
Andi sedikit gugup ketika dirinya duduk di balik kemudi. Meskipun dirinya memiliki pengalaman seorang pembalap, tetapi ini adalah pertama kalinya bagi pemuda itu untuk mengemudikan kendaraan. Jadi rasa gugup itu masih ada meskipun tidak banyak. Andi menarika nafas panjang untuk menghilangkan kegugupannya.
Andi kemudian menginjak pedal gas. Ia melajukan mobilnya dengan pelan keluar dari area parkir. Meski ada jarak yang cukup lebar untuk mobil lewat, tetapi jika pemula membawa mobil keluar dari parkiran, sudah pasti mereka tidak akan bisa membawa mobil itu keluar dengan aman. Apalagi ketika mengeluarkan mobil dari area dimana mobil diparkirkan. Memajukan atau memundurkan mobil keluar dari sana menjadikan tantangan tersendiri bagi pemula.
Meskipun Andi juga seorang pemula, tetapi dirinya memiliki pengalaman seorang pembalap. Dia berhasil memundurkan mobil Brian keluar dari tempat mobil itu diparkir. Setelah ini akan jauh lebih mudah. Ia hanya tinggal membawa mobil ini keluar dari basement. Setelah tiga menit mengemudikan mobil Brian, Andi merasa lebih percaya diri dan tidak gugup lagi.
Ketika Andi berhasil membawa mobil Brian keluar dari basement, Andi melihat temannya itu setengah berlari mengampirinya. Brian tidak langsung menyapa Andi atau pun masuk ke dalam mobil. Yang Brian lakukan saat ini adalah memutari mobilnya. Pemuda itu memperhatikan secara seksama setiap inci dari mobilnya.
“Wow. Aku tidak menyangka kamu benar-benar bisa mengemudikan mobil sekarang. Tidak ada goresan sedikit pun di mobilku. Aku ingat dulu ketika aku pertamakali diajari menyetir oleh sopir keluargaku, tidak terhitung berapa kali aku menabrakkan mobil yang aku pakai. Belajar parkir saja aku beberapa kali menabrak pot bunga milik Mamaku.”
Andi memandang Brian sembari menaik-naikkan alisnya. “Tentu saja Andi gitu loh.” Ucap Andi sedikit menyombongkan diri di depan Brian.
“Ck.” Brian berdecak mendengar perkataan Andi barusan. “Baru bisa keluarin mobil dari parkiran tanpa ada goresan aja sudah sombong. Kalo mau sombong itu, kalo kamu bisa bawa mobil dengan membuat beberapa manuver seperti yang biasa pembalap lakukan.”
Andi mengangkat sebelah alisnya. “Aku bisa melakukannya. Jika kamu tidak percaya aku bisa melakukan manuver-manuver seperti halnya yang dilakukan oleh para pembalap.” Tentu saja Andi bisa melakukannya. Dirinya memiliki pengalaman seorang pembalap. Tentu saja ia paham bagaimana cara melakukan manuver-manuver itu.
Mendengar hal itu, Brian buru-buru mengangkat ke dua tangannya di depan badannya. “Cukup, cukup. Jangan main-main lagi. Aku nggak mau kamu nyoba yang aneh-aneh gitu. Aku masih sayang nyawa.” Jelas Brian.
“Ck.” Andi berdecak lidah. “Dasar penakut. Sudahlah sekarang cepat naik. Kamu bilang tempat yang kita kunjungi ini cukup rame. Jadi kalo kemaleman kita susah dapet tempat parkir.”
“Aku bukannya takut. Hanya saja aku masih sayang nyawaku.” Ucap Brian sembari memasuki mobil dan memasang sabuk pengamannya.
“Baiklah Tuan yang sayang dengan nyamanya. Tunjukkan jalannya. Aku masih baru di Surabaya. Jadi, aku tidak tahu jalan mana yang perlu aku ambil untuk menuju ke lokasi.”
Brian lalu memberikan beberapa arahan jalan yang perlu Andi ambil. Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Andi tiba di tujuan. Benar apa yang dikatakan Brian, tempat ini yang mereka kunjungi ini merupakan tempat hiburan malam yang sangat populer di Surabaya.
