 207 Peringatan Burhan


__ADS_3

Pagi harinya Andi mendapatkan kunjungan dari beberapa sepupunya. Mereka yang sedang berada tidak jauh dari Surabaya, akan menyempatkan diri untuk mengunjunginya.


Ketika sepupunya berkunjung, Andi memperingatkan mereka untuk lebih berhati-hati lagi. Andi tidak mau mereka mengalami nasib yang sama seperti yang ia alami.


Siang harinya, Andi menerima tamu yang cukup tidak terduga. Ia tidak menyangka bahwa orang itu akan datang mengunjunginya. Saat ini Andi sendirian di ruang rawat inapnya.


Meskipun di depan ada pengawalnya yang berjaga, orang ini pasti mengatakan bahwa dia adalah keluarga Andi. Jadi, mereka meloloskannya orang ini sehingga bisa masuk ke dalam ruangnya.


“Om Burhan. Kenapa Om Burhan ada di sini?” Tanya Andi yang langsung meningkatan kewaspadaannya.


Di saat dirinya tidak terluka saja Andi tidak sepenuhnya yakin ia bisa mengalahkan Burhan dalam pertarungan. Apalagi dengan lengan kirinya yang terluka seperti sekarang. Jelas Andi tidak bisa mengalahkannya.


“Jangan tegang seperti itu tenang saja.” Ucap Burhan.


Burhan lalu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang rawat Andi. Ia lalu menatap Andi dari tempatnya duduk. Burhan sengaja memilih duduk di sini. Itu karena dia ingin memberikan rasa aman bagi Andi.


Jika dirinya duduk terlalu dekat dengan keponakannya itu, sudah pasti Andi akan terus menerus merasa tegang dan menjaga kewaspadaannya terhadap Burhan. Gerakan kecil yang Burhan lakukan pun juga akan membuat Andi merasa was-was.


Jadi, Burhan memilih duduk di sofa yang jaraknya delapan meter dari ranjang rawat yang Andi tempati. Ini adalah sofa terjauh yang ada di ruangan Andi dirawat.


“Apa Om datang kemari karena ingin meminta warisan leluhur kita dariku? Aku tidak akan menyerahkannya kepada Om Burhan. Jika itu berada di tangan Om Burhan, pasti Om akan mempergunakannya untuk melakukan hal yang buruk.” Ucap Andi.


Mendengar hal itu, Burhan mengibaskan sebelah tangannya. Ia lalu memandangi lengan Andi yang sekarang ini masih terbalut perban itu.


“Santai saja. Aku sudah menyerah mendapatkan sistem itu darimu. Dia sudah meninggalkanku. Itu berarti, antara aku dan sistem itu memang tidak berjodoh. Karena dia sudah memilihmu, maka Kamu dan sistem itu telah berjodoh.”


Andi mengerutkan keningnya. Ia tidak sepenuhnya mempercayai ucapan Burhan itu. Tidak mungkin Burhan semudah itu melepaskan sistem begitu saja. Memiliki sistem memberikan keuntungan yang cukup besar. Dengan memiliki sistem apa pun bisa dicapai.


Melihat Andi yang mengerutkan keningnya, Burhan tahu bahwa Andi tidak mempercayai apa yang baru saja ia ucapkan. Burhan cukup memahami hal itu. Apa yang ia lakukan selama ini membuat keluarganya sulit untuk mempercayainya.


Lagipula, kedatangan Burhan kemari bukan untuk membuat Andi percaya dengan kata-katanya. Ia hanya ingin membagi informasi dengan keponakannya itu.


“Aku tahu Kamu tidak akan mempercayai ucapanku. Tetapi tujuanku kemari bukan itu. Aku hanya ingin memberimu peringatan untuk tidak mengungkapkan identitasmu sebagai Sang Penerus kepada orang lain yang bukan keluarga kita.” Ucap Burhan.


“Sepertinya tragedi berdarah yang pernah terjadi di masa Kakek akan terulang kembali. Sebelum keluarga kita benar-benar kuat, aku tidak mau kejadian itu kembali menimpa keluarga kita.” Imbuh Burhan.

__ADS_1


“Apa Om Burhan yakin dengan hal itu?”


“Tentu saja aku yakin. Aku sudah seratus persen yakin dengan hal itu. Yang kemarin menyerangmu pun berasal dari orang yang sama.”


Itu sama seperti perkiraan Andi dan Aripto semalam. Ini berarti yang mencelakainya memang benar ada kaitannya dengan para penghianat itu.


“Aku sampai sekarang belum mengetahui siapa mereka sebenarnya. Informasi yang aku gali hanya sebatas pada kaki tangan mereka. Aku belum menemukan siapa Bos mereka. Untuk itu, lebih baik jangan ungkapkan identitasmu sebagai Sang Penerus.”


Burhan meminta Andi melakukan hal ini karena ia ingin mengungkapkan bahwa penerus itu adalah dirinya bukan Andi. Burhan ingin mengelabuhi musuh agar mereka menargetkan dirinya saja tanpa menyentuh keluarga Prayudi.


Setidaknya hanya itu yang bisa Burhan lakukan untuk menebus kesalahannya. Lagipula, dari penyelidikan yang ia lakukan, saat ini mereka hanya mengetahui bahwa Burhan adalah Sang Penerus. Mereka belum tahu bahwa ia bukan lagi Sang Penerus tetapi Andi-lah Sang Penerus sebenarnya.


Burhan tidak akan membiarkan mereka tahu mengenai rahasia ini. Jika memang nanti ini harus memakan korban, biar dirinya saja yang berkorban.


