
“Jadi, perusahaan apa lagi yang akan kamu buka kali ini?” Tanya Ghani setelah dirinya menempatkan p*ntatnya di kursi kafe.
“Game. Aku akan membuat sebuah game kali ini.”
Ghani sedikit mengerutkan keningnya mendengarkan penuturan Andi. “Memang ini bukan urusanku kamu mau membuka berapa game. Hanya saja, aku pikir lebih baik kamu fokus di satu perushaanmu saja. Jika kamu membuka banyak perusahaan, tidak hanya fokusmu yang terbelah, tetapi kamu juga perlu memikirkan masalah keuangan dari perusahaanmu.”
Andi tidak merasa marah mendengar kritikan dari Ghani. Pemuda itu justru merasa senang. Bukankah Ghani peduli dengannya dengan mengatakan hal ini? Tentu saja Andi merasa senang.
“Mas Ghani tidak perlu khawatir. Perusahaan sebelumnya sudah aku serahkan kepada orang lain. Untuk saat ini, perusahaan gameku tidak membutuhkan banyak karyawan. Hanya beberapa orang saja. Aku akan lebih banyak memakai jasa freelancer untuk menyelesaikan beberapa hal.”
“Untuk masalah keuangan, Mas Ghani juga nggak perlu khawatir. Untuk dua perusahaan aku masih sanggup mengatasinya. Jadi, soal keuangan tidak terlalu menjadi masalah.”
Selama Andi berbicara dengan Ghani, sudah ada dua pemberitahuan dari sistem yang masuk. Ini berarti ada dua donasi yang terselesaikan ketika mereka berbicara sekarang. Bukankah itu juga uang yang masuk? Jadi, Andi tidak terlalu memusingkan masalah keuangan.
“Baiklah jika kamu bisa mengatasi semuanya. Aku akan membantumu mendaftarkan perusahaan barumu. Lalu, kamu bilang juga ingin dibuatkan kontrak dengan seseorang. Aku sudah membuatkan kontrak seperti yang kamu inginkan. Apakah orang itu sudah datang?”
Ketika Ghani bertanya demikian, pintu kafe tempat mereka berada sekarang terbuka. Seorang pemuda terlihat memasuki kafe tersebut. Ia lalu mengedarkan pandangannya dan kemudian menjatuhkan pandangannya ke arah Andi. Pemuda yang ternyata adalah Adimas itu langsung saja menuju meja tempat Andi berada.
“Apakah aku terlambat?” Tanya Adimas. Pemuda itu kemudian duduk di kursi yang tepat berada di depan Andi.
“Kamu nggak telat kok. Kita janjian jam dua belas bukan?”
Andi memang membuat janji lebih awal dengan Ghani. Ada hal-hal lain yang perlu mereka bicarakan secara pribadi. Jadi, ia menentukan bertemu dengan Adimas satu jam setelahnya.
“Adimas kenalkan ini pengacaraku, Mas Ghani. Mas Ghani kenalkan ini orang yang akan bekerja sama denganku, Adimas.”
__ADS_1
“Adimas.” “Ghani.” Ucap keduanya sembari berjabatan tangan.
“Baiklah, kita langsung saja. Jadi Adimas, Andi sudah membuat sebuah kontrak denganmu. Ini kontraknya baca baik-baik jika kamu ada pertanyaan tanyakan saja langsung.” Ghani langsung menyerahkan sebuah kontrak kepada Adimas.
Setelah membaca kontrak itu dengan baik-baik, Adimas kemudian mendongakkan kepalanya. “Jadi, kalian akan membeli hak cipta dari karyaku ini.”
“Ya. Kami tidak mau terjadi masalah mengenai hak cipta dikemudian hari. Jadi, kami akan membeli hak cipta dari semua ilustrasi yang kamu buat. Tentu saja kami tetap akan mencantumkan namamu atau nama timmu dalam kredit. Jadi, kamu tidak usah mengkhawatirkan hal itu.” Jelas Ghani.
Ini adalah penggunaan ilustrasi untuk sebuah game. Jadi, lebih baik membeli ilustrasi tersebut sekaligus dengan hak ciptanya. Jika tidak, suatu saat nantinya bisa saja ilustrasi yang sama digunakan oleh pihak lain. Dengan membeli hak ciptanya, maka perusahaan Andi tidak perlu lagi membayar royalti untuk menggunakan ilustrasi tersebut untuk keperluan lainnya.
Mendengar perkataan Ghani, Adimas hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian melihat ke arah nominal angka yang ditawarkan oleh pihak Andi untuk membeli hak cipta dari ilustrasi miliknya. Untuk setiap karakter, akan ada lima kartu yang perlu Adimas gambar. Adimas perlu membuat dua puluh karakter untuk menyelesaikan hal ini. Berarti Adimas perlu membuat seratus gambar ilustrasi.
Tidak hanya ilustrasi, Andi juga meminta Adimas sedikit membuatkan animasi untuk ilustrasi dari setiap karakter. Dengan demikian, Andi tidak perlu lagi memberikan banyak efek pada karakter dari game kartu miliknya.
Setiap karakter, Andi mematok harga tiga puluh juta. Itu berarti, jika Adimas menyelesaikan semua gambar dan ilustrasinya, maka Adimas akan mengantongi uang enam ratus juta. Angka yang cukup besar bagi Adimas.
