
“Tom ini Andi, temanku yang ingin bertemu denganmu.” Ucap Putra yang kini memperkenalkan Andi kepada Andi.
“Tomi.” “Andi.” Tomi dan Andi pun saling berjabat tangan sembari memperkenalkan diri.
“Jadi, ada keperluan apa kamu mencariku? Apakah kamu ingin aku membuatkan beberapa perangkat komputer spek sultan?” Tanya Tomi tanpa basa basi.
“Ya, dan tidak. Aku memang ingin kamu membuatkanku beberapa komputer dengan spek bagus. Tetapi, aku lebih ingin kamu bekerja denganku.”
“Maksudmu?”
“Aku dengar dari Putra bahwa dirimu tergabung dalam sebuah komunitas. Kalian sering mengimpor hardware komputer dari luar negeri untuk kembali di jual dalam bentuk komputer siap pakai. Apakah benar itu?” Tanya Andi.
“Ya, sejak aku SMK aku mulai membuat binis ini dengan anak kmunitasku. Memangnya kenapa dnegan hal itu?”
“Aku menawarkanmu pekerjaan yang berhubungan dengan itu. Aku akan mendirikan sebuah perusahaan yang mengimpor perangkat komputer dari luar negeri. Lalu, kita akan merakitnya dalam bentuk beberapa paket perangkat komputer.”
“Nantinya, aku akan juga membuka beberapa toko elektronik untuk menjual perangkat komputer kita ini. Aku berkeinginan membuka toko di seluruh kota besar di negara ini. Jadi, bagaimana? Apakah kamu tertarik dengan tawaranku ini?” tanya Andi.
“Hanya itu? Memangnya, berapa bayaran yang akan kamu berikan padaku dan teman-temanku?” Tanya Tomi.
Dari nada suaranya, Tomi terdengar tidak tertarik dengan tawaran yang Andi berikan. Tetapi, pada kenyataannya Tomi sangat tertarik dengan tawaran tersebut. Namun pemuda itu mencoba menyembunyikan hal itu.
Selama ini Tomi memiliki impian ingin membuat toko komputer yang tersebar di banyak kota. Sayangnya, dirinya tidak memiliki cukup banyak uang untuk melakukan hal itu. Selama ini saja ia menerima beberapa pesanan dalam skala kecil. Itu pun pesanan dari orang-orang yang dikenalnya.
Jika tidak,mana mungkin mereka mau menunggu sebulan lebih untuk dirinya menunggu mengumpulkan cukup banyak pesanan agar bisa membeli perangkat komputer dari luar negeri. Pasti, mereka akan lebih memilih membeli dari toko yang sudah menyediakan barang tersebut dan tidak perlu menunggu.
Mendengar hal itu, Andi tidak langsung menyebutkan sebuah nominal uang. Ia malah balik bertanya kepada Tomi.
“Memangnya, dari usahamu dan teman-temanmu itu, berapa banyak uang yang kamu dapatkan?”
“Tidak tentu. Paling sedikit aku mendapatkan lima ratus ribu, paling banyak, aku mendapatkan tiga juta.” Jawab Tomi.
Itu bukan pendapatan bulanan yang Tomi dapatkan. Tetapi pendapatan jika ia memiliki pesanan. Jika tidak ada pesanan, ia sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi meski begitu, uang itu Tomi kumpulkan untuk membantunya memenuhi kebutuhan sekolahnya.
“Berapa banyak orang dalam komunitasmu? Dan, apakah mereka mau bergabung menjadi karyawanku?”
__ADS_1
“Komunitasku memiliki anggota lima belas orang. Beberapa baru lulus sepertiku. Beberapa sudah mulai bekerja. Beberapa juga masih sekolah.”
Tomi lalu mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu apakah mereka mau bergabung denganmu atau tidak. Tetapi, jika gaji yang kamu tawarkan bagus, maka aku yakin mereka akan mau bergabung.”
“Bagaimana dengan gaji pokok enam juta? Dalam sebulan aku akan memberimu gaji segitu. Kamu akan aku jadikan penanggung jawab dalam usahaku ini. Lalu, teman-temanmu itu, aku akan memberi mereka gaji pokok empat hingga lima juta rupiah tiap bulannya.”