“Sepertinya sudah ada dua keluarga yang mengetahui identitasku sebagai Sang Penerus. Aku tidak tahu apakah mereka adalah bagian penghianat itu atau tidak Om.”


“Kalau begitu, sebelum kita tahu siapa dia sebenarnya¸lebih baik Kamu kurang intensitasmu bertemu dengan orang asing.”


Burhan tidak telalu lama berada di sana. Hanya sekitar dua puluh menitan. Setelah itu, Burhan pergi dari sana. Ketika berada di lorong rumah sakit, Burhan bertemu dengan seorang perempuan yang membawa bungkusan makanan. Dari apa yang dibawanya, perempuan tersebut akan menjenguk seseorang.


Burhan rasa dirinya tidak pernah bertemu dengan perempuan tadi. Jadi, dari mana asalnya kebencian perempuan tadi?


….


Andi baru akan memakan sebuah roti yang dibelikan oleh sepupunya ketika pintu kamarnya kembali di ketuk. Hal itu membuat Andi mengurungkan niatnya untuk memakan roti tersebut.


“Apakah itu Om Burhan? Apakah ada hal yang lupa ia katakan padaku?” Gumam Andi.


“Masuk aja.” Ucap Andi sedikit keras mempersilahkan orang yang diluar untuk masuk ke dalam ruangan rawat inapnya.


“Hai Andi, gimana keadaanmu.”


“Eh Dinda, ternyata Kamu yang datang. Masuk Din. Tapi, dari mana kamu tahu aku berada di sini?” Tanya Andi heran.


“Ah itu, aku… aku….” Ucap Dinda sedikit tergagap dia tidak bisa memberi alasan yang tepat kepada Andi mengenai hal itu.

__ADS_1


Sebelum Dinda menjawab, pintu ruang rawat inap Andi kembali di ketuk. Kali ini tanpa menunggu Andi mempersilahkan, pintu itu sudah terbuka. Hal itu membuat Andi lupa bahwa Dinda belum menjawab pertanyaannya.


Di sana Andi melihat kedatangan kedua adiknya. Tidak hanya itu, di belakang kedua adiknya, Andi melihat rombongan kecil lainnya. Ada Widya, Satrio dan Arya.


“Kakak.” Ucap Amira dan Arfan secara bersamaan sembari berlari menuju ke ranjang Andi di rawat.


“Kak Andi nggak papa kan?” Tanya Amira penuh kekhawatiran.


“Aku nggak papa tenang aja. Kalo nggak nanti sore, berarti besok aku sudah bisa kembali pulang. Kalian nggak perlu khawatir.”


“Kalian datang juga?” Tanya Andi sembari memandang ke arah tiga orang yang datang bersama dengan kedua adiknya.


Andi ingat perkataan Burhan untuk tidak berhubungan dengan orang lain selain keluarganya untuk saat ini. Tetapi, tidak mungkin bukan Andi mengusir mereka saat ini? Tujuan mereka kemari adalah untuk mengunjungi dirinya yang tengah sakit.


Ada sebuah istilah yang mengatakan kita tidak boleh memukul orang yang tengah tersenyum kepada kita, meski orang itu adalah orang jahat sekalipun. Jika melakukannya, yang dianggap jahat justru kita bukan orang itu.


Jadi, Andi menyambut kedatangan mereka dengan cukup baik. Jika Andi memang harus menghindari mereka, maka ia akan melakukannya setelah ia keluar dari rumah sakit.


“Ya. Kami mengetahui kabar ini dari unggahan yang dibuat oleh sepupumu. Jadi, kami bertiga datang kemari.” Jelas Widya.


Mendengar ucapan Widya, Andi langsung berpikir bahwa Dinda juga mengetahui keadaannya dari unggahan sepupunya. Tadi pagi ketika sepupunya datang, beberapa dari mereka memang mengunggah foto Andi yang berada di ranjang rumah sakit.


“Oh seperti itu. Silahkan semuanya duduklah.”


“Sebenarnya kenapa Kamu bisa seperti ini?” Tanya Widya khawatir.


Beberapa yang lain pun sekarang tengah menatap Andi seolah meminta pemuda itu menceritakan kejadian yang dialaminya. Melihat hal itu, Andi pun menceritakan dengan runtut kejadian yang ia alami kemarin malam.


Yang tidak mereka sadari, ada satu pasang mata yang memandang interaksi antara Andi dan lainnya dengan tatapan tidak suka. Terutama tatapan Andi kepada Widya. Ia sangat tidak menyukai perempuan itu yang ia rasa sudah mengganggu waktunya untuk berduaan saja dengan Andi.


‘Jika kalian tidak datang kemari, maka aku bisa menghabiskan waktu berduaan dengan Andi. Kedatangan kalian sekarang telah merebut perhatian Andi dariku.’


‘Sepertinya keluarga Wijoyokusumo dan kelarga Jayantaka harus segera dihancurkan. Terutama ular dari keluarga Jayantaka itu. Aku akan menyiksanya hingga dia memohon untuk diakhiri hidupnya.’ Gumam Dinda dalam hati.


Meski sangat tidak menyukai orang-orang ini dan tidak sabar untuk menghabisi mereka, tetapi sebisa mungkin Dinda menutupi rasa tidak sukanya itu. Masih ada Andi di sini. Ia tidak mau Andi sampai curiga kepadanya.

__ADS_1


Jadi, sebisa mungkin, Dinda harus bisa terlihat akur dengan orang-orang ini. Ia masih harus menjaga citra baiknya di depan Andi.


__ADS_2