“Apakah ini waktunya tidak bisa diperpanjang? Maksudku, satu bulan untuk menyelesaikan seratus gambar dan animasinya sedikit sulit untukku.” Ucap Adimas.
“Itulah sebabnya kami mengatakan bahwa kamu atau timmu bisa melakukan hal ini. Aku rasa, kamu memiliki beberapa orang yang bisa membantumu melakukan hal ini bukan? Jadi, kamu bisa mengerjakannya bersama dengan mereka.” Jawab Andi.
Bersama dengan tim ya. Adimas lalu teringat dengan kedua teman kuliahnya yang saat ini sibuk melakukan freelance dengan menjual jasa ilustrasi mereka di sebuah aplikasi. Memang, mereka memiliki gaji dengan mata uang dolar melalui aplikasi tersebut.
Tetapi, untuk mengumpulkan uang sebanyak ini dalam waktu singkat, Adimas rasa mereka tidak bisa melakukannya. Mungkin ia akan mengajak teman-temannya dalam menjalankan projek ini.
“Baiklah. Aku menyetujuinya.”
__ADS_1
“Bagus. Besok siang akan aku kirimkan sepertiga dari uang yang aku janjikan. Sepertiganya lagi akan aku kirimkan setelah kamu mengirimkan beberapa sketsa. Sisanya aku bayarkan setelah semua gambar selesai dan tidak ada lagi revisi.” Ucap Andi.
Keduanya kemudian saling menandatangani perjanjian kerjasama itu. Ini adalah pertama kalinya Adimas menjalankan sebuah projek dengan nilai ratusan juta. Dengan bayaran dari projek ini, Adimas yakin dirinya bisa membeli pen tablet impiannya.
Bukan hanya itu, dengan gajinya ini, mungkin dia bahkan bisa membeli sebuah perangkat komputer baru. Adimas tidak menyangka bahwa dirinya cukup beruntung bertemu dengan Andi di mall Sabtu lalu. Dari pertemuan tidak sengaja mereka, Adimas sekarang bisa mendapatkan projek yang bernilai ratusan juta.
“Baiklah urusanku di sini sudah selesai. Aku pergi dulu. Andi jangan lupa kirimkan alamat kantor barumu kepadaku.” Ucap Ghani sebelum laki-laki itu pergi meninggalkan kafe tersebut.
Setelah Ghani pergi, Andi dan Adimas kemudian membicarakan mengenai karakter yang akan hadir dalam game milik Andi. Andi kemudian mengeluarkan beberapa kertas dan menyodorkannya kepada Adimas. Kertas tersebut ia buat semalam, berisikan tentang beberapa karakter yang ingin dia buat untuk gamenya.
“Ini karakter dan kemampuan mereka yang ingin aku buat. Jadi, kamu bisa melakukan riset untuk membuat ilustrasi dari setiap karakter ini.”
Adimas kemudian membaca dengan teliti semua rincian dari setiap karakter yang Andi berikan kepadanya. Ia mengira Andi akan membuat karakter dengan menggunakan tokoh-tokoh yang berasal dari barat. Itu cukup banyak akhir-akhir ini. Tetapi, untuk karakter gamenya, Andi menggunakan tokoh-tokoh lokal nusantara.
Seperti halnya Samson, ia digambarkan memiliki tubuh kuat dengan otot-ototnya yang proposional. Tokoh ini memiliki kemampuann memberikan beberapa pukulan kilat ke lawannya. Berarti, Adimas perlu membuatkan sebuah kartu kemampuan yang menggambarkan sebuah pukulan kilat.
Tidak hanya itu, ada juga karakter Tuyul. Karakter dengan tokoh layaknya anak kecil. Salah satu kemampuan dari tuyul adalah, mencuri kartu yang dimiliki lawan. Entah itu kartu kemampuan atau kartu penambah darah milik lawan.
Melihat betapa detailnya karakteristik dari setiap karakter yang Andi berikan kepadanya, membuat otak Adimas tiba-tiba saja dipenuhi dengan berbagai ide. Ia sudah memiliki gambaran seperti apa rupa dari setiap karakter yang Andi berikan kepadanya.
“Andi, kamu bilang bahwa jika aku membutuhkan pen tablet milikmu, aku bisa meminjam milikmu? Sekarang, bolehkah aku meminjam pen tablet milikmu?” Tanya Adimas dengan antusiasnya.
“Ah tentu. Kamu bisa meminjamkannya. Tetapi, aku hanya memiliki satu pen tablet bersamaku. Yang satunya dipakai oleh adikku di rumah. Jadi, aku hanya bisa meminjamkan satu buah pen tablet kepadamu.” Jelas Andi.
“Tidak masalah untukku. Kapan aku bisa mengambilnya? Apakah bisa sekarang juga? Aku memiliki banyak ide sekarang. Jadi, aku ingin segera menuangkan ide-ide tersebut dalam sebuah sketsa. Jika tidak, ide-ide ini akan menguap begitu saja.”
__ADS_1
Andi sangat paham dengan maksud perkataan Adimas. Adiknya Arfan juga sering seperti itu. Dia terlihat serius menggambar sesuatu. Jika ada yang mengganggunya atau ia harus berhenti menggambar, maka bisa dipastikan bahwa Arfan tidak bisa lagi melanjutkan gambarnya. Adiknya itu bilang idenya sudah menguap karena tidak segera menyelesaikan gambarnya.
“Baiklah. Kamu bisa ikut aku ke rumahku.”