Sependek pengetahuan Andi, bukankah tempat hiburan malam biasanya ramai di jam sebelas ke atas? Tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku di tempat ini. Lihat saja, ini baru jam sembilan malam lebih sedikit tetapi tempat parkirnya sudah dipenuhi dengan mobil.
__ADS_1
Andi mengemudikan mobil Brian dengan pelan. Ia perlu mencari area kosong untuk memarkirkan mobil milik Brian ini. Area parkir dari tempat hiburan malam ini cukup luas namun Andi masih saja sedikit kesulitan menemukan areas kosong.
“Itu sepertinya di depan ada tempat kosong.” Ucap Brian sembari menunjuk ke arah area kosong lima belas meter di depan mereka.
Melihat hal itu, langsung saja Andi sedikit mempercepat laju mobil Brian agar bisa segera mendapatkan lahan parkir itu. Andi sudah memposisikan mobil Brian untuk memasuki parkiran kosong itu ketika sebuah mobil sport melaju dengan cepat di depannya. Mobil itu membuat Andi menghentikan laju mobil Brian yang akan parkir.
Seorang pemuda terlihat keluar dari mobil sport berwarna merah itu. Ia kemudian menghampiri mobil Brian dan memukul keras kap depan mobil Brian. “Keluar kalian.” Teriak pemuda tersebut.
Andi memandang ke arah Brian dengan tatapan bingung. Sependek ingatannya, dirinya tidak memiliki musuh di sini. Jadi, kenapa tiba-tiba saja orang ini datang dan memukul kap mobil yang ia kemudikan. Kemungkinan besar itu adalah kenalan atau musuh Brian. Ini mobil Brian bukan, jadi kemungkinan besar mereka menganali mobil ini.
Seolah tahu maksud dari tatapan Andi, Brian hanya mengendikkan bahunya. “Aku juga tidak mengenalnya. Kita keluar saja dan lihat apa mau anak itu. Setidaknya aku punya kamu yang jago bertarung. Jadi, jika dia berniat menghajar kita, aku akan kembali ke mobil dan menyerahkan urusan pukul memukul kepadamu.”
“Tidak masalah untukku.”
“Mundurkan mobil kalian.” Ucap pemuda itu tiba-tiba setelah Brian dan Andi keluar dari mobil.
“Cuih.” Pemuda itu meludah di depan Andi. Untung saja Andi berhasil melompat mundur sehingga ludah dari pemuda itu tidak mengenai pakaiannya.
“Tentu saja Tuan Muda ini ingin memakai parkiran ini. Apa kalian tidak tahu kalau aku lah yang pertama kali melihat area kosong itu. Jadi, cepat mundurkan mobil kalian. Jangan buat Tuan Muda ini menunggu terlalu lama.”
“Kamu melihat tempat itu terlebih dulu? Heh.” Andi mendengus mendengar perkataan pemuda di depannya itu.
“Aku tidak pernah mendengar lahan parkir ditentukan dengan siapa yang duluan melihat area kosong itu. Lihat itu!” Ucap Andi sembari menujuk mobil Brian yang sudah memasuki area parkir. “Mobil ini sudah terlebih dahulu mengambil lahan parkir ini. Jadi, lebih baik kamu saja yang memundurkan mobilmu dan membiarkan aku memarkirkan mobil ini?”
“Apa kamu tidak tahu siapa Tuan Muda ini? Aku adalah Marcel Adityo Sasongko, Tuan Muda dari keluarga Sasongko. Jadi apa kamu masih tetap akan mengambil lahan parkir ini setelah tahu namaku?” Ucap pemuda bernama Marcel itu dengan membusungkan dadanya ke depan.
Andi akan menjawab perkataan Marcel ketika ia merasakan tubuhnya ditarik pelan. Rupanya Brian berjalan memutari mobil untuk menuju ke sisi Andi berada. Pemuda itu menahan tubuh Andi agar tidak menanggapi Marcel.
