Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 89 Ibu-ibu yang Tidak Tahu Diri


__ADS_3

“Pokonya aku nggak mau tau, kalian musti ganti rugi ponsel punya anakku.” Ucap ibu-ibu itu dengan suara lantangnya.


Itu adalah perkataan ibu-ibu itu ketika Andi menghampiri adik-adiknya. Ia kemudian berdiri di samping Amira. “Sebenernya ada apa Dek?” tanya Andi. Meski ia ingin membela adiknya, ia perlu mengetahui dulu perkara yang terjadi bukan? Jika tidak, bagaimana bisa ia membela adik-adiknya.


“Ibu-ibu ini nuduh Arfan nyenggol anaknya yang ngebuat ponsel anaknya jatuh. Sekarang ponsel dia rusak dan minta gnati rugi.” Jelas Amira singkat.


Amira merasa sial hari ini. Dirinya hanya berniat melihat-lihat ponsel android bersama dengan Arfan. Amira ingat jelas bahwa mereka hanya diam melihat-lihat ponsel yang sedang ada di meja display. Namun, nasib sial menimpa mereka tiba-tiba saja ibu dan anak ini mendatangi mereka.


Gadis itu ingat bahwa Arfan sama sekali tidak menyenggol mereka. Tiba-tiba saja anak laki-laki ibu itu terjatuh bersama dengan ponsel yang dibawanya. Masalahnya tidak berhenti di situ, layar ponsel anak ibu itu mengalami keretakan dan sekarang ponsel itu tidak bisa dinyalakan.


Ibu dan anak itu sekarang meminta ganti rugi kepada Amira dan Arfan. Jika saja Amira atau Arfan memang benar-benar menabrak anak itu dan mengakibatkan ponselnya rusak, pasti Amira akan bertanggung jawab. Tetapi, sekarang ini mereka diminta untuk bertanggung jawab atas hal yang tidak mereka lakukan. Tentu saja Amira tidak mau.


“Eh siapa bilang aku nuduh. Emang kamu dan adek kamu itu udah senggol anak aku sampe ponselnya rusak gini. Aku nggak nuduh ya, cuma bicarain fakta.” Bantah ibu itu tidak terima.


“Aku nggak lakuin itu Kak. Aku cuma liat-liat aja. Tapi, anak itu yang tiba-tiba tabrak aku.” Ucap Arfan membela diri.


Mendengar ucapan Arfan, ibu tersebut menatap tajam ke arah Andi. Ia menyapukan pandangannya kepada Andi dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Mas ini Kakaknya mereka ya.”


“Iya aku kakak mereka.”


“Bagus, sebagai Kakak mereka, orang yang lebih dewasa soal ini, Mas perlu bertanggung jawab atas apa yang adik-adik Mas sudah lakuin.” Nasihat ibu itu. “Jadi, sekarang aku minta Mas bertanggung jawab gantiin ponsel anak saya.”


“Apakah kamu bener nyenggol anak ibu ini sampe ponselnya jatuh?” Tanya Andi memastikan kepada adik-adiknya.


“Aku nggak lakuin itu Kak. Beneran.” Ucap Arfan penuh kenyakinan.


Mendengar hal itu Andi tahu adiknya berkata jujur. Ayah dan Ibunya mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah mereka lakukan. Memang ada kemungkinan Arfan membohonginya. Tetapi tidak jika ada Amira di sini.


Jika Arfan bohong, sudah jelas Amira akan memintanya menganti kerugian ibu ini ketika Andi datang. Tetapi, adiknya itu malah membicarakan mengenai tuduhan ibu-ibu ini. Itu berarti adik-adiknya memang tidak melakukan hal itu.

__ADS_1


Amira sendiri sudah tahu bahwa sekarang ini Andi memiliki uang jutaan, bahkan ratusan juta. Jadi, bertanggung jawab dengan mengganti kerugian yang beberapa juta tidak ada masalahnya untuk mereka saat ini.


