Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 32 Anak Buah Sepupu Ayah


__ADS_3

“Apa kau benar-benar dari keluarga Prayudi? Apa hubunganmu dengan Burhan Prayudi?” tanya Damar kepada Andi. Burhan adalah salah satu anggota keluarga Prayudi yang cukup dikenal oleh para preman. Jika mereka tidak mengenal semua anggota Prayudi, setidaknya nama Burhan Prayudi cukup ditakuti oleh para anggota gang di provinsi ini.


“Dia adalah sepupu ayahku. Kamu mengenalnya?”


Andi tidak menyangka preman di depannya ini mengenal Burhan, sepupu ayahnya itu. Seingat Andi, sepupu ayahnya itu tinggal di Surabaya. Dia memiliki wajah yang cukup garang. Andi sempat berpikir dengan tampangnya yang seperti itu, sepupu ayahnya itu cocok menjadi seorang preman. Ia tidak menyangka bahwa Burhan memang benar seorang preman.


“Dia adalah pemimpin utama gang macan putih. Gang macan putih yang ada di kota ini bisa dibilang hanyalah cabang dari gang macan putih yang ada di Surabaya.” Jelas Damar.


Laki-laki itu kemudian membungkukkan badannya ke arah Andi. Ia memungkukkan badannya cukup rendah. Andi yakin jika seseorang mendorong laki-laki tersebut dari belakang, pasti laki-laki itu akan tersungkur.


“Maafkan aku Tuan Muda. Aku tidak mengetahui jika Anda adalah keturunan Prayudi. Maafkan aku.”


Melihat Damar yang seperti itu membuat Andi menjadi canggung. Tidak pernah ada seorang pun yang membungkuk seperti itu padanya. Hal tersebut membuatnya merasa sangat canggung seperti ini.


“Pamans berhentilah membungkuk seperti itu.” Meski Andi sudah meminta Damar untuk berhenti membungkuk, tetapi laki-laki itu tidak mengubah posisinya sedikit pun. Pada akhirnya Andi menyerah dan mengikuti kemauan laki-laki yang kini menunduk padanya itu.


“Baiklah, baiklah Paman, aku memaafkanmu. Sekarang, bisakah kamu berhenti membungkuk seperti itu. Kamu membuatku tidak nyaman jika seperti itu.”


Mendengar ucapan Andi, Damar menegakkan tubuhnya. Ia menganggukkan kepalanya sedikit kepada Andi. “Terimakasih Tuan Muda Prayudi sudah mau memaafkanku.” Ucap Damar dengan sungguh-sungguh.


Damar kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Jony dan Rendi secara bergantian. Mereka berdualah yang membuatnya seperti ini. Jika bukan karena mereka, sudah pasti dirinya tidak akan berhadapan dengan seorang Prayudi. Damar berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan memberi pelajaran kepada kedua pemuda tersebut.


Andi meraih ponsel lamanya dari dalam kantong celananya. Untung ponselnya ini tidak terjatuh ketika dirinya bertarung tadi. Jika tidak, akan cukup sulit baginya menemukan ponsel tersebut di tempat yang temaram seperti ini.


“Apa aku boleh pergi dari sini sekarang?”

__ADS_1


Jawab menjawabnya dengan cepat. “Tentu saja Tuan Muda, tentu saja.”


Untuk terakhir kalinya pada malam itu, Andi menjatuhkan pandangannya kepada Jony. “Kamu tunggu saja, tidak lama lagi surat itu dikirim kepadamu. Jangan harap kamu bisa lolos begitu saja setelah mendapatkan surat itu.”


Setelah berkata demikian, Andi merapikan sedikit pakaiannya. Ia tidak tahu apakah ada kotoran di pakaiannya. Ia perlu melihat hal tersebut di tempat yang lebih terang. Setelah itu, Andi pergi menuju motornya dan membawanya melaju meninggalkan kompleks pergudangan lama. Hari sudah semakin gelap, dan dia tidak memiliki urusan lain di sini. Jadi untuk apa dirinya tetap tinggal.


Damar memastikan bahwa Andi sudah benar-benar pergi dari sini. Setelah memastikan Andi tidak terlihat lagi, Damar kembali memandang ke arah Jony dan Rendi. Kini saatnya dia memberi pelajaran kepada kedua pemuda ini.


Dari yang Damar dengar tadi, Andi memiliki permusuhan dengan pemuda yang berdiri di depan mobil tersebut. Sepertinya dia perlu diberi pelajaran lebih berat dari Rendi. Dengan begini Damar berharap bisa mendapatkan ampunan dari Burhan jika laki-laki itu mendengar kabar ini.


“Kalian yang masih bisa berdiri cepat berdiri.” Teriak Damar kepada anak buahnya. “Kita perlu memberikan pelajaran kepada kedua anak muda ini. Berani-beraninya dia membuat kita bertarung dengan seorang Prayudi seperti itu.”


*****


Jony terbaring lemah di ranjang sebuah rumah sakit. Dokter mengatakan setidaknya tangan kanannya dan juga kaki kirinya mengalami patah tulang. Tidak hanya itu, tulang rusuknya juga mengalami keretakan. Hal itu membuatnya harus menjalani operasi untuk menangani tulang tangan dan kakinya yang patah.


“Jadi bagaimana dia sekarang Dok?” Tanya Renata.