“Itu semua belum termasuk bonus. Jika penjualan kalian bagus, maka nanti akan ada bonus tambahan untuk kalian. Tujangan yang lainnya juga akan diberikan oleh perusahaanku.” Jelas Andi.
Menurut Andi gaji sebanyak itu sudah cukup wajar untuk diberikan kepada Tomi dan teman-temannya. Itu semua karena Andi tidak hanya membeli kemampuan mereka. Tetapi juga dengan koneksi yang mereka miliki.
Tomi dan teman temannya berhak mendapatkan gaji sebanyak itu karena koneksi yang sudah mereka bangun selama ini. Jadi, gaji itu tidak terlalu banyak maupun tidak terlalu sedikit untuk Tomi dan teman-temannya.
“Eh sungguh? Sebanyak itu?” ucap Tomi sedikit tidak percaya.
Itu cukup banyak menurut Tomi. Untuk lulusan SMK sepertinya, jika dia bekerja di tempat reparasi komputer, ia pasti hanya digaji dua hingga tiga juta rupiah. Tetapi, di tempat Andi, ia akan mendapatkan gaji sebanyak itu.
Sudah jelas Tomi menginginkannya. Tidak hanya itu, teman-teman komunitasnya yang baru lulus atau yang sekarang sudah bekerja, pasti juga mau ikut bekerja dengan Andi. Dari yang Tomi dengar, gaji tertinggi anggota komunitasnya yang sudah bekerja adalah tiga juta lima ratus.
Jika Tomi memberitahu mereka bahwa kemungkinan mereka akan digaji lebih dari empat juta, sudah jelas mereka akan keluar dari pekerjaan mereka yang sekarang dan bergabung dengan Andi. Gaji sebesar itu hanyalah gaji pokok.
“Tentu. Aku akan memberikan gaji sebanyak itu padamu. Bagaimana, apakah kamu tertarik?”
“Tentu saja aku tertarik. Mana mungkin aku menolak gaji sebesar itu.” Jawab Tomi.
Andi mengangguk pelan mendengar jawab Tomi. “Kalau begitu, jika kamu memang tertarik, kita bertemu lagi nanti jam enam sore di Kafe Lidah Manis. Langsung saja ke ruang VIP nomor tiga. Aku akan menunggu kamu dan teman-temanmu di sana.”
Setelah itu, dengan ditemani Putra, Andi menyewa sebuah ruko. Setelah prose itu selesai, Andi mentrasfer sejumlah uang kepada Putra untuk membeli beberapa peralatan dasar agar ruko ini bisa digunakan sebagai kantor.
Yang Andi minta beli hanyalah beberapa meja, kursi, pendingin ruangan, dan juga dispenser untuk tempat air minum. Selain itu, Andi juga memberi ijin Putra untuk membeli barang lainnya yang memang mereka butuhkan.
Sekarang, saatnya Andi membeli rumah baru. Andi pergi ke kafe miliknya. Ia berniat mengajak ayahnyas untuk membeli rumah yang sudah Brian tunjukkan padanya. Surat menyurat ini tidak akan selesai dalam satu hari. Jadi, ketika dirinya pergi ke Spayol, sudah ada yang membantu mengurusi semuanya.
“Memangnya kamu ini mau ngajak ayah ke mana?” Tanya Aripto kepada Andi yang kini sedang menyetir.
“Membeli rumah baru Yah.”
__ADS_1
“Untuk apa lagi beli rumah baru? Bukankah kita baru saja pindah ke rumah yang sekarang? Kenapa beli lagi yang baru?”
“Ayah tahu sendiri kan aku sekarang ini punya bisnis. Jelas nanti aku akan punya saingan bisnis yang bisa saja nyelakai keluarga kita. Maka dari itu, aku berniat menyewa beberapa pengawal keamanan untuk menjaga ibu dan kedua adikku.”
“Rumah yang sekarang jelas tidak bisa menampung para pengawal itu. Maka dari itu aku berniat membeli rumah baru. Kata Brian rumah ini cukup besar dan bisa menampung banyak orang. Keluarga kita akan tinggal di sini nantinya.”