Tetapi beda cerita jika ini hanyalah jebakan untuk memeras mereka. Sudah pasti Amira akan melawan dan tidak mau menuruti perkataan ibu-ibu ini.


“Eh jangan ngeles aja ya. Dari tadi kok nggak mau tanggung jawab kalo udah buat salah. Apa orang tua kalian nggak pernah ngajarin cara bertanggung jawab? Jadi orang kok nggak mau ngaku salah dan bertanggung jawab. Ini pasti karena didikan orang tuanya yang nggak bener.”


Amarah Andi langsung memuncak mendengar perkataan ibu ini. Meski tidak sesempurna itu, tetapi orang tua mereka telah memeberikan didikan budi pekerti yang baik. Andi tidak terima jika ada yang bilang bahwa orang tua mereka memberikan didikan yang tidak benar kepada mereka.


Andi lalu mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut ruangan dari toko tersebut. ‘Satu, dua, tiga. Ada tiga buah kamera. Aku harap ketiga kamera itu berfungsi dengan baik.’ Gumam Andi dalam hati. Pemuda itu kemudian memandang ke arah ibu-ibu tadi yang masih meminta ganti rugi itu.


“Ganti rugi? Tidak masalah aku kan memberikan ganti rugi atas kerusakan ponsel anak Ibu. Bahkan membelikan ponsel baru pun tidak masalah. Tetapi, apakah ibu yakin bahwa adikku benar-benar pelaku dari kerusakan ponsel anak ibu.”


“Kenapa kamu bilang begitu?” Tanya ibu-ibu itu tidak terima.


“Kamu nuduh saya bohong ya.” Ucap ibu-ibu itu sembari menujuk ke arah Andi.


Andi menggelengkan kepalanya pelan. “Ibu tidak memberikan bukti kongkrit bahwa adikku adalah pelakunya.”


“Apakah benar ada yang melihat kejadiannya? Jangan bilang kalian hanya melihat bagaimana anak ibu ini jatuh dan ponselnya rusak. Yang aku ingin tanyakan adalah, apakah ada di antara kalian yang benar-benar melihat kejadiannya?” Tanya Andi sembari mengedarkan pandangannya ke arah pengujung toko yang sedari tadi hanya mmeperhatikan.


Andi tidak yakin dengan hal itu. Meskipun cukup banyak orang di toko ponsel ini, tetapi Andi yakin tidak semua orang benar-benar melihat kejadian yang sebenarnya. Mereka pasti sedang sibuk sendiri melihat-lihat ponsel yang ingin mereka beli. Tentu saja tidak akan ada yang memerhatikan pengunjung lain.


Dan tebakan Andi benar. Tidak ada satu orang pun dari pengunjung toko yang maju dan membenarkan perkataan ibu-ibu ini. Melihat hal ini, Andi kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pelayan toko di sana.


Toko ini pelayanannya benar-benar buruk. Para pelayan toko di sini tidak memiliki inisiatif untuk menenangkan keributan ini. Mereka hanya melihat saja seperti pengunjung yang lain. Andi akan mengingat-ingat nama toko ini. Ke depannya, dirinya tidak akan lagi membeli ponsel di toko ini.


“Mbak, aku mau lihat rekaman CCTV dari hari ini. Kalo perlu, sekalian aku beli rekaman CCTV untuk hari ini.” ucap Andi kepada salah satu pelayan toko.


Mendengar perkataan Andi, ibu-ibu sedikit ketakutan. Namun ia mencoba menutupi ketakutans itu. Ibu-ibu kemudian melihat orang-orang yang ada di sekitarnya. Mungkin ia masih bisa menyelamatkan diri dengan memanfaatkan orang-orang ini.


“Hemb… mentang-mentang Mas-nya orang kaya, jadi apa-apa dibeli pake uang. Lihatlah itu saudara-saudara, orang kaya ini mau memanfaatkan hartanya untuk menindas mereka yang lemah.” Ucap ibu itu lantang dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Ibu itu pecaya setelah mengatakan demikian, orang-orang di sekitar sini akan mendukungnya. Dengan begitu, pasti pemuda di depannya ini akan terdesak dengan opini publik dan kemudian memilih membayar ganti rugi agar tidak memperpanjang masalah.