__ADS_1
“Baiklah Tuan Muda Marcel, kamu bisa mengambil tempat ini. Kami bisa mencari tempat lain.”
“Bagus. Seharusnya sejak tadi kamu melakukan hal itu. Sekarang, cepat singkirkan mobilmu ini dari sini.”
“Tentu saja, Tuan Muda Marcel. Kami akan segara pergi dari sini.”
Brian kembali menarik Andi dan memaksanya duduk di kursi penumpang. Brian kemudian berlari menuju sisi kemudi. Ia segera menjalankan mobilnya mundur dari sana. Kemudian, Brian membawa mobilnya mencari area parkir yang lainnya.
“Apa-apaan itu. Kenapa dia semena-mena seperti itu. Memangnya dia siapa sampai menyuruh-nyuruh kita seperti itu. Sudah jelas aku yang mengambil tempat itu duluan tetapi dia tanpa malu meminta aku memberikan tempat itu kepadanya. Dan kamu Brian, kenapa kamu membiarkan dia mengambil lahan parkir yang sudah susah-susah kita cari itu?”
“Hah.” Brian mengela nafas panjang. “Kita tidak bisa sedikit pun menyinggung pemuda tadi Andi.”
Mendengar hal itu Andi mengernyitkan dahinya. “Memangnya kenapa? Apa karena dia seorang keturunan keluarga apa tadi Sa… Saso apalah itu. Apa hanya karena itu?”
“Ya. Kamu perlu tahu Andi. Di Surabaya ini ada empat keluarga besar yang tidak bisa kamu singgung sedikit pun. Mereka adalah keluarga yang sudah memiliki bisnis dan koneksi yang besar di kota ini. Keluarga Sasongko, keluarga Sanjoyo, keluarga Wijoyokusumo, dan keuarga Jayantaka.”
“Dari keempat keluarga tersebut, keluarga terkuat adalah keluarga Jayantaka. Sementara itu, keluarga Sasongko adalah yang paling lemah dari keempat keluarga itu. Meski yang paling lemah, keluarga Sasongko masihlah keluarga besar yang tidak bisa kita singgung begitu saja. Mereka memiliki koneksi di pemerintahan dan juga di kepolisian.”
Andi mengernyitkan dahinya mendengarkan penjelasan Brian. Ia tidak menyangka di kota besar masih ada sebuah keluarga besar yang memiliki kekuatan besar seperti itu. Mereka hanya perlu mengandalkan nama keluarga mereka untuk membuat orang lain takut. Seperti pemuda tadi yang menyebutkan nama keluarganya hingga membuat Brian tidak mau memperpanjang urusan itu.
Menurut Andi, keluarga Brian di matanya adalah keluarga yang kaya raya. Mereka memiliki aset triliyunan. Meski demikian dari pandangan Andi ini tidak ada bandingannya dengan apa yang dimiliki keluarga Sasongko. Jika tidak, maka Brian tidak akan mengalah begitu saja seperti sekarang ini.
Di kotanya dulu Andi tidak pernah melihat Brian mengalah begitu saja seperti ini. Meski Brian tidak semena-mena, tetapi pemuda itu tidak pernah mengalah pada siapapun. Itu karena keadaan ekonomi mereka yang setara atau tidak jauh beda. Sekarang di hadapan orang lain yang memiliki keluarga dengan kekayaan lebih banyak, Brian hanya bisa mengalah.
“Aku ingatkan padamu, jangan menyinggung sedikitpun siapapun dari empat keluarga tadi. Koneksi mereka bukan hanya mereka yang ada di dunia putih, tetapi juga di dunia gelap. Aku mendengar rumor bahwa setidaknya setiap keluarga itu memiliki hubungan dengan para gang yang ada di Surabaya. Meski itu hanya rumor, tetapi lebih baik tidak membuat masalah dengan mereka.”
“Ah aku mengerti hal itu. Baiklah aku akan mengingat baik-baik nasehatmu itu. Sebisa mungkin aku akan menghindari anak-anak dari keempat keluarga itu.”
__ADS_1