Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS

Cara Menjadi Kaya : BERNAFAS
Bab 83 Undangan Makan Malam


__ADS_3

“Panel status.”


[Ding]


[Modul Menjadi Kaya]


[Level 7 (338.675.200/1.000.000.000)]


[Saldo Host : Rp 703.876.868,-]


[Tingkat Konversi : 1 kali nafas \= 22 rupiah]


[Misi : -]


[Target Bulanan : Capai saldo Rp 1.000.000.000,- (703.876.868/1.000.000.000)]


[Penyimpanan : - Kartu kemampuan karyawan (3/10)]


[Kemampuan : - Lidah Manis : Selamanya



Pengalaman Pembalap : Tingkat 1


Pengalaman Juru Masak : Tingkat 1


Pengalaman Direktur Utama : Tingkat 1


Pengalaman Pialang Saham : Tingkat 1]



[Aset : - Apartemen



Mobil sport]



[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]

__ADS_1


Dari bonus pendapatannya Andi mengetahui bahwa hari ini kafenya mendapatkan pendapatan sebesar tiga juta rupiah. Angka yang cukup besar untuk menjadi awalan. Dengan tambahan bonus dari sistem, Andi mendapatkan tambahan uang dua puluh empat juta. Tambahan saldo lainnya ia dapatkan dari jual beli saham.


Dengan pertumbuhan uang sebesar ini, Andi yakin dirinya bisa memenuhi target satu milyarnya. Kebutuhannya semakin banyak, jadi, Andi berniat mencapai target itu lalu menghabiskan uang tersebut untuk kebutuhan yang lain.


Lamunan Andi dipecahkan oleh suara deringan ponselnya. Ia melihat nomor asing yang menghubunginya. Ketika Andi menerima panggilan itu, ia mendengar suara perempuan di ujung sambungan.


“Hallo.” Sapa orang tersebut.


“Ya hallo, siapa ya ini?” Itu seperti suara orang yang dikenalnya. Tetapi, Andi ingin memastikan siapa yang tengah memanggilnya ini.


“Ini aku Widya.”


“Ah Widya, ada apa Wid?”


“Aku mau ngucapin terima kasih padamu karena sudah bertindak cepat menolong Kakakku Sabtu kemarin. Jika kamu tidak segera menyelamatkannya, aku tidak tahu bagaimana nasib Kakakku setelahnya.”


“Ah, kamu nggak perlu ucapin terima kasih kayak gitu. Lagian itu adalah kewajibanku untuk menolong sesama. Kebetulan waktu itu aku memang ada di sana dan aku memiliki kemampuan untuk menolong kakakmu. Jadi, tentu saja aku menolongnya.”


“Tetap saja aku perlu mengucapkan terima kasih kepadamu.”


“Jadi, bagaimana Satrio saat ini?” Tanya Andi penasaran.


Andi mendengar Widya menarik nafas panjang. “Dia sekarang sudah dirujuk di rumah sakit yang ada di Surabaya. Mangkanya baru sekarang aku bisa menghubungimu. Kemarin aku cukup sibuk mengurusi Kakakku.”


“Kakak sudah sadarkan diri sekarang. Kata dokter, ia mengalami gagar otak ringan, tangan kananya juga patah. Untung saja pakaiannya yang terbakar itu segera dipadamkan. Jika tidak, pasti saat ini luka bakar yang dialami kakakku cukup parah.”


“Aku dengar kamu mengunakan tangan kosong untuk merobek pakaian Mas Satrio yang terbakar. Apakah tanganmu baik-baik saja?”


Widya mendengar hal ini dari beberapa orang. Mereka mengatakan bahwa Satrio tidak mengalami luka bakar yang cukup serius karena ada seseorang yang merobek pakaiannya yang terbakar. Waktu di dalam ambulance, Widya memang melihat tubuh kakaknya ditutupi dengan jaket orang lain. Gadis itu mengira pakaian kakaknya itu habis terbakar. Tetapi ternyata itu karena ada yang merobeknya.


Andi menunduk memandang kedua tangannya yang masih terbalut perban. Kata dokter, minggu depan jika lukanya sudah mengering, Andi bisa melepas perban di tangannya. Itu berarti ini bukan hal yang parah.


Hanya luka di tangannya ini sedikit mengganggu aktifitas sehari-harinya. Dengan tangannya yang terluka, Andi tidak bisa menggunakan tangannya seperti sebelum-sebelumnya. Menurut Andi, Widya tidak perlu mengetahui tentang hal ini. Ia tidak mau Widya dan keluarganya merasa berhutang budi padanya.


“Ah ini tidak apa-apa. Aku tidak mendapatkan luka sedikitpun. Waktu itu hujan, dan tanganku sedang basah. Jadi, aku tidak terluka sedikitpun.” Kilah Andi.


“Beneran?” Tanya Widya tidak yakin.


“Beneran. Aku tidak mengalami luka ketika menolong kakakmu. Jika luka sekalipun, itu tanya tanganku yang memerah karena menarik pintu mobil kakakmu. Itu bukan hal yang serius. Sekarang tanganku baik-baik saja. Jadi, jangan khawatir.” Ucap Andi mencoba meyakinkan Widya.


Andi sekali lagi mendengar Widya mengghela nafas panjang. Sepertinya gadis itu lega setelah mengetahui bahwa Andi baik-baik saja. “Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong Kakakku, keluargaku mengundangmu makan malam di rumah. Apakah kamu bisa datang ke rumahku besok?”

__ADS_1


“Ah sayang sekali aku tidak bisa. Seminggu ini aku akan berada di kampong halamanku. Sepertinya minggu depan aku baru kembali ke Surabaya.”