“Heh.” Andi mendengus pelan. “Aku di sini tidak menggunakan hartaku untuk menindas siapapun. Aku hanya membela adikku yang sedang Ibu jebak. Dengan dibukanya CCTV, kita akan tahu kejadian sebenarnya bukan? Jika adik-adikku memang benar-benar bersalah, maka aku akan membayar ganti rugi tiga tidak lima kali lipat dari harga ponsel anak ibu.”


Mendengar ucapan Andi, beberapa orang yang ada di sana juga menyetujuinya. Mereka sendiri tidak melihat langsung kejadiannya. Jadi, mereka tidak bisa asal tuduh seperti itu. Dengan diperlihatkannya rekaman CCTV, sudah pasti kejadian sebenarnya akan terungkap.


Lagi pula, pemuda tadi sudah mengatakan dengan lantang akan memberikan ganti rugi lima kali lipat dari harga ponsel yang rusak bukan? Jadi, lebih baik melihat CCTV agar semuanya terungkap.


“Kalo kamu mau kasih ganti rugi ya langsung aja kasih ganti rugi. Kenapa pake buka rekaman CCTV, itu malah akan membuang-buang waktu.” Ucap ibu itu tidak sabaran.


Andi memicingkan matanya memandangi ibu itu. “Apakah ibu memang menjebak adik-adikku? Kenapa ketika aku meminta CCTV dibuka, Ibu selalu membuat berbagai alasan agar itu tidak dilakukan. Jika seperti ini, lebih baik kita bawa kasus ini ke polisis saja. Biar mereka yang menilai semuanya.”


Mendengar ucapan Andi, sekarang ketakutan terlihat jelas di wajah ibu itu. Ibu itu sama sekali tidak ada niatan untuk menutupi ketakutannya kali ini. “Kalo begitu berikan saja aku uang dua ratus ribu sebagai ganti ruginya.”


“Aku tidak akan memberikan apapun jika tidak ada buktinya.”


“Baiklah aku tidak jadi meminta ganti rugi.” Ibu tersebut menarik anak laki-lakinya dan berniat pergi dari sana.


Melihat hal itu, Andi dengan sigap menghadang ibu tersebut. “Mau kemana? Urusan kita kan belum selesai?”


“Urusan kita sudah selesai. Bukankah aku sudah bilang tidak akan lagi mempermasalahkan hal ini.”


“Jika Ibu ingin pergi, maka Ibu perlu meminta maaf kepada adik-adikku. Jika tidak, maka aku akan membawa kasus ini ke kepolisian. Ingat, wajah ibu sudah terekam jelas di CCTV, jadi, pilihan ada di tangan Ibu. Mau pergi sekarang atau kita lanjutkan urusan ini ke kepolisian.”


Pada akhrinya, dengan ditemani bisik-bisik dan cemoohan dari pengujung yang lainnya, Ibu dan anak itu meminta maaf kepada Amira dan Arfan. Setelah itu selesai, Andi membawa adiknya pergi dari sana. Tidak ada lagis yang perlu mereka lakukan.


“Ingat nama toko tadi baik-baik. Jangan pernah lagi datang ke toko tadi.” Ucap Andi setelah mereka bertiga sudah cukup jauh dari toko ponsel tadi.


“Tapi Kakak tadi keren sekali. Ibu-ibu tadi tidak berkutik semenjak Kakak datang. Hebat sekali.” Puji Arfan.


“Kamu sekarang pengen ponsel bukan? Kakak akan bawa kamu ke toko lain. Pelayanan di sana lebih baik dari toko tadi.”

__ADS_1


‘Semoga saja Gayatri atau pun Widya tidak berada di toko itu. Jika mereka ada di sana, mereka pasti akan kembali mengundangku makan malam di rumah mereka.’ Gumam Andi dalam hati.


__ADS_2