Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 173


__ADS_3

Sementara para sepupunya bertemu dengan Burhan, Andi datang apartemennya untuk menemui Rosalinda. Besok sore perempuan itu akan pergi ke Amerika Serikat. Karena Andi tidak bisa menantarnya ke bandara, jadi pemuda itu berniat melakukan perpisahan kecil dengan Rosalinda.


Meski Andi bisa saja menemui Rosalinda di kemudian hari, tetapi itu tidak dalam waktu dekat ini. Selain mengurusi bisnis miliknya, sebentar lagi Andi juga memulai perkuliahannya. Minggu depan saja dirinya perlu ke mendatangi kampusnya untuk melakukan daftar ulang.


Jadi, selagi sekaran ia ada waktu, Andi ingin menemui Rosalinda. Setidaknya ia perlu memastikan bahwa perempuan itu benar-benar sudah siap pergi dari negara ini.


“Kamu sudah datang rupanya.” Ucap Rosalinda melihat Andi yang masuk ke dalam apartemen.


“Ya. Jadi bagaimana Mbak Ros, Mbak beneran udah siap jalanin hidup baru di luar negeri?” Tanya Andi.


“Ya. Aku tidak bisa lagi tinggal di sini. Pengaruh keluarga Hermawan cukup besar di sini. Jadi, jika aku benar-benar ingin memulai hidup baru, aku harus ke luar negeri.”


Keluarga yang memiliki bisnis besar dari beberapa generasi meman memiliki kekuasaan sebesar itu. Hal itu membuat Andi penasaran menenai kekuasaan yang dimiliki oleh Sang Penerus di generasi sebelumnya. Apakah Sang Penerus tersebut memiliki kekuasaan sebesar empat keluarga besar atau lebih kecil dari mereka?


Tetapi, jika melihat dari cerita, Sang Penerus generasi sebelumnya pastinya memiliki kekuasaan lebih besar daripada empat keluarga besar. Sekarang saja Andi yang hanya dua bulan lebih memiliki sistem, sudah sekaya ini.


Bagaimana dengan Sang Penerus generasi sebelumnya yang jelas sudah tahunan memiliki sistem? Pasti kekuasaan dan pengaruhnya sangat besar.


Bukankah Sang Penerus memiki beberapa anak buah? Sudah pasti sekarang anak buahnya memiki kekuasaan besar. Hal itu tiba-tiba saja membuat Andi penasaran mengenai mereka. Andi ingin tahu siapa saja anak buah dari Kakek Buyut Arganta.


Meski Andi penasaran, pemuda itu belum berniat menyelidiki hal itu. Ia masih ingat pesan dari Almarhum Kakek Buyut Adipramana. Ia tidak boleh mengungkapkan identitasnya sebaai Sang Penerus sebelum dirinya benar-benar mampu melindungi dirinya sendiri.


Sekarang ini memang Andi bisa melindungi dirinya sendiri. Tetapi, bagaimana dengan keluarganya? Jelas mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Yang Andi maksud ini bukan hanya orang tuanya dan kedua adiknya. Tetapi anggota keluarga Prayudi secara keseluruhan.


Jika Andi perhatikan, kesalahan Kakek Buyut Arganta, yang mengakibatkan pembataian anggota keluarga Prayudi adalah, tidak mempersiapkan angggota keluarga Prayudi secara keseluruhan. Andi tidak mau melakukan hal yang sama.


Dengan Andi membantu anggota keluarga Prayudi lainnya memperkaya diri, maka mereka bisa menyewa pengawal sendiri untuk melindungi diri. Hal itu bisa menambah kekuatan keluarga Prayudi secara keseluruhan, bukan terpusat pada satu orang saja.


Dan semua itu membutuhkan proses yang cukup panjang. Andi harus menyiapkan pondasi kuat agar semuanya berjalan sesuai dengan rencana.


….

__ADS_1


“Mbak Ros tenang saja. Aku akan membalaskan apa yang dia lakukan ke Mbak. Meski itu agak lama tetapi aku yakin aku bisa melakukannya.” Ucap Andi kepada Rosalinda.


“Jika Kamu memang mau melakukan hal itu, Kamu perlu berhati-hati. Jangan sampai juga Hermawan tahu bahwa Kamu yang membantuku lolos dari jeratannya. Aku paham seperti apa Hermawan sebenarnya.”


“Mungkin saja dia tidak akan mengusikmu langsung dengan tangannya. Tetapi, dia akan meminjam tangan orang lain untuk melakukan hal itu. Kamu perlu tahu masih ada Marcel yang dulu mengejar kejarku.”


“Bisa jadi, Hermawan akan menghasut Marcel untuk menghancurkan bisnis milikmu. Bisnis kafemu juga belum sebesar itu. Jadi berhati-hatilah. Jika kamu ingin menghadapi mereka, kamu perlu memiliki kekuatan sebesar kekuatan yang dimiliki oleh empat keluarga besar.” Jelas Rosalinda.


Mendengar perkataan Rosalinda membuat Andi terpikirkan untuk melakukan kerjasama dengan dua keluarga lainnya. Keluarga Wijoyokusumo dan keluarga Jayantaka. Hubungan Andi dengan kedua keluarga itu cukup baik. Jadi mungkin dirinya bisa melakukan kerjasama dengan mereka.


Untuk sekarang mungkin Andi hanya akan melakukan beberapa kerja sama bisnis saja dengan mereka. Ia tidak bisa langsung meminta mereka mengatasi Hermawan dan Marcel bukan? Semua itu butuh proses. Dari kerja sama bisnis mereka baru bisa melakukan kerja sama yang lainnya.