“Aku tahu Ayah nggak mau pindah rumah ke kota lain. Jadi aku membelikan rumah ini untuk kalian.” Jelas Andi.
“Tetapi, dengan kamu membeli rumah ini, nggak akan ganggu bisnis kamu bukan?” Tanya Aripto sedikit khawatir.
Memang Aripto sangat bangga dengan putranya yang kini sudah mandiri seperti ini. Dia mulai membuka beberapa bisnis. Bahkan dia juga sudah jago dalam jual beli saham. Tetapi, Aripto juga tidak mau gara-gara membeli rumah ini, keuangan dari anaknya terganggu.
“Tentu saja tidak Ayah. Bisnisku baik-baik saja. Meskipun aku mengeluarkan uang banyak sekarang, itu tidak akan menganggu bisnisku saat ini. Aku tidak masalah mengeluarkan uang banyak. Asalkan keluargaku aman.”
“Meskipun habis, uang bisa dicari kapan saja. Kita masih memiliki kesempatan lain untuk mengumpulkan uang. Tetapi, jika sampai kita kehilangan orang yang kita cintai, berapapun uang yang kita punya, itu tidak akan bisa kita tukarkan untuk mengembalikan orang yang kita cintai.”
Andi menghentikan mobilnya di depan gerbang sebuah rumah mewah. Dari luar, Andi bisa melihat bahwa rumah tersebut memiliki tiga lantai. Rumah ini juga memiliki halaman yang cukup luas.
“Kita sudah sampai.”
Tidak lama setelah Andi dan Aripto turun dari mobil, seseorang membuka gerbang itu. Rupanya dia adalah makelar yang akan membantu Andi membeli rumah ini. Dengan ditemani makelar tersebut, Andi melihat-lihat isi rumah tersebut.
Ternyata rumah ini bukan hanya memiliki tiga lantai, namun juga memiliki sebuah lantai basemen. Jika Andi menghitung semuanya, rumah ini memiliki empat lantai termasuk basemen. Di basemen, terdapat beberapa kamar yang diperuntukkan sebagai kamar dari para pekerja di rumah ini.
Di lantai satu, terdapat ruang tamu, tiga kamar tamu dengan kamar mandi dalam, sebuah toilet, dapur, ruang makan, dan sebuah perpusatakaan. Di lantai dua, terdapat home teater, sebuah ruang kerja, tiga buah kamar dengan kamar mandi dalam, toilet, satu ruang santai dan satu dapur bersih.
Sementara itu di lantai tiga, terdapat empat kamar tidur dengan kamar mandi dalam, sebuah dapur bersih dan ruang keluarga. Tidak hanya itu saja, rumah ini juga dilengkapi dengan sebuah lift. Jadi, jika orang tua Andi terlalu lelah menggunakan tangga, mereka bisa menggunakan lift untuk berpindah lantai.
Jika Andi tinggal di sini, sudah jelas dirinya akan memperketat keamanannya. Semua sudut ruangan akan dipasang CCTV. Dengan begitu, keaman keluarganya akan lebih terjamin lagi. Salah satu kamar di lantai satu bisa diubah menjadi ruang keamanan.
Sepertinya, jika Andi dan keluarganya tinggal di sini, semua anggota keluarganya akan tinggal di lantai tiga. Beberapa pengawal akan tinggal di dua kamar lainnya yang ada di lantai satu. Sementara kamar di lantai dua akan difungsikan sebagai kamar tamu.
Andi tahu, meski rumah ini memiliki banyak ruangan, tetapi itu tidak akan cukup untuk menampung semua pengawal yang akan tinggal dengan mereka. Oleh karena itu, Andi nantinya akan membangun beberapa kamar di halaman belakang sebagai tempat tinggal dari pengawal rumahnya.
Setelah Andi mendapat persetujuan ayahnya membeli rumah ini, Andi langsung saja mentransfer uang sebesar enam puluh lima milyar ke rekening ayahnya. Meskipun sebenarnya harga rumah ini berikut isinya hanya lima puluh lima milyar, tetapi Andi memberi uang lebih kepada ayahnya itu. Pemuda itu menyerahkan semua kepengurusan berkas-berkas jual beli rumah ini kepada ayahnya.
__ADS_1