Makan malam bersama? Tentu saja Andi menolaknya. Pertama, karena tangannya belum sembuh. Kedua, itu akan sangat canggung. Dirinya tidak terlalu mengenal keluarga Widya. Andi bisa tebak bahwa Widya dan keluarganya, akan memberikan sesuatu kepadanya, sebagai tanda terima kasih.


Jika hanya makan malam Andi pasti akan dengan senang hati menerima ajakan itu. Tetapi jika ada imbalan lain? Tidak terima kasih. Dirinya menolong Satrio dengan iklas. Jadi, Andi tidak mau diberi imbalan apapun.


Jika mengatakan imbalan pun, sistem sudah memberikannya sebuah mobil sport. Andi bukanlah orang tamak yang berharap mendapatkan semuanya. Ia sudah cukup puas dengan apa yang dimilikinya. Lebih baik memiliki semuanya dari kerja kerasnya sendiri.


Widya tidak menyangka bahwa ada seseorang yang menolak undangan makan malam di rumahnya. Ini adalah makan malam di rumah keluarga Jayantaka. Puluhan orang di luar sana banyak yang berharap bisa memiliki kesempatan makan malam bersama Ayahnya atau Kakeknya.


Dia memiliki kesempatan makan malam bersama dengan dua orang yang di hormati di dunia bisnis, di provinsinya. Bukan salah satu tapi keduanya. Tetapi Andi malah menolak kesempatan itu. Jika para pesbisnis itu tahu bahwa Andi menolak kesempatan ini, sudah pasti Andi akan mendapatkan banyak hujatan.


Atau Andi tidak paham latar belakang keluarga Jayantaka? Ah tapi sepertinya itu tidak mungkin. Dia sudah berteman dengan Arya bukan? Widya kira dia sudah mengetahui apa arti empat keluarga besar di Surabaya. Tetapi, kenapa masih mensia-siakan kesempatan ini?


Meski menerima penolakan halus dari Andi, Widya tidak menyerah. Ia perlu mengundang Andi datang ke rumahnya. Ayah dan kakeknya sangat ingin bertemu dengan Andi. Mereka ingin berterima kasih karena Andi sudah menyelamatkan satu-satunya keturuan laki-laki dari generasi ayahnya.


“Ah jadi seperti itu. Atau begini saja, jika kamu sudah berada di Surabaya, hubungi aku. Aku akan mengatakan hal itu kepada keluargaku. Ayah dan kakekku ingin sekali mengundangmu makan malam dan berterima kasih langsung kepadamu.”


Rupanya Widya tidak mau menyerah untuk mengundang Andi datang makan malam di rumahnya. Lihat saja, Andi sudah secara halus menolak tetapi gadis itu kekeuh ingin megundang Andi makan malam di rumah mereka.


“Baiklah. Nanti aku akan mengubungimu kembali ketika aku sudah kembali ke Surabaya.” Ucap Andi pada akhirnya.


Mau bagaimana lagi, Widya sudah memberikan solusi seperti itu. Otomatis Andi tidak bisa menolak lagi undangan dari Widya untuk makan malam di rumahnya. Andi hanya berharap tebakannya tentang keluarga Widya tidak benar.


“Bagus. Jika kamu sudah di Surabaya, segera hubungi aku.” Ucap Widya sebelum gadis itu menutup sambungan telfonnya.


Bicara soal keluarga Widya, Andi teringat akan simbol tidak asing yang dilihatnya di gerbang rumah gadis itu. Salah satu simbolnya bebentuk seperti matahari dengan sudut delapan. Andi baru ingat bahwa simbol itu memiliki kemiripan dengan simbol Kerajaan Narangakarta.


Tetapi, meskipun mirip, itu terlihat cukup berbeda. Di dalam simbol Kerajaan Narangakarta, terdapat beberapa gambar dewa-dewa agama yang dianut kerajaan tersebut. Lalu, seingat Andi pada simbol yang ada di gerbang rumah Widya terdapat beberapa simbol lain yang tidak Andi pahami.


‘Ah mungkin karena simbol waktu itu mirip dengan simbol Kerajaan Narangakarta sehingga aku mengaggapnya tidak asing.’ Gumam Andi dalam hati.


Tetapi, meski merasa simbol tersebut memiliki kemiripan dengan simbol dari Kerajaan Narangakarta, Andi merasa bukan itu yang membuatnya merasa simbol yang ada di gerbang rumah keluarga Widya tidak asing. Andi masih tidak bisa mengusir rasa penasarannya terhadap simbol yang ada di gerbang rumah keluarga Widya.


‘Aku bisa melihat lagi lebih lama mengenai simbol tersebut. Bukankah Widya sudah mengundangku ke rumahnya. Mungkin aku akan mengambil gambar dari simbol yang ada di gerbang tersebut. Dengan begitu, aku bisa melihat dengan jelas simbol tersebut dan tidak mengandalkan ingatanku yang samar. Mungkin jika aku menemukan simbol yang mirip lagi, aku akan membandingkannya dengan simbol tersebut.’


“Andi, ayo pulang. Kamu kenapa ngelamun aja di situ.” Suara Aripto memecahkan Andi dari lamunannya. Pemuda itu kemudian melihat jam yang ada di ponselnya. Ternyata sekarang sudah pukul sepuluh malam. Ia memikirkan simbol yang ada di gerbang rumah Widya hingga lupa waktu.


“Ah iya baiklah Ayah.” Ucap Andi sembari mengambil tas berisi laptop miliknya.


Andi akan memilikirkan simbol itu lain waktu. Untuk sekarang dirinya hanya perlu pulang dan beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2