“Tenang saja Mbak. Aku tahu itu. Aku nggak akan gegabah dan langsung ngasih pelajaran ke Hermawan. Aku yang sekarang belum mampu. Tetapi bukan berarti aku yang di masa mendatang tidak bisa melakukannya.”


“Sekarang, apakah semua persiapan Mbak Ros sudah selesai?” Tanya Andi mengalihkan pembicaraan.


“Tentu, aku sudah menyiapkan semuanya. Aku sudah menyewa sebuah apartemen di New York. Jadi, ketika sampai di sana aku tidak perlu lagi sibuk menyewa apartemen.” Jelas Rosalinda.


“Itu lebih dari cukup Andi. Jangan memperbanyak hutangku padamu.” Ucap Rosalinda sembari mengibaskan kedua tangannya.


Sebelumnya Andi sudah mengirimkan dua setengah milyar rupiah kepadanya. Uang sebanyak itu lebih dari cukup untuk Rosalinda hidup di New York selama setahun. Ketika Rosalinda ingin mengembalikan sebagian uang itu Andi menolaknya.


Sekarang dia malah bilang ingin menambahnya. Tentu saja Rosalinda menolaknya. Ia berniat mengembalikan uang ini nanti. Jika Andi menambah hutangnya, otomatis semakin besar pula uang yang perlu ia kembalikan.


Bagi Andi uang sebanyak itu tidak terlalu besar. Apalagi dirinya memiliki target bulanan mengabiskan uang satu triliyun. Andi menganggap ini adalah donasi yang tidak mendapatkan hadiah dari sistem. Selain itu, ini adalah cara bagi Andi menghabiskan uangnya untuk mencapai target bulanannya.


“Baiklah jika memang itu sudah cukup untukmu Mbak.”


Andi kemudian mengobrol panjang dengan Rosalinda. Ia menghabiskan waktu sejam bersama dengan Rosalinda. Setelahnya, Andi berpamitan kepada perempuan itu. Sekarang ini, ia masih harus berdiskusi dengan sepupunya. Jadi ia tidak bisa berlama-lama di sini.


*****

__ADS_1


Sekarang ini burhan sedang berada di ruang kerjanya yang ada di club miliknya. Di depannya sekarang ini berdiri Mardi anak buahnya. Laki-laki itu memandang anak buahnya dengan pandangan serius. Di meja kerja Burhan, terdapat sebuah foto yang sebelumnya ia ambil dari keponakannya.


“Ada perlu apa Bos memanggilku kemari?” Tanya Mardi dengan sedikit takut.


Sudah lama ia tidak melihat Burhan memasang wajah seserius sekarang. Jika Burhan sudah melakukan hal itu, itu berarti dia sudah sangat marah sekarang.


Mardi sendiri tidak tahu apa yang membuat Burhan marah. Yang jelas, sebisa mungkin Mardi tidak banyak bicara yang tidak perlu agar tidak menjadi sasaran kemarahan Bosnya ini. Burhan sangat menakutkan jika tengah marah besar.


“Di mana Dayyan? Kenapa dia belum juga kemari?” Tanya Burhan kepada Mardi.


Dayyan adalah anak buah Burhan yang lainnya. Jika Mardi adalah anak buahnya yang mengurusi urusan di dalam Gang Macan Putih, maka Dayyan adalah yang mengurusi hubungan dengan pihak luar.


Sebelumnya Burhan sudah menghubungi kedua anak buahnya itu. Ia sudah meminta mereka untuk berkumpul di ruangannya. Tetapi ketika ia sampai di ruang kerjanya, hanya ada Mardi di sana. Burhan sama sekali tidak melihat keberadaan Dayyan.


Bahkan setelah setengah jam menunggu, Dayyan belum juga muncul. Burhan sudah berusaha menghubunginya, tetapi panggilannya tidak juga tersambung.


“Aku kurang tahu Bos. Tetapi jika aku tidak salah ingat, Dayyan pernah bilang bahwa dia akan mengunungi pabrik pil kita. Jadi, kemungkinan besar saat ini dia sedang ada di Batam untuk mengecek pabrik pil kita.”


“Aku juga mendengar bahwa Dayyan saat ini tengah mempersiapkan anak buahnya. Sebentar lagi, bahan pil dari Malaysia akan segera masuk. Jadi ia perlu melakukan persiapan agar bisa mengelabuhi polisi.”


Burhan ingat hal itu. Bisnsi obat-obatan terlarang milik gangnya sudah cukup besar. Ia memang ingat Dayyan memberitahunya tentang bahan mentah yang akan datang dari Malaysia. Tetapi, dia tidak memberitahukan kapan itu.


Juga, ini sedikit aneh menurut Burhan. Biasanya Dayyan selalu melapor padanya jika akan keluar kota. Tetapi, Dayyan sama sekali tidak berpamitan padanya mengenai ke mana dia pergi.


Burhan tidak lagi memikirkan keanehan itu. Mungkin itu karena Dayyan cukup sibuk mempersiapkan kedatangan bahan obat-obatan terlarang dari Malaysia. Jadi, laki-laki itu lupa melapor padanya.


“Kalau begitu, selidiki orang ini. Aku ingin tahu informasi mengenai dia. Apa dia memang adalah anggota kita atau bukan, kamu perlu mengeceknya. Juga, cek siapa yang memberinya pekerjaan membakar kafe belakangan ini.”


“Cari tahu juga dua orang lainnya yang ikut melakukan pembakaran kafe dengan dia. Aku mau besok sore kamu sudah memberiku jawaban atas hal ini.”


“Baiklah Bos aku akan melakukannya.”

__ADS_1


__ADS_2