“Dia baik-baik saja. Anak ibu sudah tidak dalam kondisi kritis. Dia belum boleh memakan apapun untuk saat ini. Mohon hanya beri air putih saja untuk pasien. Nanti jika dia sudah boleh makan, Suster akan memberitahu hal tersebut. Jika efek biusnya sudah hilang semua, maka anak ibu pasti akan mulai merasakan sakit. Jadi, ibu bisa menghubungi suster jika itu terjadi.”


Setelah menjelaskan hal tersebut sang dokter pergi meninggalkan kamar rawat Jony. Renata kembali menatap putra semata wayangnya yang kini berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ada rasa rakit yang sulit Renata gambarkan ketika melihat putra kesayangannya terbaring dengan penuh perban seperti itu.


Perempuan itu kemudian menatap ke arah suaminya yang kini duduk di sofa yang ada di kamar rawat Jony. Laki-laki terlihat memijit pangkal hidungnya. Sepertinya dia pusing menghadapi permasalahan yang dibawa putranya itu.


“Lakukan sesuatu. Anak kita sampai seperti ini tetapi kamu masih diam aja di sini tanpa ngelakuin apapun.” Renata menggertakkan rahangnya menahan emosinya agar tidak meluap-luap.

__ADS_1


“Aku sudah berusaha melakukan semua yang aku bisa sayang. Yang menghajar anak kita adalah gang macan putih. Itu adalah gang terbesar di provinsi ini. Tidak banyak bisa aku lakukan. Meskipun yang kita hadapi ini hanya pimpinan cabang kecil, tetapi itu sangat sulit.”


Marcel kembali memijat pakal hidungnya. Ia tidak menyangka anaknya itu akan berurusan dengan para preman tersebut. Dirinya sudah mewanti-wanti putranya itu untuk tidak berbuat macam-macam selama dirinya dalam proses persiapan pencalonan walikota.


Tetapi lihatlah, sekarang dia sudah sangat jagoan dengan berurusan dengan para preman tersebut. Marcel belum tahu apa yang menjadi alasan yang membuat anggota gang macan putih itu menghajar anaknya. Melihat lokasi di mana anaknya ditemukan, Marcel yakin bahwa anaknya itu memiliki urusan di sana. Tidak mungkin anaknya akan datang sendiri ke sana dan meminta dihajar oleh gang macan putih bukan?


Kemungkinan besar anaknya itu membuat musuh, dan musuhnya itu membayar gang macan putih untuk menghajar anaknya. Sangat jagoan sekali Jony, sudah bisa membuat musuh yang sampai membayar preman untuk menghajarnya. Seberat apa permasalahnnya sampai melibatkan preman seperti itu.


Jika saja anaknya tidak babak belur seperti sekarang, maka dia yang akan menghajar anaknya itu. Bukannya membantu orang tuanya, anak itu malah menambah masalah saja.


“Jika kita membawa kasus ini ke polisi, pelakunya bisa saja menganti seseorang untuk menjalani hukuman menggantikannya. Itu sama saja bohong. Yang kita inginkan adalah pelakunya dihukum berat hukan? Jadi jika seperti itu, semua yang kita lakukan akan sia-sia.”


“Belum lagi gang macan putih akan melakukan perlawanan lagi. Meskipun mereka itu adalah kelompok preman, mereka memiliki bisnis yang tidak berjalan di dunia gelap. Bisnisku bisa mereka serang jika kita melakukan hal itu.”


“Lalu? Apakah kita hanya diam saja tidak melakukan apapun? Lihatlah Jony, dia sekarang terbaring lemah seperti ini. Apakah kita akan membiarkan mereka begitu saja?”


“Tunggulah. Aku akan mencari cara untuk membalaskan dendam kepada mereka.”


Ketika mereka berbicara, seseorang mengetuk pintu kamar rawat Jony. Mendengar hal tersebut, pasangan suami istri tersebut menghentikan pembicaraan mereka. “Masuk.” Ucap Marcel kepada seseorang yang mengetuk pintu.


Dari balik pintu itu, sekertaris Marcel terlihat berdiri di sana. Laki-laki itu terlihat membawa beberapa berkas di tangannya. Ia kemudian berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju ke arah Marcel. “Pak Bos ini gawat, ini gawat Pak Bos.” Ucap sekertaris tersebut dengan kecemasan terdengar jelas dalam suaranya.


“Biacaralah pelan-pelan Rudi. Memang ada apa lagi sekarang?”


“Seseorang melaporkan Tuan Muda ke polisi dengan tuduhan pengeroyokan dan perusakan barang. Bukan itu yang menjadi masalah, tetapi orang itu menggunakan pengacara handal dari Surabaya untuk menjadi penasehat hukumnya dalam kasus ini. Tidak hanya itu media juga sudah meliput kejadian ini.”

__ADS_1


“Banyak yang mengecam tindakan Tuan Muda dan mengatakannya dia adalah seorang preman karena bertindak seperti. Tidak hanya itu, masyarakat juga mulai meragukan kepantasan Bos menjadi calon walikota. Mereka meminta Bos mundur dari pencalonan sebagai walikota. Pihak partai juga banyak yang menghubungi Pak Bos tetapi tidak bisa terhubung. Jadi mereka menghubungiku dan meminta Pak Bos melakukan klarifikasi tentang hal ini.” Jelas Rudi.


“Ah Jony, masalah apa lagi yang kamu bawa untuk ayahmu ini.”


__ADS_2